Prasasti-batu-Jimbar

Prasasti Batu Jimbar

Jangan lupa, jalan-jalannya simpang (mampir) di rumah Nyoman Sumariana, Banjar Betngandang, Desa Sanur Kauh, Desa Adat Intaran, ya! Ada peninggan budayanya juga, lho…

Ya, Prasasti Batu Jimbar. Prasastinya berupa lempengan-lempengan tembaga. Berdasarkan penelitian, lempengan yagn tak lengkap ini pembuatannya pada periode abad XII – XIV.

Sayangnya sudah tidak lengkap.

Karena tinggal berjumlah enam buah yang tersimpan. Kemungkinan, dulunya ada lebih dari enam lempengan. Tapi para peneliti masih mampu menerjemahkannya. Secara garis besar, isi prasasti-prasasti ini menggunakan aksara Bali kuna dengan bahasa Jawa kawi.

Peneliti membagi lempengan menjadi dua kelompok prasasti. Prasasti kelompok pertama, lempeng II, VI, VII, XIII, dan XIV , berisi kewajiban pajak bagi Karaman Indrapura. Pajak ini kaitannya mempunyai kewajiban melaksanakan pemujaan terhadap bhatara yang berstana di Bukit Tunggal. Hanya saja, prasasti ini belum bisa dipastikan pembuatannya ketika pemerintahan atau kerajaan siapa karena tidak lengkapnya lempengan. Namun diperkirakan, prasasti ini diterbitkan oleh Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti yang memerintah di Bali sekitar tahun Śaka 1055 – 1071 (1133 – 1149 Masehi).

Disebutkan, mereka diperbolehkan menebang kayu larangan seperti kemiri yang menaungi sawah, rumah, balai tempat pertemuan, dan pohon aren atau enau. Begitu pula penyebutan sejumlah pejabat dan jabatannya seperti Samgat Caksu Karanakranta dijabat oleh Pangdudal, Mpungku Lokeswara dijabat oleh Dang Aacaryya Abhipura, Mpungkwing Canggini Dang Upadhayaya Widyottama, dan Samgat Mangirendiren Wandani dijabat oleh Sangkawiryya.

Pada prasasti kelompok kedua hanya terdapat satu lempeng, lempeng III. Lempengan ini berisi anugrah sebidang tanah cukup luas oleh pejabat yang bergelar Rsi Nara Rajapatih.

Pemberian tanah dihadiri para pejabat dan berisikan kutukan apabila ada orang yang berani melanggarnya. pejabat-pejabat seperti Senapati Sarbwa, Senapati Wresanten, Senapati, Balmbunut, Senapari Manyiringan dan Manyuratang I Halu yang menyaksikan penganugrahan prasasti tersebut dimuat juga dalam Prasasti Cempaga C yang dikeluarkan oleh Raja Bhatara Sri Mahaguru pada tahun Śaka 1246 (1334 Masehi), begitu juga dalam Prasasti Selumbung Karangasem yang dikeluarkan oleh Raja Bhatara Sriwijaya Kartaningrat dan ibundanya yang bergelar Paduka Tara Sri Mahaguru pada tahun Śaka 1250 (1338 Masehi).

Ada tercantum batas-batasnya di timur panjangnya sama seperti yang dulu. Batas utara adalah sebelah barat desa Bangkyang Siddhi, sampai Kalkalan, Air Bakung dan Srimuka, ke utara lagi hingga Darawati batas dari Srimuka.

Prasasti Batu Jimbar

Jumlah              : 2 kelompok

                            – Kelompok 1 terdiri dari 5 lempeng (II, VI, VII, XIII dan XIV)

                            – Kelompok 2 terduri dari 1 lempeng (III)

Ukuran          : Kelompok 1

                        – Panjang  :    37 cm

                        – Lebar     :   8.7 cm

                        – Tebal     : 0,20 cm

                        Kelompok 2

                        – Panjang : 41,6 cm

                        – Lebar     :   7,6 cm

                        – Tebal     : 0,15 cm

Aksara           : Kawi (Bali Kuno)

Bahasa          : Jawa Kuno

Latar Budaya: Hindu – Buddha

Periodisasi    : Abad XII – XIV Masehi

Bahan            : Lempengan tembaga

Kondisi         : Tidak lengkap 

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *