Pura Dalem Kedewatan

Kala itu…

Banjir kerap melanda warga Tangtu. Ritual upacara keagamaan pun sulit digelar. Maka, Pura Dalem Kadewatan pun pindah ke arah selatan, menyusuri pesisir (Sanur). Pura Dalem Kadewatan berlokasi di Tangtu, berdekatan dengan Sungai Sagsag (Sungai Ayung).

Keberadaan Pura Dalem Kadewatan tidak dapat terlepas dari perjalanan putra dari Ida Made Wetan, bernama Pedanda Anom Bendesa yang merupakan keturunan dari Dang Hyang Nirartha dari Kamasan Klungkung menuju Tangtu yang ketika itu dikuasasi oleh I Gusti Ngurah Agung Pinatih sebagai penguasa Kertalangu Kesiman. Tangtu sekarang merupakan sebuah banjar yang berada di bawah naungan Desa Kesiman Kertalangu secara kedinasan dan Desa Adat Kesiman secara adatnya.

Diceritakan mengenai kedekatan Ida Pedanda Anom Bendesa dengan I Gusti Agung Pinatih, membuat Ida Pedanda Anom Bendesa memperistri adiknya yang bernama Ni Gusti Ayu Putu Pacung, selain itu I Gusti Ngurah Agung Pinatih juga menyerahkan kawula warga sebanyak 40 keluarga.

Lambat laun sebagai penunjang kehidupan sosial-religius membuat Ida Pedanda Anom Bendesa membangun beberapa pura yang mengikat masyarakat Tangtu seperti Pura Dalem Kadewatan, Pura Puseh, Pura Kentel Gumi, Pura Padang Sakti, Palinggih Pengayatan Bhatara Batur, dan Palinggih Gunung Agung. Begitu juga dengan I Gusti Ngurah Agung Pinatih membangun Pura Bangun Sakti di sebelah timur Tangtu atas petunjuk Ida Pedanda Anom Bendesa.

Hal inilah yang menyebabkan kemudian cucu Ida Pedanda Anom Bendesa memindahkan Pura Dalem Kadetawan ke tempat yang lebih aman. Ida Pedanda Anom Bendesa di Tangtu menurunkan putra bernama Ida Pedanda Sakti Ngenjung yang kelak memiliki dua putra bernama Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bendesa.

Pemindahan beberapa pelinggih Pura Dalem Kadewatan yang dilakukan oleh dua bersaudara atau dikenal dengan surya kalih melibatkan juga masyarakat pengiring yang setia, mencari tempat ke arah selatan menyusuri pesisir pantai dengan mengusung pratimapratima, dan akhirnya perjalanan yang ditempuh sekitar 4 kilometer dijumpai lahan datar yang kosong, kemudian disebut dengan Tegal Asah.

Menemukanlah, tanah lapang di Tegal Asah, yang terdapat undak-undak tanah yang cukup tinggi  dan menyembulkan sinar menjulang tinggi. Sinar tersebut yang menjadi cikal bakal nama Sanur : Sa artinya tunggal dan Nur itu sinar suci

Pura Dalem Kadewatan

Pura Dalem Kadewatan, Desa Sanur, merupakan pura warisan budaya Denpasar di wilayah pesisir Sanur. Tak hanya pada warisan bangunannya, melainkan juga keberadaan tari sakralnya. Bangunan pura berdiri kisaran abad XV – abad XX.

Ketika telah memantapkan tempat yang disebut dengan Tegal Asah itu, kemudian surya kalih, yaitu Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bendesa beserta para masyarakat pengiring kembali membangun tempat suci sebagai identitas religius menghubungkan diri dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi), yang kemudian tetap diberi nama Pura Dalem Kadewatan.

Tari-tari sakral

Ritual keagamaan, Pura Dalem Kadewatan menggunakan waktu spiritual, pada hari Tilem (bulan mati) menuju triwara Kajeng, tepatnya di Tilem Kajeng. Tilem merupakan prabhawa dari Sang Hyang Siwa yang juga sebagi wujud Sang Hyang Yamadipati (dewa kematian) yang memiliki kekuatan melebur (pralina).

Tari-tarian sakral berupa Sang Hyang dipentaskan ketika piodalan itu. Salah satunya, Sang Hyang Jaran merupakan tarian sakral hanya ditarikan setiap upacara piodalan Tilem Kajeng. Namun pernah tidak dimunculkan dan terakhir pada tahun 1938. Kembali Sang Hyang Jaran ditarikan pada tahun 2016.

Sang Hyang Jaran merupakan sebuah tarian kuda (jaran) yang bermain-main hingga mandi (masiraman) dengan api oleh dua sungsungan pratima Sang Hyang Jaran berwarna putih dan merah. Sang Hyang Jaran mulai masolah (menari) ketika serabut-serabut kelapa sudah mulai dibakar api di halaman madya manda (jaba tengah) pura, dilanjutkan dengan iringan-iringan nyanyian (kidung) Sang Hyang Jaran mulai dinyanyikan untuk memanggil (nedunang) taksu Sang Hyang Jaran.

Sehari selepas puncak acara piodalan  Tilem Kajeng, warga menghaturkan gebogan yang diwakili oleh ibu-ibu rumah tangga berbusana kebaya putih dan kuning. Mereka berbaris menyunggi gebogan sebagai sarana persembahan rasa syukur atas berkah Ida Sang Hyang Widi, atau disebut Mepeed.

Konsep catus patha

Pura Dalem Kadewatan

Pura Dalem Kadewatan dibangun menggunakan konsep catus patha desa, yaitu di sebalah timur ada Pura Surya Batanpoh, di sebelah barat Pura Surya Bolong, di sebelah utara Pura Dalem Kadewatan, dan di sebelah selatan Pura Kembar, sedangkan di tengah-tengahnya adalah Griya Jero Gede Sanur sebagai tempat tinggal sang surya kalih.

Pura Dalem Kadewatan dipercayai sebagai tempat memuja Bhatari Hyang Nini Dewati, yaitu nama lain dari Bhatari Giri Putri ketika turun ke dunia menempati arah utara. Selain itu, masyarakat juga mempercayai Pura Dalem Kadewatan juga bersthana Bhatara Siwa, sehingga pemujaan di Pura Dalem Kadewatan adalah untuk Siwa – sakti sebagai simbol purusa dan pradana.

Secara karakteristik dan fungsi, Pura Dalem Kadewatan merupakan pura territorial atau Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Sanur. Prosesi upacara piodalan di Pura Dalem Kadewatan menggunakan waktu spiritual, yaitu pada hari Tilem (bulan mati) menuju triwara Kajeng. Hal inilah upacara piodalan di Pura Dalem Kadewatan disebut dengan Tilem Kajeng.

Hari Tilem (bulan mati) atau disebut juga kresna paksa adalah siklus 30 atau 29 hari sekali sesuai dengan sistem waktu Bali. Tilem merupakan prabhawa dari Sang Hyang Siwa yang juga sebagi wujud Sang Hyang Yamadipati (dewa kematian) yang memiliki kekuatan melebur (pralina). Identitas aktivitas tersebut nampak pada hari upacara piodalan Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan yang menunjukkan sebuah proses ritual sakral bercorak Siwaistis.

Upacara Piodalan Tilem Kajeng diawali dengan prosesi nanceb sanggar tawang/surya yang merupakan sthana sementara Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Surya Raditya dan Sang Hyang Catur Lokapala, selanjutnya adalah acara ngingsah beras, upacara ngaturang bendu guru piduka yang dilakukan untuk permohonan maaf kepada bhatarabhatari yang bersthana di Pura Dalem Kadewatan sebelum puncak acara piodalan, setelah itu adalah prosesi upacara mapepada dengan mengarak hewan-hewan kurban mengelilingi pura, dan kemudian prosesi menghias pratima sungsungan di Pura Dalem kadewatan, Griya Jero Gede Sanur, serta pura-pura prasanak untuk dihadirkan ke pura pada upacara piodalan Tilem Kajeng.

Setelah mengetahui letak, latar belakang sejarah, dan karakteristik Pura Dalem Kadewatan, sekarang dibahas potensi-potensi heritage menarik yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya dapat digunakan sebagai daya tarik wisata heritage di kawasan sanur, seperti acara Melasti, Mapeed, Tari Sang Hyang Jaran, dan Tari Baris Gede sebagai potensi heritage intangible, sedangkan heritage tangiblenya adalah Gedong Ratu Susun Dalem Kadewatan, Palinggih Babaturan Rong Solas Linggih Ratu Pangenter, Gedong Simpen Linggih Ratu Pamayun, Palinggih Gunung Agung, dan Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung).

1. Melasti

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Latar Budaya     : Hindu

Deskripsi             : Melasti sebagai salah satu rangkaian penting acara piodalan Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan dengan melibatkan ratusan umat di Desa Adat Sanur mengarak mengiringi pratimapratima ke Pantai Sanur. Selain pratima ada juga sasuhunan berupa Barong dan Rangda diiringi ke pesisir pantai untuk melaksanakan penyucian. Iringan-iringan biasanya lengkap dengan Tari Baris Gede, iringan tombak, tamiang, tedung, pasepan, dan Gamelan Baleganjur. Masyarakat meyakini rangkaian acara melasti ini sebagai proses penyucian pratima, sasuhunan, dan simbol-simbol lainnya di Sanur, mereka memohon agar Bhatara Baruna (dewa penguasa laut) senantiasa memberikan tirtha paleburan mala (kotoran) bagi bhuwana agung maupun bhuwana alit. Pantai digunakan sebagai tempat acara melasti karena laut dianggap sebagai tempat peleburan segala jenis mala (kotoran), sebagai muara akhir, dan sari-sari kehidupan diyakini berada di tengah laut (telengin segara).

2. Mapeed

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Latar Budaya     : Hindu

Deskripsi             : Tradisi mapeed dilaksanakan pada manis piodalan (sehari setelah acara puncak piodalan) Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan, berupa barisan iring-iringan ibu-ibu berbusana putih kuning sambil memunut gebogan di atas kepalanya, berjalan berbaris rapi menuju Pura Dalem Kadewatan. Mapeed dengan memunut gebogan ini sebagai wujud syukur masyarakat ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi karena telah menganugerahkan kesejahteraan, berkah yang melimpah.

3. Tari Sang Hyang Jaran

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Latar Budaya     : Hindu

Deskripsi            : Sang Hyang Jaran merupakan tarian sakral di Pura Dalem Kadewatan, yang biasa ditarikan setiap upacara piodalan Tilem Kajeng, tetapi pernah selama 78 tahun tidak ditarikan lagi karena sempat tidak ada yang nyungsung (menarikan), yaitu terakhir ditarikan pada tahun 1938 dan kembali ditarikan lagi pada tahun 2016. Kembali ditarikan itu karena ada pamuwus bahwa akan ada saja wabah-wabah penyakit di Sanur jika terus menerus Ida Sang Hyang Jaran tidak masolah (menari).

Sang Hyang Jaran merupakan sebuah tarian kuda (jaran) yang bermain-main hingga mandi (masiraman) dengan api. Sang Hyang Jaran mulai masolah (menari) ketika serabut-serabut kelapa sudah mulai dibakar api di halaman madya manda (jaba tengah) pura, dilanjutkan dengan iringan-iringan nyanyian (kidung) Sang Hyang Jaran mulai dinyanyikan untuk memanggil (nedunang) taksu Sang Hyang Jaran, mulai dua sungsungan pratima Sang Hyang Jaran berwarna putih dan merah dipundut oleh dua orang, suara kidung mulai dinyanyikan dengan tempo cepat, mulai juga kedua penari trance tidak sadarkan diri mendekati kobaran api, meloncat-loncat bermain api, dan hingga mandi (masiraman) api. Setelah sekian lama bermain api, biasanya juru pundut pratima Sang Hyang Jaran mulai lemas dan tersungkur, dengan cepat kemudian masyarakat mengambil pratima agar tidak menyentuh tanah.

4. Tari Baris Gede (I Kebo Dengkol)

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Latar Budaya     : Hindu

Deskripsi              : Tari Baris Gede sebagai tarian sakral yang wajib dipentaskan ketika upacara piodalan Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan, disebut juga dengan I Kebo Dengkol sebagai identitas religius masyarakat Desa Adat Sanur dalam penganut agama Hindu (Siwaistik). Keberadaan Tari Baris Gede ini dapat ditelisik melalui cerita proses pemindahan Pura Dalem Kadewatan dari Tangtu ke Tegal Asah (Sanur sekarang). Diceritakan ketika itu seluruh masyarakat mengiringi surya kalih, yaitu Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bendesa dengan membawa bahan-bahan bangunan pura termasuk pratima menelusuri pesisir nampaknya disertai dengan suasana kegembiraan, tanpa disadari ternyata ada beberapa pengiring yang mengalami trance. Saat itulah terdengar pawisik (sabda) yang meminta kepada masyarakat pengiring bahwa ketika Ida Bhatara di Pura Dalem Kadewatan turun (tedun) ke dunia atau disebut juga dengan napak pertiwi, wajiblah diiringi dengan Tarian I Kebo Dengkol (Tari Bari Gede) (Putra dkk, 2015: 228-229).

Tari Baris Gede biasanya dipentaskan di halaman nista mandala (jaba sisi) Pura Dalem Kadewatan, terdiri dari 12 – 16 orang penari yang masing-masingnya menggunakan kostum sederhana seperti babuntilan, calana putih, baju putih, kain putih kuning di dalamnya berisi kain gringsing, menggunakan gelungan berhiaskan bunga gumitir, dan hanya satu orang penari yang berbeda disebut dengan petelek (senapati) menggunakan baju hitam. Masing-masing penari membawa perlengkapan perang seperti tombak dan keris, biasanya tokoh petelek (senapati) ketika telah mengalami trance akan ditikam-tikam dengan tombak.

Sang senapati berbusana hitam biasanya keluar dengan sorot mata tajam, inilah I Kebo Dengkol, berjalan mondar-mandir menatap seluruh pasukan tombak, suatu saat sang senapati I Kebo Dengkol menghunus kerisnya memenggal bunga gumitir di gelungan pasukan penari pembawa tombak.  Seketika pasukan penari tombak mulai mengambil ancang-ancang siaga, membungkuk, dan satu persatu mulai mengarahkan mata tombaknya ke dada sang senapati I Kebo Dengkol dengan teriakan-teriakan bersemangat, akhirnya seluruh penari mengalami trance mulai diboyong masuk ke halaman utama mandala (jeroan) Pura Dalem Kadewatan untuk dipercikan tirtha suci.

5. Gedong Ratu Susun Dalem Kadewatan

Lokasi                   : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : batu bata, kayu, dan ijuk

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Gedong Ratu Susun Dalem Kadewatan merupakan bangunan sentral utama di Pura Dalem Kadewatan, letaknya di tengah-tengah halaman utama mandala (jeroan) pura, pada sisi timur menghadap ke barat , bangunan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Kaki bangunan berbentuk bebaturan terbuat dari batu bata merah yang setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, pada sisi baratnya terdapat lima susun anak tangga untuk menuju garbhagraha pada bagian badan gedong. Badan bangunan juga terbuat dari batu bata merah, bagian depannya terdapat pintu untuk memasuki ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berukir berwarna emas, sama halnya dengan kaki setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, di atas ambang pintu terdapat ornament kala berupa pahatan karang sae, sedangkan pada altar badan gedong diletakkan dua arca dwarapala, dan terdapat umpak-umpak batu padas berukir sebagai landasan tiang-tiang kayu sebanyak sembilan buah penopang atap gedong. Atap bangunan gedong berbentuk limasan terbuat dari susunan kayu dan ijuk, puncak atap diletakkan bentala terbuat dari batu padas berbentuk gunungan dengan hiasan karang bentulu, karang manuk, dan suluran daun.

6. Palinggih Babaturan Rong Solas Linggih Ratu Pangenter

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : batu bata

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Bangunan ini memiliki keunikan, yaitu berbentuk memanjang dan memiliki 11 ruangan suci (garbha graha), berdiri di sisi utara halaman utama mandala (jeroan) pura menghadapa ke selatan, bangunan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Kaki bangunan berbentuk bebaturan polos berupa susunan batu bata, badan bagunan juga terbuat dari batu bata merah polos tanpa hiasan, hanya terdapat 11 garbha graha, begitu juga atapnya berupa 10 susunan batu bata dengan bentuk bertingkat-tingkat semakin ke atas semakin mencil.

7. Gedong Simpen Linggih Ratu Pamayun

Lokasi                   : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : batu bata, kayu, dan ijuk

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Bangunan Gedong Simpen Linggih Ratu Pamayun berdiri di halaman utama mandala (jeroan) pura, pada sisi timur menghadap ke barat , bangunan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Kaki bangunan berbentuk bebaturan terbuat dari batu bata merah yang setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, pada sisi baratnya terdapat lima susun anak tangga untuk menuju garbhagraha. Badan bangunan juga terbuat dari batu bata merah, bagian depannya terdapat pintu untuk memasuki ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berukir berwarna emas, sama halnya dengan kaki setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, di atas ambang pintu terdapat ornament kala berupa pahatan karang sae, sedangkan pada altar badan gedong diletakkan dua arca dwarapala, dan empat umpak-umpak berukir sebagai landasan tiang-tiang kayu penopang atap gedong. Atap bangunan gedong berbentuk limasan terbuat dari susunan kayu dan ijuk, puncak atap diletakkan bentala terbuat dari batu padas dihiasi dengan ornament suluran daun.

8. Palinggih Gunung Agung

Lokasi                   : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : batu bata dan batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Palinggih Gunung Agung berdiri di halaman utama mandala (jeroan) pura, pada sisi timur menghadap ke barat, tepat di samping kanan Gedong Ratu Susun Dalem Kadewatan. bangunan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Kaki bangunan berbentuk bebaturan terbuat dari batu bata merah kombinasi batu padas sebagai hiasan ornamentnya, keempat sudat bawahnya berhiaskan ornament karang gajah, dan setiap sudut atasnya berhiaskan pahatan simbar. Badan bangunan juga terbuat dari batu bata merah dengan kombinasi batu padas sebagai hiasan ornament, pada keempat sudut bawahnya dihiasi dengan pahatan karang manuk, bagian atasnya pada sisi barat terdapat pintu ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berwarna coklat, pada altar badan palinggih diletakkan dua arca, yaitu arca tokoh dan arca balagana. Atap bangunan palinggih berbentuk limasan terbuat dari batu padas, pada puncaknya diletakkan murdha berupa kuncup padma, dan setiap sudut atapnya berhiaskan karang manuk.

9. Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung)

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Utara – selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XV – XVI Masehi

Bahan                  : Batu bata

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung) di Pura Dalem Kadewatan ini merupakan gapura yang menghubungkan halaman tengah (madya mandala) ke halaman dalam (utama mandala/jeroan). Kori Agung ini terbuat dari susunan batu bata secara vertikal dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan dan atap. Bagian kaki Kori Agung terbuat dari susunan batu bata, bagian kaki pada setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas, pada sisi depan yang merupakan sebagai tempat meletakkan arca dwarapala diberikan hiasan simbar gantung dan simbar duduk yang lengkap di tengah-tengahnya berhiaskan pepalihan khas bebadungan, serta pada bagian kaki sisi luar terdapat undakan berupa anak tangga bertingkat tujuh.

Bagian badan Kori Agung terbuat dari susunan batu bata secara keseluruhan terdiri dari badan pengawak gede, badan caping, dan badan pegandong. Badan pengawak gede terbuat dari batu bata, ditengah-tengahnya tedapat pintu masuk yang terbuat dari kayu dengan ambang pintu (dedanga/ulap-ulap) bersusun enam, pada setiap sudut badan masing-masing sisinya dihiasi dengan relief simbar gantung pada bagian atas dan simbar duduk pada bagian bawahnya, serta di atas ambang pintu pada sisi depan dan belakang (utara – selatan) terdapat hiasan kepala kala dengan ciri-ciri mata melotot, mulut terbuka dengan gigi runcing, taring mencuat keluar, telinga runcing ke atas, dan rambut di atas kepala dipahatkan ikal menyerupai karang batu. Badan caping merupakan bagian badan yang mengapit badan pengawak gede, terbuat dari susunan batu bata, setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas, serta pada bagian kuping juga berhiaskan balok persegi terbuat dari batu bata yang biasa disebut dengan subeng. Badan pegandong merupakan struktur yang terbuat dari susunan batu bata yang berukuran lebih kecil sebagai penyambung tembok pura pada setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas.

Bagian atap Kori Agung terbuat dari susunan batu bata terdiri dari atap pengawak gede, atap caping, dan atap pegandong. Atap pengawak gede terbuat dari susunan batu bata, disusun bertingkat lima yang semakin ke atas semakin kecil, pada bagian kemuncak berbentuk mahkota ratna, setiap sudutnya berhiaskan antefik yang terbuat dari batu padas berupa suluran daun, setiap sisi atap berhiaskan simbar duduk dan setiap sudutnya berhiaskan simbar gantung. Bagian atap caping pada sisi kanan ataupun kiri memiliki ciri-ciri sama yaitu terbuat dari susunan batu bata, pada setiap sudut dan puncaknya berhiaskan simbar duduk dan simbar gantung lengkap dengan antefik terbuat dari batu padas berupa suluran daun, dan pada puncak atap caping disusun batu bata menjulang  tinggi yang disebut dengan kampid (sayap) gapura. Bagian atap pegandong terbuat dari batu bata yang disusun dengan hiasan simbar duduk dan simbar gantung lengkap dengan antefik pada setiap sudutnya, serta pada kemuncak atap pegandong diletakkan kemucak susunan batu bata seperti atap caping, tetapi lebih kecil.

Pura Dalem Penataran

Jalan-jalan bangunan cagar budaya di Sanur, berlanjut ke Pura Dalem Penataran. Pura ini berdekatan dengan Pura Siwa Dampati.

Bangunan di kawasan Pura Dalem Penataran diperkirakan ada dalam periode abad XVIII – XIX. Dinding Gedong Dalem, tertulis dalam aksara Bali, yakni angka 1793, dan kemungkinan sebagai tahun śaka atau 1871 Masehi. Sebagian besar bangunan Gedong Dalem, Palinggih Sumur Suci, Palinggih Hyang Api (Lebuh Geni), Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung), serta arca-arca menggunakan batu bata merah dan padas.

Keberadaan Pura Dalem Penataran memiliki kaitan dengan Pura Siwa Dampati, sehingga tidak dapat terlepas dari keberadaan Griya Gede Taman Intaran yang hingga saat ini masih mengempon bersama masyarakat Banjar Taman Sari.

Menurut para tetua setempat,  pura ini erat kaitannya dengan perjalanan Ida Pedanda Made Alangkajeng dari Griya Delod Pasar. Beliau membuat parahyangan di sekitar tetamanan Mimba/Intaran (Udiyana Mimba) yang menjadi cikal bakal nama Banjar Taman Sari.

Pura Dalem Penataran dulunya merupakan pura keluarga Griya Gede Taman Intaran. Perkembangannya, desa adat harus memiliki tri kahyangan, akhirnya Pura Dalem Penataran di sungsung oleh Desa Adat Intaran sebagai salah satu Pura Kahyangan Tiga. Pura Dalem Penataran diperkirakan sudah ada sejak abad XVIII-XIX Masehi. Hal tersebut dapat ditelisik berdasarkan inskripsi angka tahun menggunakan aksara Bali yang terpahat di bangunan Gedong Dalem berbunyi 1793 yang kemungkinan sebagai tahun śaka atau 1871 Masehi.

Pura Dalem Penataran

Struktur tri mandala dari pura, yaitu jaba sisi (nista mandala) merupakan halaman terbuka, jaba tengah (madya mandala), dan jeroan (utama mandala). Utama mandala (jeroan/halaman paling suci) dan jaba tengah (madya mandala) dikelilingi dengan tembok keliling, serta dihubungkan dengan candi bentar dari jaba sisi ke jaba tengah, dan candi kurung atau Kori Agung dari jaba tengah ke jeroan pura.

Halaman jeroan (utama mandala) di dalamnya terdapat bangunan-bangunan utama dan penunjang dalam melaksanakan kegiatan keagamaan pemujaan, seperti Gedong Dalem,  Palinggih Hyang Api, Sumur Suci, Palinggih Prajapati, Bale Pesanekan Sasuhunan Siwa Dampati, Sumur, Bale Pesantian, Tajuk, Bale Pawedan, Bale Pesanekan, dan Bale Gong. Sedangkan di halaman jaba tengah (madya mandala) terdapat bangunan wantilan.

Karakteristik pura ini geneologis dan territorial. Geneologis ditandai dengan keluarga Griya Gede Taman Intaran sebagai pangemponnya, termasuk juga sebagai pura territorial (kahyangan tiga desa).  Hal ini karena pangemponnya adalah masyarakat Banjar Taman Sari dan penyungsungnya adalah masyarakat Desa Adat Intaran. Upacara piodalan Pura Dalem Penataran dilaksanakan setiap enam bulan sekali yang jatuh pada hari Anggarakasih Wuku Tambir.

Setelah mengetahui letak, sejarah, struktur, dan karakteristik Pura Dalem Penataran, sekarang dibahas potensi-potensi heritage menarik yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya dapat sebagai daya tarik wisata heritage di kawasan Sanur, seperti Gedong Dalem, Palinggih Sumur Suci, Palinggih Hyang Api (Lebuh Geni), Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung), dan arca dwarapala.

1. Gedong Dalem

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                : Tinggi                      :    –   cm

                                Panjang                  : 375 cm

                                Lebar                       : 349 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Tahun Śaka 1793 (1871 Masehi)

Bahan                  : Batu bata, kayu, dan ijuk

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Gedong Dalem merupakan bangunan utama di Pura Dalem Penataran, terletak di halaman jeroan (utama mandala) pada  sisi timur menghadap ke barat. Kaki bangunan berbentuk bebaturan, sudah pernah mengalami renovasi, terbuat dari batu bata merah yang setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, keempat sudut atasnya berhiaskan relief karang manuk lengkap dengan pahatan simbar gantung berupa suluran daun, sedangkan pada setiap sisi ditengahnya berhiaskan relief karang bentulu lengkap dengan simbar gantung berupa pahatan patra cina, dan pada sisi baratnya terdapat lima susun anak tangga untuk menuju garbhagraha pada bagian badan gedong.

Badan bangunan gedong juga terbuat dari batu bata merah, bagian depannya terdapat pintu untuk memasuki ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berukir berwarna coklat, sama halnya dengan kaki setiap sisi dan sudutnya dipahatkan pepalihan khas bebadungan, di atas ambang pintu terdapat pahatan surya candra, yaitu matahari ditopang bulan sabit, dan pada ambang pintu bagian dalam terdapat goresan inskripsi angka tahun menggunakan aksara Bali berbunyi 1793 yang kemungkinan sebagai tahun śaka atau 1871 Masehi. Keempat sisi badan sangat raya dengan ukiran seperti karang manuk lengkap dengan simbar patra sari, patra cina, dan pada masing-masing sisi tengahnya berhiaskan karang bentulu lengkap dengan simbar gantung berupa patra sari dan patra cina, dan pada selasar badan gedong diletakkan tiga arca dwarapala terbuat dari batu padas. Atap bangunan gedong berbentuk limasan terbuat dari susunan kayu dan ijuk yang ditopang dengan empat tiang kayu berwarna coklat, pada puncak atap diletakkan murdha terbuat dari batu padas berbentuk ratna dengan hiasan karang bentulu dan karang manuk.

2. Palinggih Sumur Suci

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                : Tinggi keseluruhan  : 196 cm

                                Panjang                        : 180 cm

                                 Lebar                             : 132 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu bata dan padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Palinggih Sumur Suci merupakan struktur yang terbuat dari susunan batu bata berbentuk babaturan lengkap dengan sandaran yang puncaknya dihiasi dengan bentala berukir. Palinggih ini posisinya di  halaman jeroan (utama mandala) pada  sisi timur laut menghadap ke barat. Kaki bangunan berbentuk bebaturan polos, badannya terbuat dari batu padas persegi bertingkat tiga sebagai penutup lobang subur, lengkap dengan tabeng pada kanan dan kirinya. Sumur suci ini oleh masyarakat dimanfaatkan untuk memohon air suci (tirtha) untuk kelengkapan sarana upakara ketika prosesi upacara piodalan berlangsung.

3. Palinggih Hyang Api (Lebuh Geni)

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                : Tinggi                      :    –   cm

                                Panjang                  : 130 cm

                                Lebar                       : 124 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu bata dan padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Palinggih Hyang Api (Lebuh Geni) merupakan bangunan yang terletak di halaman jeroan (utama mandala) pada  sisi timur menghadap ke barat, yaitu di sebelah kanan Gedong Dalem. Kaki palinggih berbentuk bebaturan yang setiap sudutnya berhiaskan simbar duduk dan simbar gantung polos, serta pada sisi baratnya terdapat tiga anak tangga. Badan bangunan palinggih juga terbuat dari batu bata merah, terdiri dari dua bagian, yaitu badan bagian bawah berupa susunan batu bata polos berhiaskan simbar gantung dan simbar duduk pada setiap sudutnya, sedangkan badan bagian atas terdapat ruangan suci (grabhagraha) lengkap dengan pintu berbahan kayu berwarna coklat, ambang pintunya berupa balok batu padas yang dipahat dengan hiasan karang bentulu yang disamarkan dengan stilir suluran daun dan diapit dengan ceplok bunga. Atap palinggih berbentuk limasan terbuat dari susunan batu bata yang sudah disemen, pada puncak atap diletakkan murdha terbuat dari batu padas berbentuk ratna.

4. Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung)

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Arah Hadap       : Timur – barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XX ( Tahun 1955)

Bahan                  : Batu bata dan padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung) di Pura Dalem Kadewatan ini merupakan gapura yang menghubungkan halaman tengah (madya mandala) ke halaman dalam (utama mandala/jeroan). Kori Agung ini terbuat dari susunan batu bata secara vertikal dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan dan atap. Bagian kaki Kori Agung terbuat dari susunan batu bata, bagian kaki pada setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas, pada sisi depan yang merupakan sebagai tempat meletakkan arca dwarapala diberikan hiasan simbar gantung dan simbar duduk yang lengkap di tengah-tengahnya berhiaskan pepalihan khas bebadungan, serta pada bagian kaki sisi luar dan dalam terdapat undakan berupa anak tangga bertingkat lima.

Bagian badan Kori Agung terbuat dari susunan batu bata secara keseluruhan terdiri dari badan pengawak gede, badan caping, dan badan pegandong. Badan pengawak gede terbuat dari batu bata, ditengah-tengahnya tedapat pintu masuk yang terbuat dari kayu dengan ambang pintu (dedanga/ulap-ulap) bersusun enam, pada setiap sudut badan masing-masing sisinya dihiasi dengan relief simbar gantung pada bagian atas dan simbar duduk pada bagian bawahnya, serta di atas ambang pintu pada sisi barat terdapat tulisan angka tahun yang berbunyi T.22 B.11 T.1955 yang artinya tanggal 22 bulan Nopember tahun 1955. Selain itu terdapat juga hiasan kepala kala atau disebut dengan karang bhoma memiliki ciri-ciri mata melotot, mulut terbuka dengan gigi runcing, taring mencuat keluar, telinga lebar, kedua tangan terbuka, rambut di atas kepala dipahatkan ikal menyerupai karang batu menopang relief tokoh dewa, dan dikelilingi dengan suluran-suluran daun maupun ceplok bunga. Badan caping merupakan bagian badan yang mengapit badan pengawak gede, terbuat dari susunan batu bata, setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas, serta pada bagian kuping juga berhiaskan balok persegi terbuat dari batu bata yang biasa disebut dengan subeng. Badan pegandong merupakan struktur yang terbuat dari susunan batu bata yang berukuran lebih kecil sebagai penyambung tembok pura pada setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas.

Atap Kori Agung terbuat dari susunan batu bata terdiri dari atap pengawak gede, atap caping, dan atap pegandong. Atap pengawak gede terbuat dari susunan batu bata, disusun bertingkat tiga, pada bagian kemuncak berbentuk murdha mahkota, setiap sudutnya berhiaskan antefik yang terbuat dari batu padas berupa suluran daun, setiap sisi atap berhiaskan simbar duduk dan setiap sudutnya berhiaskan simbar gantung. Bagian atap caping pada sisi kanan ataupun kiri memiliki ciri-ciri sama yaitu terbuat dari susunan batu bata, pada setiap sudut dan puncaknya berhiaskan simbar duduk dan lengkap dengan antefik terbuat dari batu padas berupa suluran daun, dan pada puncak atap caping disusun batu bata menjulang  tinggi yang disebut dengan kampid (sayap) gapura. Bagian atap pegandong terbuat dari batu bata yang disusun dengan hiasan simbar duduk lengkap dengan antefik pada setiap sudutnya, serta pada kemuncak atap pegandong diletakkan kemucak susunan batu bata seperti atap caping dengan ukuran lebih kecil.

5. Arca Dwarapala I

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 29 cm

                                 Lebar        : 22 cm

                                 Tebal        : 18 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Rusak

Deskripsi             : Arca Dwarapala I di Pura Dalem Penataran ini berukuran sangat kecil, diletakkan pada selasar sisi barat Gedong Dalem, arca sudah dalam keadaan rusak keropos, muka arca bulat telur, rambutnya tebal, berbadan tambun, duduk di atas lapik persegi polos. Tangan kanan arca membawa gada menempel di samping kanan perut hingga samping kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping dada membawa prisai berbentuk bulat.

6. Arca Dwarapala II

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 72 cm

                                 Lebar        : 40 cm

                                 Tebal        : 38 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala II di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada selasar Gedong Dalem sisi barat sebelah kiri, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi berhiaskan karang batu dengan menekuk kaki kanan lebih tinggi, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kiri atas, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut ikal terurai tanpa menggunakan hiasan kepala. Tangan kanan arca membawa gada diletakkan di atas kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, dan ikat pinggang berhiaskan ceplok bunga.

7. Arca Dwarapala III

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 77 cm

                                 Lebar        : 35 cm

                                 Tebal        : 33 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala III di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada selasar Gedong Dalem sisi barat sebelah kanan, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan menekuk kaki kanan lebih tinggi, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kiri atas, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut ikal terurai tanpa menggunakan hiasan kepala. Tangan kanan arca membawa gada diarahkan ke samping kiri kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, dan ikat pinggang berhiaskan ceplok bunga.

8. Arca Dwarapala IV

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 107 cm

                                 Lebar        : 39 cm

                                 Tebal        : 41 cm

Arah Hadap       : Tenggara

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala IV di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada lantai sudut tenggara Bale Pawedan, arca ini tidak sebagai penjaga pintu masuk, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi polos dengan menekuk kaki kanan lebih tinggi, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke depan, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan terikat di atas kepala. Kedua tangan masing-masing diletekkan di samping pinggang. Arca menggunakan baju rompi dengan memperlihatkan perutnya yang buncit, menyelipkan keris dipinggang belakang, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, dan lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik.

9. Arca Dwarapala V

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 94 cm

                                 Lebar        : 33 cm

                                 Tebal        : 37 cm

Arah Hadap       : Barat daya

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala V di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada lantai sudut barat daya Bale Pawedan, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan sikap menekuk kedua kakinya, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut ikal terurai tanpa menggunakan hiasan kepala. Tangan kanan arca membawa gada disamping dada, sedangkan tangan kiri ditekuk di depan dada, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, menggunakan upawita, dan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu.

10. Arca Dwarapala VI

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 97 cm

                                  Lebar        : 38 cm

                                  Tebal        : 36 cm

Arah Hadap       : Barat laut

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala VI di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada lantai sudut barat laut Bale Pawedan, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan sikap menekuk kedua kakinya, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut diikat di atas kepala. Tangan kanan arca membawa pedang golok di depan dada, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping dada, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, menggunakan upawita, dan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu.

11. Arca Dwarapala VII

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 97 cm

                                 Lebar        : 38 cm

                                  Tebal        : 36 cm

Arah Hadap       : Barat laut

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala VII di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada lantai sudut timur laut Bale Pawedan, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan sikap menekuk kedua kakinya, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut diikat di atas kepala. Tangan kanan arca membawa pedang golok di depan dada, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping dada, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, menggunakan upawita, dan ikat pinggang berhiaskan ceplok bunga.

12. Arca Dwarapala VIII

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 132 cm

                                 Lebar        :   48 cm

                                 Tebal        :   51 cm            

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala VIII di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan sebelah kiri depan Kori Agung, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi polos dengan menekuk kaki kanan lebih tinggi, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kanan atas, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, menggunakan mahkota dan petitis. Tangan kanan arca membawa gada menempel di samping kiri kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk disamping perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron bercabang dua hingga menyentuh lapik, menggunakan badong, dan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu.

13. Arca Dwarapala IX

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 136 cm

                                  Lebar        :   49 cm

                                  Tebal        :   52 cm            

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala IX di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan sebelah kanan depan Kori Agung, ciri-ciri raksasanya sama dengan arca dwarapala VIII disebelahnya, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi polos dengan menekuk kaki kiri lebih tinggi. Tangan kanan arca membawa gada disamping dada, sedangkan tangan kiri ditekuk di depan perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron bercabang dua hingga menyentuh lapik, menggunakan badong, dan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu.

Pura Siwa Dampati

Pura Siwa Dampati, pura yang terletak di Jalan Danau Buyan, Banjar Taman Sari, Desa Intaran, diperkirakan terbangun diperiode abad XVIII-XIX. Khas bangunan ini bertahan dengan batu bata merah asli sejak berdirinya.

Mengenai keberadaan Pura Siwa Dampati tidak dapat terlepas dari keberadaan Griya Gede Taman Intaran, yang masih sebagai pengempon pura ini, begitu juga Banjar Taman Sari sebagai penyungsungnya.  Menurut para tetua banjar tersebut, pura ini sangat erat kaitannya dengan perjalanan Ida Pedanda Made Alangkajeng dari Griya Delod Pasar. Beliau membuat parahyangan di sekitar tetamanan Mimba/Intaran (Udiyana Mimba).

Pura ini juga erat kaitannya dengan Pura Dalem Penataran yang pertemuan niskalanya terjadi di pura ini.  Cikal bakal inilah yang menyebabkan disebut dengan Siwa Dampati.

Kata dampati berarti pertemuan. Dalam Regweda bisa diartikan sebagai laki dan perempuan yang sudah menjadi suami istri disebut dengan dampati, tidak dapat dipisahkan. Hal ini manifestasi dari penyatuan Dewa Siwa dengan Sakti, Dewi Durga yang bersthana di Pura Dalem Penataran.

Struktur bangunan

Pura Siwa Dampati

Bangunan cagar budayanya di antaranya, Gedong Siwa Dampati, Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung), arca dwarapala, dan arca tokoh pendeta (Brahmana). Secara lengkap, Pura Siwa Dampati memiliki struktur tri mandala, yaitu jaba sisi (nista mandala) merupakan halaman terbuka langsung jalan raya, jaba tengah (madya mandala), dan jeroan (utama mandala).

Secara simbolis nista mandala melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, sedangkan madya mandala merupakan alam transisi menuju utama mandala yang melambangkan swahloka yaitu sebagai alam para dewa atau dunia baka. Utama mandala (jeroan/halaman paling suci) dan jaba tengah (madya mandala) dikelilingi dengan tembok keliling, serta dihubungkan dengan candi bentar dari jaba sisi ke jaba tengah, dan candi kurung atau Kori Agung dari jaba tengah ke jeroan pura.

Halaman jeroan (utama mandala) di dalamnya terdapat bangunan-bangunan utama dan penunjang dalam melaksanakan kegiatan keagamaan pemujaan, seperti Tugu Pengapit Gedong Siwa Dampati,  Bale Tajuk, Gedong Siwa Dampati, Piyasan, Sumur, Bale Pesanekan, dan Bale Gong. Sedangkan di halaman jaba tengah (madya mandala) terdapat beberapa bangunan utama dan penunjang seperti Gedong Parerepan untuk menyimpan Sasuhunan Tapakan Barong dan Rangda, Tugu Pangameng, Tajuk Ida Dewa Rangda, dan Bale Gong Parerepan.

Pura Siwa Dampati memiliki karakteristik pura geneologis dan territorial, karena secara geneologis ditandai dengan keluarga Griya Gede Taman Intaran sebagai pangemponnya, dan masyarakat umum Banjar Taman Sari sebagai penyungsungnya. Upacara piodalan Pura Siwa Dampati dilaksanakan setiap tahun yang jatuh pada hari Purnamaning Sasih Kapat (sekitar bulan September – Oktober), sedangkan piodalan di Parerepan atau Sasuhunan Tapakan Barong dan Rangda yang terletak di jaba tengah (madya mandala) dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu pada hari Saniscara Wuku Wayang (Tumpek Wayang).

Setelah mengetahui letak, sejarah, struktur, dan karakteristik Pura Siwa Dampati, sekarang dibahas potensi-potensi heritage menarik yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya dapat sebagai daya tarik wisata heritage di kawasan Sanur, seperti Gedong Siwa Dampati, Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung), arca dwarapala, dan arca tokoh pendeta (Brahmana).

1. Gedong Siwa Dampati

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                : Lebar kaki              : 240 cm

                                Panjang kaki         : 325 cm

                                Panjang badan     : 247 cm

                                 Lebar badan         :   99 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu bata, kayu, dan ijuk

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Gedong Siwa Dampati merupakan bangunan utama di Pura Siwa Dampati, terletak di halaman jeroan (utama mandala) pura, sisi timur menghadap ke barat. Kaki bangunan berbentuk bebaturan, sudah pernah mengalami renovasi, terbuat dari batu bata merah yang setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, beberapa bagiannya ditempelkan ornament keramik piring, pada sisi baratnya terdapat lima susun anak tangga untuk menuju garbhagraha pada bagian badan gedong. Badan bangunan gedong juga terbuat dari batu bata merah yang masih asli, bagian depannya terdapat pintu untuk memasuki ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berukir berwarna coklat, sama halnya dengan kaki setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, di atas ambang pintu terdapat lubang persegi dikelilingi dengan garis-garis berbentuk segitiga menyerupai sinar matahari, lubang persegi tersebut ditutup dengan kaca. Ketiga sisi badan, yaitu depan dan samping dihiasi dengan keramik piring maupun mangkuk berwarna putih, abu-abu, dan biru, sedangkan pada selasar badan gedong diletakkan dua arca, yaitu sebuah arca dwarapa dan sebuah arca pendeta (Brahmana). Atap bangunan gedong berbentuk limasan terbuat dari susunan kayu dan ijuk yang ditopang dengan empat tiang kayu berwarna coklat, pada puncak atap diletakkan murdha terbuat dari batu padas berbentuk ratna dengan hiasan karang bentulu dan karang manuk.

2. Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung)

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                : Lebar keseluruhan            : 558 cm

                                Tebal                                      :   97 cm

Arah Hadap       : Utara – selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu bata, kayu

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung) di Pura Siwa Dampati merupakan gapura penghubung jaba tengah (madya mandala) ke jeroan (utama mandala). Kori Agung ini terbuat dari susunan batu bata secara vertikal dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan dan atap. Kaki Kori Agung terbuat dari susunan batu bata, bagian kaki ini sudah pernah direnovasi dengan menggunakan bahan bata baru, pada sisi depan yang merupakan tempat meletakkan arca dwarapala juga sudah direnovasi dengan bahan bata baru, arca dwarapala di depan Kori Agung adalah Mahakala dan Nandiswara membawa gada, serta pada bagian kaki sisi luar terdapat undakan berupa anak tangga bertingkat lima.

Bagian badan Kori Agung terbuat dari susunan batu bata secara keseluruhan terdiri dari badan pengawak gede dan badan caping sekaligus sebagai badan pegandong. Badan pengawak gede terbuat dari batu bata, ditengah-tengahnya tedapat pintu masuk yang terbuat dari kayu dengan ambang pintu (dedanga/ulap-ulap) bersusun tiga, pada setiap sudut badan masing-masing sisinya dihiasi dengan relief simbar gantung pada bagian atas dan simbar duduk pada bagian bawahnya, Badan caping merupakan bagian badan yang mengapit badan pengawak gede, terbuat dari susunan batu bata polos tanpa hiasan, serta pada bagian kuping juga berhiaskan balok persegi terbuat dari batu bata berbahan baru yang biasa disebut dengan subeng.

Atap Kori Agung terbuat dari susunan batu bata disusun bertingkat tiga yang semakin ke atas semakin kecil, puncak atap berbentuk rata tanpa hiasan ratna, setiap sudutnya berhiaskan antefik yang terbuat dari batu bata berupa simbar duduk maupun simbar gantung.

3. Arca Dwarapala I

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 74 cm

                                 Lebar        : 37 cm

                                 Tebal        : 33 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala I di Pura Siwa Dampati ini diletakkan sebelah utara depan sumur, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik bulat dengan kedua lutut sedikit ditekuk, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kiri, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut ikal terurai tanpa menggunakan hiasan kepala. Tangan kanan arca membawa gada menempel di samping kanan perut, sedangkan tangan kiri ditekuk di depan perut dengan memperlihatkan kuku panjang tajam, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik.

4. Arca Dwarapala II

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 75 cm

                                 Lebar        : 38 cm

                                 Tebal        : 31 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala II di Pura Siwa Dampati ini diletakkan sebelah selatan depan sumur, ciri-ciri arca sama dengan arca Dwarapala I, karena kedua arca ini memang sepasang, tetapi yang membedakan adalah arca ini menoleh ke kanan, tangan kiri arca menempel di samping perut, sedangkan tangan kanan membawa gada diletakkan di samping kiri kepalanya.

5. Arca Dwarapala III

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 80 cm

                                 Lebar        : 33 cm

                                 Tebal         : 31 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala III di Pura Siwa Dampati ini diletakkan pada selasar sisi barat sebelah kiri Gedong Siwa Dampati, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan kedua lutut sedikit ditekuk, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kiri, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, menggunakan petitis di atas dahi, dan ron-ronan pada belakang telinga arca. Tangan kanan arca membawa gada menempel di sebelah kanan perut, sedangkan tangan kiri ditekuk di depan perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron bercabang dua hingga menyentuh lapik.

6. Arca Dwarapala Mahakala

Lokasi                   : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 116 cm

                                 Lebar       :   47 cm

                                 Tebal        :   53 cm            

Arah Hadap       : Selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala Mahakala ini diletakkan sebelah barat depan paduraksa, berpasangan dengan Arca Dwarapala Nandiswara, dalam ikonografi Hindu kedua arca dwarapala ini memang bertugas untuk menjaga kuil Dewa Siwa, Arca Dwarapala Mahakala bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik berhiaskan suluran daun dan karang batu, kaki kiri diangkat lebih tinggi daripada kaki kanan, tidak menggunakan gelang pada pergelangan kaki, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke depan, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, rambut ikal, dan menggunakan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu. Tangan kanan arca membawa gada disamping perut, sedangkan tangan kanan dilipat ke depan dada terkepal memperlihatkan kuku ibu jari yang panjang.

7. Arca Dwarapala Nandiswara

Lokasi                   : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 114 cm

                                 Lebar       :   43 cm

                                 Tebal        :   43 cm            

Arah Hadap       : Selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala Nandiswara ini diletakkan sebelah timur depan paduraksa, berpasangan dengan Arca Dwarapala Mahakala, dalam ikonografi Hindu kedua arca dwarapala ini memang bertugas untuk menjaga kuil Dewa Siwa, Arca Dwarapala Nandiswara bermuka kera, berbadan tambun, berdiri di atas lapik berhiaskan suluran daun dan karang bentulu, kaki kiri diangkat lebih tinggi, tanpa menggunakan gelang kaki, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke depan, gigi taring mencuat keluar, hidung kecil, menggunakan mahkota, dan menggunakan ikat pinggang berhiaskan samar-samar karang bentulu. Tangan kiri arca dilipat disamping dada, sedangkan tangan kanan membawa gada diletakkan di samping kiri kepalanya.

8. Arca Pendeta (Brahmana)

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 82 cm

                                 Lebar        : 34 cm

                                 Tebal        : 30 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Pendeta (Brahmana) di Pura Siwa Dampati ini dapat dikenali melalui ciri-ciri ikonografinya, seperti jenggot, menggunakan baju, upawita, dan mahkota berupa ketu. Arca diletakkan pada selasar sisi barat sebelah kanan Gedong Siwa Dampati, arca berdiri di atas lapik persegi dengan menekuk lutut kanan lebih tinggi, bibir tersenyum memperlihatkan gigi, mata melotot, menoleh ke depan, hidung besar, menggunakan petitis di atas dahi, dan ron-ronan pada belakang telinga. Tangan kanan arca ditekuk di depat dada dengan sikap nyambir, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping pinggang membawa bulatan, menggunakan kain bawah tebal hanya sebatas lutut kanan, sadangkan lutut kirinya tertutup kain, menggunakan baju lengkap dengan upawita. Kemungkinan arca Pendeta (Brahmana) ini merupakan wujud simbolisasi tokoh Ida Pedanda Made Alangkajeng dari Griya Delod Pasar yang membangun Pura Siwa Dampati di Udiyana Mimba (Taman Mimba/Intaran).

Pura Segara

Pura Segara. Keberadaannya masih sederetan di Pantai Segara Ayu. Bangunan dari pura ini hampir serupa dengan kondisi Pura Dalem Jumeneng. Bentuknya bebatuan gamping yang bertingkat-tingkat, punden berundak, sebagai tradisi dari periode megalitik.

Keberadaan pura ini dipesisir berkaitan erat dengan pekerjaan masyarakat setempat sebagai nelayan, terutama zaman itu. Pura Segara Ayu menjadi tempat bersembahyang agar mendapatkan lindungan dan keselamatan dari-Nya selama melaut. Pantai atau laut dalam bahasa Bali berarti segara, yang juga sebagai manifestasi Dewa Wisnu. Piodalan digelar setiap tahunnya pada Purnama Kedasa (purnamaning sasih kedasa).

Terdapat tempat pemujan, Palinggih Gunung Agung, Palinggih Gunung Batur, dan Palinggih Dalem Segara. Palinggih ini bagian dari pemujaan rasa syukur kepada alam lingkungan dan gunung. Masyarakat setempat menambahkan ornamen arca di setiap seperti arca naga, penyu, ikan berkepala gajah. 

Segara sebagai nama pura dikaitkan dengan lokasinya yang berada dekat dengan pantai. Nah,  penyebutan pantai dalam bahasa Bali adalah segara.

Istilah segara juga dikaitkan dengan air sebagai manifestasi Dewa Wisnu dalam ajaran Hindu Bali. Karenanya, masyarakat menganggap Pura Segara Sanur juga sebagai Pura Puseh.

Upacara piodalannya dilaksanakan setiap tahunnya pada Purnama Kedasa (purnamaning sasih kedasa). Pengempon yang bertanggung jawab mengurus dan membina keberadaan Pura Segara Sanur adalah kelompok keluarga sebanyak enam kepala keluarga, sedangkan penyungsungnya adalah masyarakat Desa adat Intaran dan masyarakat umum lainnya. Berdasarkan pengempon dan penyungsung pura, dapat dikatakan Pura Segara Sanur tersebut berkarakter sebagai pura geneologis dan umum.

Tri mandala

Pura Segara

Struktur Pura Dalem Jumeneng adalah tri mandala, yaitu terdiri dari jaba sisi (nista mandala) berada di sisi utara, jaba tengah (madya mandala), dan jeroan (utama mandala) berada di sisi selatan. Secara simbolis tiga halaman ini dihubungkan dengan konsep Tri Bhuwana yaitu tingkatan alam semesta (bhuwana agung) seperti nista mandala melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, madya mandala melambangkan bwahloka yaitu alam pitra/roh atau alam peralihan, dan utama mandala melambangkan swahloka yaitu sebagai alam para dewa atau dunia baka. Jaba sisi (nista mandala) tidak dikelilingi oleh tembok, tetapi berupa sebuah halaman terbuka yaitu Jalan Segara Ayu.

Utama mandala (jeroan/halaman paling suci) dan madya mandala (jaba tengah) dikelilingi oleh tembok keliling terbuat dari susunan batu gamping (karang laut) dibatasi dengan candi bentar terbuat dari susunan batu padas. Halaman utama mandala terdapat bangunan-bangunan utama dan penunjang dalam melaksanakan kegiatan keagamaan pemujaan, seperti Penyawangan Gunung Agung, Penyawangan Gunung Batur, Palinggih Dalem Segara, Palinggih Penyarikan, Palinggih Manik Kembar, Palinggih Linggih Bhatara Bayu, Palinggih Ratu Mas Melanting, Palinggih Jilih Lambih, Bale Pawedan Bhatara Bayu, Palinggih Ratu Niang Gobleh, Piyasan, Bale Tajuk, Bale Paruman, Pale Pawedan, Bale Gong, Aling-aling, Bale Kulkul, Wantilan, dan Palinggih Linggih Ratu Dalem Peed.

Punden berundak dan tahta batu di Pura Segara jika ditinjau dari keilmuan arkeologi, dapat dikatakan sebagai tinggalan yang berasal dari masa prasejarah akhir, tepatnya pada masa tradisi megalitik yang masih berlanjut hingga awal masa sejarah (protohistoris). Struktur punden berundak sebagai hasil budaya masa tradisi megalitik berlanjut hingga saat ini masih tetap bertahan dan dimanfaatkan oleh masyarakat pendukungnya sebagai media pemujaan, hal tersebut dapat disebut juga dengan living megalithic tradition.

Susunan punden berundak di Pura Segara berjumah empat buah struktur, yaitu punden berundak paling besar disisi selatan menghadap ke barat sebagai Penyawangan Gunung Agung, Penyawangan Gunung Batur, Palinggih Dalem Segara, dan Palinggih Penyarikan. Terdapat juga punden berundak sebagai Linggih Bhatara Bayu, punden berundak sebagai Linggih Ratu Mas Melanting dan Linggih Ratu Jilih Lambih, serta terdapat juga tahta batu Linggih Ratu Manik Kembar.

Setelah mengetahui letak kondisi geografis, latar belakang sejarah, struktur, dan karakteristik Pura Segara, sekarang dibahas potensi-potensi heritage menarik yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya dapat sebagai daya tarik wisata heritage di kawasan Sanur, seperti punden berundak, tahta batu, sumur, menhir, dan kedok muka.

1. Punden Berundak I

Lokasi                  : Pura Segara

Ukuran                : Tinggi                             :    219 cm

                                Panjang                         : 1.265 cm

                                Lebar                              :    600 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi          : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Beberapa bagian rusak

Deskripsi       : Punden berundak I ini dibentuk menggunakan susunan batu gamping asli tanpa proses pembentukan, berada di sisi selatan halaman utama mandala pura berbentuk teras berundak dengan tiga tingkatan semakin ke atas semakin kecil. Teras pertama merupakan bagian dasar tanpa hiasan berbentuk persegi panjang dengan ukuran tinggi 87 cm, panjang 1.265 cm, dan lebar 600 cm. Selanjutnya tingkatan teras kedua berbentuk persegi panjang berukuran lebih kecil dari pada teras dasar  dengan tinggi 70 cm, panjang 1030 cm, dan lebar 365 cm. Pada selasar teras kedua ini ditancapkan menhir disamping tangga yang menghubungkan kedua teras ini. Antara undakan/teras pertama dengan kedua dihubungkan dengan empat struktur tangga untuk menuju tahta batu pada puncak punden berundak ini. 

              Tingkatan ketiga struktur punden berundak ini berukuran tinggi 62 cm, panjang 960 cm, dan lebar 287, terdapat tahta batu berjajar dari utara sebagai tempat pemujaan atau penyawangan yang disebut dengan Palinggih Gunung Agung, Palinggih Gunung Batur, dan Palinggih Dalem Segara. Sedangkan paling selatan tidak berbentuk tahta batu, tetapi bangunan beratap terbuat dari batu gamping yang disebut dengan Palinggih Penyarikan. Hal menarik nampak pada tahta batu yang disebut sebagai Palinggih Dalem Segara, karena pada sandaran tahtanya terdapat pahatan kedok muka yang disamar-samarkan. Punden berundak ini oleh masyarakat ditambahkan dengan ornament arca pada setiap terasnya seperti arca naga, penyu, ikan berkepala gajah, dan arca-arca tokoh.

              Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk masih dipertahankan menyerupai gunung, digunakan sebagai pemujaan kepada roh suci leluhur dengan adanya menhir dan kedok muka pada salah satu tahta batu, serta masyarakat masih melakukan pemujaan kepada alam lingkungan seperti gunung dan segara (laut) yang merupakan budaya kental tradisi megalitik.

2. Punden Berundak II

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             : 308 cm

                                 Panjang                         : 374 cm

                                 Lebar                              : 365 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi         : Punden berundak ini dibentuk menggunakan susunan batu gamping asli tanpa proses pembentukan, berbentuk teras berundak dengan lima tingkatan semakin ke atas semakin kecil di halaman utama mandala. Teras pertama merupakan bagian dasar berbentuk persegi dengan ukuran tinggi 20 cm, panjang 374 cm, dan lebar 365 cm dilengkapi dengan tangga bersusun tiga sebagai penghubung ke teras kedua. Selanjutnya tingkatan teras kedua berbentuk persegi berukuran tinggi 82 cm, panjang 316 cm, dan lebar 336 cm, teras ketiga berukuran tinggi 25 cm, panjang 255 cm, dan lebar 250 cm, teras keempat berukuran tinggi 87 cm, panjang 247 cm, dan lebar 240 cm, serta teras kelima sebagai puncak berukuran tinggi 96 cm, panjang 173 cm, dan lebar 150 cm lengkap dengan tahta batu di atasnya.

              Punden berundak ini dipercayai oleh masyarakat sebagai Palinggih Bhatara Bayu yang ditambahkan dengan ornament arca pendeta, arca tokoh, dan arca kera. Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang diakulturasikan dengan budaya agama Hindu  tetap mempertahankan bentuk bertingkat-tingkat menyerupai gunung dan digunakan sebagai pemujaan kepada roh suci leluhur dan Dewa Bayu sebagai dewa penguasa angin dalam agama Hindu di Bali.

3. Punden Berundak III

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             : 399 cm

                                 Panjang                         : 439 cm

                                 Lebar                              : 356 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi        : Punden berundak III  ini dibentuk menggunakan susunan batu gamping asli berbentuk teras berundak dengan tiga tingkatan semakin ke atas semakin kecil di sisi utara halaman utama mandala menghadap ke barat. Teras pertama merupakan bagian dasar berbentuk persegi dengan ukuran tinggi 19 cm, panjang 439 cm, dan lebar 356 cm dilengkapi dengan tangga sebagai penghubung ke teras kedua. Selanjutnya tingkatan teras kedua berbentuk persegi berukuran tinggi 76 cm, panjang 370 cm, dan lebar 303 cm, serta teras ketiga sebagai puncak punden berundak berukuran tinggi 304 cm, panjang 304 cm, dan lebar 247 cm. Pada teras puncak ini dilengkapi dengan tahta batu pada sisi utara sebagai tempat pemujaan atau penyawangan Ratu Mas Melanting dan pada sisi selatan terdapat palinggih yang memiliki atap terbuat dari batu gamping sebagai pemujaan atau penyawangan Ratu Jilih Lambih.

              Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk masih dipertahankan bertingkat-tingkat menyerupai gunung, digunakan sebagai pemujaan kepada roh suci leluhur, serta masyarakat masih menggunakan istilah atau nama lokal seperti Ratu Melanting dan Ratu Jilih Lambih yang biasanya dikaitkan dengan permohonan kesuburan, keselamatan, dan kemakmuran.

4. Tahta Batu I

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             : 206 cm

                                 Panjang                         :   67 cm

                                 Lebar                              :   63 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Tahta batu I ini disebut oleh masyarakat sebagai Linggih Ratu Manik Kembar terbuat dari susunan batu gamping berbentuk bebaturan yang di atasnya terdapat tiga ruang tahta batu. Ukuran kaki bebaturan adalah tinggi 13 cm, panjang 67 cm, dan lebar 63 cm, sedangkan bebaturannya sendiri berukuran tinggi 90 cm, panjang 61 cm, dan lebar 56 cm, dan puncaknya berupa tahta batu berukuran tinggi 90 cm, panjang 52 cm, dan lebar 54 cm. Sandaran tahta batu dibuat tidak menggunakan susunan batu, tetapi menggunakan batu gamping utuh yang cukup lebar. Pada kanan kiri tahta batu dibuat lagi bebaturan dari susunan batu gamping sebagai tempat meletakkan arca tokoh.

              Tahta batu di atas bebaturan ini secara fungsional dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk berupa singgasana tempat berstananya para roh leluhur yang oleh masyarakat sekarang difungsikan sebagai media memohon keselamatan dan kemakmuran.

5. Tahta Batu II

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             :   85 cm

                                 Panjang                         : 140 cm

                                 Lebar                              :   40 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Tahta batu II ini terbuat dari susunan batu gamping berbentuk bebaturan yang di atasnya terdapat sandaran berupa susunan batu gamping berbentuk segitiga menyerupai gunung. Tahta batu ini hanya memiliki sandaran, tanpa adanya susunan batu pembatas pada kanan atau kirinya, dan di tengah-tengahnya diletakkan pahatan kedok muka yang kemungkinan sebagai simbol dari roh leluhur pada masa lampau.

              Berdasarkan bentuk yang menyerupai gunung dan dengan adanya hiasan kedok muka, dapat dikatakan tahta batu ini sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai media pemujaan.

6. Tahta Batu III

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             : 141 cm

                                 Panjang                         :   58 cm

                                  Lebar                              :   52 cm

Arah Hadap       : Barat                 

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Tahta batu III ini terbuat dari susunan batu gamping berbentuk bebaturan yang di atasnya berbentuk kusi duduk (singgasana) dengan sandaran dan pembatas disampingnya terbuat dari batu gamping utuh. Tahta batu ini pengerjaannya sangat sederhana dan sedikitpun tidak menonjolkan hiasan.

              Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk yang sangat sederhana dan sesaui fungsi masa lampau bahwa tahta batu difungsikan sebagai media pemujaan kepada roh suci leluhur. Tahta batu (singgasana) dipercayai oleh masyarakat tradisi megalitik sebagai tempat duduknya para roh leluhur yang telah disucikan.

7. Sumur

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             :   57 cm

                                 Diameter                       : 107 cm

Arah Hadap       : –

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Sumur ini merupakan struktur yang disusun sedemikan rupa membentuk silinder sebagai sumber mata air terletak diantara tahta tahta batu I dan III.  Sumur sebagai sumber mata air masih difungsikan oleh masyarakat untuk memohon air suci (tirta) yang digunakan untuk kegiatan keagamaan di Pura Segara.

8. Menhir

Lokasi                   : Pura Segara Sanur

Ukuran                 : Tinggi       : 62 cm

                                 Lebar        : 35 cm

                                 Tebal        : 17 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal

                                sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Rusak

Deskripsi             : Menhir diletakkan pada teras tingkatan pertama punden berundak I. Menhir ini merupakan monolit (batu tunggal) berbahan batu gamping dengan bentuk yang tidak beraturan. Menhir merupakan hasil kebudayaan tradisi megalitik yang paling sederhana, karena hanya berupa batu tegak (berdiri) yang belum dikerjakan, tetapi diletakkan dengan sengaja pada suatu tempat untuk kepentingan memperingati jasa-jasa orang yang telah meninggal, sebagai simbol atau tempat bersemayamnya para roh leluhur.

9. Kedok Muka I

Lokasi                   : Pura Segara Sanur

Ukuran                 : Tinggi       : 37 cm

                                 Lebar        : 22 cm

                                 Tebal        :   7 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Rusak

Deskripsi             : Kedok muka I ini bentuknya sangat sederhana, hanya berupa goresan-goresan membentuk mata, hidung, dan mulut, dengan diletakkan pada tengah tahta batu Pelinggihan Dalem Segara di atas punden berundak. Tradisi megalitik ditandai dengan adanya pemujaan kepada roh leluhur sehingga oleh masyarakat prasejarah dimasa lalu kedok muka dijadikan penggambaran orang yang sudah meninggal atau leluhur. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan.

10. Kedok Muka II

Lokasi                   : Pura Segara Sanur

Ukuran                 : Tinggi       : 32 cm

                                 Lebar        : 29 cm

                                 Tebal        : 15 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Kedok muka ini berbentuk bulat, dibuat dengan sangat sederhana, hanya berupa goresan-goresan membentuk mata, hidung, dan mulut yang memperlihatkan gigi. Kedok muka ini diletakkan di atas tahta batu I. Sama halnya dengan kedok muka lainnya pada masa tradisi megalitik terdapat kebiasaan melakukan pemujaan kepada roh leluhur dengan membuat kedok muka sebagai simbolnya. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan.

Pura Dalem Jumeneng

Meyusuri tepian Pantai Segara Ayu, di Sanur, Anda akan menjumpai bangunan ini masuk dalam periodesasi prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris). Bangunan itu berupa Pura Dalem Jumeneng, Banjar Taman Sari, Desa Adat Intaran. Pura tersebut masuk sebagai bangunan cagar budaya dengan tradisi megalitik.

Kawasan Pura Dalem Jumeneng dan sekitarannya, dahulu, adalah tempat singgah para nelayan untuk beristirahat. Suatu ketika saat singgah, nelayan menemukan batu karang (gamping) dengan susunan bertumpuk atau berundak-undak. Susunan ini termasuk gaya dari megalitik. Urutan batuannya dari ukuran besar dari bawah hingga ke atas itu ukurannya mengecil. Hanya saat ditemukan, batuan itu tidak sepenuhnya berturan, dan berserakan. 

Tumpukan batu tersebut kemudian dibersihkan, disusun kembali reruntuhannya. Selanjutnya, masyarakat setempat  tempat tersebut digunakan sebagai media pemujaan. Susunan punden berundak tersebut hingga saat ini masih dapat dijumpai dengan utuh berjumlah tiga buah struktur yang masing-masingnya dinamakan Bebaturan Gedong Simpen menghadap ke barat, Bebaturan Ida Ulun Danu menghadap ke selatan, dan Bebaturan Ida Bhatara Sakenan menghadap ke utara.

Masyarakat pun menamai kompleks tersebut sebagai Pura Dalem Jumeneng, tempat ibadah umat Hindu Bali. Upacara keagamaan piodalan dilaksanakan setiap tahunnya pada Purnama Kapat (purnamaning sasih kapat).

Areal tersebut oleh masyarakat digunakan sebagai tempat melakukan pemujaan memohon keselamatan. Pengempon yang bertanggung jawab mengurus dan membina keberadaan Pura Dalem Jumeneng Sanur ini adalah keluarga keturunan yang menemukan dulu sebanyak tiga keluarga.

Penyungsungnya adalah masyarakat Banjar Taman Sari, Desa Pakraman Intaran dan masyarakat umum lainnya. Berdasarkan pengempon dan penyungsung pura, dapat dikatakan Pura Dalem Jumeneng tersebut berkarakter sebagai pura geneologis dan umum.

Struktur Bangunan

Pura Dalem Jumeneng

Keberadaan struktur punden berundak di Pura Dalem Jumeneng Sanur jika ditinjau dari keilmuan arkeologi, dapat dikatakan sebagai tinggalan yang berasal dari masa prasejarah akhir, tepatnya pada masa tradisi megalitik yang masih berlanjut hingga awal masa sejarah (protohistoris). Struktur punden berundak sebagai hasil budaya masa tradisi megalitik berlanjut hingga saat ini masih tetap bertahan dan dimanfaatkan oleh masyarakat pendukungnya sebagai media pemujaan, hal tersebut dapat disebut juga dengan living megalithic tradition.

Struktur Pura Dalem Jumeneng adalah tri mandala, yaitu terdiri dari jaba sisi (nista mandala) berada di sisi timur merupakan pinggir pantai yang sudah dipenuhi artshopjaba tengah (madya mandala), dan jeroan (utama mandala) berada di sisi barat. Secara simbolis tiga halaman ini dihubungkan dengan konsep Tri Bhuwana yaitu tingkatan alam semesta (bhuwana agung) seperti nista mandala melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, madya mandala melambangkan bwahloka yaitu alam pitra/roh atau alam peralihan, dan utama mandala melambangkan swahloka yaitu sebagai alam para dewa atau dunia baka. Jaba sisi (nista mandala) tidak dikelilingi oleh tembok, tetapi berupa sebuah halaman terbuka diantara artshop di pinggir pantai.

Utama mandala (jeroan/halaman paling suci) dan madya mandala (jaba tengah) dikelilingi oleh tembok keliling terbuat dari susunan batu gamping (karang laut) dibatasi dengan candi bentar terbuat dari susunan batu gamping (karang laut). Halaman utama mandala terdapat bangunan-bangunan utama dan penunjang dalam melaksanakan kegiatan keagamaan pemujaan, seperti Bebaturan Gedong Simpen, Palinggih Ida Bebaturan (ulun danu), Bebaturan Ida Bhatara Sakenan, Tajuk Bebaturan Gedong Simpen, Tajuk Palinggih Ida Bebaturan (ulun danu), Tajuk Bebaturan Ida Bhatara Sakenan, Piyasan, dan Perantenan.

Setelah mengetahui letak kondisi geografis, latar belakang sejarah, struktur, dan karakteristik Pura Dalem Jumeneng, sekarang dibahas potensi-potensi heritage menarik yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya dapat sebagai daya tarik wisata heritage di kawasan Sanur, seperti punden berundak, struktur gapura, struktur tembok, kedok muka, arca perwujudan bhatari, dan arca dwarapala.

1. Punden Berundak I

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi  keseluruhan   : 316 cm

                                 Tinggi teras I                : 116 cm

                                 Tinggi teras II               : 145 cm

                                 Tinggi teras III              :   55 cm

                                 Panjang teras I           : 387 cm

                                 Panjang teras II          : 345 cm

                                 Panjang teras III        : 270 cm

                                 Lebar teras I                : 382 cm

                                 Lebar teras II              : 335 cm

                                 Lebar teras III             : 254 cm

Arah Hadap       : Selatan

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Beberapa komponennya sudah rusak

Deskripsi             : Punden berundak ini dinamakan oleh masyarakat Palinggih Ida Bebaturan (ulun danu), dibentuk menggunakan susunan batu gamping, terletak di sisi utara halaman utama mandala pura berbentuk teras berundak dengan tiga tingkatan semakin ke atas semakin kecil. Puncak punden berundak yang merupakan tingkatan ketiga struktur ini terdapat tahta batu yang ditengahnya diletakkan kedok muka. Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk masih dipertahankan menyerupai gunung semakin ke atas semakin kecil, digunakan sebagai pemujaan kepada roh suci leluhur dengan adanya kedok muka di tengah tahta batu, serta masyarakat masih melakukan pemujaan kepada alam lingkungan yaitu ulun danu sebagai simbol air (danau) yang merupakan budaya kental tradisi megalitik.

2. Punden Berundak II

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi  keseluruhan   : 337  cm

                                 Tinggi teras I                : 118 cm

                                 Tinggi teras II               : 75 cm

                                 Tinggi teras III              : 55 cm

                                 Tinggi teras IV             : 89 cm

                                 Panjang teras I            : 795 cm

                                 Panjang teras II           : 680 cm

                                 Panjang teras III          : 590 cm

                                 Panjang teras IV          : 390 cm

                                 Lebar teras I                 : 540 cm

                                 Lebar teras II                : 380 cm

                                 Lebar teras III               : 313 cm

                                 Lebar teras IV              : 303 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Punden berundak ini dinamakan oleh masyarakat Bebaturan Gedong Simpen, dibentuk menggunakan susunan batu gamping, terletak di sisi timur halaman utama mandala pura berbentuk teras berundak dengan empat tingkatan semakin ke atas semakin kecil. Puncak punden berundak yang merupakan teras IV struktur ini diletakkan bangunan (palinggih) baru terbuat dari kayu beratap genteng tempat menyimpan lima buah batu monolit yang dianggap sebagai pratima dan sangat disakralkan oleh masyarakat. Teras I dengan teras II pada bagian tengah-tengah dihubungkan anak tangga sejumlah Sembilan undakan. Anak tangga teras pertama pada samping kanan dan kiri dihiasi dengan naga, selasar teras I diletakkan dua arca singa sebagai dwaraphala yang diletakkan pada samping kanan-kiri tangga, sedangkan pada teras II terdapat dua kedok muka yang diletakkan pada samping kanan-kiri tangga. Teras III tidak mempunyai selasar bagian depan (barat), hanya terdapat selasar bagian kanan, kiri, dan belakang.

         Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk masih dipertahankan menyerupai gunung semakin ke atas semakin kecil, serta digunakan sebagai pemujaan kepada roh suci leluhur dengan adanya kedok muka.

3. Punden Berundak III

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi  keseluruhan   : 205 cm

                                 Tinggi teras I                :   50 cm

                                 Tinggi teras II               :   35 cm

                                 Tinggi teras III              : 120 cm

                                 Panjang teras I            : 284 cm

                                 Panjang teras II           : 211 cm

                                 Panjang teras III          : 208 cm

                                 Lebar teras I                 : 289 cm

                                 Lebar teras II                : 170 cm

                                 Lebar teras III               : 142 cm

Arah Hadap        : Utara

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Punden berundak ini dinamakan oleh masyarakat Bebaturan Ida Bhatara Sakenan, dibentuk menggunakan susunan batu gamping, terletak di sisi selatan halaman utama mandala pura berbentuk teras berundak dengan tiga tingkatan semakin ke atas semakin kecil. Puncak punden berundak yang merupakan teras III terdapat tahta batu yung ditengah-tengahnya diletakkan kedok muka raksasa. Teras I dan teras II hanya memiliki selasar pada bagian depannya saja, sedangkan teras I memiliki anak tangga dan terdapat dua kedok muka pada selasar teras II.

         Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk masih dipertahankan menyerupai gunung semakin ke atas semakin kecil, serta digunakan sebagai pemujaan kepada roh suci leluhur dengan adanya kedok muka.

4. Struktur Gapura I

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi gapura timur          : 219 cm

                                 Tinggi gapura barat          : 212 cm           

                                 Panjang gapura timur     : 103 cm

                                 Panjang gapura barat      :   82 cm

                                 Lebar gapura timur          :   90 cm

                                 Lebar gapura barat          :   69 cm            

Arah Hadap        : Utara dan Selatan

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Gapura ini dapat dikategorikan sebagai struktur Cagar Budaya, yang berfungsi sebagai pintu masuk di sisi utara menuju halaman jeroan (utama mandala) Pura Dalem Jumeneng Sanur dari Pura Segara Sanur. Gapura ini berbentuk candi bentar yang terbuat dari batu gamping (karang laut). Pada sisi utara gapura ini terdapat dua anak tangga yang terbuat dari campuran semen dan pasir.

5. Struktur Gapura II

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi gapura selatan      : 269 cm

                                 Tinggi gapura utara          : 301 cm           

                                 Panjang gapura selatan   : 210 cm

                                 Panjang gapura utara                     : 214 cm

                                 Lebar gapura selatan       : 160 cm

                                 Lebar gapura utara           : 190 cm           

Arah Hadap        : Timur dan Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Gapura ini dapat dikategorikan sebagai struktur Cagar Budaya, yang berfungsi sebagai pintu masuk di sisi timur menuju halaman jeroan (utama mandala) Pura Dalem Jumeneng Sanur dari halaman jaba tengah (madya mandala) pura . Gapura ini berbentuk candi bentar yang terbuat dari batu gamping (karang laut). Pada sisi timur gapura ini terdapat empat anak tangga yang terbuat dari susunan batu gamping.

6. Struktur Tembok Batu Gamping

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng Sanur

Ukuran                 : Luas     : 16 x 18,75 meter            

Arah Hadap        : –

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi      : Tembok ini dapat dikategorikan sebagai struktur Cagar Budaya, yang berfungsi sebagai tembok keliling Pura Dalem Jumeneng Sanur. Struktur tembok keliling ini terbuat dari batu gamping (karang laut). Struktur batu gamping sebagai tembok keliling di Pura Dalem Jumeneng dan Pura Segara dapat dikatakan memiliki fungsi sebagai pembatas antara halaman suci dengan halaman luar (profan) yang mengelilingi bangunan di dalamnya. Secara simbolis struktur tembok batu gamping ini memiliki nilai religius magis sebagai penghalang kekuatan jahat (penolak bala) masuk ke halaman suci pura.

7. Kedok Muka I

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi       : 23 cm

                                  Lebar        : 14 cm

                                  Tebal        :   9 cm

Arah Hadap        : Selatan

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Kedok muka ini berbentuk bulat telur, dibuat dengan sangat sederhana, hanya berupa goresan-goresan membentuk mata, hidung, mulut, dan goresan kumis. Kedok muka ini diletakkan di atas tahta batu pada punden berundak Palinggih Ida Bebaturan (ulun danu). Sama halnya dengan kedok muka lainnya pada masa tradisi megalitik terdapat kebiasaan melakukan pemujaan kepada roh leluhur dengan membuat kedok muka sebagai simbolnya. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan.

8. Kedok Muka II

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi       : 18 cm

                                      Lebar        : 14 cm

                                      Tebal        :   8 cm

Arah Hadap        : Utara

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Kedok muka ini berbentuk bulat telur, dibuat dengan sangat sederhana, hanya berupa goresan-goresan membentuk mata bulat, hidung, dan mulut. Kedok muka ini diletakkan di atas lapik pada teras I punden berundak Bebaturan Ida Bhatara Sakenan. Sama halnya dengan kedok muka lainnya pada masa tradisi megalitik terdapat kebiasaan melakukan pemujaan kepada roh leluhur dengan membuat kedok muka sebagai simbolnya. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan.

9. Kedok Muka III

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng Sanur

Ukuran                 : Tinggi       : 16 cm

                                  Lebar        : 12 cm

                                  Tebal        :   9 cm

Arah Hadap        : Utara

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal

                               sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Kedok muka ini berbentuk bulat telur, dibuat dengan sangat sederhana, hanya berupa goresan-goresan membentuk mata bulat, hidung, dan mulut. Kedok muka ini diletakkan di atas lapik pada teras I punden berundak Bebaturan Ida Bhatara Sakenan. Sama halnya dengan kedok muka lainnya pada masa tradisi megalitik terdapat kebiasaan melakukan pemujaan kepada roh leluhur dengan membuat kedok muka sebagai simbolnya. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan.

10. Kedok Muka IV

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi       : 37 cm

                                 Lebar        : 30 cm

                                 Tebal         : 23 cm

Arah Hadap        : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Kedok muka ini berbentuk bulat telur, dibuat dengan sangat sederhana, hanya berupa goresan-goresan membentuk mata bulat, hidung, serta  mulut dengan gigi dan taring mencuat. Kedok muka ini diletakkan di atas lapik pada teras II punden berundak Bebaturan Gedong Simpen. Sama halnya dengan kedok muka lainnya pada masa tradisi megalitik terdapat kebiasaan melakukan pemujaan kepada roh leluhur dengan membuat kedok muka sebagai simbolnya. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan.

11. Kedok Muka V

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi       : 42 cm

                                 Lebar        : 32 cm

                                 Tebal         : 15 cm

Arah Hadap        : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Kedok muka ini berbentuk bulat telur, dibuat dengan sangat sederhana, hanya berupa goresan-goresan membentuk mata bulat, hidung, serta mulut dengan gigi dan taring mencuat ke luar.  Kedok muka ini diletakkan di atas lapik pada teras II punden berundak Bebaturan Gedong Simpen. Sama halnya dengan kedok muka lainnya pada masa tradisi megalitik terdapat kebiasaan melakukan pemujaan kepada roh leluhur dengan membuat kedok muka sebagai simbolnya. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan.

12. Kedok Muka Raksasa

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi       : 30 cm

                                 Lebar        : 21 cm

                                 Tebal         : 22 cm

Arah Hadap        : Utara

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII-XX Masehi

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Berbeda dengan kedok muka lainnya, kedok muka ini berbentuk persegi, mata melotot, mulut besar memperlihatkan gigi dan taring mencuat, hidung besar, lidah menjulur, serta memiliki hiasan di atas kepala. Kedok muka ini diletakkan di atas tahta batu pada punden berundak Bebaturan Ida Bhatara Sakenan. Sama halnya dengan kedok muka lainnya pada masa tradisi megalitik terdapat kebiasaan melakukan pemujaan kepada roh leluhur dengan membuat kedok muka sebagai simbolnya. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan sebagai penolak bala.

13. Arca Perwujudan Bhatari

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Arah Hadap        : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca perwujudan bhatari ini oleh masyarakat disebut sebagai Ida Bhatari Lingsir, diletakkan pada Palinggih Tajuk, arca berwajah menyeramkan, kepala berbentuk persegi, dengan mulut terbuka lebar tebal, memperlihatkan barisan gigi besar-besar, dan taring dipahatkan mencuat keluar. Mata arca dipahatkan melotot berbentuk bulat besar, menggunakan subeng sebagai hiasan telinga, berdiri samabhanga di atas lapik persegi polos, kain bawah dipahatkan sangat berat tebal, badan arca tidak menggunakan kain, sehingga buah dadanya terlihat besar bulat, tangan kanan ditekuk menempel di pinggang, sedangkan tangan kiri terjuntai ke bawah menempal di paha, kuku jari tangan semuanya dipahatkan panjang tajam, dan menggunakan kalung di leher berbentuk bulatan-bulatan lebar.

14. Arca Dwarapala I

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi       : 100 cm

                                 Lebar        :   31 cm

                                 Tebal         :   34 cm            

Arah Hadap       : Timur

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala I di Pura Dalem Jumeneng ini diletakkan sebelah utara depan struktur gapura II, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi polos dengan kedua lutut sedikit ditekuk, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kanan, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, menggunakan mahkota dan petitis. Tangan kanan arca membawa gada menempel di samping kiri kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk disamping dada, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron bercabang dua hingga menyentuh lapik.

15. Arca Dwarapala II

Lokasi                   : Pura Dalem Jumeneng

Ukuran                 : Tinggi       : 102 cm

                                 Lebar        :   33 cm

                                 Tebal         :   33 cm            

Arah Hadap       : Timur

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala II di Pura Dalem Jumeneng ini diletakkan sebelah selatan depan struktur gapura II, ciri-ciri arca sama dengan arca Dwarapala I, karena kedua arca ini memang sepasang, tetapi yang membedakan adalah arca ini menoleh ke kiri, tangan kiri arca membawa gada menempel di samping dada, sedangkan tangan kiri ditekuk ke depan dada.

Tari Baris Cina Di Pura Kesumajati Semawang

Gerakan tarinya menyerupai gerakan-gerakan pencak silat. Pakaian yang dikenakan para penari serupa dengan para saudagar yang berasal dari Cina di zaman itu. Gong Bheri mengiringi. Gong ini merupakan flat gong (gong datar) banyak ditemukan sebagai alat musik di Cina. Meski serupa gerakan bela diri, tarian ini masuk dalam tari sakral.

Cerita tarian ini berasal dari masyarakat setempat secara turun temurun. Tarian tersebut berasal dari Ida Ratu Tuan yang tedun (trance) yang berbicara menggunakan logat Cina. Karenanya, tarian itu bernama Baris Cina.

Pementasannya ada di Pura Kesumajati, Semawang. Pura Kesumajati terletak di Banjar Semawang, Desa Adat Intaran, Kelurahan Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, ini merupakan pura dengan sebutan Linggih Ida Ratu Tuan. Sakral karena tariannya hanya dipentaskan ketika upacara piodalan pura.

Pada 10 Oktober 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun mencatatkannya sebagai obyek warisan budaya tak benda (intangible heritage). Pencatatannya bersamaan dengan Tari Baris Cina Renon.

Para peneliti belum menemukan adanya prasati atau sejenisnya yang melatarbelakangi cerita masyarakat mengenai tari Baris Cina ini. Belum ditemukan data tertulis berupa prasasti yang menyebutkan tentang penciptaan maupun penyebutan nama Baris Cina sebagai tarian.

Mengenai Gong Beri penyebutannya muncul pada Tugu Prasasti (jaya stmbha) Blanjong berangka tahun Śaka 835 (913 Masehi) yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmmadewa dengan kata bheri. Penduduk yang semula hidup di pesisir pantai Blanjong dan Semawang Sanur tentunya sudah banyak berhubungan dengan para pedagang-pedagang yang datang berdagang terutama saudagar asal Cina. Tarian maupun gong ini memungkinkan sebagai cerminan akulturasi di kala itu.

Unsur-unsur budaya Cina yang ditampilkan itulah yang membedakannya dengan Tari Baris ritual lainnya. Kedekatan hubungan budaya Bali dan Cina sudah berlangsung dalam berbagai segi kehidupan. Proses akulturasi budaya Bali dan Cina seperti kehadiran Tari Baris Cina ini, juga terjadi di tempat lain, seperti penggunaan uang kepeng Cina dalam sarana banten, dan adanya istilah patra cina dalam motif-motif ukiran Bali.

Menurut keyakinan masyarakat penyungsung, Baris Cina ini merupakan perwujudan dari Ida Ratu Tuan yang diiringi dengan Gong Bheri. Secara fungsi, tarian ini tergolong dalam tari wali (sakral) yang ditarikan ketika sedang berlangsung upacara piodalan di pura-pura. Pura-pura itu adalah berada di Banjar Semawang maupun Desa Adat Intaran. Yakni, di antaranya Pura Cemara Geseng, Pura Ketapang Kembar, Pura Giri Kusuma, Pura Dalem Pengembak, Pura Bengkel, Pura Kedaton, dan Pura Desa Kelandis.

Penyungsung Ida Ratu Tuan Baris Cina ini adalah sebagaian besar masyarakat Banjar Semawang Desa Adat Intaran Sanur yang memiliki kepercayaan kuat terhadap keberadaan Ida Ratu Tuan yang di sungsung secara turun-temurun. Upacara piodalan di Pura Kesumajati sebagai Linggih Ida Ratu Tuan dan Gong Bheri dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu pada hari Saniscara Wuku Wayang (Tumpek Wayang).

Baris Cina juga ditarikan untuk upacara Bhuta Yadnya di pura-pura ataupun di catus patha desa,  juga dipentaskan untuk upacara Manusa Yadnya, seperti membayar kaul (naur sesangi). Mereka meyakini dan telah membuktikan bahwa Baris Cina memiliki kekuatan magis dan kekuatan untuk melindungi masyarakat penyungsungnya, serta mengabulkan permohonan yang betul-betul tulus ikhlas.

Pasukan Tari Baris Cina ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Baris Selem (Baris Hitam) dan Baris Putih. Kelompok Baris Selem memakai kostum hitam dengan slempot, yaitu kain putih yang diikatkan di pinggang, sedangkan Baris Putih memakai kostum putih dengan slempot hitam.

Rangkaian menarikan Baris Cina, pertama, upacara pemedek, yang diikuti oleh seluruh masyarakat penyungsung, penari, penabuh, pemangku, sadeg, pepatih duduk di jeroan pura. Tujuannya adalah untuk memohon ijin kepada Ida Ratu Tuan bahwa mereka akan mementaskan Tari Baris Cina. Selanjutnya, kedua,  mempersembahkan banten penyambleh terdiri dari daksina, anaman kelanan, soda kepelan, rayunan, canang gantal, canang sari, tepung tawar, kawas, segehan, arak-berem, toya anyar, pitik selem atau putih untuk pelengkap segehan.

Ketiga, berlanjut dengan penampilan tari Baris Selem sebagai pembuka, kemudian semua penari Baris Selem duduk di depan gamelan Gong Bheri, yang kemudian dilanjutkan dengan tarian Baris Putih.

Pada rangkaian keempat, upacara nuwur, terjadi dialog antara panyungsung dengan yang disungsung melalui sadeg yang trance, saat inilah keluar bahasa dan logat Cina dalam berkomunikasi. Penutupnya berupa upacara panyimpenan. Upacara ini  merupakan bagian penutup yang kembali melakukan persembahan sesajen dan tetabuhan arak berem, memohon agar Ida Ratu Tuan kembali berstana di palinggihnya.

Pura Susunan Wadon

Perjalanan wisata warisan budaya Pura Susunan Wadon ini sekitar setengah kilometer ke timur dari Pura Dalem Sakenan. Menurut pemangku pura, Jero Mangku Nengah Sudira, masih memiliki kaitan erat dengan Pura Dalem Sakenan. Perwujudan yang disucikan/dimuliakan di Pura Susunan Wadon adalah Ida Bhatari Istri sebagai pasangan dari Ida Bhatara Lanang yang bersthana di Pura Dalem Sakenan.

Kisah pura

Pura Susunan Wadon

Konon katanya karena dimadu atau beristri lagi, Ida Bhatari Istri Susunan Wadon marah kepada Ida Bhatara Lanang Dalem Sakenan. Beliau tak mau lagi bertemu muka dengan Ida Bhatara Lanang Dalem Sakenan sebagai suaminya.

Hal ini menjadi alasan mengapa candi prasada linggih Ida Bhatara Lanang Dalem Sakenan menghadap ke barat, sedangkan candi prasada linggih Ida Bhatari Istri Susunan Wadon menghadap ke timur.

Cerita lain, setelah Dang Hyang Nirartha selesai membangun Pura Dalem Sakenan di Pulau Serangan, perjalanannya dilanjutkan ke arah timur dengan menemukan tempat suci sebagai sthana Bhatari Durga. Beliau pun bersemedi.

Dalam samedinya bersabdalah Bhatari Durga, dengan menyarankan sebelum moksa agar Dang Hyang Nirartha terlebih dahulu menjadi penguasa (raja) Bali. Namun ditolaknya.

Akhirnya Bhatari Durga memberi petunjuk untuk mencapai moksa agar pergi ke arah barat daya, tempat bersthananya Dewa Rudra (Pura Uluwatu). Sebelum meninggalkan tempat suci itu kemudian Dang Hyang Nirartha bersama penduduk disana membangun pura yang kemudian diberi nama Pura Susunan Wadon. Kata wadon berarti perempuan yang dalam hal ini dikaitkan dengan tempat pemujaan Bhatari Durga sebagai sakti.

Pura Susunan Wadon termasuk sebagai pura Dang Kahyangan di Bali, dan upacara piodalannya dilaksanakan setiap 210 hari, yaitu pada hari Redite (minggu) Umanis, Wuku Kuningan (hari raya Umanis Kuningan). Dang Kahyangan yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk kebesaran jasa-jasa seorang pendeta guru suci (dang guru), yakni Mpu Kuturan dan Danghyang Nirartha (Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh). Pura Susunan Wadon juga sebagai pura Kahyangan Jagat Bali.

Pura Susunan Wadon

Bangunan paras dan pembagian halaman

Struktur Pura Susunan Wadon posisinya jika dilihat dari pintu masuknya menghadap ke utara dengan terbagi atas tiga halaman. Yaitu, halaman dalam (utama mandala/jeroan), halaman tengah (madya mandala), dan halaman luar (nista mandala/jabaan).

Masing-masing halaman dibatasi dengan tembok keliling yang terbuat dari susunan batu gamping (kapur) atau disebut juga dengan paras tombong. halaman luar dengan halaman tengah dihubungkan dengan paduraksa berupa candi bentar, sedangkan halaman tengah dengan halaman dalam dihubungkan dengan paduraksa berupa candi kurung dan candi bentar.

Halaman dalam (utama mandala/jeroan) di dalamnya berdiri bangunan maupun arca  seperti Candi Prasada sebagai sthana Ida Bhatari Lingsir Dalem Susunan Wadon. Selain itu, ada dua Bale Tajuk, Palinggih Ratu Gede Dalem Nusa, Palinggih Ratu Gede Blembong, Bale Pasucian, Palinggih Ratu Pancer Jagat, Palinggih Ratu Dukuh Sakti, Palinggih Pengayatan Naga Basuki, Palinggih Pasimpangan Kepaon, Palinggih Ratu Niang, Bale Pamiyosan, Bale Santian, Bale Pesanekan, Bale Gong, Pasimpangan Ulun Danu, Bale Pangolahan, Pawaregan.

Ada pula sumur, dua arca nandi, dua arca dwarapala, dua arca punakawan, dua arca tokoh panji, dan arca tokoh laki-laki.

Kemudian pada halaman tengah (madya mandala) terdapat juga bangunan maupun arca seperti wantilan, Bale Kulkul, Palinggih Ratu Mas Jegeg, candi bentar, dan dua arca dwarapala.

Halaman luar (nista mandala/jabaan) yang berada di sisi utara merupakan halaman kosong yang dikelilingi tembok.

Candi dan arca dibangun pada periode Abad XV – XVI

1. Candi (Prasada) Gedong Ida Bhatari Lingsir Dalem Susunan Wadon

Tinggi                 : – cm

Panjang             : 367 cm

Lebar                  : 329 cm

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

2. Paduraksa Candi Bentar

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Paduraksa Candi Bentar ini terletak di tengah-tengah sebagai penyambung tembok antara halaman dalam (utama mandala/jeroan) dengan halaman tengah (madya mandala) pura.

3. Arca Nandi I

Tinggi               : 50 cm

Lebar                : 36 cm

Panjang            : 59 cm                     

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Nandi I ini diletakkan di bawah sebelah selatan depan kaki prasada. Dalam ikonografi Hindu Bali adalah binatang lembu sebagai wahana Dewa Siwa, yang diberinama warga setempat, Kebo Dongol.

4. Arca Nandi II

Tinggi              : 50 cm

Lebar               : 36 cm

Panjang           : 70 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Sama halnya dengan Arca Nandi I, Arca Nandi II. Bedanya, arca ini terletak di bawah sebelah utara depan kaki prasada.

5. Arca Dwarapala I

Tinggi               : 102 cm

Lebar                 : 37 cm

Tebal                  : 38 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala I ini diletakkan sebelah selatan depan prasada.

6. Arca Dwarapala II

Tinggi               : 101 cm

Lebar                : 31 cm

Tebal                 : 35 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala II ini diletakkan sebelah utara depan prasada.

7. Arca Dwarapala Bhatari I

Tinggi                 : 122 cm

Lebar                   : 53 cm

Tebal                    : 49 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala Bhatari I ini diletakkan sebelah barat depan candi bentar. Disebut dengan Dwarapala Bhatari, sebagai arca penjaga pintu berwujud perempuan menyeramkan.

8. Arca Dwarapala Bhatari II

Tinggi                   : 122 cm

Lebar                    : 48 cm

Tebal                     : 49 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala Bhatari II ini diletakkan sebelah timur depan candi bentar. Disebut dengan Dwarapala Bhatari, sebagai arca penjaga pintu berwujud perempuan menyeramkan.

9. Arca Tokoh Panji I

Tinggi                        : 69 cm

Lebar                         : 33 cm

 Tebal                         : 29 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Tokoh Panji I ini dapat dikenali dengan mahkota yang digunakan, yaitu gelungan pepanjian atau disebut juga keklopingan. Dalam dramatari Gambuh di Bali, Panji biasanya sebagai tokoh raja.

10. Arca Tokoh Panji II

Tinggi                : 72 cm

Lebar                 : 34 cm

Tebal                  : 32 cm                            

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Tokoh Panji II sama dengan arca Tokoh Panji I menggunakan gelungan pepanjian.

11. Arca Tokoh Kadean-kadean

Tinggi              : 81 cm

Lebar               : 30 cm

Tebal                : 32 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca ini merupakan tokoh Kadean-kaden, karena menggunakan mahkota gegelungan jejempongan. Kadean-kadean merupakan tokoh-tokoh patih dalam dramatari Gambuh di Bali.

12. Arca Twalen

Tinggi                  : 73 cm

Lebar                   : 40 cm

Tebal                    : 34 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Twalen ini merupakan tokoh punakawan sebagai penasehat dan sekaligus abdi raja.

13. Arca Mredah

 Tinggi              : 76 cm

Lebar                 : 29 cm

Tebal                  : 30 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Mredah ini juga merupakan tokoh punakawan. Mredah dalam pewayangan Bali merupakan pasangan ayahnya sendiri, yaitu Twalen sebagai penasehat dan sekaligus abdi raja.

Makam Kuno Bugis

Detail Bangunan Makam Kuno Bugis

Makam kuno Bugis ini terletak disebelah selatan Kampung Bugis. Nisan-nisan pada makam kuno Bugis ini beberapa tertera inskripsi kaligrafi yang menggunakan aksara arab maupun lontara yang menjelaskan nama, doa, dan tahun pemakaman. Mengenai tahun yang dipahatkan dalam nisan di situs makam kuno Bugis Serangan yang paling tua terpahat tahun 1269 Hijriah atau 1833 Masehi sampai dengan tahun 1335 Hijriah atau 1916 Masehi.

Alkulturasi makam Bugis dengan Bali, tercerimin pada pahatan pada nisan-nisannya. Motif-motif Bali, seperti pepatran maupun kekarangan yang meliputi simbar-simbar, padma, patra mesir, patra sari, dan patra cina ini dikombinasikan dengan pahatan gaya Bugis, seperti suluran tangkai daun kecil runcing secara vartikal, tulisan huruf lontara, dan juga kaligrafi Arab. Penelitian, Moh Ali Fadillah (1986) menghitung jumlah makam kuno di situs ini adalah 178 nisan. 

Detail Makam Puwak Metowa atau Puak Gede

Makam Puak Metowa atau Puak Gede

Makam ini berukuran besar dari makam lainnya. Masyarakat Bugis di Serangan, menceritakan ini merupakan makam tokoh Bugis, Puak Metowa atau Puak Gede. Gelar tersebut pemberian Raja Badung Cokorda Pemecutan III, sebagai penghormatan untuk kepala masyarakat Bugis di Serangan.

Bentuk makamnya menggunakan teknik susun, yaitu jirat berdiri dari balok-balok batu karang persegi yang disusun membentuk punden berundak semakin ke atas semakin mengecil. Tipe makam ini menyerupai seperti di kompleks makam raja-raja Watan Lamaru atau Tallo, di Sulawesi Selatan.

Pura Dalem Sakenan

Pura Dalem Sakenan

Cobalah Anda melancong ke Serangan, pulau kecil di pesisir perkotaan Denpasar, ketika umat Hindu Bali merayakan Kuningan. Pura Sakenan yang juga disebut sebagai Pura Kahyangan Jagat Bali ini ramai umat bersembahyang. Mereka menghaturkan puja dan puji pada Sang Hyang Widi Wasa serta Dewa-Dewa yang menyertai-Nya.

Pelaksanaan upacara piodalannya dilaksanakan setiap 210 hari, pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, Wuku Kuningan. Hari itu tepat perayaan Kuningan bagi umat Hindu Bali.

Prosesi perayaan Kuningan itu juga bersamaan dengan prosesi upacara piodalan Pura Dalem Sakenan.  Tak lupa, Anda tetap harus mengenakan baju adat madya Bali, meski hanya untuk berwisata menikmati pesona pesisir Serangan serta sejarah warisan budayanya saat prosesi upacara adat berlangsung.

Warisan dua pendeta

Warisan budaya kebendaan benda (tangible) di Pura Dalem Sakenan ini terkait dengan Lontar Usana Bali. Lontar tersebut berisi kisah Mpu Kuturan dan Mpu Rajakretaha, membangun Pura Sakenan. Ketika itu tengah memerintah Raja Sri Masula Masuli, sesuai temuan prasasti di Desa Sading, di tahun Śaka 1172 (1250 Masehi).

Pura Dalem Sakenan dalam lontar Dwijendra Tattwa yang menyebut Dang Hyang Nirartha  (setelah 1150 Masehi) sebagai pendeta Śiwa. Hal ini juga tercatat dalam Upadeśa menghubungkan singgahnya Dang Hyang Asthapaka (pendeta Budha) dengan. Keduanya berasal dari Majapahit yang berkunjung ke Bali, pada zaman Dalem Waturenggong berkuasa.

Babad Catur Brahmana menceritakan perjalanan Dang Hyang Nirartha meninggalkan Majapahit ke Bali dan memilih berkeliling pulau untuk ber-dharmaytra atau menyebarkan agama Hindu.

Kaitan dengan Pura Dalem Sakenan dalam Babad Catur Brahmana, bahwa Dang Hyang Nirartha meninggalkan Majapahit karena pesatnya perkembangan paham Islam dan adanya perselisihan dengan Raja Blambangan. Dang Hyang Nirartha merupakan putra dari Dang Hyang Samaranatha sebagai penganut agama Buddha.

Ia menikah dengan Dyah Kopala dan kemudian ikut menjadi penganut agama Śiwa. Dang Hyang Nirartha memiliki dua anak, yaitu Wiraga Sandhi dan Ida Ayu Swabhawa yang nantinya menurunkan Brahmana Kemenuh di Bali.

Meluasnya pengaruh Islam di Jawa hingga sampai di Daha membuat Dang Hyang Nirartha pergi ke Pasuruan dan di sana menikah dengan Diah Sanggawati, kemudian memiliki dua anak, yaitu Ida Wayahan Lor dan Ida Wiyatan yang nantinya menurunkan Brahmana Manuaba di Bali.

Selanjutnya, Dang Hyang Nirartha kemudian meninggalkan Pasuruan menuju Blambangan, menikah dengan adik Śri Juru memiliki tiga anak, yaitu Ida Rai Istri, Ida Putu Wetan, dan Ida Nyoman Kaniten yang nantinya menurunkan Brahmana Kaniten di Bali.

Ketika di Blambangan terjadi perselisihan dengan Raja Blambangan, sehingga membuat Dang Hyang Nirartha pergi menuju Bali. Sesampainya di pantai barat Bali menuju timur, berakhi di Desa Mas Gianyar, disana menikah lagi dengan anak Bendesa Mas yang kemudian menurunkan Brahmana Mas di Bali.

Perjalanan mulai dari Gelgel

Keberadaan Dang Hyang Nirartha di Bali sudah terdengar di Keraton Gelgel. Ketika itu pemerintahaan Dalem Waturenggong. Mengetahui kebesaran Dang Hyang Nirartha kemudian Dalem Waturenggong memerintahkan Ki Gusti Penyarikan Dauh Bale Agung untuk menjemputnya di Desa Mas. Kemudian, ia diangkat menjadi purohita (bhgawanta) kerajaan dan ditempatkan di Griya Mas dekat Keraton Gelgel.

Sekian lama akhirnya Dang Hyang Nirartha memohon diri untuk melaksanakan dharmayatra berkeliling Bali untuk mengajarkan ajaran agama Hindu.

Sampailah perjalanannya di Pulau Serangan. Ia pun takjub keindahan pulau yang dikelilingi lautan. Lalu, memutuskan membangun Pura Dalem Sakenan, bersanding dengan pura yang terlebih dulu dibangun oleh Mpu Kuturan.

Sakenan pun dikenal asal katanya adalah Śakya. Artinya, dapat langsung menyatukan pikiran.

Bersamaan dengan itu, Dang Hyang Asthapaka juga singgah saat melaksanakan dharmaytra agama Budha dari Doha. Ia pun mendirikan sebuah pura bernama Sakyana yang berarti Sakyamuni (Budha). Dan, bernama Sakenan sekarang ini.

Kedua pendeta tersebut mewarnai konsep penyatuan Siwa-Budha dalam perkembangan sejarah komplek peresembahyangan di Pura Dalem Sakenan.

Pura Dalem Sakenan termasuk sebagai pura Sad (Sat) Kahyangan dan pura Dang Kahyangan di Bali. Sad Kahyangan berkaitan dengan Sad Krttiloka, yaitu memuliakan hutan, kebun, lading, laut, danau, sawah, dan bumi. Pura juga menjadi Dang Kahyangan, berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk kebesaran jasa pendeta guru suci (Dang Guru).

 

Pura Dalem Sakenan

Secara struktur, Pura Dalem Sakenan posisinya menghadap ke barat dengan terbagi atas tiga halaman. Yaitu, halaman dalam (utama mandala/jeroan), halaman tengah (madya mandala), dan halaman luar (nista mandala/jabaan).

Masing-masing halaman dibatasi dengan tembok keliling yang terbuat dari susunan batu gamping (kapur) atau disebut juga dengan paras tombong. Halaman luar dengan halaman tengah dihubungkan dengan paduraksa berupa candi bentar, sedangkan halaman tengah dengan halaman dalam dihubungkan dengan paduraksa berupa candi kurung (kori agung).

Halaman dalam (utama mandala/jeroan) di dalamnya berdiri bangunan maupun arca  seperti Candi Prasada sebagai sthana Ida Hyang Dewa Bhaswarnna begitu juga Hyang Baruna, Hyang Sandijaya, Bhatara Rambut Sakenan, dan Bhatara Dang Hyang Nirartha.

Selain itu ada Bale Tajuk sebagai sthana Ida Bhatara Rambut Sedana Sakenan. Bale Tajuk ini tempat meletakkan sesajen. Bale ini juga ber sthana Ratu Tuan Kemedan Bhatara Surengrana, Ratu Tuan Kemedun Bhatara Jayengrana, Bale Penyimpenan, Bale Pesandekan Pemangku. Ada pula enam arca dwarapala, dan dua arca babi yang dipercaya sebagai peliharaan niskala Ida Bhatara Gunung Agung.

Kemudian pada halaman tengah (madya mandala) terdapat juga bangunan maupun arca seperti Bale Pawedan sebagai tempat sulinggih memimpin upacara. Lalu ada Bale Banten, Bale Panggungan untuk beristirahat, Bale Panggungan tempat menyimpan peralatan dapur, Bale Perantenan, Bale Tajuk sebagai sthana Bhatara Ratu di Sawang Dalem, dua arca dwarapala, dan dua arca Balagana.

Halaman luar (nista mandala/jabaan) yang berada di sisi barat merupakan halaman kosong.

Candi dan arca dibangun pada periode Abad XV – XVI

Candi (Prasada) Gedong Ida Bhatara Dalem Rambut Sakenan

batu gamping (karang laut) / paras tombong

Panjang                 : 535 cm

Lebar                      : 570 cm

Bangunan perlambang Gunung Mahameru sebagai pusat porosnya dunia.

Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung)

Tinggi lubang pintu       : 237,5 cm

Lebar                                  :      83 cm

Tebal                                   :      90 cm   

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Paduraksa atau gapura ini difungsikan sebagai media transisi sebelum memasuki tempat yang paling suci, yaitu halaman utama mandala/jeroan. Hal ini disimbolkan dengan ornament kepala kala di atas ambang pintu masuk gapura yang memiliki arti bahwa umat ketika memasuki tempat suci diharapkan melepas ikatan waktu (kala) dan keduniawian.

Tembok

 Panjang keseluruhan       : 5200 cm

 Lebar                                     : 60 cm

 Tebal                                      : 150 cm    

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Tembok kuni menglilingi halaman utama dalam pura.

Arca Babi Jantan

Tinggi                     : 37 cm

Lebar                      : 26 cm

Panjang                 : 70 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca babi jantan dipercaya binatang peliharaan suci Ida Bhatara Gunung Agung.

Arca Babi Betina

Tinggi                     : 39 cm

Lebar                      : 20 cm

Panjang                 : 81 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca babi betina jug dipercaya binatang peliharaan suci Ida Bhatara Gunung Agung.

Arca Dwarapala I

Tinggi                       : 110 cm

Lebar                        : 50 cm

Tebal                         : 50 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala I ini diletakkan sebelah selatan pelataran menuju tangga prasada berdampingan dengan arca babi jantan.

Arca Dwarapala II

Tinggi                       : 117 cm

Lebar                        : 57 cm

Tebal                         : 59 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala II ini diletakkan sebelah utara pelataran menuju tangga prasada berdampingan dengan arca babi betina.

Arca Dwarapala III

Tinggi                      : 93 cm

Lebar                       : 51 cm

Tebal                        : 50 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala III ini diletakkan sebelah selatan depan Palinggih Bale Tajuk tempat sesaji banten.

Arca Dwarapala IV

Tinggi                     : 99 cm

Lebar                      : 50 cm

Tebal                       : 54 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala IV ini diletakkan sebelah utara depan Palinggih Bale Tajuk tempat sesajen.

Arca Dwarapala V

Tinggi                     : 77 cm

Lebar                      : 31 cm

Tebal                       : 33 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala V ini diletakkan sebelah selatan depan Palinggih Bale Tajuk Ida Bhatara Rambut Sedana Sakenan

Arca Dwarapala VI

Tinggi                       : 76 cm

Lebar                        : 29 cm

Tebal                         : 31 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala VI ini diletakkan sebelah utara depan Palinggih Bale Tajuk Ida Bhatara Rambut Sedana Sakenan

Arca Dwarapala Mahakala

Tinggi                            : 127 cm

Lebar                             : 49 cm

Tebal                              : 50 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala Mahakala ini diletakkan sebelah selatan depan paduraksa, berpasangan dengan Arca Dwarapala Nandiswara. Ikonografi Hindu Bali, kedua arca dwarapala ini bertugas untuk menjaga kuil Dewa Siwa.

Arca Dwarapala Nandiswara

Tinggi                         : 129 cm

Lebar                          : 48 cm

Tebal                           : 51 cm

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala Nandiswara ini diletakkan sebelah utara depan paduraksa, berpasangan dengan Arca Dwarapala Mahakala. Keduanya, dalam ikonografi Hindu Bali, bertugas untuk menjaga kuil Dewa Siwa.

Arca Balagana I

Tinggi                       : 112 cm

Lebar                        : 44 cm

Tebal                         : 52 cm

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca ini dalam ikonografi Hindu Bali, sebagai pasukan perang Dewa Siwa yang dipimpin langsung oleh Dewa Ganesha, bala berarti pasukan, sedangkan gana merupakan nama lain Dewa Ganesha.

Arca Balagana II

Tinggi                        : 115 cm

Lebar                         : 48 cm

Tebal                          : 49 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Balagana II bagian dari pasukan perang Dewa Siwa yang dipimpin langsung oleh Dewa Ganesha

Rumah Panggung Tradisional Bugis

Serangan memiliki warisan bangunan yang serupa dengan gaya tradisional muslim Bugis, Sulawesi Selatan. Satu bangunan rumah panggung tradisional Bugis di Serangan, menjadi harta warisan budaya yang masih mewakili sejarah di abad XVIII-XIX Masehi. Rumah panggung ini persis berhadapan dengan Masjid Assyuhada.

Kepala Lingkungan Kampung Bugis, Mohadi, menceritakan rumah panggung Bugis ini milik keturunan Makasar, Sulawesi Selatan, Haji Muhamad Taib. Bersama keluarganya membangun dan menetap di Pulau Serangan. Ia membantu Raja Badung, pada abad itu, mengalahkan Kerajaan Mengwi.

Saat ini, rumah ini milik atas nama Haji Muhamad Toha. Hanya saja, kondisinya memang sudah tidak seperti awalnya karena usia bangunan, meski sudah beberapa kali restorasi. Dan tak lagi ditempati.

Rumah ini mampu menampung hingga 10 kepala keluarga. Berdasarkan ukurannya, rumah panggung ini dapat dikelompokan ke dalam tipe soa piti, di Bugis atau taratak, di Makasar. Hanya saja rumah panggung di Serangan ini tidak memiliki atap bersusun dua.

Detail Rumah Panggung Tradisional Bugis 

Serangan memiliki warisan bangunan yang serupa dengan gaya tradisional muslim Bugis, Sulawesi Selatan. Satu bangunan rumah panggung tradisional Bugis di Serangan, menjadi harta warisan budaya yang masih mewakili sejarah di abad XVIII-XIX Masehi. Rumah panggung ini persis berhadapan dengan Masjid Assyuhada.

Kepala Lingkungan Kampung Bugis, Mohadi, menceritakan rumah panggung Bugis ini milik keturunan Makasar, Sulawesi Selatan, Haji Muhamad Taib. Bersama keluarganya membangun dan menetap di Pulau Serangan. Ia membantu Raja Badung, pada abad itu, mengalahkan Kerajaan Mengwi.

Saat ini, rumah ini milik atas nama Haji Muhamad Toha. Hanya saja, kondisinya memang sudah tidak seperti awalnya karena usia bangunan, meski sudah beberapa kali restorasi. Dan tak lagi ditempati.

Rumah ini mampu menampung hingga 10 kepala keluarga. Berdasarkan ukurannya, rumah panggung ini dapat dikelompokan ke dalam tipe soa piti, di Bugis atau taratak, di Makasar. Hanya saja rumah panggung di Serangan ini tidak memiliki atap bersusun dua.

Rumah Panggung Tradisional Bugis 

Bagian rumah

Rumah panggung tradisional Bugis ini bentuknya mengikuti prinsip rancang bangun rumah-rumah Bugis – Makasar. Yaitu, fungsi dan bagiannya terbagi menjadi tiga.

Bagian atas dibawah atap disebut dengan rakkeang (bugis) atau pamarakkang (makasar). Fungsinya untuk menyimpan bahan makanan dan benda-benda pusaka.

Bagian tengah merupakan tempat tinggal penghuni disebut dengan alebele (bugis) atau kallo bela (makasar). Peruntukkannya yang dibagi beberapa bagian lagi, di antaranya kamar tidur, kamar tamu, dan dapur.

Bagian paling bawah disebut juga awase (bugis) atau passiringan (makasar). Tempat ini berupa kolong tanpa dinding. Mereka memfungsikan untuk menyimpan alat-alat pertanian dan kandang binatang. Ruang ini di Kampung Bugis digunakan untuk menyimpan perahu dan alat-alat menangkap ikan lainnya, sesuai mata pencaharian masyarakatnya sebagai nelayan.

Rancang bangunan rumah panggung tradisional ini ditopang dengan 18 buah tiang. Denahnya persegi panjang dengan orientasi arah timur-barat, tiang-tiang disusun menggunakan paku-paku kayu ataupun bambu, tangga kayu penghubung lantai satu dengan lantai dua berada di samping kanan depan menghadap ke barat dan kiri belakang menghadap ke timur.

Rumah panggung ini memiliki serambi depan dengan satu set meja dan tempat duduk dari kayu, lantai dua dibatasi dengan pagar yang terbuat dari kayu, memiliki empat pintu masuk, yaitu satu pintu utama di depan rumah menghadap ke barat, satu di ruang tengah penghubung ruang tidur, satu di kamar tidur bagain selatan, dan satu pintu di sebelah utara kamar tidur.

Atap rumah telah diganti dengan asbes, pinggir atap terdapat pola-pola hias dari kayu khas Bugis, dinding-dinding rumah sebagian besar terbuat dari anyaman bambu dan rakitan kayu untuk menyangga atapnya.