Pura Dalem Cemara

Pura Dalem Cemara

Pura Dalem Cemara

Pura Dalem Cemara berbatasan dengan rumah penduduk setempat. Pemangku pura, Jero Mangku Made Sukanadia, menceritakan bahwa dahulu masyarakat Serangan merupakan nelayan-nelayan yang berasal dari lintas teluk di sekitaran Tanjung Benoa.

Latar belakang sejarah pendirian Pura Dalem Cemara tidak dapat ditemukan dalam sumber-sumber tertulis, tetapi cerita-cerita masyarakat sebagai pangempon dan penyungsung pura dapat digunakan sebagai salah satu narasi dalam menceritakan keberadaan pura ini.

Menurut pemangku pura, Jero Mangku Made Sukanadia dahulu masyarakat serangan merupakan nelayan-nelayan yang melintasi teluk di sekitaran Tanjung Benoa. Mereka datang dari, misalnya, sektiara Pamogan, Suwung, Kepaon, Kelan, Pago, Panjer, Dukuh, Pedungan, Intaran, Cemenggon, Batusasih (Batubulan).

Pratima dan genta

Candi Prasada

Nelayan-nelayan ini kadang-kadang bersandar ke Pulau Serangan untuk beristirahat atau memancing dari daratan pulau, tapi ada yang langsung menetap.

Suatu ketika salah seorang masyarakat pulau sedang menangkap ikan di laut menemukan kotak batu di tengah laut. Mereka menemukan kotak batu yang berisi sepasang pratima (arca kecil) terbuat dari kayu perwujudan laki-perempuan dan sebuah genta (lonceng kecil) berbahan logam.

Genta dibawa nelayan dari Sanur pulang dan disimpan di Pemrajan Manik Aji, Banjar Batan Poh, Desa Sanur Kaja.

Nelayan Serangan membawa sepasang pratima beserta kotak batu. Kotak batu tersebut kemudian menjadi dasar bangunan candi prasada di Pura Dalem Cemara, sebagai peripih diisi emas, perak, tembaga, batu mulia, uang kepeng, dan logam mulia lainnya untuk pedagingan.

Sepasang pratima lanang istri disimpan di garbhagraha bangunan candi prasada, sebagai sungsungan dan disucikan setiap upacara piodalan. Wujud kedua pratima itu peniruannya dapat dilihat pada kedua arca tokoh laki (panji) dan perempuan di depan candi prasada.

Sementara genta diwujudkan dalam bentuk Candi Prasada atau Gedong Ratu Agung. Meski genta aslinya di simpan di Sanur, setiap uacara piodalan dibawa ke Serangan.

Candi prasada yang disebut dengan Gedong Ratu Agung merupakan perwujudan bentuk fisik dari genta yang dibawa oleh nelayan dari Sanur dulu, genta tersebut sekarang disimpan di Pemrajan Manik Aji, Banjar Batan Poh, Desa Sanur Kaja.  Setiap upacara pioadalan di Pura Dalem Cemara, genta yang tersimpan di sanur tersebut selalu dipundut (diusung) hadir oleh masyarakat penyungsungnya dari Sanur.

Jika diperhatikan melalui bentuk, bahan, motif, dan hiasan candi prasada dapat diperkirakan memiliki kesamaan dengan candi prasada Pura Susunan Wadon, hal ini menimbulkan dugaan bahwa Pura Dalem Cemara kemungkinan juga dibangun sekitar abad XV – XVI.

Bagian bangunan

Pura Dalem Cemara

Secara struktur, Pura Dalem Cemara posisinya menghadap ke barat dengan terbagi atas tiga halaman. Yaitu halaman dalam (utama mandala/jeroan), halaman tengah (madya mandala), dan halaman luar (nista mandala/jabaan).

Halaman dalam dan tengah dibatasi dengan tembok keliling yang terbuat dari susunan batu gamping (kapur) atau disebut juga dengan paras tombong, halaman luar dengan halaman tengah dihubungkan dengan paduraksa berupa candi bentar, sedangkan halaman tengah dengan halaman dalam dihubungkan dengan paduraksa berupa candi kurung (kori agung).

Halaman dalam (utama mandala/jeroan) di dalamnya berdiri bangunan maupun arca  seperti Candi Prasada sebagai Gedong Ratu Agung, Palinggih Tajuk, Gedong Bhatara Dalem Kahyangan, Gedong Bhatara Lamun, Piyasan, Gedong Bahatara Ratu Pemade, Bale Papelik, Gedong Bahatara Ratu Singosari, Palinggih Batur, Meru Bhatara Ratu Pasek, Tugu Kepah Kembar, Gedong Bhatara Ratu Hyang Gelar, Bale Pengaruman, Linggih Ratu Ayu, Palinggih Hyang Ibu, Gedong Bhatara Ratu Apuan, dan Palinggih Ratu Sawo.

Kemudian pada halaman tengah (madya mandala) terdapat juga bangunan seperti Palinggih Arca Prakangge, Bale Kulkul, Bale Gong, Perantenan, dan Palinggih Arca Taman. Halaman luar (nista mandala/jabaan) yang berada di sisi barat merupakan jalan, tanpa dikelilingi tembok.

Pura Dalem Cemara termasuk bagian dari pura kahyangan tiga atau pemujanya terikat oleh kesatuan wilayah dan dulu sebagai Pura Desa, Puseh, Dalem. Sekarang, pura ini merupakan bagian dari pura kahyangan tiga sebagai bersthananya Dewa Wisnu, dewa pemelihara. Hal ini diperkuat dengan adanya Pura Segara di sisi utara Pura Dalem Cemara yang memiliki simbol air sama dengan manifestasi Dewa Wisnu. Upacara piodalan di Pura Dalem Cemara dilaksanakan setiap 210 hari, yaitu pada hari Buda (Rabu) Kliwon, Wuku Sinta (hari raya Pagerwesi).

1. Candi (Prasada) Gedong Ratu Agung

 Tinggi              :    –   cm

Panjang           : 268 cm

 Lebar               : 235 cm

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

2. Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung)

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung) ini terletak di tengah-tengah sebagai penyambung tembok antara halaman dalam (utama mandala/jeroan) dengan halaman tengah (madya mandala) pura. Paduraksa ini merupakan bangunan yang memiliki wujud gapura tertutup, atau di Bali disebut dengan Candi Kurung (Kori Agung), serta berfungsi sebagai pintu masuk ke halaman dalam (utama mandala/jeroan) dari halaman tengah (madya mandala) pura. Fungsi utama paduraksa atau gapura pura sebagai media transisi sebelum memasuki tempat yang paling suci, diharapkan agar sudah terlepas dari ikatan waktu (kala) dan keduniawian.

3. Arca Dwarapala I

Tinggi            : 89 cm

Lebar             : 35 cm

Tebal              : 30 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

4. Arca Dwarapala II

Tinggi                 : 86 cm

Lebar                  : 35 cm

Tebal                   : 35 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

5. Arca Tokoh Perempuan I

Tinggi            : 80 cm

Lebar             : 31 cm

Tebal              : 26 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

6. Arca Tokoh Perempuan II

Tinggi               : 70 cm

Lebar                : 30 cm

Tebal                 : 29 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

7. Arca Tokoh Perempuan III

Tinggi               : 60 cm

Lebar                 : 27 cm

Tebal                 : 30 cm                            

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca tokoh perempuan III diletakkan sebelah selatan depan Candi Prasada Gedong Ratu Agung, posisinya sejajar dengan arca tokoh panji. Arca ini berpasangan dengan arca tokoh panji yang dipercayai masyarakat sebagai peniruan pratima yang ditemukan dulu di tengah laut oleh masyarakat Pulau Serangan.

8. Arca Tokoh Panji

Tinggi               : 77 cm

Lebar                : 31 cm

Tebal                 : 28 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca tokoh panji ini diletakkan sebelah utara depan Candi Prasada Gedong Ratu Agung, posisinya sejajar dengan arca tokoh perempuan III. Posis sejajar karena memang dipercayai masyarakat sebagai peniruan pratima berpasangan yang ditemukan dulu di tengah laut oleh masyarakat Pulau Serangan.

9. Arca Punakawan I

 Tinggi              : 80 cm

 Lebar               : 33 cm

Tebal                 : 32 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

10. Arca Punakawan II

Tinggi                             : 80 cm

Lebar                               : 32 cm

Tebal                                : 31 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

11. Arca Tokoh Kadean-kadean I

Tinggi              : 80 cm

 Lebar              : 30 cm

Tebal                : 31 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

12. Arca Tokoh Kadean-kadean II

Tinggi               : 89 cm

Lebar                : 33 cm

Tebal                 : 31 cm                            

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

13. Fragmen Arca Dwarapala I

Tinggi               : 77 cm

Lebar                : 31 cm

Tebal                 : 28 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Kondisi               : Rusak

14. Fragmen Arca Dwarapala II

Tinggi               : 60 cm

Lebar                : 27 cm

Tebal                 : 30 cm                            

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *