Sejarah Sumerta

Mengenai latar belakang sejarah Desa Sumerta secara pasti dan tertulis sampai saat ini belum ditemukan, tetapi penulis berusaha menyusun sejarah keberadaan Desa Sumerta berdasarkan hasil wawancara dan studi kepustakaan. Menurut kisah dari panglingsir/tetua yang tercantum dalam Eka Suwarnita Desa Adat Sumerta (2014: 2-3) dikatakan Desa Sumerta dahulunya bernama Wongaya dan lama kelamaan menjadi Sumerta Wongaya. Mengenai kata Sumerta ini diturunkan dari nama salah seorang penguasa wilayah pada saat itu yang ditemukan dalam Babad Ki Bandesa Krobokan Badung. Adapun kutipan babad tersebut sebagai berikut.

“…walian ikang kata, ceritanen mangke tmajanira Ki Gusti Pasek Gelgel Aan, pada sahing Hyang Widi, apasanakan rahning nalikang rat, tembenia Gde Pasek Sumerta tmajanira Ki Gusti Pasek Aan, angalih lungguh mareng jagat bandana, sira kawuwus Pasek Sumerta, muang lungguh hira raju ingaranan Sumerta, apan sira Ki Pasek Gegel winuwus widagda wicaksana, sida pwa sira anampa sajnira Sang Natheng Bandana…” (Anonim, 2014: 3)

Kepergian Ki Pasek Sumerta ke jagat bandana (Badung) menurut cerita di atas diperkirakan pada akhir masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Kata-kata Sumerta dalam kutipan di atas muncul beberapa kali dalam menyebutkan nama tokoh dan berdasarkan hasil wawancara dengan Pemangku Pura Puseh Sumerta (I Made Rai Suta Maskaya, 2018) juga menerangkan dulu Desa Sumerta pernah dipimpin oleh seorang tokoh yang bernama I Gusti Ngurah Sumerta. Hal tersebut memunculkan sebuah asumsi bahwa wilayah yang dulunya bernama Wongaya berubah namanya menjadi Sumerta yang disebabkan oleh turunan nama tokoh yang pernah memimpin wilayah ini, yaitu menurut Babad Ki Bandesa Krobokan Badung ialah Gde Pasek Sumerta dan menurut penuturan Pemangku Pura Puseh Sumerta ialah I Gusti Ngurah Sumerta. 

Mengenai keberadaan Pura Puseh Sumerta dan Pura Kebon Sumerta yang  menjadi objek inventarisasi dapat diketahui latar belakang pembangunannya berdasarkan atas piagam abad XV Śaka yang masih dibawa sampai saat ini oleh keluarga Pemangku Puseh Sumerta di Banjar Sima. Piagam tersebut isinya kurang lebih mengenai perintah dari I Gusti Ngurah Sumerta kepada Ki Bendesa Bekung di Sumerta Wongaya agar secepatnya membangun Pura Puseh dan Pura Kebon dalam waktu setahun dengan mendapatkan imbalan berupa tanah lengkap dengan biji/bibit tanaman (Anonim, 2014: 3).

4D6C0A25-D56E-45E9-B56E-7447F65535FA_1_105_c-transformed

Sejarah Pohmanis

Berbicara mengenai sejarah Desa Adat Taman Pohmanis tidak dapat terlepas dari Prasasti yang tersimpan di Pemrajan Agung Pohmanis, yang turunannya secara bebas dideskripsikan dalam Babad Kesatria Sukahet. Diceritakan telah hilang seorang anak kecil di Puri Klungkung yang merupakan putra dari I Dewa Karang. I Dewa Karang ini merupakan putra dari I Dewa Paduhungan yang merupakan putra dari  I Dewa Sumretha sebagai putra Dalem Sagening dari istri panawing. I Dewa Sumretha putra Dalem Sagening diperkirakan sebaya dengan Dalem Dimade yang menjadi raja pada tahun 1665-1686 Masehi. Ketika masa pemerintahan Dalem Dimade terjadi pemberontakan oleh I Gusti Agung Maruti dan kerajaan ketika itu berhasil dikuasai. Dalem Dimade bersama dua putranya, yaitu I Dewa Pemayun dan I Dewa Jambe mengungsi ke Desa Guliang Pejeng dan dalam pengungsian Dalem Dimade wafat di Desa Guliang. I Dewa Jambe setelah dewasa mengatur strategi untuk menyerang Kerajaan Swucapura Gelgel bersama-bersama dengan saudaranya, yaitu I Dewa Paduhungan untuk merebut kembali kerajaan dari I Gusti Agung Maruti.

I Dewa Jambe kira-kira sebaya dengan umur I Dewa Paduhungan putra dari I Dewa Sumretha ketika itu berhasil mengalahkan I Gusti Agung Maruti dan kerajaan dapat direbut dengan memindahkan pusat kerajaan dari Swecapura Gelgel ke Smarajaya Klungkung dan I Dewa Jambe naik tahta tanpa menggunakan gelar dalem dari tahun 1710-1775 Masehi dengan abhiseka Ida I Dewa Agung Jambe. Putra Ida I Dewa Agung Jambe bernama I Dewa Dimade yang melanjutkan pemerintahan di Kerajaan Smarapura Klungkung pada tahun 1775-1825 Masehi dengan abhiseka Ida I Dewa Agung Dimade. Ketika terjadi penumpasan I Gusti Agung Maruti di Kerajaan Swecapura Gelgel dulu oleh Ida I Dewa Agung Jambe, putranya yang bernama I Dewa Dimade masih sangat kecil dan diperkirakan seumuran dengan I Dewa Karang putra dari I Dewa Paduhungan. Terjadinya perebutan kekuasaan tersebut membuat kondisi sangat kacau sehingga I Dewa Karang beserta dengan parekan dan panginte ketika itu diselamatkan dengan cara dilarikan ke Denbukit (Buleleng) oleh I Ngakan Kaleran (Kertha dkk, 2001: 9-10).

Diceritakan ada seorang anglurah bernama I Gusti Ngurah Bija berkuasa di Kerajaan Bun yang memiliki penduduk sebanyak ± 5000 jiwa. Kerajaan Bun sekarang merupakan sebuah wilayah yang terletak di sebelah utara Desa Angabaya Penatih, di sebelah timur Desa Sibang Badung, di sebelah selatan Desa Lambing-Tingas Badung, serta di disebelah barat Desa Sedang, Angantaka, dan Jagapati Badung. Kerajaan Bun sekarang hanya berupa hamparan persawahan yang bernama Carik Pengumpian, karena sudah di hancurkan oleh I Gusti Agung Mhahiun dari Kerajaan Mengwi ketika ekspansi ke wilayah utara Kerajaan Badung. Penduduk di Kerajaan Bun ketika itu ada yang memiliki pekerjaan sebagai pedagang (panghalu) hingga ke wilayah Denbukit (Buleleng) dan suatu ketika seorang pedagang dari Denbukit (panghalu Den Bukit) memberikan anak kecil kepada seorang pedagang dari Bun (panghalu Bun) agar anak kecil tersebut dibawa ke Badung (Kertha dkk, 2001: 2-3). 

Panghalu Bun merasa senang menerima pemberian itu dan segera anak kecil tersebut disimpan dalam sebuah katung (kalesan) (nama I Dewa Karang berubah menjadi I Dewa Kalesan). Sesampainya di Kerajaan Bun, banyak penduduk berkumpul di bencingah mendengar kabar bahwa telah terjadi penculikan terhadap putra I Dewa Karang di Klungkung beserta dengan panginte dan parekan dilarikan oleh I Ngakan Kaleran. Berdasarkan cerita tersebut kemudian panghalu Bun itu menceritakan bahwa telah diberikan anak kecil di Denbukit (Buleleng). Mendengar cerita tersebut, I Gusti Ngurah Bija segera pergi ke Klungkung menghadap I Dewa Agung Klungkung (Raja Smarajaya Klungkung) untuk memberi tahu bahwa putra dalem yang hilang tersebut sekarang sudah di Kerajaan Bun dan memohon agar anak kecil tersebut dibesarkan di Kerajaan Bun. I Dewa Agung Klungkung (Raja Smarajaya Klungkung) sangat gembira mendengar permohonan I Gusti Ngurah Bija, serta membenarkan bahwa anak kecil tersebut adalah putra I Dewa Karang dan kemudian diberikan nama sama dengan ayahnya, yaitu I Dewa Karang dan mengijinkan anak kecil (I Dewa Karang) dibesarkan di Kerajaan Bun dengan diberikan pengikut (panjak) sebanyak 400 orang. 

I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) dibesarkan di Kerajaan Bun dan berita tersebut menyebar ke berbagai wilayah hingga sampai di Kerajaan Badung yang ketika itu I Gusti Ngurah Jambe Pule sebagai penguasanya. Raja Badung meminta kepada I Gusti Ngurah Bija agar I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) diserahkan ke Badung dan akan diberikan tempat untuk dijadikan penguasa di wilayah timur Kerajaan Badung, yaitu wilayah Taak dengan diberikan pengiring dari Badung sebanyak 1000 orang (35 orang dari Badung, 40 orang dari Bun, dan sisanya adalah perarudan). Perjalanan untuk mulai membuka wilayah baru (ngewangun ngelantur) dilakukan oleh I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) bersama para warga pengiring merabas hutan dimulai dari selatan selama satu bulan (sasih) penuh dan berhasil menemukan tempat yang tinggi (tegehe). Terjadinya peristiwa tersebut merupakan cikal bakal dari nama Banjar Menguntur, Banjar Sasih, dan Banjar Tegehe

Ketika perjalanan dilanjutkan ke utara ditemukanlah wilayah tujuan yang dimaksudkan oleh Raja Badung, yaitu wilayah bernama Taak yang merupakan wilayah kekuasaan dari Kerajaan Badung ketika itu. Rumah (jero gede) Taak milik Senggehu Taak kemudian dijadikan pusat kekuasaan oleh I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) dengan abhiseka I Dewa Gde Sukahet dan Jero Gede Taak berubah nama menjadi Puri/Jero Gede Batubulan. Tempat tinggal Senggehu Taak kemudian dipindahkan ke timur pada tanah lapang yang bernama pegat embang ditumbuhi alang-alang (ambengan), kedua kata tersebut (embang dan ambengan) kemudian menjadi cikal bakal nama Banjar Pegambangan.

I Dewa Kalesan alias I Dewa Karang alias I Dewa Gde Sukahet ketika berkuasa di Batubulan memiliki tujuh putra salah satunya yang lahir dari istri prami bernama I Dewa Gde Pameregan dan yang lahir dari istri panawing bernama I Dewa Wayan Panenjoan. Jabatan sebagai penguasa kemudian dilanjutkan oleh I Dewa Gde Pameregan yang kemudian memiliki sembilan putra bernama I Dewa Rai Guwang, I Dewa Gde Dukuh, I Dewa Gde Ngurah, I Dewa Made Batan, I Dewa Ketut Tegal, I Dewa Wayan Muntur, I Dewa Made Muntur, I Dewa Nyoman Badung, dan I Dewa Gde Rai. Kekuasaan I Dewa Gde Pameregan sebenarnya akan digantikan oleh putra bungsunya bernama I Dewa Gde Rai, karena merupakan putra istri prami dari Klungkung. Ketika akan terjadi pergantian kekuasaan tersebut muncul pemberontakan yang dilakukan oleh keturunan I Dewa Wayan Panenjoan bernama I Dewa Made Lukluk yang berkerjasama dengan I Dewa Manggis Jorog dari Kerajaan Gianyar berhasil membunuh I Dewa Gde Rai di Payangan dan I Dewa Made Muntur terbunuh di Bangli. I Dewa Gde Rai setelah meninggal dibuatkan bangunan suci berupa meru tumpang solas (sekarang candi tumpang pitu) di Pura Puseh Batubulan sebagai tempat pedharmaan. Setelah I Dewa Gde Rai terbunuh secara otomatis I Dewa Made Lukluk berkuasa dan tidak memiliki putra, sehingga diberikan putra dari Gianyar bernama I Dewa Gelugu selanjutnya naik tahta dengan abhiseka I Dewa Oka. Sejak I Dewa Oka naik tahta dan berkuasa di Batubulan maka dinasti I Dewa Gde Sukahet digantikan oleh dinasti I Dewa Manggis (Gianyar) (Kertha dkk, 2001: 19-20). Melihat perilaku ksatria (keluarga raja) di Batubulan saat itu membuat Raja Badung marah dan menyerahkan wilayah Batubulan ke Kerajaan Sukawati yang ketika itu juga telah dikuasai oleh Kerajaan Gianyar pada tahun 1810 Masehi (Kertha dkk, 2001: 13). Adapun kutipan Prasasti di Pemerajan Agung Pohmanis yang membahas tentang terbunuhnya I Dewa Gde Rai di Payangan sebagai berikut.

“…yan pirang kunang lawasnia, hana penangkan kali ring Badung. Kalah I Gusti Jambe, molih I Gsuti Ngurah Kaleran. Pirang tahun penangkan kali, di Batubulan I Dewa Made Lukluk masangan bawos ring I Dewa Agung Manggis apus I Dewa Gde Rai (Sukahet) sedayang di payangan. I Dewa Made Muntur ke sedayang di Bangli…” (Terjemahan Bebas Prasasti di Pemerajan Agung Pohmanis).

Karena tragedi tersebut Puri Taak menjadi kacau, kesedihan dan kekecewaan yang sangat mendalam karena adu domba dan fitnah berkembang sehingga para semeton/keluarga yang masih di Puri Taak merasa tidak aman fisik maupun keselamatan juwa masing-masing, sehingga memutuskan untuk mengungsi. I Dewa Wayan Badung mengungsi ke Taman Intaran Sanur bersama-sama dengan I Dewa Gde Dukuh menuju Gria Taman Intaran/Ida Pedanda Gde Alang Kajeng. I Dewa Nyoman Badung bersama-sama I Dewa Wayan Muntur menuju Denpasar menghadap I Gusti Ngurah Kajanan di Puri Satria dan akhirnya beliau berdua ditempatkan di Kusiman (Kesiman sekarang).

Diceritakan sekarang pengungsian I Dewa Nyoman Badung bersama-sama dengan I Dewa Wayan Muntur, oleh penguasa Badung ketika itu ditempatkan di Desa Kusiman (Kesiman sekarang). Dalam perjalanan itu beliau diiringi oleh panjak/pengikut warga Pungakan Banjar kalah dan warga lainnya bernama: I Kepang, I Taring, I Mastra, I Ngembu, dan I Garda. Dari Banjar Sumerta diiringioleh I Pinrih, I Malang, I Silur anaknya Nyoman Del dan I Medil. Selain itu juga ikutBagus Pengunteran dengan anak-anaknya, yaitu Bagus Coak dan Bagus Made Bandem. Iringan lainnya, yaitu: I Lebah dan I Trekas. I Dewa Wayan Muntur diiringi oleh 2 orang, yaitu: I Gulingan dan I Mandesa..

i Dewa Nyoman Badung wafat/mantuk di Kesiman. Beliau mempunyai 3 orang putra-putri. Yang perempuan dikawinkan dengan I Dewa Gde Pande anak I Dewa Gde Dukuh dari Taman Intaran. Atas perintah I Gusti Ngurah Gede (Penguasa Badung ketika itu), I Dewa Gede Pande dan I Dewa Wayan Muntur bersama-sama menuju desa perbatasan wilayah Badung dengan Mengwi dan Gianyar. Raja Badung ketika itu menginginkan agar I Dewa Wayan Muntur bersama I Dewa Gde Pande untuk membangun dan membina wilayah perdikan baru di perbatasan timur laut wilayah Badung (Denpasar sekarang) untuk menghadang Kerajaan Mengwi yang telah menguasai Bun dan Kerajaan Gianyar yang telah menguasai Batubulan Sukawati. Akhirnya I Dewa Wayan Muntur bersama dengan I Dewa Gde Pande (Menantu I Dewa Nyoman Badung) menuju wilayah perbatasan tersebut diiringi oleh panjak pengiring warga-wargi sebanyak 40 orang terdiri dari klan Pasek, Kalah, dan Karang Buncing seperti Pan Edan, Pan Gejor, Pan Gobyah, dan Pan Gudug menetap di Kalah Penatih, sedangkan I Dunia, I Tusan, I Enteg, I Nedeng, I Runia, dan I Tebeng ikut mengiringi sampai wilayah pemanes (Pohmanis sekarang) (Kertha dkk, 2001: 22). Wilayah perbatasan itu merupakan wilayah yang sangat gawat karena disana sering terjadi pertempuran. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tonggak-tonggak sejarah seperti belumbang (banteng yang terbuat dari susunan tanah) melintang mengelilingi wilayah ini, penamaan tempat seperti carik cucukan dan kalangan yang identik dengan istilah dalam peperangan, dan karena wilayah ini sebagai banteng pertahanan Badung pada masanya sehingga wilayah ini bernama pemanes terus berkembang menjadi pemanis dan pohmanis sampai saat ini.

Keberadaan I Dewa Wayan Muntur bersama I Dewa Gde Pande beserta dengan warga masyarakat lainnya di wilayah pemanes ini mampu meredam invansi meliter Kerajaan Mengwi dari utara serta Kerajaan Gianyar dari timur dan membuat keadaan semakin aman. Keadaan aman tersebut selanjutnya membuat masyarakat berangsur-angsur membangun jero, rumah-rumah warga, tempat suci (pura), dan membagi wilayah pertanian yang nantinya digunakan untuk bercocok tanam. Mendengar keadaan wilayah pemanes semakin aman, Raja Badung sangat bahagia dan kembali mengirimkan panjak pengiring dari warga-wargi soroh Pande dan Senggehu untuk melengkapi wilayah pemanes sebagai banteng pertahanan timur laut Kerajaan Badung ketika itu. Berdasarkan uraian tersebut di atas sekitar tahun 1740 Masehi invansi meliter Mengwi yang mengalahkan Kerajaan Bun dan disaat yang hampir bersamaan terjadi gejolak kekuasaan di Kerajaan Batubulan yang mengakibatkan terbunuhnya I Dewa Gde Rai (sekarang didharmakan pada meru di Pura Puseh Batubulan). Pada masa-masa itu beberapa keluarga raja seperti I Dewa Wayan Muntur dan I Dewa Nyoman Badung meninggalkan Batubulan menuju wilayah pemanes (Pohmanis sekarang) bersama para warga-wargi (panjak tatadan) untuk membangun serta membina wilayah baru di tepi siring Kerajaan Badung sekitar abad XVII-XVIII Masehi. 

Mengenai istilah nama taman itu baru muncul ketika wilayah desa ini dibagi menjadi dua banjar adat, yaitu taman dan pohmanis yang dulunya secara keseluruhan bernama pemanes/pemanis/pohmanis. Taman dikaitkan dengan adanya Pura Taman Sari di sisi barat desa yang sekarang dimiliki oleh Brahmana dari Geriya Bindu Kesiman.

Berbicara mengenai sejarah Desa Adat Taman Pohmanis tidak dapat terlepas dari Prasasti yang tersimpan di Pemrajan Agung Pohmanis, yang turunannya secara bebas dideskripsikan dalam Babad Kesatria Sukahet. Diceritakan telah hilang seorang anak kecil di Puri Klungkung yang merupakan putra dari I Dewa Karang. I Dewa Karang ini merupakan putra dari I Dewa Paduhungan yang merupakan putra dari  I Dewa Sumretha sebagai putra Dalem Sagening dari istri panawing. I Dewa Sumretha putra Dalem Sagening diperkirakan sebaya dengan Dalem Dimade yang menjadi raja pada tahun 1665-1686 Masehi. Ketika masa pemerintahan Dalem Dimade terjadi pemberontakan oleh I Gusti Agung Maruti dan kerajaan ketika itu berhasil dikuasai. Dalem Dimade bersama dua putranya, yaitu I Dewa Pemayun dan I Dewa Jambe mengungsi ke Desa Guliang Pejeng dan dalam pengungsian Dalem Dimade wafat di Desa Guliang. I Dewa Jambe setelah dewasa mengatur strategi untuk menyerang Kerajaan Swucapura Gelgel bersama-bersama dengan saudaranya, yaitu I Dewa Paduhungan untuk merebut kembali kerajaan dari I Gusti Agung Maruti.

I Dewa Jambe kira-kira sebaya dengan umur I Dewa Paduhungan putra dari I Dewa Sumretha ketika itu berhasil mengalahkan I Gusti Agung Maruti dan kerajaan dapat direbut dengan memindahkan pusat kerajaan dari Swecapura Gelgel ke Smarajaya Klungkung dan I Dewa Jambe naik tahta tanpa menggunakan gelar dalem dari tahun 1710-1775 Masehi dengan abhiseka Ida I Dewa Agung Jambe. Putra Ida I Dewa Agung Jambe bernama I Dewa Dimade yang melanjutkan pemerintahan di Kerajaan Smarapura Klungkung pada tahun 1775-1825 Masehi dengan abhiseka Ida I Dewa Agung Dimade. Ketika terjadi penumpasan I Gusti Agung Maruti di Kerajaan Swecapura Gelgel dulu oleh Ida I Dewa Agung Jambe, putranya yang bernama I Dewa Dimade masih sangat kecil dan diperkirakan seumuran dengan I Dewa Karang putra dari I Dewa Paduhungan. Terjadinya perebutan kekuasaan tersebut membuat kondisi sangat kacau sehingga I Dewa Karang beserta dengan parekan dan panginte ketika itu diselamatkan dengan cara dilarikan ke Denbukit (Buleleng) oleh I Ngakan Kaleran (Kertha dkk, 2001: 9-10). 

Diceritakan ada seorang anglurah bernama I Gusti Ngurah Bija berkuasa di Kerajaan Bun yang memiliki penduduk sebanyak ± 5000 jiwa. Kerajaan Bun sekarang merupakan sebuah wilayah yang terletak di sebelah utara Desa Angabaya Penatih, di sebelah timur Desa Sibang Badung, di sebelah selatan Desa Lambing-Tingas Badung, serta di disebelah barat Desa Sedang, Angantaka, dan Jagapati Badung. Kerajaan Bun sekarang hanya berupa hamparan persawahan yang bernama Carik Pengumpian, karena sudah di hancurkan oleh I Gusti Agung Mhahiun dari Kerajaan Mengwi ketika ekspansi ke wilayah utara Kerajaan Badung. Penduduk di Kerajaan Bun ketika itu ada yang memiliki pekerjaan sebagai pedagang (panghalu) hingga ke wilayah Denbukit (Buleleng) dan suatu ketika seorang pedagang dari Denbukit (panghalu Den Bukit) memberikan anak kecil kepada seorang pedagang dari Bun (panghalu Bun) agar anak kecil tersebut dibawa ke Badung (Kertha dkk, 2001: 2-3).

Panghalu Bun merasa senang menerima pemberian itu dan segera anak kecil tersebut disimpan dalam sebuah katung (kalesan) (nama I Dewa Karang berubah menjadi I Dewa Kalesan). Sesampainya di Kerajaan Bun, banyak penduduk berkumpul di bencingah mendengar kabar bahwa telah terjadi penculikan terhadap putra I Dewa Karang di Klungkung beserta dengan panginte dan parekan dilarikan oleh I Ngakan Kaleran. Berdasarkan cerita tersebut kemudian panghalu Bun itu menceritakan bahwa telah diberikan anak kecil di Denbukit (Buleleng). Mendengar cerita tersebut, I Gusti Ngurah Bija segera pergi ke Klungkung menghadap I Dewa Agung Klungkung (Raja Smarajaya Klungkung) untuk memberi tahu bahwa putra dalem yang hilang tersebut sekarang sudah di Kerajaan Bun dan memohon agar anak kecil tersebut dibesarkan di Kerajaan Bun. I Dewa Agung Klungkung (Raja Smarajaya Klungkung) sangat gembira mendengar permohonan I Gusti Ngurah Bija, serta membenarkan bahwa anak kecil tersebut adalah putra I Dewa Karang dan kemudian diberikan nama sama dengan ayahnya, yaitu I Dewa Karang dan mengijinkan anak kecil (I Dewa Karang) dibesarkan di Kerajaan Bun dengan diberikan pengikut (panjak) sebanyak 400 orang. 

Dewa Karang (I Dewa Kalesan) dibesarkan di Kerajaan Bun dan berita tersebut menyebar ke berbagai wilayah hingga sampai di Kerajaan Badung yang ketika itu I Gusti Ngurah Jambe Pule sebagai penguasanya. Raja Badung meminta kepada I Gusti Ngurah Bija agar I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) diserahkan ke Badung dan akan diberikan tempat untuk dijadikan penguasa di wilayah timur Kerajaan Badung, yaitu wilayah Taak dengan diberikan pengiring dari Badung sebanyak 1000 orang (35 orang dari Badung, 40 orang dari Bun, dan sisanya adalah perarudan). 

Perjalanan untuk mulai membuka wilayah baru (ngewangun ngelantur) dilakukan oleh I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) bersama para warga pengiring merabas hutan dimulai dari selatan selama satu bulan (sasih) penuh dan berhasil menemukan tempat yang tinggi (tegehe). Terjadinya peristiwa tersebut merupakan cikal bakal dari nama Banjar Menguntur, Banjar Sasih, dan Banjar Tegehe Ketika perjalanan dilanjutkan ke utara ditemukanlah wilayah tujuan yang dimaksudkan oleh Raja Badung, yaitu wilayah bernama Taak yang merupakan wilayah kekuasaan dari Kerajaan Badung ketika itu. 

Rumah (jero gede) Taak milik Senggehu Taak kemudian dijadikan pusat kekuasaan oleh I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) dengan abhiseka I Dewa Gde Sukahet dan Jero Gede Taak berubah nama menjadi Puri/Jero Gede Batubulan. Tempat tinggal Senggehu Taak kemudian dipindahkan ke timur pada tanah lapang yang bernama pegat embang ditumbuhi alang-alang (ambengan), kedua kata tersebut (embang dan ambengan) kemudian menjadi cikal bakal nama Banjar Pegambangan.

I Dewa Kalesan alias I Dewa Karang alias I Dewa Gde Sukahet ketika berkuasa di Batubulan memiliki tujuh putra salah satunya yang lahir dari istri prami bernama I Dewa Gde Pameregan dan yang lahir dari istri panawing bernama I Dewa Wayan Panenjoan. Jabatan sebagai penguasa kemudian dilanjutkan oleh I Dewa Gde Pameregan yang kemudian memiliki sembilan putra bernama I Dewa Rai Guwang, I Dewa Gde Dukuh, I Dewa Gde Ngurah, I Dewa Made Batan, I Dewa Ketut Tegal, I Dewa Wayan Muntur, I Dewa Made Muntur, I Dewa Nyoman Badung, dan I Dewa Gde Rai. Kekuasaan I Dewa Gde Pameregan sebenarnya akan digantikan oleh putra bungsunya bernama I Dewa Gde Rai, karena merupakan putra istri prami dari Klungkung. Ketika akan terjadi pergantian kekuasaan tersebut muncul pemberontakan yang dilakukan oleh keturunan I Dewa Wayan Panenjoan bernama I Dewa Made Lukluk yang berkerjasama dengan I Dewa Manggis Jorog dari Kerajaan Gianyar berhasil membunuh I Dewa Gde Rai di Payangan dan I Dewa Made Muntur terbunuh di Bangli. I Dewa Gde Rai setelah meninggal dibuatkan bangunan suci berupa meru tumpang solas (sekarang candi tumpang pitu) di Pura Puseh Batubulan sebagai tempat pedharmaan. Setelah I Dewa Gde Rai terbunuh secara otomatis I Dewa Made Lukluk berkuasa dan tidak memiliki putra, sehingga diberikan putra dari Gianyar bernama I Dewa Gelugu selanjutnya naik tahta dengan abhiseka I Dewa Oka. Sejak I Dewa Oka naik tahta dan berkuasa di Batubulan maka dinasti I Dewa Gde Sukahet digantikan oleh dinasti I Dewa Manggis (Gianyar) (Kertha dkk, 2001: 19-20). Melihat perilaku ksatria (keluarga raja) di Batubulan saat itu membuat Raja Badung marah dan menyerahkan wilayah Batubulan ke Kerajaan Sukawati yang ketika itu juga telah dikuasai oleh Kerajaan Gianyar pada tahun 1810 Masehi (Kertha dkk, 2001: 13). Adapun kutipan Prasasti di Pemerajan Agung Pohmanis yang membahas tentang terbunuhnya I Dewa Gde Rai di Payangan sebagai berikut.

“…yan pirang kunang lawasnia, hana penangkan kali ring Badung. Kalah I Gusti Jambe, molih I Gsuti Ngurah Kaleran. Pirang tahun penangkan kali, di Batubulan I Dewa Made Lukluk masangan bawos ring I Dewa Agung Manggis apus I Dewa Gde Rai (Sukahet) sedayang di payangan. I Dewa Made Muntur ke sedayang di Bangli…” (Terjemahan Bebas Prasasti di Pemerajan Agung Pohmanis). Karena tragedi tersebut Puri Taak menjadi kacau, kesedihan dan kekecewaan yang sangat mendalam karena adu domba dan fitnah berkembang sehingga para semeton/keluarga yang masih di Puri Taak merasa tidak aman fisik maupun keselamatan juwa masing-masing, sehingga memutuskan untuk mengungsi. I Dewa Wayan Badung mengungsi ke Taman Intaran Sanur bersama-sama dengan I Dewa Gde Dukuh menuju Gria Taman Intaran/Ida Pedanda Gde Alang Kajeng. I Dewa Nyoman Badung bersama-sama I Dewa Wayan Muntur menuju Denpasar menghadap I Gusti Ngurah Kajanan di Puri Satria dan akhirnya beliau berdua ditempatkan di Kusiman (Kesiman sekarang). 

Diceritakan sekarang pengungsian I Dewa Nyoman Badung bersama-sama dengan I Dewa Wayan Muntur, oleh penguasa Badung ketika itu ditempatkan di Desa Kusiman (Kesiman sekarang). Dalam perjalanan itu beliau diiringi oleh panjak/pengikut warga Pungakan Banjar kalah dan warga lainnya bernama: I Kepang, I Taring, I Mastra, I Ngembu, dan I Garda. Dari Banjar Sumerta diiringioleh I Pinrih, I Malang, I Silur anaknya Nyoman Del dan I Medil. Selain itu juga ikutBagus Pengunteran dengan anak-anaknya, yaitu Bagus Coak dan Bagus Made Bandem. Iringan lainnya, yaitu: I Lebah dan I Trekas. I Dewa Wayan Muntur diiringi oleh 2 orang, yaitu: I Gulingan dan I Mandesa..

i Dewa Nyoman Badung wafat/mantuk di Kesiman. Beliau mempunyai 3 orang putra-putri. Yang perempuan dikawinkan dengan I Dewa Gde Pande anak I Dewa Gde Dukuh dari Taman Intaran. Atas perintah I Gusti Ngurah Gede (Penguasa Badung ketika itu), I Dewa Gede Pande dan I Dewa Wayan Muntur bersama-sama menuju desa perbatasan wilayah Badung dengan Mengwi dan Gianyar. Raja Badung ketika itu menginginkan agar I Dewa Wayan Muntur bersama I Dewa Gde Pande untuk membangun dan membina wilayah perdikan baru di perbatasan timur laut wilayah Badung (Denpasar sekarang) untuk menghadang Kerajaan Mengwi yang telah menguasai Bun dan Kerajaan Gianyar yang telah menguasai Batubulan Sukawati. Akhirnya I Dewa Wayan Muntur bersama dengan I Dewa Gde Pande (Menantu I Dewa Nyoman Badung) menuju wilayah perbatasan tersebut diiringi oleh panjak pengiring warga-wargi sebanyak 40 orang terdiri dari klan Pasek, Kalah, dan Karang Buncing seperti Pan Edan, Pan Gejor, Pan Gobyah, dan Pan Gudug menetap di Kalah Penatih, sedangkan I Dunia, I Tusan, I Enteg, I Nedeng, I Runia, dan I Tebeng ikut mengiringi sampai wilayah pemanes (Pohmanis sekarang) (Kertha dkk, 2001: 22). Wilayah perbatasan itu merupakan wilayah yang sangat gawat karena disana sering terjadi pertempuran. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tonggak-tonggak sejarah seperti belumbang (banteng yang terbuat dari susunan tanah) melintang mengelilingi wilayah ini, penamaan tempat seperti carik cucukan dan kalangan yang identik dengan istilah dalam peperangan, dan karena wilayah ini sebagai banteng pertahanan Badung pada masanya sehingga wilayah ini bernama pemanes terus berkembang menjadi pemanis dan pohmanis sampai saat ini.

Keberadaan I Dewa Wayan Muntur bersama I Dewa Gde Pande beserta dengan warga masyarakat lainnya di wilayah pemanes ini mampu meredam invansi meliter Kerajaan Mengwi dari utara serta Kerajaan Gianyar dari timur dan membuat keadaan semakin aman. Keadaan aman tersebut selanjutnya membuat masyarakat berangsur-angsur membangun jero, rumah-rumah warga, tempat suci (pura), dan membagi wilayah pertanian yang nantinya digunakan untuk bercocok tanam. Mendengar keadaan wilayah pemanes semakin aman, Raja Badung sangat bahagia dan kembali mengirimkan panjak pengiring dari warga-wargi soroh Pande dan Senggehu untuk melengkapi wilayah pemanes sebagai banteng pertahanan timur laut Kerajaan Badung ketika itu. Berdasarkan uraian tersebut di atas sekitar tahun 1740 Masehi invansi meliter Mengwi yang mengalahkan Kerajaan Bun dan disaat yang hampir bersamaan terjadi gejolak kekuasaan di Kerajaan Batubulan yang mengakibatkan terbunuhnya I Dewa Gde Rai (sekarang didharmakan pada meru di Pura Puseh Batubulan). Pada masa-masa itu beberapa keluarga raja seperti I Dewa Wayan Muntur dan I Dewa Nyoman Badung meninggalkan Batubulan menuju wilayah pemanes (Pohmanis sekarang) bersama para warga-wargi (panjak tatadan) untuk membangun serta membina wilayah baru di tepi siring Kerajaan Badung sekitar abad XVII-XVIII Masehi. 

Mengenai istilah nama taman itu baru muncul ketika wilayah desa ini dibagi menjadi dua banjar adat, yaitu taman dan pohmanis yang dulunya secara keseluruhan bernama pemanes/pemanis/pohmanis. Taman dikaitkan dengan adanya Pura Taman Sari di sisi barat desa yang sekarang dimiliki oleh Brahmana dari Geriya Bindu Kesiman.

Berbicara mengenai sejarah Desa Adat Taman Pohmanis tidak dapat terlepas dari Prasasti yang tersimpan di Pemrajan Agung Pohmanis, yang turunannya secara bebas dideskripsikan dalam Babad Kesatria Sukahet. Diceritakan telah hilang seorang anak kecil di Puri Klungkung yang merupakan putra dari I Dewa Karang. I Dewa Karang ini merupakan putra dari I Dewa Paduhungan yang merupakan putra dari  I Dewa Sumretha sebagai putra Dalem Sagening dari istri panawing. I Dewa Sumretha putra Dalem Sagening diperkirakan sebaya dengan Dalem Dimade yang menjadi raja pada tahun 1665-1686 Masehi. Ketika masa pemerintahan Dalem Dimade terjadi pemberontakan oleh I Gusti Agung Maruti dan kerajaan ketika itu berhasil dikuasai. Dalem Dimade bersama dua putranya, yaitu I Dewa Pemayun dan I Dewa Jambe mengungsi ke Desa Guliang Pejeng dan dalam pengungsian Dalem Dimade wafat di Desa Guliang. I Dewa Jambe setelah dewasa mengatur strategi untuk menyerang Kerajaan Swucapura Gelgel bersama-bersama dengan saudaranya, yaitu I Dewa Paduhungan untuk merebut kembali kerajaan dari I Gusti Agung Maruti. 

I Dewa Jambe kira-kira sebaya dengan umur I Dewa Paduhungan putra dari I Dewa Sumretha ketika itu berhasil mengalahkan I Gusti Agung Maruti dan kerajaan dapat direbut dengan memindahkan pusat kerajaan dari Swecapura Gelgel ke Smarajaya Klungkung dan I Dewa Jambe naik tahta tanpa menggunakan gelar dalem dari tahun 1710-1775 Masehi dengan abhiseka Ida I Dewa Agung Jambe. 

Putra Ida I Dewa Agung Jambe bernama I Dewa Dimade yang melanjutkan pemerintahan di Kerajaan Smarapura Klungkung pada tahun 1775-1825 Masehi dengan abhiseka Ida I Dewa Agung Dimade. Ketika terjadi penumpasan I Gusti Agung Maruti di Kerajaan Swecapura Gelgel dulu oleh Ida I Dewa Agung Jambe, putranya yang bernama I Dewa Dimade masih sangat kecil dan diperkirakan seumuran dengan I Dewa Karang putra dari I Dewa Paduhungan. Terjadinya perebutan kekuasaan tersebut membuat kondisi sangat kacau sehingga I Dewa Karang beserta dengan parekan dan panginte ketika itu diselamatkan dengan cara dilarikan ke Denbukit (Buleleng) oleh I Ngakan Kaleran (Kertha dkk, 2001: 9-10).

Diceritakan ada seorang anglurah bernama I Gusti Ngurah Bija berkuasa di Kerajaan Bun yang memiliki penduduk sebanyak ± 5000 jiwa. Kerajaan Bun sekarang merupakan sebuah wilayah yang terletak di sebelah utara Desa Angabaya Penatih, di sebelah timur Desa Sibang Badung, di sebelah selatan Desa Lambing-Tingas Badung, serta di disebelah barat Desa Sedang, Angantaka, dan Jagapati Badung.

 Kerajaan Bun sekarang hanya berupa hamparan persawahan yang bernama Carik Pengumpian, karena sudah di hancurkan oleh I Gusti Agung Mhahiun dari Kerajaan Mengwi ketika ekspansi ke wilayah utara Kerajaan Badung. Penduduk di Kerajaan Bun ketika itu ada yang memiliki pekerjaan sebagai pedagang (panghalu) hingga ke wilayah Denbukit (Buleleng) dan suatu ketika seorang pedagang dari Denbukit (panghalu Den Bukit) memberikan anak kecil kepada seorang pedagang dari Bun (panghalu Bun) agar anak kecil tersebut dibawa ke Badung (Kertha dkk, 2001: 2-3). 

Panghalu Bun merasa senang menerima pemberian itu dan segera anak kecil tersebut disimpan dalam sebuah katung (kalesan) (nama I Dewa Karang berubah menjadi I Dewa Kalesan). Sesampainya di Kerajaan Bun, banyak penduduk berkumpul di bencingah mendengar kabar bahwa telah terjadi penculikan terhadap putra I Dewa Karang di Klungkung beserta dengan panginte dan parekan dilarikan oleh I Ngakan Kaleran. Berdasarkan cerita tersebut kemudian panghalu Bun itu menceritakan bahwa telah diberikan anak kecil di Denbukit (Buleleng). Mendengar cerita tersebut, I Gusti Ngurah Bija segera pergi ke Klungkung menghadap I Dewa Agung Klungkung (Raja Smarajaya Klungkung) untuk memberi tahu bahwa putra dalem yang hilang tersebut sekarang sudah di Kerajaan Bun dan memohon agar anak kecil tersebut dibesarkan di Kerajaan Bun. I Dewa Agung Klungkung (Raja Smarajaya Klungkung) sangat gembira mendengar permohonan I Gusti Ngurah Bija, serta membenarkan bahwa anak kecil tersebut adalah putra I Dewa Karang dan kemudian diberikan nama sama dengan ayahnya, yaitu I Dewa Karang dan mengijinkan anak kecil (I Dewa Karang) dibesarkan di Kerajaan Bun dengan diberikan pengikut (panjak) sebanyak 400 orang. 

I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) dibesarkan di Kerajaan Bun dan berita tersebut menyebar ke berbagai wilayah hingga sampai di Kerajaan Badung yang ketika itu I Gusti Ngurah Jambe Pule sebagai penguasanya. Raja Badung meminta kepada I Gusti Ngurah Bija agar I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) diserahkan ke Badung dan akan diberikan tempat untuk dijadikan penguasa di wilayah timur Kerajaan Badung, yaitu wilayah Taak dengan diberikan pengiring dari Badung sebanyak 1000 orang (35 orang dari Badung, 40 orang dari Bun, dan sisanya adalah perarudan). Perjalanan untuk mulai membuka wilayah baru (ngewangun ngelantur) dilakukan oleh I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) bersama para warga pengiring merabas hutan dimulai dari selatan selama satu bulan (sasih) penuh dan berhasil menemukan tempat yang tinggi (tegehe). Terjadinya peristiwa tersebut merupakan cikal bakal dari nama Banjar Menguntur, Banjar Sasih, dan Banjar Tegehe

Ketika perjalanan dilanjutkan ke utara ditemukanlah wilayah tujuan yang dimaksudkan oleh Raja Badung, yaitu wilayah bernama Taak yang merupakan wilayah kekuasaan dari Kerajaan Badung ketika itu. Rumah (jero gede) Taak milik Senggehu Taak kemudian dijadikan pusat kekuasaan oleh I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) dengan abhiseka I Dewa Gde Sukahet dan Jero Gede Taak berubah nama menjadi Puri/Jero Gede Batubulan. Tempat tinggal Senggehu Taak kemudian dipindahkan ke timur pada tanah lapang yang bernama pegat embang ditumbuhi alang-alang (ambengan), kedua kata tersebut (embang dan ambengan) kemudian menjadi cikal bakal nama Banjar Pegambangan.

I Dewa Kalesan alias I Dewa Karang alias I Dewa Gde Sukahet ketika berkuasa di Batubulan memiliki tujuh putra salah satunya yang lahir dari istri prami bernama I Dewa Gde Pameregan dan yang lahir dari istri panawing bernama I Dewa Wayan Panenjoan. Jabatan sebagai penguasa kemudian dilanjutkan oleh I Dewa Gde Pameregan yang kemudian memiliki sembilan putra bernama I Dewa Rai Guwang, I Dewa Gde Dukuh, I Dewa Gde Ngurah, I Dewa Made Batan, I Dewa Ketut Tegal, I Dewa Wayan Muntur, I Dewa Made Muntur, I Dewa Nyoman Badung, dan I Dewa Gde Rai. Kekuasaan I Dewa Gde Pameregan sebenarnya akan digantikan oleh putra bungsunya bernama I Dewa Gde Rai, karena merupakan putra istri prami dari Klungkung. Ketika akan terjadi pergantian kekuasaan tersebut muncul pemberontakan yang dilakukan oleh keturunan I Dewa Wayan Panenjoan bernama I Dewa Made Lukluk yang berkerjasama dengan I Dewa Manggis Jorog dari Kerajaan Gianyar berhasil membunuh I Dewa Gde Rai di Payangan dan I Dewa Made Muntur terbunuh di Bangli. I Dewa Gde Rai setelah meninggal dibuatkan bangunan suci berupa meru tumpang solas (sekarang candi tumpang pitu) di Pura Puseh Batubulan sebagai tempat pedharmaan. Setelah I Dewa Gde Rai terbunuh secara otomatis I Dewa Made Lukluk berkuasa dan tidak memiliki putra, sehingga diberikan putra dari Gianyar bernama I Dewa Gelugu selanjutnya naik tahta dengan abhiseka I Dewa Oka. Sejak I Dewa Oka naik tahta dan berkuasa di Batubulan maka dinasti I Dewa Gde Sukahet digantikan oleh dinasti I Dewa Manggis (Gianyar) (Kertha dkk, 2001: 19-20). Melihat perilaku ksatria (keluarga raja) di Batubulan saat itu membuat Raja Badung marah dan menyerahkan wilayah Batubulan ke Kerajaan Sukawati yang ketika itu juga telah dikuasai oleh Kerajaan Gianyar pada tahun 1810 Masehi (Kertha dkk, 2001: 13). Adapun kutipan Prasasti di Pemerajan Agung Pohmanis yang membahas tentang terbunuhnya I Dewa Gde Rai di Payangan sebagai berikut.

“…yan pirang kunang lawasnia, hana penangkan kali ring Badung. Kalah I Gusti Jambe, molih I Gsuti Ngurah Kaleran. Pirang tahun penangkan kali, di Batubulan I Dewa Made Lukluk masangan bawos ring I Dewa Agung Manggis apus I Dewa Gde Rai (Sukahet) sedayang di payangan. I Dewa Made Muntur ke sedayang di Bangli…” (Terjemahan Bebas Prasasti di Pemerajan Agung Pohmanis).

Karena tragedi tersebut Puri Taak menjadi kacau, kesedihan dan kekecewaan yang sangat mendalam karena adu domba dan fitnah berkembang sehingga para semeton/keluarga yang masih di Puri Taak merasa tidak aman fisik maupun keselamatan juwa masing-masing, sehingga memutuskan untuk mengungsi. I Dewa Wayan Badung mengungsi ke Taman Intaran Sanur bersama-sama dengan I Dewa Gde Dukuh menuju Gria Taman Intaran/Ida Pedanda Gde Alang Kajeng. I Dewa Nyoman Badung bersama-sama I Dewa Wayan Muntur menuju Denpasar menghadap I Gusti Ngurah Kajanan di Puri Satria dan akhirnya beliau berdua ditempatkan di Kusiman (Kesiman sekarang).

Diceritakan sekarang pengungsian I Dewa Nyoman Badung bersama-sama dengan I Dewa Wayan Muntur, oleh penguasa Badung ketika itu ditempatkan di Desa Kusiman (Kesiman sekarang). Dalam perjalanan itu beliau diiringi oleh panjak/pengikut warga Pungakan Banjar kalah dan warga lainnya bernama: I Kepang, I Taring, I Mastra, I Ngembu, dan I Garda. Dari Banjar Sumerta diiringioleh I Pinrih, I Malang, I Silur anaknya Nyoman Del dan I Medil. Selain itu juga ikutBagus Pengunteran dengan anak-anaknya, yaitu Bagus Coak dan Bagus Made Bandem. Iringan lainnya, yaitu: I Lebah dan I Trekas. I Dewa Wayan Muntur diiringi oleh 2 orang, yaitu: I Gulingan dan I Mandesa..

i Dewa Nyoman Badung wafat/mantuk di Kesiman. Beliau mempunyai 3 orang putra-putri. Yang perempuan dikawinkan dengan I Dewa Gde Pande anak I Dewa Gde Dukuh dari Taman Intaran. Atas perintah I Gusti Ngurah Gede (Penguasa Badung ketika itu), I Dewa Gede Pande dan I Dewa Wayan Muntur bersama-sama menuju desa perbatasan wilayah Badung dengan Mengwi dan Gianyar. Raja Badung ketika itu menginginkan agar I Dewa Wayan Muntur bersama I Dewa Gde Pande untuk membangun dan membina wilayah perdikan baru di perbatasan timur laut wilayah Badung (Denpasar sekarang) untuk menghadang Kerajaan Mengwi yang telah menguasai Bun dan Kerajaan Gianyar yang telah menguasai Batubulan Sukawati. Akhirnya I Dewa Wayan Muntur bersama dengan I Dewa Gde Pande (Menantu I Dewa Nyoman Badung) menuju wilayah perbatasan tersebut diiringi oleh panjak pengiring warga-wargi sebanyak 40 orang terdiri dari klan Pasek, Kalah, dan Karang Buncing seperti Pan Edan, Pan Gejor, Pan Gobyah, dan Pan Gudug menetap di Kalah Penatih, sedangkan I Dunia, I Tusan, I Enteg, I Nedeng, I Runia, dan I Tebeng ikut mengiringi sampai wilayah pemanes (Pohmanis sekarang) (Kertha dkk, 2001: 22). Wilayah perbatasan itu merupakan wilayah yang sangat gawat karena disana sering terjadi pertempuran. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tonggak-tonggak sejarah seperti belumbang (banteng yang terbuat dari susunan tanah) melintang mengelilingi wilayah ini, penamaan tempat seperti carik cucukan dan kalangan yang identik dengan istilah dalam peperangan, dan karena wilayah ini sebagai banteng pertahanan Badung pada masanya sehingga wilayah ini bernama pemanes terus berkembang menjadi pemanis dan pohmanis sampai saat ini.

Keberadaan I Dewa Wayan Muntur bersama I Dewa Gde Pande beserta dengan warga masyarakat lainnya di wilayah pemanes ini mampu meredam invansi meliter Kerajaan Mengwi dari utara serta Kerajaan Gianyar dari timur dan membuat keadaan semakin aman. Keadaan aman tersebut selanjutnya membuat masyarakat berangsur-angsur membangun jero, rumah-rumah warga, tempat suci (pura), dan membagi wilayah pertanian yang nantinya digunakan untuk bercocok tanam. Mendengar keadaan wilayah pemanes semakin aman, Raja Badung sangat bahagia dan kembali mengirimkan panjak pengiring dari warga-wargi soroh Pande dan Senggehu untuk melengkapi wilayah pemanes sebagai banteng pertahanan timur laut Kerajaan Badung ketika itu. Berdasarkan uraian tersebut di atas sekitar tahun 1740 Masehi invansi meliter Mengwi yang mengalahkan Kerajaan Bun dan disaat yang hampir bersamaan terjadi gejolak kekuasaan di Kerajaan Batubulan yang mengakibatkan terbunuhnya I Dewa Gde Rai (sekarang didharmakan pada meru di Pura Puseh Batubulan). Pada masa-masa itu beberapa keluarga raja seperti I Dewa Wayan Muntur dan I Dewa Nyoman Badung meninggalkan Batubulan menuju wilayah pemanes (Pohmanis sekarang) bersama para warga-wargi (panjak tatadan) untuk membangun serta membina wilayah baru di tepi siring Kerajaan Badung sekitar abad XVII-XVIII Masehi. 

Mengenai istilah nama taman itu baru muncul ketika wilayah desa ini dibagi menjadi dua banjar adat, yaitu taman dan pohmanis yang dulunya secara keseluruhan bernama pemanes/pemanis/pohmanis. Taman dikaitkan dengan adanya Pura Taman Sari di sisi barat desa yang sekarang dimiliki oleh Brahmana dari Geriya Bindu Kesiman.

Sejarah Peguyangan

Mengenai latar belakang sejarah Desa Pakraman Peguyangan  secara pasti dan tertulis sampai saat ini belum ditemukan, tetapi berdasarkan studi kepustakaan isi Dresta Ilikita Desa Pakraman Peguyangan penulis menemukan beberapa hal yang merujuk pada kesejarahan desa, seperti nama Desa Pakraman Peguyangan muncul berdasarkan kisah gajah Kyai Panji Sakti yang maguyang (berguling-guling) dan ditempat gajah tersebut maguyang disebut dengan peguyangan. Istilah peguyangan juga dikaitkan dengan isi prasasti tembaga di Pura Dalem Batan Celagi yang menyebutkan penyungsung  prasasti tersebut dianugrahi kebebasan membayar pajak, karena telah diberikan tanggung jawab menyungsung dan ngaci sam sat kahyangan yang berarti “yang menjaga tempat hyang”. Menjaga prahyangan tersebut harus pageh (kukuh/konsisten) yang kemudian kata pageh dan hyang tersebut menjadi cikal bakal nama peguyangan (Anonim, 2011: 1)

Sejarah Penatih

Perjalanan Maha Rsi Markandya yang diiringi oleh muridnya bernama Bhujangga Sari dengan membangun Pura Gunung Raung, Pura Payogan, dan juga di Campuhan membangun Pura Tangga Hyang Api ditepian Sungai Oos. Bhujangga Sari diceritakan telah lama menuntut ilmu dan ingin mendirikan pasraman di sebuah tanah berwarna putih yang ternyata telah ditempati oleh orang Bali Aga berasal dari daerah Taro. Pura yang dibangun di Tanah Putih ini bernama Payogan Hyang Api sebagai pemujaan tri sakti dan tempat pemujaan pakraman. Tanah Putih merupakan cikal bakal dari nama Penatih yang berasal dari kata pinih dan tih yang berarti pertama (tih) (Dhaksa, t.t). 

Setelah Bali berhasil ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit sekitar abad XIV Masehi, maka Patih Gajah Mada  atas perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi mengirim Dalem Ketut Kresna Kepakisan (Dalem Samprangan) untuk dijadikan Adipati Bali beserta dengan beberapa pengiring seperti Arya Kanuruhan, Arya Demung, Arya Belog, Arya Mengori, Arya Tumenggung, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Kepakisan, Arya Pangalasan, Arya Kutawaringin, Arya Gajahpara, Arya Getas, dan Arya Wang Bang. Diiringi juga oleh para waisya seperti Si Tan Kober, Si Tan Kawur, dan Si Tan Mundur. Wilayah Penatih ditempati oleh Arya Wang Bang Pinatih yang bergelar Kyai Anglurah Pinatih Mantra  dengan pasukan sejumlah 35.000 yang merupakan rakyat dari Arya Buleteng. Penatih dalam kekuasaan Kyai Anglurah Penatih Mantra banyak mengalalami perubahan pembangunan, salah satunya adalah bangunan-bangunan suci. Pura Payogan Hyang Api yang sebelumnya sudah ada pada masa Bhujangga Sari juga ikut dipugar yang pada awalnya sebagai pemujaan tri sakti ditambahkan dengan beberapa palinggih leluhur (kawitan), yaitu Palinggih Manik Angkeran, Palinggih Dukuh Blatungan, Palinggih Padma Siwa, dan Palinggih Padma Budha (Padma Kurung). Pembangunan dua Padma (Siwa-Budha) ini sebagai penghormatan terhadap leluhurnya yang bernama Mpu Sidhimantra sebagai penganut ajaran Budha dan Mpu Sedah penganut ajaran Siwa (Dhaksa, t.t).

Pura Payogan Hyang Api setelah pemugran dan penambahan beberapa palinggih selanjutnya namanya dirubah menjadi Pura Penataran Agung Penatih yang memiliki makna: Pura Artinya tempat yang disucikan, Penataran artinya yang dimiliki penguasa, serta Penatih merupakan nama wilayah dan nama penguasa ketika itu. Saat ini Pura Penataran Agung Penatih diwarisi kepada warga masyarakat Desa Pakraman/Adat Penatih yang dipuja sebagai Kahyangan Tunggal dan sebagai Kawitan Arya Wang Bang Pinatih (Dhaksa, t.t).

Perjalanan Maha Rsi Markandya yang diiringi oleh muridnya bernama Bhujangga Sari dengan membangun Pura Gunung Raung, Pura Payogan, dan juga di Campuhan membangun Pura Tangga Hyang Api ditepian Sungai Oos. Bhujangga Sari diceritakan telah lama menuntut ilmu dan ingin mendirikan pasraman di sebuah tanah berwarna putih yang ternyata telah ditempati oleh orang Bali Aga berasal dari daerah Taro. Pura yang dibangun di Tanah Putih ini bernama Payogan Hyang Api sebagai pemujaan tri sakti dan tempat pemujaan pakraman. Tanah Putih merupakan cikal bakal dari nama Penatih yang berasal dari kata pinih dan tih yang berarti pertama (tih) (Dhaksa, t.t). 

Setelah Bali berhasil ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit sekitar abad XIV Masehi, maka Patih Gajah Mada  atas perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi mengirim Dalem Ketut Kresna Kepakisan (Dalem Samprangan) untuk dijadikan Adipati Perjalanan Maha Rsi Markandya yang diiringi oleh muridnya bernama Bhujangga Sari dengan membangun Pura Gunung Raung, Pura Payogan, dan juga di Campuhan membangun Pura Tangga Hyang Api ditepian Sungai Oos. Bhujangga Sari diceritakan telah lama menuntut ilmu dan ingin mendirikan pasraman di sebuah tanah berwarna putih yang ternyata telah ditempati oleh orang Bali Aga berasal dari daerah Taro.

Pura yang dibangun di Tanah Putih ini bernama Payogan Hyang Api sebagai pemujaan tri sakti dan tempat pemujaan pakraman. Tanah Putih merupakan cikal bakal dari nama Penatih yang berasal dari kata pinih dan tih yang berarti pertama (tih) (Dhaksa, t.t). 

Setelah Bali berhasil ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit sekitar abad XIV Masehi, maka Patih Gajah Mada  atas perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi mengirim Dalem Ketut Kresna Kepakisan (Dalem Samprangan) untuk dijadikan Adipati Bali beserta dengan beberapa pengiring seperti Arya Kanuruhan, Arya Demung, Arya Belog, Arya Mengori, Arya Tumenggung, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Kepakisan, Arya Pangalasan, Arya Kutawaringin, Arya Gajahpara, Arya Getas, dan Arya Wang Bang. Diiringi juga oleh para waisya seperti Si Tan Kober, Si Tan Kawur, dan Si Tan Mundur. Wilayah Penatih ditempati oleh Arya Wang Bang Pinatih yang bergelar Kyai Anglurah Pinatih Mantra  dengan pasukan sejumlah 35.000 yang merupakan rakyat dari Arya Buleteng. Penatih dalam kekuasaan Kyai Anglurah Penatih Mantra banyak mengalalami perubahan pembangunan, salah satunya adalah bangunan-bangunan suci. Pura Payogan Hyang Api yang sebelumnya sudah ada pada masa Bhujangga Sari juga ikut dipugar yang pada awalnya sebagai pemujaan tri sakti ditambahkan dengan beberapa palinggih leluhur (kawitan), yaitu Palinggih Manik Angkeran, Palinggih Dukuh Blatungan, Palinggih Padma Siwa, dan Palinggih Padma Budha (Padma Kurung). Pembangunan dua Padma (Siwa-Budha) ini sebagai penghormatan terhadap leluhurnya yang bernama Mpu Sidhimantra sebagai penganut ajaran Budha dan Mpu Sedah penganut ajaran Siwa (Dhaksa, t.t).

Pura Payogan Hyang Api setelah pemugran dan penambahan beberapa palinggih selanjutnya namanya dirubah menjadi Pura Penataran Agung Penatih yang memiliki makna: Pura Artinya tempat yang disucikan, Penataran artinya yang dimiliki penguasa, serta Penatih merupakan nama wilayah dan nama penguasa ketika itu. Saat ini Pura Penataran Agung Penatih diwarisi kepada warga masyarakat Desa Pakraman/Adat Penatih yang dipuja sebagai Kahyangan Tunggal dan sebagai Kawitan Arya Wang Bang Pinatih (Dhaksa, t.t).

Perjalanan Maha Rsi Markandya yang diiringi oleh muridnya bernama Bhujangga Sari dengan membangun Pura Gunung Raung, Pura Payogan, dan juga di Campuhan membangun Pura Tangga Hyang Api ditepian Sungai Oos. Bhujangga Sari diceritakan telah lama menuntut ilmu dan ingin mendirikan pasraman di sebuah tanah berwarna putih yang ternyata telah ditempati oleh orang Bali Aga berasal dari daerah Taro. Pura yang dibangun di Tanah Putih ini bernama Payogan Hyang Api sebagai pemujaan tri sakti dan tempat pemujaan pakraman. Tanah Putih merupakan cikal bakal dari nama Penatih yang berasal dari kata pinih dan tih yang berarti pertama (tih) (Dhaksa, t.t). 

Setelah Bali berhasil ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit sekitar abad XIV Masehi, maka Patih Gajah Mada  atas perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi mengirim Dalem Ketut Kresna Kepakisan (Dalem Samprangan) untuk dijadikan Adipati Bali beserta dengan beberapa pengiring seperti Arya Kanuruhan, Arya Demung, Arya Belog, Arya Mengori, Arya Tumenggung, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Kepakisan, Arya Pangalasan, Arya Kutawaringin, Arya Gajahpara, Arya Getas, dan Arya Wang Bang. Diiringi juga oleh para waisya seperti Si Tan Kober, Si Tan Kawur, dan Si Tan Mundur. Wilayah Penatih ditempati oleh Arya Wang Bang Pinatih yang bergelar Kyai Anglurah Pinatih Mantra  dengan pasukan sejumlah 35.000 yang merupakan rakyat dari Arya Buleteng. Penatih dalam kekuasaan Kyai Anglurah Penatih Mantra banyak mengalalami perubahan pembangunan, salah satunya adalah bangunan-bangunan suci. Pura Payogan Hyang Api yang sebelumnya sudah ada pada masa Bhujangga Sari juga ikut dipugar yang pada awalnya sebagai pemujaan tri sakti ditambahkan dengan beberapa palinggih leluhur (kawitan), yaitu Palinggih Manik Angkeran, Palinggih Dukuh Blatungan, Palinggih Padma Siwa, dan Palinggih Padma Budha (Padma Kurung). Pembangunan dua Padma (Siwa-Budha) ini sebagai penghormatan terhadap leluhurnya yang bernama Mpu Sidhimantra sebagai penganut ajaran Budha dan Mpu Sedah penganut ajaran Siwa (Dhaksa, t.t).

Pura Payogan Hyang Api setelah pemugran dan penambahan beberapa palinggih selanjutnya namanya dirubah menjadi Pura Penataran Agung Penatih yang memiliki makna: Pura Artinya tempat yang disucikan, Penataran artinya yang dimiliki penguasa, serta Penatih merupakan nama wilayah dan nama penguasa ketika itu. Saat ini Pura Penataran Agung Penatih diwarisi kepada warga masyarakat Desa Pakraman/Adat Penatih yang dipuja sebagai Kahyangan Tunggal dan sebagai Kawitan Arya Wang Bang Pinatih (Dhaksa, t.t).

Sejarah Kesiman

Tjokorda Sakti Kesiman (1862)

Kesiman sebagai wilayah secara administratif terletak di Kota Denpasar, menurut Eka Ilikita Desa Adat kesiman (1990) menyebutkan nama Kesiman berasal dari kata Ku dan Sima, istilah ini tercantum dalam Babad Wanggayah yang menceritakan Ida Dalem Batu Ireng.Ida Dalem Batu Ireng di Taman Hyang Batur membangun prahyangan bernama Dalem Tungkub yang disungsung oleh para Pasek Dangka. Kemudian dari Taman Hyang Batur beliau melanjutkan perjalanan ke Bukit Bali, Batu Belig, dan Sumerta. Kedatangan Ida Dalem Batu Ireng di Desa Sumerta tidak dihiraukan oleh Anglurah Bongaya, kemudian melanjutkan perjalanan berkelana angider bhuwana (angrebong) menuju Desa Tangkas mencari sungai dan meniatkan diri untuk moksa menggunakan media air, karena menurutnya moksa menggunakan air adalah jalan terbaik dan mampu membwa berkah. Sungai  tersebut kemudian bernama Sungai Ayu atau We Ayu, “we” berarti air dan “ayu” berarti kedamaian, sekarang sungai tersebut dikenal dengan Sungai Ayung. Setelah Ida Dalem Batu Ireng  mencapai moksa, para pengikutnya endirikan sebuah tugu peringatan berupa batu besar yang dinamakan Batu Sima. Ketiga keturunan Dalem Batu Ireng mengikuti yadnya moksa di Sungai Ayung, kemudian Bendesa Mas dan Gaduh membangun grema (desa pakraman) bernama Pendem lengkap dengan Prahyangan Desa Puseh dan Manik Aji di hutan ambengan Abian Nangka (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 3-4).

Ketika Adipati Sri Aji Kresna Kepakisan telah menjadi Adipati Majapahit di Bali, salah satu pendampingnya yaitu Arya Wang Bang mendirikan puri di tepi Sungai Ayung tepat di tempat Ida Dalem Batu Ireng Moksa. Arya Wang Bang Pinatih Majapahit disana bertemu dengan masyarakat Bali dengan menyatakan diri adalah utusan dari Sang Prabhu Majapahit untuk melanjutkan Sima Krama yang dijalankan oleh masyarakat Bali di wilayah kekuasaan Dalem Batu Ireng, wilayah tersebut bernama Ngerebongan. Setelah Arya Wang Bang  menerima warisan dari Ida Dalem Batu Ireng (Dalem Moksa) di tepi Sungai Ayung, kemudian Arya Wang Bang mengukuhkan tempat peninggalan Ida Dalem Batu Ireng dengan nama Kusima dan tempat inti Ida Dalem Batu Ireng moksa apengrebongan bernama Amuter Bhuana. Arya Wang Bang menegaskan arti Kusima, yaitu “ku” berarti kukuh atau kuat dan “sima” merupakan wilayah Prahyangan Dalem Muter. Prahyangan yang dibangun oleh Arya Wang Bang di tepi Sungai Ayung selesai pada hari Wrespati wuku Sungsang (Sugihan Jawa), sebagai penanda masyarakat Bali yang berasal dari Jawa melaksanakan upacara piodalan Sugihan Jawa. Kemudian kata Kusima lama kelamaan disebut dengan Kesiman hingga saat ini (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 4).

Kesiman dengan perjalanan sejarahnya yang cukup panjang  dimulai dari kesiman sebagai kerajaan, distrik, kecamatan, kelurahan/desa, dan hingga desa adat secara kronologi perlu juga dijabarkan terlebih dahulu sejarah singkat peradaban Kota Denpasar, karena secara administratif  Kesiman berada di Kota Denpasar. Berdirinya Puri Denpasar pada tahun 1788 dengan menobatkan I Gusti Ngurah Made sebagai Raja dengan abhiseka gelar I Gusti Ngurah Made Pemecutan (1788-1813) karena berasal dari keturunan Pemecutan. Pengganti I Gusti Ngurah Made Pemecutan di Puri Denpasar adalah I Gusti Gde Ngurah dengan abhiseka I Gusti Ngurah Jambe (1813-1817) sebagai Raja Denpasar II, sedangkan adiknya yang bernama I Gusti Gde Kesiman mendirikan puri di sisi timur Kerajaan Badung yang bernama Puri Kesiman pada tahun 1813 (Geriya dkk, 2011 dalam Amerta dkk, 2018: 11-12).

Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)

I Gusti Gde Kesiman sebagai Raja Kesiman I pernah menjadi wali raja Kerajaan Badung, ketika I Gusti Ngurah Jambe sebagai Raja Denpasar II meninggal pada tahun 1817, digantikan oleh I Gusti Made Ngurah pada tahun 1817-1829 sebagai Raja Denpasar III, karena masih kecil tapuk pemerintahan dikendalikan oleh pamannya di Puri Kesiman. Pengaruh I Gusti Gde Kesiman dapat menciptakan kerjasama atas dasar saling pengertian antara tiga puri di Kerajaan Badung, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman. Hal ini membuat Kerajaan badung memiliki kekuatan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangga. Kemampuannya dalam berbahas melayu juga membuat I Gusti Gde Kesiman mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing yang datang berniaga ke Kerajaan Badung (Gora Sirikan, II, ANRI, 1964 dalam Geriya dkk, 2011: 38-39)

Ketika I Gusti Gde Ngurah naik tahta menjadi Raja Denpasar IV pada tahun 1829 bergelar Cokorda Denpasar dan pada tahun 1865 setelah I Gusti Gde Kesiman meninggal, pucuk pimpinan Kerajaan Badung mulai pindah ke Puri Denpasar. Setidaknya di Puri Denpasar ada tiga raja lagi yang memerintah sebelum meletusnya perang Puputan Badung pada tahun 1906, yaitu I Gusti Gde Ngurah sebagai Raja Denpasar V (1963-1883), dan I Gusti Alit Ngurah sebagai Raja Denpasar VI (1883-1902) dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan, kemudian diganti oleh I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar VII pada tahun 1902 hingga akhirnya gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906. Selain Raja Denpasar VII yaitu I Gusti Ngurah Made Agung, gugur juga I Gusti Ngurah Pemecutan (1890-20 September 1906) sebagai Raja Pemecutan VIII, sedangkan sebelum itu pada 18 September 1906 Raja Kesiman yaitu I Gusti Ngurah Agung/I Gusti Gde Ngurah Kesiman telah mendahului gugur tertusuk keris di dalam puri.

Pasca perang Puputan Badung pada tahun 1906 Kerajaan Badung dengan tiga purinya, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman secara resmi menjadi wilayah koloni Pemerintah Kolonial Belanda. Pengaruh-pengaruh kolonial Belanda mulai diterapkan seperti membangun perkampungan pendatang, museum, sekolah, perkantoran, pasar, pelabuhan, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Kota Denpasar digunakan untuk menyebut ibukota afdeling Bali Selatan, situs bekas Puri Denpasar dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat afdeling dan onderafdeling beserta pejabatnya, yaitu Asisten Residen dan Kontrolir (Boon, 1938 dalam Geriya dkk, 2011: 63-64). Kesiman juga menjadi salah satu nama distrik, yaitu Distrik Kesiman membawahi yang berkedudukan di Benculuk, Tegehkuri, dan Tonja dipimpin oleh seorang Punggawa bernama Jero Gede Rai dari Singaraja. Sekitar tahun 1920 Kantor Distrik Kesiman dipindahkan ke Bencingah Puri Kesiman (sekarang Kantor Camat Denpasar Timur). Adapun urutan yang menjabat di Distrik Kesiman antara lain I Gusti Ngurah Gde Kesiman (1921 – bulan Mei 1954), I Gusti Ngurah Anom Pacung (1954 – 12 Desember 196), I Gusti Ketut Redung, (1960 – 1963), I Gusti Kompyang Rogig Sugriwa (1963 – 1965), dan I Gusti Gde Ngurah (1965 – 1970).

Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)

Sekitar tahun 1970 Distrik Kesiman berubah nama menjadi Kecamatan Kesiman dengan mewilayahi 11 desa yaitu Desa Kesiman, Desa Tonja, Desa Penatih, Desa Sumerta, Desa Sanur, Desa Renon, Desa Sesetan, Desa Panjer, Desa Serangan, Desa Ubung, dan Desa Peguyangan. Pada tahun 1978 terjadi pemekaran kecamatan di Kota Denpasar yang pada awalnya hanya ada dua, yaitu Kecamatan Denpasar dan Kecamatan Kesiman dimekarkan menjadi tiga, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Kecamatan Denpasar Timur, dan Kecamatan Denpasar Selatan. Setelah adanya pemekaran kecamatan dilanjutkan dengan pemekaran desa serta perubahan status desa menjadi kelurahan, maka Kesiman yang awalnya merupakan kecamatan berubah menjadi Kelurahan Kesiman pada tanggal 1 Desember 1979, serta ditambah dengan dua desa pemekaran, yaitu Desa Kesiman Petilan dan Desa Kesiman Kertalangu dengan secara adat dinaungi oleh Desa Adat Kesiman di wilayah Kecamatan Denpasar Timur.

Kesiman sebagai wilayah secara administratif terletak di Kota Denpasar, menurut Eka Ilikita Desa Adat kesiman (1990) menyebutkan nama Kesiman berasal dari kata Ku dan Sima, istilah ini tercantum dalam Babad Wanggayah yang menceritakan Ida Dalem Batu Ireng.Ida Dalem Batu Ireng di Taman Hyang Batur membangun prahyangan bernama Dalem Tungkub yang disungsung oleh para Pasek Dangka. Kemudian dari Taman Hyang Batur beliau melanjutkan perjalanan ke Bukit Bali, Batu Belig, dan Sumerta. Kedatangan Ida Dalem Batu Ireng di Desa Sumerta tidak dihiraukan oleh Anglurah Bongaya, kemudian melanjutkan perjalanan berkelana angider bhuwana (angrebong) menuju Desa Tangkas mencari sungai dan meniatkan diri untuk moksa menggunakan media air, karena menurutnya moksa menggunakan air adalah jalan terbaik dan mampu membwa berkah. Sungai  tersebut kemudian bernama Sungai Ayu atau We Ayu, “we” berarti air dan “ayu” berarti kedamaian, sekarang sungai tersebut dikenal dengan Sungai Ayung. Setelah Ida Dalem Batu Ireng  mencapai moksa, para pengikutnya endirikan sebuah tugu peringatan berupa batu besar yang dinamakan Batu Sima. Ketiga keturunan Dalem Batu Ireng mengikuti yadnya moksa di Sungai Ayung, kemudian Bendesa Mas dan Gaduh membangun grema (desa pakraman) bernama Pendem lengkap dengan Prahyangan Desa Puseh dan Manik Aji di hutan ambengan Abian Nangka (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 3-4).

Ketika Adipati Sri Aji Kresna Kepakisan telah menjadi Adipati Majapahit di Bali, salah satu pendampingnya yaitu Arya Wang Bang mendirikan puri di tepi Sungai Ayung tepat di tempat Ida Dalem Batu Ireng Moksa. Arya Wang Bang Pinatih Majapahit disana bertemu dengan masyarakat Bali dengan menyatakan diri adalah utusan dari Sang Prabhu Majapahit untuk melanjutkan Sima Krama yang dijalankan oleh masyarakat Bali di wilayah kekuasaan Dalem Batu Ireng, wilayah tersebut bernama Ngerebongan. Setelah Arya Wang Bang  menerima warisan dari Ida Dalem Batu Ireng (Dalem Moksa) di tepi Sungai Ayung, kemudian Arya Wang Bang mengukuhkan tempat peninggalan Ida Dalem Batu Ireng dengan nama Kusima dan tempat inti Ida Dalem Batu Ireng moksa apengrebongan bernama Amuter Bhuana. Arya Wang Bang menegaskan arti Kusima, yaitu “ku” berarti kukuh atau kuat dan “sima” merupakan wilayah Prahyangan Dalem Muter. Prahyangan yang dibangun oleh Arya Wang Bang di tepi Sungai Ayung selesai pada hari Wrespati wuku Sungsang (Sugihan Jawa), sebagai penanda masyarakat Bali yang berasal dari Jawa melaksanakan upacara piodalan Sugihan Jawa. Kemudian kata Kusima lama kelamaan disebut dengan Kesiman hingga saat ini (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 4).

Kesiman dengan perjalanan sejarahnya yang cukup panjang  dimulai dari kesiman sebagai kerajaan, distrik, kecamatan, kelurahan/desa, dan hingga desa adat secara kronologi perlu juga dijabarkan terlebih dahulu sejarah singkat peradaban Kota Denpasar, karena secara administratif  Kesiman berada di Kota Denpasar. Berdirinya Puri Denpasar pada tahun 1788 dengan menobatkan I Gusti Ngurah Made sebagai Raja dengan abhiseka gelar I Gusti Ngurah Made Pemecutan (1788-1813) karena berasal dari keturunan Pemecutan. Pengganti I Gusti Ngurah Made Pemecutan di Puri Denpasar adalah I Gusti Gde Ngurah dengan abhiseka I Gusti Ngurah Jambe (1813-1817) sebagai Raja Denpasar II, sedangkan adiknya yang bernama I Gusti Gde Kesiman mendirikan puri di sisi timur Kerajaan Badung yang bernama Puri Kesiman pada tahun 1813 (Geriya dkk, 2011 dalam Amerta dkk, 2018: 11-12).


Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)
Tjokorda Sakti Kesiman (1862)

I Gusti Gde Kesiman sebagai Raja Kesiman I pernah menjadi wali raja Kerajaan Badung, ketika I Gusti Ngurah Jambe sebagai Raja Denpasar II meninggal pada tahun 1817, digantikan oleh I Gusti Made Ngurah pada tahun 1817-1829 sebagai Raja Denpasar III, karena masih kecil tapuk pemerintahan dikendalikan oleh pamannya di Puri Kesiman. Pengaruh I Gusti Gde Kesiman dapat menciptakan kerjasama atas dasar saling pengertian antara tiga puri di Kerajaan Badung, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman. Hal ini membuat Kerajaan badung memiliki kekuatan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangga. Kemampuannya dalam berbahas melayu juga membuat I Gusti Gde Kesiman mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing yang datang berniaga ke Kerajaan Badung (Gora Sirikan, II, ANRI, 1964 dalam Geriya dkk, 2011: 38-39)

Ketika I Gusti Gde Ngurah naik tahta menjadi Raja Denpasar IV pada tahun 1829 bergelar Cokorda Denpasar dan pada tahun 1865 setelah I Gusti Gde Kesiman meninggal, pucuk pimpinan Kerajaan Badung mulai pindah ke Puri Denpasar. Setidaknya di Puri Denpasar ada tiga raja lagi yang memerintah sebelum meletusnya perang Puputan Badung pada tahun 1906, yaitu I Gusti Gde Ngurah sebagai Raja Denpasar V (1963-1883), dan I Gusti Alit Ngurah sebagai Raja Denpasar VI (1883-1902) dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan, kemudian diganti oleh I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar VII pada tahun 1902 hingga akhirnya gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906. Selain Raja Denpasar VII yaitu I Gusti Ngurah Made Agung, gugur juga I Gusti Ngurah Pemecutan (1890-20 September 1906) sebagai Raja Pemecutan VIII, sedangkan sebelum itu pada 18 September 1906 Raja Kesiman yaitu I Gusti Ngurah Agung/I Gusti Gde Ngurah Kesiman telah mendahului gugur tertusuk keris di dalam puri.

Pasca perang Puputan Badung pada tahun 1906 Kerajaan Badung dengan tiga purinya, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman secara resmi menjadi wilayah koloni Pemerintah Kolonial Belanda. Pengaruh-pengaruh kolonial Belanda mulai diterapkan seperti membangun perkampungan pendatang, museum, sekolah, perkantoran, pasar, pelabuhan, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Kota Denpasar digunakan untuk menyebut ibukota afdeling Bali Selatan, situs bekas Puri Denpasar dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat afdeling dan onderafdeling beserta pejabatnya, yaitu Asisten Residen dan Kontrolir (Boon, 1938 dalam Geriya dkk, 2011: 63-64). Kesiman juga menjadi salah satu nama distrik, yaitu Distrik Kesiman membawahi yang berkedudukan di Benculuk, Tegehkuri, dan Tonja dipimpin oleh seorang Punggawa bernama Jero Gede Rai dari Singaraja. Sekitar tahun 1920 Kantor Distrik Kesiman dipindahkan ke Bencingah Puri Kesiman (sekarang Kantor Camat Denpasar Timur). 

Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)

Adapun urutan yang menjabat di Distrik Kesiman antara lain I Gusti Ngurah Gde Kesiman (1921 – bulan Mei 1954), I Gusti Ngurah Anom Pacung (1954 – 12 Desember 196), I Gusti Ketut Redung, (1960 – 1963), I Gusti Kompyang Rogig Sugriwa (1963 – 1965), dan I Gusti Ngurah Gde (1965 – 1970).

Sekitar tahun 1970 Distrik Kesiman berubah nama menjadi Kecamatan Kesiman dengan mewilayahi 11 desa yaitu Desa Kesiman, Desa Tonja, Desa Penatih, Desa Sumerta, Desa Sanur, Desa Renon, Desa Sesetan, Desa Panjer, Desa Serangan, Desa Ubung, dan Desa Peguyangan. Pada tahun 1978 terjadi pemekaran kecamatan di Kota Denpasar yang pada awalnya hanya ada dua, yaitu Kecamatan Denpasar dan Kecamatan Kesiman dimekarkan menjadi tiga, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Kecamatan Denpasar Timur, dan Kecamatan Denpasar Selatan. Setelah adanya pemekaran kecamatan dilanjutkan dengan pemekaran desa serta perubahan status desa menjadi kelurahan, maka Kesiman yang awalnya merupakan kecamatan berubah menjadi Kelurahan Kesiman pada tanggal 1 Desember 1979, serta ditambah dengan dua desa pemekaran, yaitu Desa Kesiman Petilan dan Desa Kesiman Kertalangu dengan secara adat dinaungi oleh Desa Adat Kesiman di wilayah Kecamatan Denpasar Timur.

I Gusti Gde Kesiman sebagai Raja Kesiman I pernah menjadi wali raja Kerajaan Badung, ketika I Gusti Ngurah Jambe sebagai Raja Denpasar II meninggal pada tahun 1817, digantikan oleh I Gusti Made Ngurah pada tahun 1817-1829 sebagai Raja Denpasar III, karena masih kecil tapuk pemerintahan dikendalikan oleh pamannya di Puri Kesiman. Pengaruh I Gusti Gde Kesiman dapat menciptakan kerjasama atas dasar saling pengertian antara tiga puri di Kerajaan Badung, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman. Hal ini membuat Kerajaan badung memiliki kekuatan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangga. Kemampuannya dalam berbahas melayu juga membuat I Gusti Gde Kesiman mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing yang datang berniaga ke Kerajaan Badung (Gora Sirikan, II, ANRI, 1964 dalam Geriya dkk, 2011: 38-39)

Ketika I Gusti Gde Ngurah naik tahta menjadi Raja Denpasar IV pada tahun 1829 bergelar Cokorda Denpasar dan pada tahun 1865 setelah I Gusti Gde Kesiman meninggal, pucuk pimpinan Kerajaan Badung mulai pindah ke Puri Denpasar. Setidaknya di Puri Denpasar ada tiga raja lagi yang memerintah sebelum meletusnya perang Puputan Badung pada tahun 1906, yaitu I Gusti Gde Ngurah sebagai Raja Denpasar V (1963-1883), dan I Gusti Alit Ngurah sebagai Raja Denpasar VI (1883-1902) dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan, kemudian diganti oleh I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar VII pada tahun 1902 hingga akhirnya gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906. Selain Raja Denpasar VII yaitu I Gusti Ngurah Made Agung, gugur juga I Gusti Ngurah Pemecutan (1890-20 September 1906) sebagai Raja Pemecutan VIII, sedangkan sebelum itu pada 18 September 1906 Raja Kesiman yaitu I Gusti Ngurah Agung/I Gusti Gde Ngurah Kesiman telah mendahului gugur tertusuk keris di dalam puri.

Pasca perang Puputan Badung pada tahun 1906 Kerajaan Badung dengan tiga purinya, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman secara resmi menjadi wilayah koloni Pemerintah Kolonial Belanda. Pengaruh-pengaruh kolonial Belanda mulai diterapkan seperti membangun perkampungan pendatang, museum, sekolah, perkantoran, pasar, pelabuhan, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Kota Denpasar digunakan untuk menyebut ibukota afdeling Bali Selatan, situs bekas Puri Denpasar dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat afdeling dan onderafdeling beserta pejabatnya, yaitu Asisten Residen dan Kontrolir (Boon, 1938 dalam Geriya dkk, 2011: 63-64). Kesiman juga menjadi salah satu nama distrik, yaitu Distrik Kesiman membawahi yang berkedudukan di Benculuk, Tegehkuri, dan Tonja dipimpin oleh seorang Punggawa bernama Jero Gede Rai dari Singaraja. Sekitar tahun 1920 Kantor Distrik Kesiman dipindahkan ke Bencingah Puri Kesiman (sekarang Kantor Camat Denpasar Timur) . Adapun urutan yang menjabat di Distrik Kesiman antara lain I Gusti Ngurah Gde Kesiman (1921 – bulan Mei 1954), I Gusti Ngurah Anom Pacung (1954 – 12 Desember 196), I Gusti Ketut Redung, (1960 – 1963), I Gusti Kompyang Rogig Sugriwa (1963 – 1965), dan I Gusti Ngurah Gde (1965 – 1970). 

I Gusti Gde Kesiman sebagai Raja Kesiman I pernah menjadi wali raja Kerajaan Badung, ketika I Gusti Ngurah Jambe sebagai Raja Denpasar II meninggal pada tahun 1817, digantikan oleh I Gusti Made Ngurah pada tahun 1817-1829 sebagai Raja Denpasar III, karena masih kecil tapuk pemerintahan dikendalikan oleh pamannya di Puri Kesiman. Pengaruh I Gusti Gde Kesiman dapat menciptakan kerjasama atas dasar saling pengertian antara tiga puri di Kerajaan Badung, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman. Hal ini membuat Kerajaan badung memiliki kekuatan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangga. Kemampuannya dalam berbahas melayu juga membuat I Gusti Gde Kesiman mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing yang datang berniaga ke Kerajaan Badung (Gora Sirikan, II, ANRI, 1964 dalam Geriya dkk, 2011: 38-39)

Ketika I Gusti Gde Ngurah naik tahta menjadi Raja Denpasar IV pada tahun 1829 bergelar Cokorda Denpasar dan pada tahun 1865 setelah I Gusti Gde Kesiman meninggal, pucuk pimpinan Kerajaan Badung mulai pindah ke Puri Denpasar. Setidaknya di Puri Denpasar ada tiga raja lagi yang memerintah sebelum meletusnya perang Puputan Badung pada tahun 1906, yaitu I Gusti Gde Ngurah sebagai Raja Denpasar V (1963-1883), dan I Gusti Alit Ngurah sebagai Raja Denpasar VI (1883-1902) dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan, kemudian diganti oleh I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar VII pada tahun 1902 hingga akhirnya gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906. Selain Raja Denpasar VII yaitu I Gusti Ngurah Made Agung, gugur juga I Gusti Ngurah Pemecutan (1890-20 September 1906) sebagai Raja Pemecutan VIII, sedangkan sebelum itu pada 18 September 1906 Raja Kesiman yaitu I Gusti Ngurah Agung/I Gusti Gde Ngurah Kesiman telah mendahului gugur tertusuk keris di dalam puri.

Pasca perang Puputan Badung pada tahun 1906 Kerajaan Badung dengan tiga purinya, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman secara resmi menjadi wilayah koloni Pemerintah Kolonial Belanda. Pengaruh-pengaruh kolonial Belanda mulai diterapkan seperti membangun perkampungan pendatang, museum, sekolah, perkantoran, pasar, pelabuhan, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Kota Denpasar digunakan untuk menyebut ibukota afdeling Bali Selatan, situs bekas Puri Denpasar dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat afdeling dan onderafdeling beserta pejabatnya, yaitu Asisten Residen dan Kontrolir (Boon, 1938 dalam Geriya dkk, 2011: 63-64). Kesiman juga menjadi salah satu nama distrik, yaitu Distrik Kesiman membawahi yang berkedudukan di Benculuk, Tegehkuri, dan Tonja dipimpin oleh seorang Punggawa bernama Jero Gede Rai dari Singaraja. Sekitar tahun 1920 Kantor Distrik Kesiman dipindahkan ke Bencingah Puri Kesiman (sekarang Kantor Camat Denpasar Timur) . Adapun urutan yang menjabat di Distrik Kesiman antara lain I Gusti Ngurah Gde Kesiman (1921 – bulan Mei 1954), I Gusti Ngurah Anom Pacung (1954 – 12 Desember 196), I Gusti Ketut Redung, (1960 – 1963), I Gusti Kompyang Rogig Sugriwa (1963 – 1965), dan I Gusti Ngurah Gde (1965 – 1970). 

Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)

Sekitar tahun 1970 Distrik Kesiman berubah nama menjadi Kecamatan Kesiman dengan mewilayahi 11 desa yaitu Desa Kesiman, Desa Tonja, Desa Penatih, Desa Sumerta, Desa Sanur, Desa Renon, Desa Sesetan, Desa Panjer, Desa Serangan, Desa Ubung, dan Desa Peguyangan. Pada tahun 1978 terjadi pemekaran kecamatan di Kota Denpasar yang pada awalnya hanya ada dua, yaitu Kecamatan Denpasar dan Kecamatan Kesiman dimekarkan menjadi tiga, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Kecamatan Denpasar Timur, dan Kecamatan Denpasar Selatan. Setelah adanya pemekaran kecamatan dilanjutkan dengan pemekaran desa serta perubahan status desa menjadi kelurahan, maka Kesiman yang awalnya merupakan kecamatan berubah menjadi Kelurahan Kesiman pada tanggal 1 Desember 1979, serta ditambah dengan dua desa pemekaran, yaitu Desa Kesiman Petilan dan Desa Kesiman Kertalangu dengan secara adat dinaungi oleh Desa Adat Kesiman di wilayah Kecamatan Denpasar Timur.

 

Rambut-siwi

Pura Rambut Siwi Tonja

Secara administratif Pura Rambut Siwi Tonja berlokasi di Jl. Ratna, Gang Seruni, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar. Secara geografis pura ini terletak pada koordinat 50 L 0305046, 9044164 UTM. Pura Rambut Siwi Tonja sampai saat ini belum diketahui status kepemilikannya, serta status dari puranya sendiri. Saat ini Pura Rambut Siwi Tonja dikelola oleh keluarga Ketut Kani yang bertempat tinggal di barat pura. Dalam areal pura terdapat satu bangunan Prasada dari bahan batu bata merah yang terletak di sisi timur halaman menghadap ke Barat dan satu struktur sisa bangunan di sebelah utara bangunan prasada..

Secara administratif Pura Rambut Siwi Tonja berlokasi di Jl. Ratna, Gang Seruni, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar. Secara geografis pura ini terletak pada koordinat 50 L 0305046, 9044164 UTM. Pura Rambut Siwi Tonja sampai saat ini belum diketahui status kepemilikannya, serta status dari puranya sendiri. Saat ini Pura Rambut Siwi Tonja dikelola oleh keluarga Ketut Kani yang bertempat tinggal di barat pura. Dalam areal pura terdapat satu bangunan Prasada dari bahan batu bata merah yang terletak di sisi timur halaman menghadap ke Barat dan satu struktur sisa bangunan di sebelah utara bangunan prasada..

1. Candi Prasada

Candi Prasada adalah bangunan suci tempat berstananya para dewa atau dapat juga raja yang telah meninggal dan kembali ke brahmaloka. Prasada merupakan bangunan suci di Bali yang bentuknya sangat mirip sekali dengan candi khas Jawa Timur. Prasada bangunan suci yang terbuat dari batu bata keseluruhannya tapi ada yang terbuat dari batu karang seperti Prasada yang ada di Pulau Serangan. Demikian juga pada badannya terdapat bilik atau ruangan untuk menempatkan pratima yang lebih meyakinkan lagi persamaannya dengan candi. Prasada berarti tempat duduk yang menjulang tinggi teras tingkat teratas dari bangunan diatas pondasi yang tinggi, istana, kuil, candi, pura, tempat pemujaan. Prasada di Bali adalah hasil perpaduan antara candi atau Prasada biasa dengan punden berundak-undak pada zaman prehistoric. (Kempers, 1979 : 13).

Bangunan Prasada ini memiliki kesamaan tipe dengan dua Prasada yang terdapat di Pura Maospahit Tonja. Bentuknya ramping, menggunakan bahan batu bata merah, terdiri dari bagian batur / dasar, kaki, badan dan atap dengan susunan 5 (lima) tingkat Tingkatan semakin keatas semakin mengecil dengan penutup atap disebut dengan Murda semacam ratna, terdapat satu ruang yang difungsikan untuk menempatkan sebuah arca atau pratima (saat ini ruang tersebut kosong). Pada bagian kaki dan badan Prasada terdapat hiasan tumpal segitiga terbalik dengan motif suluran daun, pada sudut-sudutnya terdapat hiasan karang goak (kepala burung),  pada bagian atap terdapat hiasan karang mata, karang goak (kepala burung) setiap sudutnya, dan hiasan simbar gantung polos. Pada bagian atas pintu terdapat satu panil relief yang berisikan gambar matahari dan awan. Selain itu pada bagian kaki dan badan Prasada terdapat cekungan-cekungan yang dulunya merupakan tempat untuk menempel piring-piring, mangkok-mangkok keramik sebagai hiasan Prasada. Prasada ini memiliki 5 (lima) undak (tangga) yang difungsikan untuk masuk kedalam ruangan atau bilik. Prasada ini memiliki ukuran :

Bangunan Prasada ini menghadap ke Barat dengan orientasi arah Timur (matahari terbit), di depan prasada terdapat sebuah altar yang difungsikan untuk menaruh sesajian penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu di atas altar diletakan fragmen-fragmen arca terakota yang merupakan temuan lepas yang terdapat di areal Pura Rambut Siwi Tonja. Jika dilihat dari langgam dan gaya arsitekturnya dapat dikatakan bahwa Prasada ini memiliki kesamaan umur dengan Prasada yang terdapat di Pura Maospahit Tonja. Karakteristik arsitektur Prasada ini dipengaruhi oleh karakter candi-candi di Jawa Timur, ada kemungkinan karakter Prasada ini berkembang di Bali setelah pengaruh Majapahit masuk di Bali sekitar abad XIV – XVI Masehi. Fragmen-fragmen arca dari bahan tanah liat (terakota) yang ditemukan di Pura Rambut Siwi Tonja berupa patahan kepala, tangan, kaki, badan, dan hingga alat kelamin laki-laki.

1. Candi Prasada

Candi Prasada adalah bangunan suci tempat berstananya para dewa atau dapat juga raja yang telah meninggal dan kembali ke brahmaloka. Prasada merupakan bangunan suci di Bali yang bentuknya sangat mirip sekali dengan candi khas Jawa Timur. Prasada bangunan suci yang terbuat dari batu bata keseluruhannya tapi ada yang terbuat dari batu karang seperti Prasada yang ada di Pulau Serangan. Demikian juga pada badannya terdapat bilik atau ruangan untuk menempatkan pratima yang lebih meyakinkan lagi persamaannya dengan candi. Prasada berarti tempat duduk yang menjulang tinggi teras tingkat teratas dari bangunan diatas pondasi yang tinggi, istana, kuil, candi, pura, tempat pemujaan. Prasada di Bali adalah hasil perpaduan antara candi atau Prasada biasa dengan punden berundak-undak pada zaman prehistoric. (Kempers, 1979 : 13).

Bangunan Prasada ini memiliki kesamaan tipe dengan dua Prasada yang terdapat di Pura Maospahit Tonja. Bentuknya ramping, menggunakan bahan batu bata merah, terdiri dari bagian batur / dasar, kaki, badan dan atap dengan susunan 5 (lima) tingkat Tingkatan semakin keatas semakin mengecil dengan penutup atap disebut dengan Murda semacam ratna, terdapat satu ruang yang difungsikan untuk menempatkan sebuah arca atau pratima (saat ini ruang tersebut kosong). Pada bagian kaki dan badan Prasada terdapat hiasan tumpal segitiga terbalik dengan motif suluran daun, pada sudut-sudutnya terdapat hiasan karang goak (kepala burung),  pada bagian atap terdapat hiasan karang mata, karang goak (kepala burung) setiap sudutnya, dan hiasan simbar gantung polos. Pada bagian atas pintu terdapat satu panil relief yang berisikan gambar matahari dan awan. Selain itu pada bagian kaki dan badan Prasada terdapat cekungan-cekungan yang dulunya merupakan tempat untuk menempel piring-piring, mangkok-mangkok keramik sebagai hiasan Prasada. Prasada ini memiliki 5 (lima) undak (tangga) yang difungsikan untuk masuk kedalam ruangan atau bilik. Prasada ini memiliki ukuran :

Bangunan Prasada ini menghadap ke Barat dengan orientasi arah Timur (matahari terbit), di depan prasada terdapat sebuah altar yang difungsikan untuk menaruh sesajian penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu di atas altar diletakan fragmen-fragmen arca terakota yang merupakan temuan lepas yang terdapat di areal Pura Rambut Siwi Tonja. Jika dilihat dari langgam dan gaya arsitekturnya dapat dikatakan bahwa Prasada ini memiliki kesamaan umur dengan Prasada yang terdapat di Pura Maospahit Tonja. Karakteristik arsitektur Prasada ini dipengaruhi oleh karakter candi-candi di Jawa Timur, ada kemungkinan karakter Prasada ini berkembang di Bali setelah pengaruh Majapahit masuk di Bali sekitar abad XIV – XVI Masehi. Fragmen-fragmen arca dari bahan 

1. Candi Prasada

Candi Prasada adalah bangunan suci tempat berstananya para dewa atau dapat juga raja yang telah meninggal dan kembali ke brahmaloka. Prasada merupakan bangunan suci di Bali yang bentuknya sangat mirip sekali dengan candi khas Jawa Timur. Prasada bangunan suci yang terbuat dari batu bata keseluruhannya tapi ada yang terbuat dari batu karang seperti Prasada yang ada di Pulau Serangan. Demikian juga pada badannya terdapat bilik atau ruangan untuk menempatkan pratima yang lebih meyakinkan lagi persamaannya dengan candi. Prasada berarti tempat duduk yang menjulang tinggi teras tingkat teratas dari bangunan diatas pondasi yang tinggi, istana, kuil, candi, pura, tempat pemujaan. Prasada di Bali adalah hasil perpaduan antara candi atau Prasada biasa dengan punden berundak-undak pada zaman prehistoric. (Kempers, 1979 : 13).

Bangunan Prasada ini memiliki kesamaan tipe dengan dua Prasada yang terdapat di Pura Maospahit Tonja. Bentuknya ramping, menggunakan bahan batu bata merah, terdiri dari bagian batur / dasar, kaki, badan dan atap dengan susunan 5 (lima) tingkat Tingkatan semakin keatas semakin mengecil dengan penutup atap disebut dengan Murda semacam ratna, terdapat satu ruang yang difungsikan untuk menempatkan sebuah arca atau pratima (saat ini ruang tersebut kosong). Pada bagian kaki dan badan Prasada terdapat hiasan tumpal segitiga terbalik dengan motif suluran daun, pada sudut-sudutnya terdapat hiasan karang goak (kepala burung),  pada bagian atap terdapat hiasan karang mata, karang goak (kepala burung) setiap sudutnya, dan hiasan simbar gantung polos. Pada bagian atas pintu terdapat satu panil relief yang berisikan gambar matahari dan awan. Selain itu pada bagian kaki dan badan Prasada terdapat cekungan-cekungan yang dulunya merupakan tempat untuk menempel piring-piring, mangkok-mangkok keramik sebagai hiasan Prasada. Prasada ini memiliki 5 (lima) undak (tangga) yang difungsikan untuk masuk kedalam ruangan atau bilik. Prasada ini memiliki ukuran :

Bangunan Prasada ini menghadap ke Barat dengan orientasi arah Timur (matahari terbit), di depan prasada terdapat sebuah altar yang difungsikan untuk menaruh sesajian penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu di atas altar diletakan fragmen-fragmen arca terakota yang merupakan temuan lepas yang terdapat di areal Pura Rambut Siwi Tonja. Jika dilihat dari langgam dan gaya arsitekturnya dapat dikatakan bahwa Prasada ini memiliki kesamaan umur dengan Prasada yang terdapat di Pura Maospahit Tonja. Karakteristik arsitektur Prasada ini dipengaruhi oleh karakter candi-candi di Jawa Timur, ada kemungkinan karakter Prasada ini berkembang di Bali setelah pengaruh Majapahit masuk di Bali sekitar abad XIV – XVI Masehi. Fragmen-fragmen arca dari bahan tanah liat (terakota) yang ditemukan di Pura Rambut Siwi Tonja berupa patahan kepala, tangan, kaki, badan, dan hingga alat kelamin laki-laki

Pura Puseh Sumerta

Pura Puseh Sumerta terletak di Gang Merak, Jl. Kenyeri, Banjar Sima, Desa Sumerta Kaja, Kecamatan Denpasar Timur, Denpasar.  Berada pada koordinat 50 L 0305218 UTM 9043892 (58 Meter dpl). Latar belakang sejarah Pura Puseh Sumerta secara pasti, dan tertulis sampai saat ini belum ditemukan, tetapi penulis berusaha menyusun sejarah keberadaan Desa Sumerta berdasarkan hasil wawancara dan studi kepustakaan. Menurut kisah dari penglingsir/tetua yang tercantum dalam Eka Suwarnita Desa Adat Sumerta (2014: 2-3) dikatakan Desa Sumerta dahulunya bernama Wongaya, dan lama kelamaan menjadi Sumerta Wongaya. Mengenai kata Sumerta ini diturunkan dari nama salah seorang penguasa wilayah pada saat itu yang ditemukan dalam Babad Ki Bendesa Kerobokan Badung. Adapun kutipan babad tersebut sebagai berikut.

“…walian ikang kata, ceritanen mangke tmajanira Ki Gusti Pasek Gelgel Aan, pada sahing Hyang Widi, apasanakan rahning nalikang rat, tembenia Gde Pasek Sumerta tmajanira Ki Gusti Pasek Aan, angalih lungguh mareng jagat bandana, sira kawuwus Pasek Sumerta, muang lungguh hira raju ingaranan Sumerta, apan sira Ki Pasek Gegel winuwus widagda wicaksana, sida pwa sira anampa sajnira Sang Natheng Bandana…” (Anonim, 2014: 3)

Kepergian Ki Pasek Sumerta ke jagat bandana (Badung) menurut cerita di atas diperkirakan pada akhir masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Kata-kata Sumerta dalam kutipan di atas muncul beberapa kali dalam menyebutkan nama tokoh dan berdasarkan hasil wawancara dengan Pemangku Pura Puseh Sumerta juga menerangkan dulu Desa Sumerta pernah dipimpin oleh seorang tokoh yang bernama I Gusti Ngurah Sumerta. Hal tersebut memunculkan sebuah asumsi bahwa wilayah yang dulunya bernama Wongaya berubah namanya menjadi Sumerta yang disebabkan oleh keturunan nama tokoh yang pernah memimpin wilayah ini, yaitu menurut Babad Ki Bendesa Kerobokan Badung ialah Gde Pasek Sumerta dan menurut penuturan Pemangku Pura Puseh Sumerta ialah I Gusti Ngurah Sumerta. 

Mengenai keberadaan Pura Puseh Sumerta dapat diketahui latar belakang pembangunannya berdasarkan piagam abad XV Śaka yang masih dibawa sampai saat ini oleh keluarga Pemangku Puseh Sumerta di Banjar Sima. Piagam tersebut isinya kurang lebih mengenai perintah dari I Gusti Ngurah Sumerta kepada Ki Bendesa Bekung di Sumerta Wongaya, agar secepatnya membangun Pura Puseh dan Pura Kebon dalam waktu setahun dengan mendapatkan imbalan berupa tanah lengkap dengan biji/bibit tanaman (Anonim, 2014: 3). Pura Puseh Sumerta memiliki struktur tri mandala, yaitu jaba sisi (nista mandala) merupakan halaman terbuka,  jaba tengah (madya mandala), dan jeroan (utama mandala). Secara simbolis tiga halaman ini dihubungkan dengan konsep Tri Bhuwana yaitu tingkatan alam semesta (bhuwana agung) seperti nista mandala melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, madya mandala melambangkan bwahloka yaitu alam pitra/roh atau alam peralihan, dan utama mandala melambangkan swah loka yaitu sebagai alam para dewa atau dunia baka. Sesuai dengan pola pembangunan pura di Bali, Pura Puseh Sumerta memiliki tiga halaman yang memiliki sedikit variasi yaitu bagian nista mandala (halaman paling luar) tidak dikelilingi oleh tembok, tetapi berupa sebuah halaman yang terbuka (jalan gang) di sisi selatan. 

Utama mandala (jeroan/halaman paling suci), dan madya mandala (jaba tengah) dikelilingi oleh tembok keliling terbuat dari batu bata merah, serta dibatasi dengan gapura/paduraksa. Sedangkan nista mandala dengan madya mandala  dibatasi dengan sebuah candi bentar dan tembok batu bata merah. Pura Puseh Sumerta dapat dikategorikan sebagai situs Cagar Budaya karena di dalamnya menyimpan benda, struktur, dan bangunan Cagar Budaya.

Pura Puseh Sumerta memiliki karakter sebagai Pura Kahyangan Tiga, tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu beserta sakti. Berdasarkan karakter pura, yang mengempon adalah penyatusan Banjar Tegal Kuwalon dan Banjar Sima, serta menyungsung Pura Puseh Sumerta ini adalah masyarakat Desa Pakraman Sumerta dengan upacara piodalannya dilaksanakan setiap hari Purnama Sasih Katiga.

1. Gapura/Paduraksa Kori Agung

Gapura/paduraksa yang dapat dikategorikan sebagai struktur Cagar Budaya ini merupakan pintu pembatas dan pintu masuk dari halaman jaba tengah (madya mandala) ke halaman jeroan (utama mandala). Struktur gapura/paduraksa ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian dasar kaki terbuat dari balok-balok batu padas panjang besar dengan lima anak tangga di bagian tengah-tengahnya. Balok-balok batu padas panjang dan besar ini memunculkan sebuah asumsi bahwa dasar kaki gapura adalah yang masih asli belum mengalami perbaikan, sementara bagian badan sampai atap merupakan hasil perbaikan tahun 1941 Masehi dengan ditemukannya angka tahun tersebut di dinding badan sisi utara. Daun pintu terbuat dari kayu berwarna coklat, di atas ambang pintu berhiaskan kepala kala berupa karang boma dengan mata melotot dan taring mencuat keluar, pada badan samping gapura kedua sisinya dihiasi dengan subeng berbentuk tapak dara, kuping, dan util. Atap gapura terdiri dari lima tingkatan semakin ke atas semakin mengecil dengan masing-masing sudutnya berhiaskan simbar duduk, simbar gantung, dan hiasan antefik berupa suluran daun, serta pada puncak atap dihiasi dengan menur/murdha.

2. Gedong Ratu Puseh

Gedong Ratu Puseh yang dapat dikategorikan sebagai bangunan Cagar Budaya ini merupakan bangunan sentral di Pura Puseh Sumerta, terletak di halaman jeroan (utama mandala). Bangunan Gedong Ratu Puseh ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki bangunan berupa bebaturan diperkirakan berumur lebih tua daripada badan dan atapnya yang terbuat dari susunan balok-balok batu padas dengan lima anak tangga di bagian tengah-tengahnya. Kaki bangunan beberapa bagiannya berhiaskan karang tapel pada sudut depan, karang manuk pada sudut belakang, karang gajah pada sudut bagian bawah, karang bintolo (karang mata) pada sisi muka depan, pelipit-pelipit membentuk pepalihan berupa hiasan berpola patra kakul dan patra mas-masan, serta panil-panil relief terpahat pola patra mesir. Badan bangunan juga terbuat dari batu padas dengan hiasan pepalihan, sudut bawah depan berhiaskan karang tapel, memiliki dua pintu masuk menuju garbha graha yang terbuat dari kayu berwarna coklat, pada selasar depan terdapat tiga buah arca singa menopang tiang kayu pada punggungnya, dan pada tengah-tengah selasar diletakkan arca Ganesha. Atap bangunan terbuat dari konstruksi kayu dan susunan ijuk dengan hiasan terakota pada puncaknya.

3. Arca Ganesha

Arca dipahatkan duduk dengan sikap wirasana di atas lapik padma ganda setinggi 9 cm, bersandar pada stela, badan arca tambun, dan berperut buncit. Hiasan rambut berupa mahkota berbentuk susunan kelopak bunga mengecil ke atas bersusun tiga, mata terbuka, dahi bagian tengah terdapat lubang yang kemungkinan bagian dari hiasan kapala (tengkorak), belalai terjuntai mengarah ke kiri yang kemungkinan menghisap isi patra, upawita berupa ular melintasi bahu kiri hingga pinggang kanan, dan kedua danta sudah patah. Arca menggunakan kundala cukup besar hingga menutupi sebagian daun telinga, bertangan empat (chaturbhuja), tangan kanan depan membawa benda yang sudah patah kemungkinan patahan danta, tangan kanan belakang membawa aksamala, tangan kiri belakang membawa parasu, dan tangan kiri depan membawa patra menumpu belalai. Kaki arca pada pergelangannya menggunakan kankana berupa susunan manik-manik serta kain arca sebatas lutut berpola kotak-kotak geometris dilengkapi dengan sampur dan uncal pada samping kanan kiri pinggang.

4. Lingga     

Lingga yang ditemukan ini diletakkan bersama-sama dengan arca perwujudan bhatara – bhatari di Pura Alit (Pura Purbakala), merupakan lingga lengkap (tri bhaga) dengan memiliki tiga bagian, yaitu brahma bhaga sebagai dasar berbentuk persegi empat, wisnu bhaga berada di tengah berbentuk persegi delapan, dan siwa bhaga paling atas berbentuk bulatan. Lingga juga memiliki cerat pada sisi depan bulatan (siwa bhaga).

5. Arca Perwujudan Bhatara – Bhatari di Pura Alit

Arca-arca diletakkan berjajar di atas bebaturan, dengan memiliki ciri-ciri ikonografi yang sama, diperkirakan berasal dari abad XI – XV Masehi. Ditemukan ada 17 arca, ada yang masih utuh, ada juga yang sudah rusak. Secara umum, arca dipahatkan berdiri tegak lurus seperti mayat dengan sikap samabhanga. Kemungkinan berdiri di atas lapik tetapi lapik hingga pergelangan kaki sudah ditutup dengan semen, bersandar pada stella bagian atasnya berbentuk bulatan telur, buah dada bulat besar. Hiasan rambut berupa mahkota berbentuk susunan kelopak bunga mengecil ke atas bersusun tiga dilengkapi dengan petitis lebar pada dahi arca dan belakang telinga berhiaskan ron-ronan, serta muka arca nampak datar karena mata, bibir, dan hidung sudah aus. Arca menggunakan kundala cukup panjang terjuntai hingga menyentuh pundak, kedua tangan ditekuk ke depan menempel pada pinggang membawa benda bulatan, masing-masing pergelangan tangan ataupun kaki menggunakan kankana berbentuk pilinan polos bersusun tiga, keyura pada lengan arca berupa suluran daun membentuk segitiga seperti gunung, kain perca bermotif polos sebatas lutut ditengah-tengahnya terdapat lipatan wiron hingga menyentuh lapik, serta pinggang arca berhiaskan sampur dan uncal yang terjuntai ke bawah.

6. Arca Balagana I

Arca dipahatkan berkepala gajah berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik berbentuk tempat duduk berhiaskan suluran daun lengkap dengan patra kakul. Kaki kanan ditekuk lebih tinggi daripada kaki kiri, raut wajah digambarkan menyeramkan, kedua gading mencuat keluar, mata melotot, dan telinga lebar. Tangan kanan diarahkan ke belakang membawa kuncup Padma, sedangkan tangan kiri diletakkan di samping perut menumpu ujung belalai, rambut dipahatkan ikal terurai dengan menggunakan petitis lebar di dahi. Kedua tangan mengenakan keyura pada masing-masing lengan dan kankana pada pergelangan tangan. Hara menghiasi leher dengan motif suluran daun, udarabandha menghiasi pinggang berhiaskan karang manuk, kedua kaki juga menggunakan kankana, dan menggunakan kain sebatas lutut ditengah-tengahnya dilengkapi dengan wiron yang ujungnya terbelah dua menyentuh lapik.

7. Arca Balagana II

Arca dipahatkan berkepala gajah berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik berbentuk tempat duduk berhiaskan suluran daun lengkap dengan patra kakul. Kaki kiri ditekuk lebih tinggi daripada kaki kanan, raut wajah digambarkan menyeramkan, kedua gading mencuat keluar, mata melotot, dan telinga lebar. Tangan kanan diarahkan ke belakang membawa kuncup Padma, sedangkan tangan kiri diletakkan di samping perut menumpu ujung belalai, rambut dipahatkan ikal terurai dengan menggunakan petitis lebar di dahi. Kedua tangan mengenakan keyura pada masing-masing lengan dan kankana pada pergelangan tangan. Hara menghiasi leher dengan motif suluran daun, udarabandha menghiasi pinggang berhiaskan karang manuk, kedua kaki juga menggunakan kankana, dan menggunakan kain sebatas lutut ditengah-tengahnya dilengkapi dengan wiron yang ujungnya terbelah dua menyentuh lapik.

1. Gapura/Paduraksa Kori Agung

Gapura/paduraksa yang dapat dikategorikan sebagai struktur Cagar Budaya ini merupakan pintu pembatas dan pintu masuk dari halaman jaba tengah (madya mandala) ke halaman jeroan (utama mandala). Struktur gapura/paduraksa ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian dasar kaki terbuat dari balok-balok batu padas panjang besar dengan lima anak tangga di bagian tengah-tengahnya. Balok-balok batu padas panjang dan besar ini memunculkan sebuah asumsi bahwa dasar kaki gapura adalah yang masih asli belum mengalami perbaikan, sementara bagian badan sampai atap merupakan hasil perbaikan tahun 1941 Masehi dengan ditemukannya angka tahun tersebut di dinding badan sisi utara. Daun pintu terbuat dari kayu berwarna coklat, di atas ambang pintu berhiaskan kepala kala berupa karang boma dengan mata melotot dan taring mencuat keluar, pada badan samping gapura kedua sisinya dihiasi dengan subeng berbentuk tapak dara, kuping, dan util. Atap gapura terdiri dari lima tingkatan semakin ke atas semakin mengecil dengan masing-masing sudutnya berhiaskan simbar duduk, simbar gantung, dan hiasan antefik berupa suluran daun, serta pada puncak atap dihiasi dengan menur/murdha.

2. Gedong Ratu Puseh

Gedong Ratu Puseh yang dapat dikategorikan sebagai bangunan Cagar Budaya ini merupakan bangunan sentral di Pura Puseh Sumerta, terletak di halaman jeroan (utama mandala). Bangunan Gedong Ratu Puseh ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki bangunan berupa bebaturan diperkirakan berumur lebih tua daripada badan dan atapnya yang terbuat dari susunan balok-balok batu padas dengan lima anak tangga di bagian tengah-tengahnya. Kaki bangunan beberapa bagiannya berhiaskan karang tapel pada sudut depan, karang manuk pada sudut belakang, karang gajah pada sudut bagian bawah, karang bintolo (karang mata) pada sisi muka depan, pelipit-pelipit membentuk pepalihan berupa hiasan berpola patra kakul dan patra mas-masan, serta panil-panil relief terpahat pola patra mesir. Badan bangunan juga terbuat dari batu padas dengan hiasan pepalihan, sudut bawah depan berhiaskan karang tapel, memiliki dua pintu masuk menuju garbha graha yang terbuat dari kayu berwarna coklat, pada selasar depan terdapat tiga buah arca singa menopang tiang kayu pada punggungnya, dan pada tengah-tengah selasar diletakkan arca Ganesha. Atap bangunan terbuat dari konstruksi kayu dan susunan ijuk dengan hiasan terakota pada puncaknya.

3. Arca Ganesha

Arca dipahatkan duduk dengan sikap wirasana di atas lapik padma ganda setinggi 9 cm, bersandar pada stela, badan arca tambun, dan berperut buncit. Hiasan rambut berupa mahkota berbentuk susunan kelopak bunga mengecil ke atas bersusun tiga, mata terbuka, dahi bagian tengah terdapat lubang yang kemungkinan bagian dari hiasan kapala (tengkorak), belalai terjuntai mengarah ke kiri yang kemungkinan menghisap isi patra, upawita berupa ular melintasi bahu kiri hingga pinggang kanan, dan kedua danta sudah patah. Arca menggunakan kundala cukup besar hingga menutupi sebagian daun telinga, bertangan empat (chaturbhuja), tangan kanan depan membawa benda yang sudah patah kemungkinan patahan danta, tangan kanan belakang membawa aksamala, tangan kiri belakang membawa parasu, dan tangan kiri depan membawa patra menumpu belalai. Kaki arca pada pergelangannya menggunakan kankana berupa susunan manik-manik serta kain arca sebatas lutut berpola kotak-kotak geometris dilengkapi dengan sampur dan uncal pada samping kanan kiri pinggang.

4. Lingga     

Lingga yang ditemukan ini diletakkan bersama-sama dengan arca perwujudan bhatara – bhatari di Pura Alit (Pura Purbakala), merupakan lingga lengkap (tri bhaga) dengan memiliki tiga bagian, yaitu brahma bhaga sebagai dasar berbentuk persegi empat, wisnu bhaga berada di tengah berbentuk persegi delapan, dan siwa bhaga paling atas berbentuk bulatan. Lingga juga memiliki cerat pada sisi depan bulatan (siwa bhaga).

5. Arca Perwujudan Bhatara – Bhatari di Pura Alit

Arca-arca diletakkan berjajar di atas bebaturan, dengan memiliki ciri-ciri ikonografi yang sama, diperkirakan berasal dari abad XI – XV Masehi. Ditemukan ada 17 arca, ada yang masih utuh, ada juga yang sudah rusak. Secara umum, arca dipahatkan berdiri tegak lurus seperti mayat dengan sikap samabhanga. Kemungkinan berdiri di atas lapik tetapi lapik hingga pergelangan kaki sudah ditutup dengan semen, bersandar pada stella bagian atasnya berbentuk bulatan telur, buah dada bulat besar. Hiasan rambut berupa mahkota berbentuk susunan kelopak bunga mengecil ke atas bersusun tiga dilengkapi dengan petitis lebar pada dahi arca dan belakang telinga berhiaskan ron-ronan, serta muka arca nampak datar karena mata, bibir, dan hidung sudah aus. Arca menggunakan kundala cukup panjang terjuntai hingga menyentuh pundak, kedua tangan ditekuk ke depan menempel pada pinggang membawa benda bulatan, masing-masing pergelangan tangan ataupun kaki menggunakan kankana berbentuk pilinan polos bersusun tiga, keyura pada lengan arca berupa suluran daun membentuk segitiga seperti gunung, kain perca bermotif polos sebatas lutut ditengah-tengahnya terdapat lipatan wiron hingga menyentuh lapik, serta pinggang arca berhiaskan sampur dan uncal yang terjuntai ke bawah.

6. Arca Balagana I

Arca dipahatkan berkepala gajah berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik berbentuk tempat duduk berhiaskan suluran daun lengkap dengan patra kakul. Kaki kanan ditekuk lebih tinggi daripada kaki kiri, raut wajah digambarkan menyeramkan, kedua gading mencuat keluar, mata melotot, dan telinga lebar. Tangan kanan diarahkan ke belakang membawa kuncup Padma, sedangkan tangan kiri diletakkan di samping perut menumpu ujung belalai, rambut dipahatkan ikal terurai dengan menggunakan petitis lebar di dahi. Kedua tangan mengenakan keyura pada masing-masing lengan dan kankana pada pergelangan tangan. Hara menghiasi leher dengan motif suluran daun, udarabandha menghiasi pinggang berhiaskan karang manuk, kedua kaki juga menggunakan kankana, dan menggunakan kain sebatas lutut ditengah-tengahnya dilengkapi dengan wiron yang ujungnya terbelah dua menyentuh lapik.

7. Arca Balagana II

Arca dipahatkan berkepala gajah berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik berbentuk tempat duduk berhiaskan suluran daun lengkap dengan patra kakul. Kaki kiri ditekuk lebih tinggi daripada kaki kanan, raut wajah digambarkan menyeramkan, kedua gading mencuat keluar, mata melotot, dan telinga lebar. Tangan kanan diarahkan ke belakang membawa kuncup Padma, sedangkan tangan kiri diletakkan di samping perut menumpu ujung belalai, rambut dipahatkan ikal terurai dengan menggunakan petitis lebar di dahi. Kedua tangan mengenakan keyura pada masing-masing lengan dan kankana pada pergelangan tangan. Hara menghiasi leher dengan motif suluran daun, udarabandha menghiasi pinggang berhiaskan karang manuk, kedua kaki juga menggunakan kankana, dan menggunakan kain sebatas lutut ditengah-tengahnya dilengkapi dengan wiron yang ujungnya terbelah dua menyentuh lapik.

1. Gapura/Paduraksa Kori Agung

Gapura/paduraksa yang dapat dikategorikan sebagai struktur Cagar Budaya ini merupakan pintu pembatas dan pintu masuk dari halaman jaba tengah (madya mandala) ke halaman jeroan (utama mandala). Struktur gapura/paduraksa ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian dasar kaki terbuat dari balok-balok batu padas panjang besar dengan lima anak tangga di bagian tengah-tengahnya. Balok-balok batu padas panjang dan besar ini memunculkan sebuah asumsi bahwa dasar kaki gapura adalah yang masih asli belum mengalami perbaikan, sementara bagian badan sampai atap merupakan hasil perbaikan tahun 1941 Masehi dengan ditemukannya angka tahun tersebut di dinding badan sisi utara. Daun pintu terbuat dari kayu berwarna coklat, di atas ambang pintu berhiaskan kepala kala berupa karang boma dengan mata melotot dan taring mencuat keluar, pada badan samping gapura kedua sisinya dihiasi dengan subeng berbentuk tapak dara, kuping, dan util. Atap gapura terdiri dari lima tingkatan semakin ke atas semakin mengecil dengan masing-masing sudutnya berhiaskan simbar duduk, simbar gantung, dan hiasan antefik berupa suluran daun, serta pada puncak atap dihiasi dengan menur/murdha.

2. Gedong Ratu Puseh

Gedong Ratu Puseh yang dapat dikategorikan sebagai bangunan Cagar Budaya ini merupakan bangunan sentral di Pura Puseh Sumerta, terletak di halaman jeroan (utama mandala). Bangunan Gedong Ratu Puseh ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki bangunan berupa bebaturan diperkirakan berumur lebih tua daripada badan dan atapnya yang terbuat dari susunan balok-balok batu padas dengan lima anak tangga di bagian tengah-tengahnya. Kaki bangunan beberapa bagiannya berhiaskan karang tapel pada sudut depan, karang manuk pada sudut belakang, karang gajah pada sudut bagian bawah, karang bintolo (karang mata) pada sisi muka depan, pelipit-pelipit membentuk pepalihan berupa hiasan berpola patra kakul dan patra mas-masan, serta panil-panil relief terpahat pola patra mesir. Badan bangunan juga terbuat dari batu padas dengan hiasan pepalihan, sudut bawah depan berhiaskan karang tapel, memiliki dua pintu masuk menuju garbha graha yang terbuat dari kayu berwarna coklat, pada selasar depan terdapat tiga buah arca singa menopang tiang kayu pada punggungnya, dan pada tengah-tengah selasar diletakkan arca Ganesha. Atap bangunan terbuat dari konstruksi kayu dan susunan ijuk dengan hiasan terakota pada puncaknya.

3. Arca Ganesha

Arca dipahatkan duduk dengan sikap wirasana di atas lapik padma ganda setinggi 9 cm, bersandar pada stela, badan arca tambun, dan berperut buncit. Hiasan rambut berupa mahkota berbentuk susunan kelopak bunga mengecil ke atas bersusun tiga, mata terbuka, dahi bagian tengah terdapat lubang yang kemungkinan bagian dari hiasan kapala (tengkorak), belalai terjuntai mengarah ke kiri yang kemungkinan menghisap isi patra, upawita berupa ular melintasi bahu kiri hingga pinggang kanan, dan kedua danta sudah patah. Arca menggunakan kundala cukup besar hingga menutupi sebagian daun telinga, bertangan empat (chaturbhuja), tangan kanan depan membawa benda yang sudah patah kemungkinan patahan danta, tangan kanan belakang membawa aksamala, tangan kiri belakang membawa parasu, dan tangan kiri depan membawa patra menumpu belalai. Kaki arca pada pergelangannya menggunakan kankana berupa susunan manik-manik serta kain arca sebatas lutut berpola kotak-kotak geometris dilengkapi dengan sampur dan uncal pada samping kanan kiri pinggang.

4. Lingga     

Lingga yang ditemukan ini diletakkan bersama-sama dengan arca perwujudan bhatara – bhatari di Pura Alit (Pura Purbakala), merupakan lingga lengkap (tri bhaga) dengan memiliki tiga bagian, yaitu brahma bhaga sebagai dasar berbentuk persegi empat, wisnu bhaga berada di tengah berbentuk persegi delapan, dan siwa bhaga paling atas berbentuk bulatan. Lingga juga memiliki cerat pada sisi depan bulatan (siwa bhaga).

5. Arca Perwujudan Bhatara – Bhatari di Pura Alit

Arca-arca diletakkan berjajar di atas bebaturan, dengan memiliki ciri-ciri ikonografi yang sama, diperkirakan berasal dari abad XI – XV Masehi. Ditemukan ada 17 arca, ada yang masih utuh, ada juga yang sudah rusak. Secara umum, arca dipahatkan berdiri tegak lurus seperti mayat dengan sikap samabhanga. Kemungkinan berdiri di atas lapik tetapi lapik hingga pergelangan kaki sudah ditutup dengan semen, bersandar pada stella bagian atasnya berbentuk bulatan telur, buah dada bulat besar. Hiasan rambut berupa mahkota berbentuk susunan kelopak bunga mengecil ke atas bersusun tiga dilengkapi dengan petitis lebar pada dahi arca dan belakang telinga berhiaskan ron-ronan, serta muka arca nampak datar karena mata, bibir, dan hidung sudah aus. Arca menggunakan kundala cukup panjang terjuntai hingga menyentuh pundak, kedua tangan ditekuk ke depan menempel pada pinggang membawa benda bulatan, masing-masing pergelangan tangan ataupun kaki menggunakan kankana berbentuk pilinan polos bersusun tiga, keyura pada lengan arca berupa suluran daun membentuk segitiga seperti gunung, kain perca bermotif polos sebatas lutut ditengah-tengahnya terdapat lipatan wiron hingga menyentuh lapik, serta pinggang arca berhiaskan sampur dan uncal yang terjuntai ke bawah.

6. Arca Balagana I

Arca dipahatkan berkepala gajah berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik berbentuk tempat duduk berhiaskan suluran daun lengkap dengan patra kakul. Kaki kanan ditekuk lebih tinggi daripada kaki kiri, raut wajah digambarkan menyeramkan, kedua gading mencuat keluar, mata melotot, dan telinga lebar. Tangan kanan diarahkan ke belakang membawa kuncup Padma, sedangkan tangan kiri diletakkan di samping perut menumpu ujung belalai, rambut dipahatkan ikal terurai dengan menggunakan petitis lebar di dahi. Kedua tangan mengenakan keyura pada masing-masing lengan dan kankana pada pergelangan tangan. Hara menghiasi leher dengan motif suluran daun, udarabandha menghiasi pinggang berhiaskan karang manuk, kedua kaki juga menggunakan kankana, dan menggunakan kain sebatas lutut ditengah-tengahnya dilengkapi dengan wiron yang ujungnya terbelah dua menyentuh lapik.

7. Arca Balagana II

Arca dipahatkan berkepala gajah berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik berbentuk tempat duduk berhiaskan suluran daun lengkap dengan patra kakul. Kaki kiri ditekuk lebih tinggi daripada kaki kanan, raut wajah digambarkan menyeramkan, kedua gading mencuat keluar, mata melotot, dan telinga lebar. Tangan kanan diarahkan ke belakang membawa kuncup Padma, sedangkan tangan kiri diletakkan di samping perut menumpu ujung belalai, rambut dipahatkan ikal terurai dengan menggunakan petitis lebar di dahi. Kedua tangan mengenakan keyura pada masing-masing lengan dan kankana pada pergelangan tangan. Hara menghiasi leher dengan motif suluran daun, udarabandha menghiasi pinggang berhiaskan karang manuk, kedua kaki juga menggunakan kankana, dan menggunakan kain sebatas lutut ditengah-tengahnya dilengkapi dengan wiron yang ujungnya terbelah dua menyentuh lapik.

Pura Puseh Peguyangan

Pura Puseh Peguyangan terletak pada koordinat 50 L 0303451 UTM 9048721 (85 Meter dpl), berdampingan dengan Pura Desa Peguyangan, merupakan tempat suci milik masyarakat Desa Adat Peguyangan, dan secara administratif terletak di Kecamatan Denpasar Utara. Latar belakang sejarah keberadaan Desa Adat Peguyangan dapat dipahami melalui isi Dresta Ilikita Desa Pakraman Peguyangan, yaitu ditemukan beberapa hal yang merujuk pada kesejarahan desa, seperti nama Desa Adat Peguyangan muncul berdasarkan kisah gajah Kyai Panji Sakti yang maguyang (berguling-guling) dan ditempat gajah tersebut maguyang disebut dengan peguyangan. Istilah peguyangan juga dikaitkan dengan isi prasasti tembaga di Pura Dalem Batan Celagi yang menyebutkan penyungsung  prasasti tersebut dianugerahi kebebasan membayar pajak, karena telah diberikan tanggung jawab menyungsung dan ngaci sam sat kahyangan yang berarti “yang menjaga tempat hyang”. Menjaga parahyangan tersebut harus pageh (kukuh/konsisten) yang kemudian kata pageh dan hyang tersebut menjadi cikal bakal nama peguyangan (Anonim, 2011: 1)

Mengenai prasasti yang ditemukan di Pura Dalem Batan Celagi (Prasasti Peguyangan) tersebut ditemukan hanya satu lempeng yaitu lembar ke-8 sisi A dan B dengan menggunakan aksara Bali Kuna (Kawi – Bali) dan bahasa Jawa Kuna. Prasasti Peguyangan ini dimasukkan kedalam kelompok prasasti-prasasti terbitan Raja Sri Haji Jayapangus kisaran tahun Śaka 1099 – 1103 (1177 -1181 Masehi) yang secara ringkas isinya menyebutkan nama desa Er Saling dan tentang pembebasan beberapa jenis pajak (drwi haji) karena desa tersebut dulunya merupakan jataka (daerah pengelola bangunan suci yang bebas dari sejumlah pajak dan kewajiban lainnya) pundut dyun Bhaṭāra di Burwan yang telah dijadikan sawah oleh penduduk desa. Mereka tidak diwajibkan membayar beberapa jenis iuran yang berkaitan dengan upacara, termasuk para pengantin baru tidak diwajibkan mempersembahkan pamapas kepada Sanghyang Candi di Burwan. Isi lainnya adalah tentang ketentuan atau ijin dalam beternak itik, memelihara asu tugel, pirung, dan bebas bepergian ke desa lain (Wiguna dkk, 2015: 19).

Ada sebuah asumsi bahwa sekitar abad XIII-XIV Masehi di sekitar wilayah Desa Adat Peguyangan pernah berdiri bangunan candi kuno serupa dengan miniatur candi yang ditemukan di Pura Desa Peguyangan, Asumsi ini diperkuat dengan banyaknya ditemukan fragmen-fragmen kemuncak bangunan candi di Pura Desa, Puseh, Manik Tahun, dan Penyarikan Peguyangan yang bentuknya serupa dengan kemuncak/menara sudut pada miniatur candi tersebut. 

Pura Puseh Peguyangan memiliki struktur dwi mandala, yaitu jaba sisi (nista mandala) berada dan menghadap timur sedangkan jeroan (utama mandala) berada dan menghadap barat, menjadi satu kompleks dengan Pura Desa, Pura Bale Agung, Pura Penyarikan, dan Pura Manik Tahun Peguyangan. Utama mandala (jeroan/halaman paling suci) dengan nista mandala (halaman luar) dibatasi dengan gapura/paduraksa menghadap ke timur dikelilingi dengan tembok keliling terbuat dari batu bata merah. Secara karakter, Pura Puseh Peguyangan masuk sebagai pura teritorial (kahyangan tiga) tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu beserta sakti dengan pengempon dan penyungsungnya adalah masyarakat Desa Adat Peguyangan. Upacara piodalannya dilaksanakan setiap hari Redite Wuku Sinta (Banyu Pinaruh).

1. Gapura/paduraksa

Gapura/paduraksa atau disebut dengan Kori Agung, merupakan pintu pembatas dan pintu masuk dari halaman jaba sisi (nista mandala) ke halaman jeroan (utama mandala). Gapura/paduraksa ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Gapura/paduraksa yang tersusun dari batu bata dipadukan dengan batu padas sebagai hiasan-hiasan relief suluran daun dan arca-arca seperti arca singa pada setiap sudut kaki gapura dan arca dwarapala sebagai penjaga pintu menghadap ke timur. Bagian badan gapura di tengah-tengahnya terdapat daun pintu terbuat dari kayu berwarna coklat, di atas ambang pintu berhiaskan kepala kala dengan mata melotot dan taring mencuat keluar berhiaskan suluran daun. Badan gapura pada masing-masing sisinya, yaitu pada sisi timur sebelah kiri dihiasi dengan relief Rahwana dengan ciri-ciri bermahkota cecandian kurung, dua taring atas mencuat keluar, membawa pedang dan menggendong Dewi Sita, pada sisi timur sebelah kanan gapura berhiaskan relief tokoh Wilmana (wahana Rahwana) dengan ciri-ciri raksasa bersayap membawa senjata dengan dua tazaman. Bagian badan sisi barat sebelah kanan gapura terdapat juga relief Wilmana dan relief garuda di sebelah kiri gapura dengan ciri-ciri berkepala burung mencengkeram ular dengan kakinya. Gapura ini dipercantik juga dengan hiasan piring dan mangkuk terbuat dari porselin berbagai ukuran sebanyak 279 biji. Atap gapura terdiri dari lima tingkatan semakin ke atas semakin mengecil dengan masing-masing sudutnya berhiaskan simbar duduk lengkap dengan menara sudat berbentuk bulat, relief simbar gantung, dan pada puncak atap dihiasi dengan menur/murdha.

2. Gedong Ratu Puseh

Bangunan ini merupakan bangunan sentral di Pura Puseh Peguyangan, terbuat dari susunan batu bata merah dengan perpaduan batu padas terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Berdiri candi bentar terbuat dari batu padas berhiaskan simbar gantung, simbar duduk, dan antefik menghiasi selasar lengkap dengan naga kanan kiri tangga. Badan atas gedong terbuat dari susunan batu bata merah berhiaskan relief jambangan bunga dengan sulur-suluran daun dipahatkan pada sisi kanan-kiri badan gedong, terdapat garbha graha di tengah-tengah badan gedong, dua buah arca mengapit garbha graha, yaitu arca balagana yang disebut juga dengan gajawaktra dan arca tokoh yang tidak diketahui perwujudan siapa, karena tidak memiliki atribut yang jelas, serta pada ambang pintu di atasnya dipahatkan kepala kala dengan ciri-ciri mata melotot tanpa tangan ataupun pahatan suluran daun di sampingnya. Atap bangunan berbentuk limas semakin ke atas semakin kecil disangga dengan tiang kayu berjumlah 10 buah dan ditopang dengan arca-arca wanara. Gedong Ratu Puseh ini pada sisi depannya dari bagian kaki hingga badan berhiaskan piring berjumlah 106 keping, mangkuk berjumlah 162 buah yang terbuat dari porselin (keramik) berwarna putih, kuning, dan hijau.

3. Kemuncak Sudut Atap Candi I

Kemuncak ini diletakkan di depan (sisi timur) sebelah kanan gapura/paduraksa, kemungkinan bagian dari hiasan atap bangunan candi pada masa lampau yang terbuat dari batu padas, bentuknya sama dengan kemuncak sudut atap candi di Pura Desa Peguyangan, kemuncak/menara sudut ini berbentuk bulatan bertingkat enam semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk silinder. Secara mitologi, masyarakat Desa Adat Peguyangan mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

4. Kemuncak Sudut Atap Candi II

Kemuncak ini diletakkan di depan (sisi timur) sebelah kiri gapura/paduraksa, kemungkinan bagian dari hiasan atap bangunan candi pada masa lampau yang terbuat dari batu padas, bentuknya sama dengan kemuncak sudut atap candi di Pura Desa Peguyangan, kemuncak/menara sudut ini berbentuk bulatan bertingkat enam semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk silinder. Secara mitologi, masyarakat Desa Adat Peguyangan mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

5. Kemuncak Sudut Atap Candi III

Kemuncak ini diletakkan di depan (sisi timur) sebelah kiri gapura/paduraksa, kondisinya sudah sangat rusak, masyarakat Desa Adat Peguyangan juga mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

6. Kemuncak Sudut Atap Candi IV

Kemuncak ini diletakkan di halaman jeroan (utama mandala) di depan Gedong Ratu Puseh, kemungkinan bagian dari hiasan atap bangunan candi pada masa lampau yang terbuat dari batu padas, bentuknya sama dengan kemuncak sudut atap miniatur candi di Pura Desa Peguyangan, kemuncak ini berbentuk bulatan bertingkat lima semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk bulatan

7. Kemuncak Sudut Atap Candi V

Kemuncak juga diletakkan di halaman jeroan (utama mandala) di depan Gedong Ratu Puseh, bentuknya berupa bulatan bertingkat empat semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk bulatan. Secara mitologi, masyarakat Desa adat Peguyangan juga mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

8. Ambang Pintu Candi

Balok batu padas ini kemungkinan pada masa lampau sebagai ambang pintu bangunan candi berbentuk persegi panjang dengan takikan pada beberapa bagiannya. Kemungkinan ambang pintu ini memiliki hubungan dengan temuan kemuncak-kemuncak bangunan sebagai komponen bangunan penopang pintu masuk garbha graha sebuah bangunan candi pada masa lampau.

9. Arca Balagana

Arca diletakkan pada selasar sebelah kanan garbha graha Gedong Ratu Puseh, berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik polos pada sisi depannya terpahat angka 1933. Arca dipahatkan berkepala gajah (bukan Ganesha), tetapi sebagai perwujudan balagana/gajawaktra dengan menggunakan mahkota cecandian lengkap menggunakan petitis dan ron-ronan di belakang telinga, tangan kanan menopang belalai di samping perut, sedangkan tangan kiri diletakkan di depan perut menggenggam kain sampur, kain yang digunakan hingga di atas lutut bermotif garis-garis dan dilengkapi dengan lipatan wiron yang ujungnya menyentuh lapik.

10. Arca Tokoh I

Arca diletakkan pada selasar sebelah kiri garbha graha Gedong Ratu Puseh, berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik polos. Arca dipahatkan bermahkota cecandian lengkap menggunakan petitis dan ron-ronan di belakang telinga, tangan kanan ditekuk  di samping perut bersikap abhaya mudra, sedangkan tangan kiri diletakkan di depan perut menggenggam kain sampur, kain yang digunakan hingga di atas lutut bermotif garis-garis dan dilengkapi dengan lipatan wiron yang ujungnya menyentuh lapik.

1. Gapura/paduraksa

Gapura/paduraksa atau disebut dengan Kori Agung, merupakan pintu pembatas dan pintu masuk dari halaman jaba sisi (nista mandala) ke halaman jeroan (utama mandala). Gapura/paduraksa ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Gapura/paduraksa yang tersusun dari batu bata dipadukan dengan batu padas sebagai hiasan-hiasan relief suluran daun dan arca-arca seperti arca singa pada setiap sudut kaki gapura dan arca dwarapala sebagai penjaga pintu menghadap ke timur. Bagian badan gapura di tengah-tengahnya terdapat daun pintu terbuat dari kayu berwarna coklat, di atas ambang pintu berhiaskan kepala kala dengan mata melotot dan taring mencuat keluar berhiaskan suluran daun. Badan gapura pada masing-masing sisinya, yaitu pada sisi timur sebelah kiri dihiasi dengan relief Rahwana dengan ciri-ciri bermahkota cecandian kurung, dua taring atas mencuat keluar, membawa pedang dan menggendong Dewi Sita, pada sisi timur sebelah kanan gapura berhiaskan relief tokoh Wilmana (wahana Rahwana) dengan ciri-ciri raksasa bersayap membawa senjata dengan dua tazaman. Bagian badan sisi barat sebelah kanan gapura terdapat juga relief Wilmana dan relief garuda di sebelah kiri gapura dengan ciri-ciri berkepala burung mencengkeram ular dengan kakinya. Gapura ini dipercantik juga dengan hiasan piring dan mangkuk terbuat dari porselin berbagai ukuran sebanyak 279 biji. Atap gapura terdiri dari lima tingkatan semakin ke atas semakin mengecil dengan masing-masing sudutnya berhiaskan simbar duduk lengkap dengan menara sudat berbentuk bulat, relief simbar gantung, dan pada puncak atap dihiasi dengan menur/murdha.

2. Gedong Ratu Puseh

Bangunan ini merupakan bangunan sentral di Pura Puseh Peguyangan, terbuat dari susunan batu bata merah dengan perpaduan batu padas terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Berdiri candi bentar terbuat dari batu padas berhiaskan simbar gantung, simbar duduk, dan antefik menghiasi selasar lengkap dengan naga kanan kiri tangga. Badan atas gedong terbuat dari susunan batu bata merah berhiaskan relief jambangan bunga dengan sulur-suluran daun dipahatkan pada sisi kanan-kiri badan gedong, terdapat garbha graha di tengah-tengah badan gedong, dua buah arca mengapit garbha graha, yaitu arca balagana yang disebut juga dengan gajawaktra dan arca tokoh yang tidak diketahui perwujudan siapa, karena tidak memiliki atribut yang jelas, serta pada ambang pintu di atasnya dipahatkan kepala kala dengan ciri-ciri mata melotot tanpa tangan ataupun pahatan suluran daun di sampingnya. Atap bangunan berbentuk limas semakin ke atas semakin kecil disangga dengan tiang kayu berjumlah 10 buah dan ditopang dengan arca-arca wanara. Gedong Ratu Puseh ini pada sisi depannya dari bagian kaki hingga badan berhiaskan piring berjumlah 106 keping, mangkuk berjumlah 162 buah yang terbuat dari porselin (keramik) berwarna putih, kuning, dan hijau.

3. Kemuncak Sudut Atap Candi I

Kemuncak ini diletakkan di depan (sisi timur) sebelah kanan gapura/paduraksa, kemungkinan bagian dari hiasan atap bangunan candi pada masa lampau yang terbuat dari batu padas, bentuknya sama dengan kemuncak sudut atap candi di Pura Desa Peguyangan, kemuncak/menara sudut ini berbentuk bulatan bertingkat enam semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk silinder. Secara mitologi, masyarakat Desa Adat Peguyangan mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

4. Kemuncak Sudut Atap Candi II

Kemuncak ini diletakkan di depan (sisi timur) sebelah kiri gapura/paduraksa, kemungkinan bagian dari hiasan atap bangunan candi pada masa lampau yang terbuat dari batu padas, bentuknya sama dengan kemuncak sudut atap candi di Pura Desa Peguyangan, kemuncak/menara sudut ini berbentuk bulatan bertingkat enam semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk silinder. Secara mitologi, masyarakat Desa Adat Peguyangan mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

.

5. Kemuncak Sudut Atap Candi III

Kemuncak ini diletakkan di depan (sisi timur) sebelah kiri gapura/paduraksa, kondisinya sudah sangat rusak, masyarakat Desa Adat Peguyangan juga mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa

6. Kemuncak Sudut Atap Candi IV

Kemuncak ini diletakkan di halaman jeroan (utama mandala) di depan Gedong Ratu Puseh, kemungkinan bagian dari hiasan atap bangunan candi pada masa lampau yang terbuat dari batu padas, bentuknya sama dengan kemuncak sudut atap miniatur candi di Pura Desa Peguyangan, kemuncak ini berbentuk bulatan bertingkat lima semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk bulatan.

7. Kemuncak Sudut Atap Candi V

Kemuncak juga diletakkan di halaman jeroan (utama mandala) di depan Gedong Ratu Puseh, bentuknya berupa bulatan bertingkat empat semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk bulatan. Secara mitologi, masyarakat Desa adat Peguyangan juga mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

8. Ambang Pintu Candi

Balok batu padas ini kemungkinan pada masa lampau sebagai ambang pintu bangunan candi berbentuk persegi panjang dengan takikan pada beberapa bagiannya. Kemungkinan ambang pintu ini memiliki hubungan dengan temuan kemuncak-kemuncak bangunan sebagai komponen bangunan penopang pintu masuk garbha graha sebuah bangunan candi pada masa lampau.

9. Arca Balagana

Arca diletakkan pada selasar sebelah kanan garbha graha Gedong Ratu Puseh, berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik polos pada sisi depannya terpahat angka 1933. Arca dipahatkan berkepala gajah (bukan Ganesha), tetapi sebagai perwujudan balagana/gajawaktra dengan menggunakan mahkota cecandian lengkap menggunakan petitis dan ron-ronan di belakang telinga, tangan kanan menopang belalai di samping perut, sedangkan tangan kiri diletakkan di depan perut menggenggam kain sampur, kain yang digunakan hingga di atas lutut bermotif garis-garis dan dilengkapi dengan lipatan wiron yang ujungnya menyentuh lapik.

10. Arca Tokoh I

Arca diletakkan pada selasar sebelah kiri garbha graha Gedong Ratu Puseh, berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik polos. Arca dipahatkan bermahkota cecandian lengkap menggunakan petitis dan ron-ronan di belakang telinga, tangan kanan ditekuk  di samping perut bersikap abhaya mudra, sedangkan tangan kiri diletakkan di depan perut menggenggam kain sampur, kain yang digunakan hingga di atas lutut bermotif garis-garis dan dilengkapi dengan lipatan wiron yang ujungnya menyentuh lapik.

1. Gapura/paduraksa

Gapura/paduraksa atau disebut dengan Kori Agung, merupakan pintu pembatas dan pintu masuk dari halaman jaba sisi (nista mandala) ke halaman jeroan (utama mandala). Gapura/paduraksa ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Gapura/paduraksa yang tersusun dari batu bata dipadukan dengan batu padas sebagai hiasan-hiasan relief suluran daun dan arca-arca seperti arca singa pada setiap sudut kaki gapura dan arca dwarapala sebagai penjaga pintu menghadap ke timur. Bagian badan gapura di tengah-tengahnya terdapat daun pintu terbuat dari kayu berwarna coklat, di atas ambang pintu berhiaskan kepala kala dengan mata melotot dan taring mencuat keluar berhiaskan suluran daun. Badan gapura pada masing-masing sisinya, yaitu pada sisi timur sebelah kiri dihiasi dengan relief Rahwana dengan ciri-ciri bermahkota cecandian kurung, dua taring atas mencuat keluar, membawa pedang dan menggendong Dewi Sita, pada sisi timur sebelah kanan gapura berhiaskan relief tokoh Wilmana (wahana Rahwana) dengan ciri-ciri raksasa bersayap membawa senjata dengan dua tazaman. Bagian badan sisi barat sebelah kanan gapura terdapat juga relief Wilmana dan relief garuda di sebelah kiri gapura dengan ciri-ciri berkepala burung mencengkeram ular dengan kakinya. Gapura ini dipercantik juga dengan hiasan piring dan mangkuk terbuat dari porselin berbagai ukuran sebanyak 279 biji. Atap gapura terdiri dari lima tingkatan semakin ke atas semakin mengecil dengan masing-masing sudutnya berhiaskan simbar duduk lengkap dengan menara sudat berbentuk bulat, relief simbar gantung, dan pada puncak atap dihiasi dengan menur/murdha.

2. Gedong Ratu Puseh

Bangunan ini merupakan bangunan sentral di Pura Puseh Peguyangan, terbuat dari susunan batu bata merah dengan perpaduan batu padas terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Berdiri candi bentar terbuat dari batu padas berhiaskan simbar gantung, simbar duduk, dan antefik menghiasi selasar lengkap dengan naga kanan kiri tangga. Badan atas gedong terbuat dari susunan batu bata merah berhiaskan relief jambangan bunga dengan sulur-suluran daun dipahatkan pada sisi kanan-kiri badan gedong, terdapat garbha graha di tengah-tengah badan gedong, dua buah arca mengapit garbha graha, yaitu arca balagana yang disebut juga dengan gajawaktra dan arca tokoh yang tidak diketahui perwujudan siapa, karena tidak memiliki atribut yang jelas, serta pada ambang pintu di atasnya dipahatkan kepala kala dengan ciri-ciri mata melotot tanpa tangan ataupun pahatan suluran daun di sampingnya. Atap bangunan berbentuk limas semakin ke atas semakin kecil disangga dengan tiang kayu berjumlah 10 buah dan ditopang dengan arca-arca wanara. Gedong Ratu Puseh ini pada sisi depannya dari bagian kaki hingga badan berhiaskan piring berjumlah 106 keping, mangkuk berjumlah 162 buah yang terbuat dari porselin (keramik) berwarna putih, kuning, dan hijau.

3. Kemuncak Sudut Atap Candi I

Kemuncak ini diletakkan di depan (sisi timur) sebelah kanan gapura/paduraksa, kemungkinan bagian dari hiasan atap bangunan candi pada masa lampau yang terbuat dari batu padas, bentuknya sama dengan kemuncak sudut atap candi di Pura Desa Peguyangan, kemuncak/menara sudut ini berbentuk bulatan bertingkat enam semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk silinder. Secara mitologi, masyarakat Desa Adat Peguyangan mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

4. Kemuncak Sudut Atap Candi II

Kemuncak ini diletakkan di depan (sisi timur) sebelah kiri gapura/paduraksa, kemungkinan bagian dari hiasan atap bangunan candi pada masa lampau yang terbuat dari batu padas, bentuknya sama dengan kemuncak sudut atap candi di Pura Desa Peguyangan, kemuncak/menara sudut ini berbentuk bulatan bertingkat enam semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk silinder. Secara mitologi, masyarakat Desa Adat Peguyangan mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

5. Kemuncak Sudut Atap Candi III

Kemuncak ini diletakkan di depan (sisi timur) sebelah kiri gapura/paduraksa, kondisinya sudah sangat rusak, masyarakat Desa Adat Peguyangan juga mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

6. Kemuncak Sudut Atap Candi IV

Kemuncak ini diletakkan di halaman jeroan (utama mandala) di depan Gedong Ratu Puseh, kemungkinan bagian dari hiasan atap bangunan candi pada masa lampau yang terbuat dari batu padas, bentuknya sama dengan kemuncak sudut atap miniatur candi di Pura Desa Peguyangan, kemuncak ini berbentuk bulatan bertingkat lima semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk bulatan.

7. Kemuncak Sudut Atap Candi V

Kemuncak juga diletakkan di halaman jeroan (utama mandala) di depan Gedong Ratu Puseh, bentuknya berupa bulatan bertingkat empat semakin ke atas semakin kecil dan pada puncaknya berbentuk bulatan. Secara mitologi, masyarakat Desa adat Peguyangan juga mempercayai benda ini sebagai kepalan tangan Ki Kebo Iwa.

8. Ambang Pintu Candi

Balok batu padas ini kemungkinan pada masa lampau sebagai ambang pintu bangunan candi berbentuk persegi panjang dengan takikan pada beberapa bagiannya. Kemungkinan ambang pintu ini memiliki hubungan dengan temuan kemuncak-kemuncak bangunan sebagai komponen bangunan penopang pintu masuk garbha graha sebuah bangunan candi pada masa lampau.

9. Arca Balagana

Arca diletakkan pada selasar sebelah kanan garbha graha Gedong Ratu Puseh, berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik polos pada sisi depannya terpahat angka 1933. Arca dipahatkan berkepala gajah (bukan Ganesha), tetapi sebagai perwujudan balagana/gajawaktra dengan menggunakan mahkota cecandian lengkap menggunakan petitis dan ron-ronan di belakang telinga, tangan kanan menopang belalai di samping perut, sedangkan tangan kiri diletakkan di depan perut menggenggam kain sampur, kain yang digunakan hingga di atas lutut bermotif garis-garis dan dilengkapi dengan lipatan wiron yang ujungnya menyentuh lapik.

10. Arca Tokoh I

Arca diletakkan pada selasar sebelah kiri garbha graha Gedong Ratu Puseh, berdiri dengan sikap abhanga di atas lapik polos. Arca dipahatkan bermahkota cecandian lengkap menggunakan petitis dan ron-ronan di belakang telinga, tangan kanan ditekuk  di samping perut bersikap abhaya mudra, sedangkan tangan kiri diletakkan di depan perut menggenggam kain sampur, kain yang digunakan hingga di atas lutut bermotif garis-garis dan dilengkapi dengan lipatan wiron yang ujungnya menyentuh lapik.

Pura Maospahit Tonja

Pura Maospahit Tonja secara geografis terletak di Jl. Ratna, tepat berada di depan Banjar Tatasan Kelod, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar.  Secara Astronomi terletak pada titik koordinat 50 L 0304919, 9044056 dengan ketinggian 47 Mdpl.

Sesuai dengan pola pembangunan pura di Bali, Pura Maospahit Tonja juga mempunyai tiga halaman. Di sini akan tampak adanya suatu variasi kecil yaitu bagian jaba sisi (halaman paling luar) tidak dikelilingi oleh tembok, tetapi berupa sebuah halaman yang terbuka dan menghadap ke arah timur. Di sini hanya bagian jeroan (halaman paling suci), dan jaba tengah (halaman tengah) yang dikelilingi oleh tembok keliling, yang terbuat dari batu bata. Adapun antara jaba tengah dengan jeroan dibatasi oleh sebuah tembok, dan terdapat kori agung. Antara jaba tengah dengan jaba sisi dibatasi pula dengan sebuah tembok keliling, dan dihubungkan dengan sebuah candi bentar. 

Jika diperhatikan kembali struktur pura, dan fungsi masing-masing bangunan pelinggihnya, maka Pura Maospahit Tonja Denpasar masih menerapkan budaya lokal (local genius) dengan konsep-konsep pemujaan roh suci leluhur. Hal tersebut nampak pada nama-nama bangunan suci dengan memberi nama-nama lokal seperti Pelinggih Ratu Dalem Ketut, Pelinggih Ratu Biang Susunan, Gedong Dewa Hyang, dan Pelinggih Ratu Dalem Maospahit. 

Di halaman utama atau jeroan Pura Maospahit Tonja terdapat 2 (dua) buah bangunan Prasada yang berada di sisi Utara menghadap ke Selatan, dan di sisi Timur menghadap ke Barat. Karakter bangunan Prasada sama dengan bangunan Prasada yang terdapat di Situs Pura Rambut Siwi Tonja.

Candi Prasada adalah bangunan suci untuk pelinggih dari yang suci yang menitiskan dirinya pada raja yang meninggal yang telah disucikan dan kembali ke brahmaloka. Prasada merupakan bangunan suci di Bali yang bentuknya sangat mirip sekali dengan candi, sebagaimana halnya dengan dengan candi-candi di Jawa Timur umumnya. Prasada bangunan suci yang terbuat dari batu bata keseluruhannya, tapi ada yang terbuat dari batu karang seperti Prasada yang ada di Pulau Serangan. Demikian juga pada badannya, terdapat bilik atau ruangan untuk menempatkan pratima yang lebih meyakinkan lagi persamaannya dengan candi. 

Prasada berarti tempat duduk yang menjulang tinggi teras tingkat teratas dari bangunan diatas pondasi yang tinggi, istana, kuil, candi, pura, tempat pemujaan. Prasada di Bali adalah hasil perpaduan antara candi atau Prasada biasa dengan punden berundak-undak pada zaman prehistoric. (Kempers, 1979 : 13).

1. Candi Prasada Tumpang Lima (Linggih Ratu Dalem Ketut)

Keseluruhan bangunan menggunakan batu bata baik kaki, badan maupun atap. Bentuk prasada ramping sama halnya dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur yang bentuknya semakin ke atas semakin kecil dan pada bagian atap bentuknya bertingkat-tingkat. Pada bagian kaki candi, terdapat hiasan karang goak pada setiap sudutnya, dan juga terdapat lubang-lubang bekas hiasan mangkok-mangkok Cina yang sudah tidak terpasang lagi dikarenakan sudah pecah akibat bencana alam gempa bumi yang pernah terjadi di Bali. Pada bagian badan candi terdapat pintu masuk yang terbuat dari kayu untuk meletakkan arca dan sesaji. Pada bagian ini masih dapat dijumpai beberapa hiasan cawan-cawan kecil berwarna putih yang masih terpasang pada badan candi. Terdapat juga hiasan singa bersayap pada bagian atas pintu masuk kedalam candi. Pada bagian atap candi terdapat motif hias karang mata yang letaknya di tengah-tengah, dan pada setiap sudut dari atap candi terdapat hiasan menara sudut berisikan motif hias sulur-suluran. Atap dari candi ini berjumlah 5 yang semakin ke atas semakin tinggi.

2. Candi Prasada Tumpang Sia (Linggih Ratu Muter) 

Secara keseluruhan baik dari kaki, badan, dan atap terbuat dari bahan batu bata dengan bentuk atap bertingkat-tingkat, semakin ke atas semakin kecil / ramping. Prasada ini merupakan peninggalan arkeologi yang bentuknya sangat mirip dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur. Prasada ini memiliki arah hadap ke barat sehingga para bakta melakukan persembahyangan ke arah timur berhadapan dengan candi. Pada kaki candi hingga badan candi diberi hiasan-hiasan mangkok-mangkok Cina, akan tetapi pada saat ini sudah tidak terpasang lagi sejak dilakukannya pemugaran pada tahun 1986 yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya. Dikarenakan, hiasan mangkok-mangkok Cina tersebut sudah tidak dapat terpakai karena banyak yang pecah akibat gempa di Bali. Kita dapat mengetahui adanya hiasan tersebut dikarenakan bagian kaki hingga badan candi terdapat lobang-lobang bekas meletakkan mangkok tersebut dan juga terdapat hiasan sulur-suluran pada badan candi, dan di sebelah kanan dan kiri pintu masuk ke dalam candi terdapat hiasan  karang bentulu dan pada bagian atas pintu masuk kedalam badan candi terdapat motif hiasan matahari. Candi Tumpang 9 ini memiliki panjang 3,05 m dan lebar 2,65 m. Prasada ini difungsikan untuk memuja dewa Ratu Maospahit yang berkedudukan sebagai pusat memohon keselamatan. 

3. Gedong Bata Ratu Gde Maospahit

Bangunan ini dibuat dari batu bata yang pada sisi kanan, dan kirinya dihiasi dengan pepalihan. Atapnya juga dibuat dari bahan batu bata, dan pada keempat sudutnya dihiasi dengan simbar dengan motif hias karang goak. Pada bagian badan gedong, dan pada setiap sudutnya dihiasi dengan simbar. Pintu masuknya terbuat dari kayu jati serta dihiasi dengan ukiran-ukiran motif patra punggel. Bagian depan sebelah kiri dari gedong diletakkan arca baru dari bahan batu padas. Fungsi dari bangunan ini untuk memuja Ratu Gede Maospahit untuk memohon keselamatan. Bangunan ini terletak diarah timur menghadap kebarat berukuran panjang 3.20 m, Lebar 3.20 m dan Tinggi 5.45 m

4. Kolam Petirtaan

Struktur kolam ini berada di halaman utama (jeroan) Pura Maospahit Tonja, membentuk huruf L dengan membentuk sudutan di bagian Timur laut halaman utama (jeroan) Pura. Struktur kolam ini memiliki ukuran Panjang dari Barat ke Timur 16,15 meter, dan dari Utara ke Selatan 17,12 meter, dengan Lebar yang sama yaitu 1,12 meter, mempergunakan bahan batu padas. Dari hasil wawancara dengan pemangku Pura, struktur kolam ini ditemukan saat dilakukannya ekskavasi di sekitar bangunan prasada yang saat itu akan dipugar, sehingga dapat dikatakan bahwa struktur kolam ini memang sudah ada dari jaman dulu bersamaan dengan keberadaan prasada di Pura Maospahit Tonja. Pada sisi Selatan ujung kolam terdapat sebuah Kolam penglukatan (penyucian) Naga Sesa. Kolam ini memiliki kedalaman 82 cm, yang difungsikan sebagai penglukatan atau pembersihan. kolam ini memiliki ukuran Lebar 16 cm, Panjang 79 cm. kolam ini memakai 3 (tiga) buah anak tangga. Dari hasil wawancara, fungsi kolam ini adalah untuk pemandian para widyadara-widyadari. Ada semacam gorong-gorong yang menembus, dan menyalurkan air kolam ke jaba tengah (madya mandala), pada jaba tengah air ini difungsikan untuk penglukatan atau pembersihan sebelum masuk ke areal utama pura. 

5. Meja Batu (dolmen)

Dolmen / Meja Batu, merupakan peninggalan masa megalitik yang terbuat dari batu yang berbentuk lingkaran pada bagian atasnya dan disangga dengan 4 kaki yang juga terbuat dari batu, dolmen ini diletakkan diatas bebaturan segi empat dengan ukuran Panjang 110 cm, Lebar 112 cm, dan Tinggi 72 cm. Fungsi dari dolmen ini masih sama dengan zaman megalithikum yaitu sebagai tempat meletakkan sesaji untuk persembahan kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi), para Dewa dan juga roh leluhur. Dolmen ini diletakkan tepat di depan Prasada Tumpang Sia (9).

6. Lumpang Batu 

Lumpang batu ini diletakkan diatas sebuah bebaturan berbentuk segi empat dengan ukuran Panjang 90 cm, Lebar 75 cm, dan Tinggi 26 cm. Sekitar lumpang ini diletakan arca-arca yang sudah dalam keadaan sangat rusak. Lumpang batu ini berasal dari masa megalitikum yang dulunya difungsikan sebagai tempat menumbuk biji-bijian untuk sarana upacara, akan tetapi pada masa ini, lumpang batu ini tidak difungsikan lagi sebagai tempat menumbuk biji-bijian melainkan sebagai tempat air untuk melakukan penglukatan, atau penyucian diri. Masyarakat juga meyakini bahwa air yang terdapat di lumpang batu ini dapat menyembuhkan penyakit.

1. Candi Prasada Tumpang Lima (Linggih Ratu Dalem Ketut)

Keseluruhan bangunan menggunakan batu bata baik kaki, badan maupun atap. Bentuk prasada ramping sama halnya dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur yang bentuknya semakin ke atas semakin kecil dan pada bagian atap bentuknya bertingkat-tingkat. Pada bagian kaki candi, terdapat hiasan karang goak pada setiap sudutnya, dan juga terdapat lubang-lubang bekas hiasan mangkok-mangkok Cina yang sudah tidak terpasang lagi dikarenakan sudah pecah akibat bencana alam gempa bumi yang pernah terjadi di Bali. Pada bagian badan candi terdapat pintu masuk yang terbuat dari kayu untuk meletakkan arca dan sesaji. Pada bagian ini masih dapat dijumpai beberapa hiasan cawan-cawan kecil berwarna putih yang masih terpasang pada badan candi. Terdapat juga hiasan singa bersayap pada bagian atas pintu masuk kedalam candi. Pada bagian atap candi terdapat motif hias karang mata yang letaknya di tengah-tengah, dan pada setiap sudut dari atap candi terdapat hiasan menara sudut berisikan motif hias sulur-suluran. Atap dari candi ini berjumlah 5 yang semakin ke atas semakin tinggi.

2. Candi Prasada Tumpang Sia (Linggih Ratu Muter) 

Secara keseluruhan baik dari kaki, badan, dan atap terbuat dari bahan batu bata dengan bentuk atap bertingkat-tingkat, semakin ke atas semakin kecil / ramping. Prasada ini merupakan peninggalan arkeologi yang bentuknya sangat mirip dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur. Prasada ini memiliki arah hadap ke barat sehingga para bakta melakukan persembahyangan ke arah timur berhadapan dengan candi. Pada kaki candi hingga badan candi diberi hiasan-hiasan mangkok-mangkok Cina, akan tetapi pada saat ini sudah tidak terpasang lagi sejak dilakukannya pemugaran pada tahun 1986 yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya. Dikarenakan, hiasan mangkok-mangkok Cina tersebut sudah tidak dapat terpakai karena banyak yang pecah akibat gempa di Bali. Kita dapat mengetahui adanya hiasan tersebut dikarenakan bagian kaki hingga badan candi terdapat lobang-lobang bekas meletakkan mangkok tersebut dan juga terdapat hiasan sulur-suluran pada badan candi, dan di sebelah kanan dan kiri pintu masuk ke dalam candi terdapat hiasan  karang bentulu dan pada bagian atas pintu masuk kedalam badan candi terdapat motif hiasan matahari. Candi Tumpang 9 ini memiliki panjang 3,05 m dan lebar 2,65 m. Prasada ini difungsikan untuk memuja dewa Ratu Maospahit yang berkedudukan sebagai pusat memohon keselamatan. 

3. Gedong Bata Ratu Gde Maospahit

Bangunan ini dibuat dari batu bata yang pada sisi kanan, dan kirinya dihiasi dengan pepalihan. Atapnya juga dibuat dari bahan batu bata, dan pada keempat sudutnya dihiasi dengan simbar dengan motif hias karang goak. Pada bagian badan gedong, dan pada setiap sudutnya dihiasi dengan simbar. Pintu masuknya terbuat dari kayu jati serta dihiasi dengan ukiran-ukiran motif patra punggel. Bagian depan sebelah kiri dari gedong diletakkan arca baru dari bahan batu padas. Fungsi dari bangunan ini untuk memuja Ratu Gede Maospahit untuk memohon keselamatan. Bangunan ini terletak diarah timur menghadap kebarat berukuran panjang 3.20 m, Lebar 3.20 m dan Tinggi 5.45 m

4. Kolam Petirtaan

Struktur kolam ini berada di halaman utama (jeroan) Pura Maospahit Tonja, membentuk huruf L dengan membentuk sudutan di bagian Timur laut halaman utama (jeroan) Pura. Struktur kolam ini memiliki ukuran Panjang dari Barat ke Timur 16,15 meter, dan dari Utara ke Selatan 17,12 meter, dengan Lebar yang sama yaitu 1,12 meter, mempergunakan bahan batu padas. Dari hasil wawancara dengan pemangku Pura, struktur kolam ini ditemukan saat dilakukannya ekskavasi di sekitar bangunan prasada yang saat itu akan dipugar, sehingga dapat dikatakan bahwa struktur kolam ini memang sudah ada dari jaman dulu bersamaan dengan keberadaan prasada di Pura Maospahit Tonja. Pada sisi Selatan ujung kolam terdapat sebuah Kolam penglukatan (penyucian) Naga Sesa. Kolam ini memiliki kedalaman 82 cm, yang difungsikan sebagai penglukatan atau pembersihan. kolam ini memiliki ukuran Lebar 16 cm, Panjang 79 cm. kolam ini memakai 3 (tiga) buah anak tangga. Dari hasil wawancara, fungsi kolam ini adalah untuk pemandian para widyadara-widyadari. Ada semacam gorong-gorong yang menembus, dan menyalurkan air kolam ke jaba tengah (madya mandala), pada jaba tengah air ini difungsikan untuk penglukatan atau pembersihan sebelum masuk ke areal utama pura. 

5. Meja Batu (dolmen)

Dolmen / Meja Batu, merupakan peninggalan masa megalitik yang terbuat dari batu yang berbentuk lingkaran pada bagian atasnya dan disangga dengan 4 kaki yang juga terbuat dari batu, dolmen ini diletakkan diatas bebaturan segi empat dengan ukuran Panjang 110 cm, Lebar 112 cm, dan Tinggi 72 cm. Fungsi dari dolmen ini masih sama dengan zaman megalithikum yaitu sebagai tempat meletakkan sesaji untuk persembahan kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi), para Dewa dan juga roh leluhur. Dolmen ini diletakkan tepat di depan Prasada Tumpang Sia (9).

6. Lumpang Batu 

Lumpang batu ini diletakkan diatas sebuah bebaturan berbentuk segi empat dengan ukuran Panjang 90 cm, Lebar 75 cm, dan Tinggi 26 cm. Sekitar lumpang ini diletakan arca-arca yang sudah dalam keadaan sangat rusak. Lumpang batu ini berasal dari masa megalitikum yang dulunya difungsikan sebagai tempat menumbuk biji-bijian untuk sarana upacara, akan tetapi pada masa ini, lumpang batu ini tidak difungsikan lagi sebagai tempat menumbuk biji-bijian melainkan sebagai tempat air untuk melakukan penglukatan, atau penyucian diri. Masyarakat juga meyakini bahwa air yang terdapat di lumpang batu ini dapat menyembuhkan penyakit.

1. Candi Prasada Tumpang Lima (Linggih Ratu Dalem Ketut)

Keseluruhan bangunan menggunakan batu bata baik kaki, badan maupun atap. Bentuk prasada ramping sama halnya dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur yang bentuknya semakin ke atas semakin kecil dan pada bagian atap bentuknya bertingkat-tingkat. Pada bagian kaki candi, terdapat hiasan karang goak pada setiap sudutnya, dan juga terdapat lubang-lubang bekas hiasan mangkok-mangkok Cina yang sudah tidak terpasang lagi dikarenakan sudah pecah akibat bencana alam gempa bumi yang pernah terjadi di Bali. Pada bagian badan candi terdapat pintu masuk yang terbuat dari kayu untuk meletakkan arca dan sesaji. Pada bagian ini masih dapat dijumpai beberapa hiasan cawan-cawan kecil berwarna putih yang masih terpasang pada badan candi. Terdapat juga hiasan singa bersayap pada bagian atas pintu masuk kedalam candi. Pada bagian atap candi terdapat motif hias karang mata yang letaknya di tengah-tengah, dan pada setiap sudut dari atap candi terdapat hiasan menara sudut berisikan motif hias sulur-suluran. Atap dari candi ini berjumlah 5 yang semakin ke atas semakin tinggi.

2. Candi Prasada Tumpang Sia (Linggih Ratu Muter) 

Secara keseluruhan baik dari kaki, badan, dan atap terbuat dari bahan batu bata dengan bentuk atap bertingkat-tingkat, semakin ke atas semakin kecil / ramping. Prasada ini merupakan peninggalan arkeologi yang bentuknya sangat mirip dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur. Prasada ini memiliki arah hadap ke barat sehingga para bakta melakukan persembahyangan ke arah timur berhadapan dengan candi. Pada kaki candi hingga badan candi diberi hiasan-hiasan mangkok-mangkok Cina, akan tetapi pada saat ini sudah tidak terpasang lagi sejak dilakukannya pemugaran pada tahun 1986 yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya. Dikarenakan, hiasan mangkok-mangkok Cina tersebut sudah tidak dapat terpakai karena banyak yang pecah akibat gempa di Bali. Kita dapat mengetahui adanya hiasan tersebut dikarenakan bagian kaki hingga badan candi terdapat lobang-lobang bekas meletakkan mangkok tersebut dan juga terdapat hiasan sulur-suluran pada badan candi, dan di sebelah kanan dan kiri pintu masuk ke dalam candi terdapat hiasan  karang bentulu dan pada bagian atas pintu masuk kedalam badan candi terdapat motif hiasan matahari. Candi Tumpang 9 ini memiliki panjang 3,05 m dan lebar 2,65 m. Prasada ini difungsikan untuk memuja dewa Ratu Maospahit yang berkedudukan sebagai pusat memohon keselamatan. 

3. Gedong Bata Ratu Gde Maospahit

Bangunan ini dibuat dari batu bata yang pada sisi kanan, dan kirinya dihiasi dengan pepalihan. Atapnya juga dibuat dari bahan batu bata, dan pada keempat sudutnya dihiasi dengan simbar dengan motif hias karang goak. Pada bagian badan gedong, dan pada setiap sudutnya dihiasi dengan simbar. Pintu masuknya terbuat dari kayu jati serta dihiasi dengan ukiran-ukiran motif patra punggel. Bagian depan sebelah kiri dari gedong diletakkan arca baru dari bahan batu padas. Fungsi dari bangunan ini untuk memuja Ratu Gede Maospahit untuk memohon keselamatan. Bangunan ini terletak diarah timur menghadap kebarat berukuran panjang 3.20 m, Lebar 3.20 m dan Tinggi 5.45 m

4. Kolam Petirtaan

Struktur kolam ini berada di halaman utama (jeroan) Pura Maospahit Tonja, membentuk huruf L dengan membentuk sudutan di bagian Timur laut halaman utama (jeroan) Pura. Struktur kolam ini memiliki ukuran Panjang dari Barat ke Timur 16,15 meter, dan dari Utara ke Selatan 17,12 meter, dengan Lebar yang sama yaitu 1,12 meter, mempergunakan bahan batu padas. Dari hasil wawancara dengan pemangku Pura, struktur kolam ini ditemukan saat dilakukannya ekskavasi di sekitar bangunan prasada yang saat itu akan dipugar, sehingga dapat dikatakan bahwa struktur kolam ini memang sudah ada dari jaman dulu bersamaan dengan keberadaan prasada di Pura Maospahit Tonja. Pada sisi Selatan ujung kolam terdapat sebuah Kolam penglukatan (penyucian) Naga Sesa. Kolam ini memiliki kedalaman 82 cm, yang difungsikan sebagai penglukatan atau pembersihan. kolam ini memiliki ukuran Lebar 16 cm, Panjang 79 cm. kolam ini memakai 3 (tiga) buah anak tangga. Dari hasil wawancara, fungsi kolam ini adalah untuk pemandian para widyadara-widyadari. Ada semacam gorong-gorong yang menembus, dan menyalurkan air kolam ke jaba tengah (madya mandala), pada jaba tengah air ini difungsikan untuk penglukatan atau pembersihan sebelum masuk ke areal utama pura. 

5. Meja Batu (dolmen)

Dolmen / Meja Batu, merupakan peninggalan masa megalitik yang terbuat dari batu yang berbentuk lingkaran pada bagian atasnya dan disangga dengan 4 kaki yang juga terbuat dari batu, dolmen ini diletakkan diatas bebaturan segi empat dengan ukuran Panjang 110 cm, Lebar 112 cm, dan Tinggi 72 cm. Fungsi dari dolmen ini masih sama dengan zaman megalithikum yaitu sebagai tempat meletakkan sesaji untuk persembahan kepada Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi), para Dewa dan juga roh leluhur. Dolmen ini diletakkan tepat di depan Prasada Tumpang Sia (9).

6. Lumpang Batu 

Lumpang batu ini diletakkan diatas sebuah bebaturan berbentuk segi empat dengan ukuran Panjang 90 cm, Lebar 75 cm, dan Tinggi 26 cm. Sekitar lumpang ini diletakan arca-arca yang sudah dalam keadaan sangat rusak. Lumpang batu ini berasal dari masa megalitikum yang dulunya difungsikan sebagai tempat menumbuk biji-bijian untuk sarana upacara, akan tetapi pada masa ini, lumpang batu ini tidak difungsikan lagi sebagai tempat menumbuk biji-bijian melainkan sebagai tempat air untuk melakukan penglukatan, atau penyucian diri. Masyarakat juga meyakini bahwa air yang terdapat di lumpang batu ini dapat menyembuhkan penyakit.

Pura Dalem Bungkeneng Tonja

Pura Dalem Bungkeneng merupakan salah satu Pura Khayangan Tiga Desa Adat Tonja. Secara administratif Pura Dalem Bungkeneng berlokasi di Jl. Ratna, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar. Secara geografis pura ini terletak pada koordinat 50 L 0365081, 9044539 UTM. 

Pura Dalem Bungkeneng memiliki susunan dua halaman dengan arah hadap pura ke Barat, halaman pura terdiri dari jeroan dan bagian jaba tengah. Adapun halaman yang paling luar jaba sisi merupakan halaman terbuka. Secara simbolis, tiga halaman ini dihubungkan dengan konsep Tri Bhuwana yaitu tingkatan alam semesta atau makrokosmos (bhuwana agung). Jaba sisi melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, jaba tengah melambangkan bwahloka yaitu alam pitra atau roh, alam peralihan. Jeroan melambangkan swah loka, alam para dewa atau dunia baka. Sesuai dengan pola pembangunan pura di Bali, Pura dalem Bungkeneng Tonja juga mempunyai tiga halaman. Di sini akan tampak adanya suatu variasi kecil yaitu bagian jaba sisi (halaman paling luar) tidak dikelilingi oleh tembok, tetapi berupa sebuah halaman yang terbuka (jalan umum) yang berada di sisi Barat. Di sini hanya bagian jeroan (halaman paling suci) dan jaba tengah (halaman tengah) yang dikelilingi oleh tembok keliling, yang terbuat dari batu bata, sedangkan antara jaba tengah dengan jeroan dibatasi oleh sebuah tembok dan terdapat kori agung. Antara jaba tengah dengan jaba sisi dibatasi pula dengan sebuah tembok keliling dan dihubungkan dengan sebuah candi bentar.

Pura Dalem Bungkeneng merupakan salah satu Pura Khayangan Tiga Desa Adat Tonja. Secara administratif Pura Dalem Bungkeneng berlokasi di Jl. Ratna, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar. Secara geografis pura ini terletak pada koordinat 50 L 0365081, 9044539 UTM. 

Pura Dalem Bungkeneng memiliki susunan dua halaman dengan arah hadap pura ke Barat, halaman pura terdiri dari jeroan dan bagian jaba tengah. Adapun halaman yang paling luar jaba sisi merupakan halaman terbuka. Secara simbolis, tiga halaman ini dihubungkan dengan konsep Tri Bhuwana yaitu tingkatan alam semesta atau makrokosmos (bhuwana agung). Jaba sisi melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, jaba tengah melambangkan bwahloka yaitu alam pitra atau roh, alam peralihan. Jeroan melambangkan swah loka, alam para dewa atau dunia baka. Sesuai dengan pola pembangunan pura di Bali, Pura dalem Bungkeneng Tonja juga mempunyai tiga halaman. Di sini akan tampak adanya suatu variasi kecil yaitu bagian jaba sisi (halaman paling luar) tidak dikelilingi oleh tembok, tetapi berupa sebuah halaman yang terbuka (jalan umum) yang berada di sisi Barat. Di sini hanya bagian jeroan (halaman paling suci) dan jaba tengah (halaman tengah) yang dikelilingi oleh tembok keliling, yang terbuat dari batu bata, sedangkan antara jaba tengah dengan jeroan dibatasi oleh sebuah tembok dan terdapat kori agung. Antara jaba tengah dengan jaba sisi dibatasi pula dengan sebuah tembok keliling dan dihubungkan dengan sebuah candi bentar.

Pura Dalem Bungkeneng merupakan salah satu Pura Khayangan Tiga Desa Adat Tonja. Secara administratif Pura Dalem Bungkeneng berlokasi di Jl. Ratna, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar. Secara geografis pura ini terletak pada koordinat 50 L 0365081, 9044539 UTM. 

Pura Dalem Bungkeneng memiliki susunan dua halaman dengan arah hadap pura ke Barat, halaman pura terdiri dari jeroan dan bagian jaba tengah. Adapun halaman yang paling luar jaba sisi merupakan halaman terbuka. Secara simbolis, tiga halaman ini dihubungkan dengan konsep Tri Bhuwana yaitu tingkatan alam semesta atau makrokosmos (bhuwana agung). Jaba sisi melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, jaba tengah melambangkan bwahloka yaitu alam pitra atau roh, alam peralihan. Jeroan melambangkan swah loka, alam para dewa atau dunia baka. Sesuai dengan pola pembangunan pura di Bali, Pura dalem Bungkeneng Tonja juga mempunyai tiga halaman. Di sini akan tampak adanya suatu variasi kecil yaitu bagian jaba sisi (halaman paling luar) tidak dikelilingi oleh tembok, tetapi berupa sebuah halaman yang terbuka (jalan umum) yang berada di sisi Barat. Di sini hanya bagian jeroan (halaman paling suci) dan jaba tengah (halaman tengah) yang dikelilingi oleh tembok keliling, yang terbuat dari batu bata, sedangkan antara jaba tengah dengan jeroan dibatasi oleh sebuah tembok dan terdapat kori agung. Antara jaba tengah dengan jaba sisi dibatasi pula dengan sebuah tembok keliling dan dihubungkan dengan sebuah candi bentar.

1. Arca Dwarapala I

Arca dipahatkan duduk kedua kaki ditekuk di atas lapik persegi polos tanpa sandaran (stela). Bentuk muka bulat, mata besar melotot, alis tebal, hidung besar, bibir tebal terbuka memperlihatkan taring, telinga lebar memakai simping dan anting-anting berbentuk bunga. Bentuk rambut ikal dipusung tiga, dan sisanya terurai di belakang sampai punggung. Memakai kalung (hara) motif garis polos, perut buncit, memakai ikat perut motif garis polos. Sikap tangan kanan lurus kaku ke bawah memegang lutut kaki kanan memakai gelang tangan (kankana) motif garis polos, sikap tangan kiri agak ditekuk dan telapak tangan memegang perut memakai gelang tangan (kankana) motif garis polos. 

2. Arca Dwarapala II

Arca dipahatkan duduk tanpa sandaran di atas lapik persegi dengan kaki kiri ditekuk ke atas. Bentuk muka bulat, dengan mata bulat besar melotot, alis tebal, hidung besar, bibir tebal, mulut terbuka memperlihatkan taring. Bagian kepala atas tidak ditumbuhi rambut (botak), bagian rambut tumbuh di bagian pinggir saja, dengan bentuk ikal dan panjang terurai di bagian punggung. Telinga kecil memakai hiasan telinga (simping) dan anting-anting (kundala) ceplok bunga dan ron ronan (daun). Berjenggot ikal panjang sampai ke bagian dada. sikap tangan kanan ditekuk dengan telapak tangan dikepal memakai gelang tangan (kankana) motif geometri garis dan bulatan polos. Sikap tangan kiri lurus dengan telapak tangan memegang lutut memakai gelang tangan (kankana) motif geometri garis dan bulatan polos. Perut buncit, memakai kain sepaha dan ikat pinggang bermotif geometri belah ketupat polos, bagian uncal diikatkan ke belakang pinggang.

3. Arca Macan 

Arca dipahat telungkup, seperti sedang tidur. Keempat kaki ditekuk ke depan,dengan ekor dikibaskan ke atas (bagian punggung), bentuk muka lonjong, mata bulat besar melotot, telinga lebar, hidung pesek, memakai kumis dan jenggot ikal, mulut lebar terbuka memperlihatkan gigi dan taring. Arca binatang ini merupakan salah satu wujud dari arca penjaga selain biasanya menggunakan wujud raksasa sebagai arca penjaga.

4. Arca Dwarapala III

Arca dipahatkan duduk tanpa sandaran dengan melipat kaki kanan di atas paha kaki kiri. Bentuk muka persegi, mata bulat besar, hidung besar pesek, bibir terbuka lebar memperlihatkan gigi dan taring, telinga besar dengan hiasan (simping) daun, rambut di pusung. Leher pendek, memakai upawita dari leher bersilangan di bagian depan arca ke bagian pinggang kanan dan kiri, memakai ikat perut polos. Sikap tangan kaku menempel di badan, tangan kanan mengarah ke depan dan bagian pergelangan tangan patah, tangan kiri menempel ke badan mengarah ke depan dan dikepalkan di depan dada. kedua tangan memakai gelang lengan (keyura) motif sulur, dan gelang tangan (kankana) polos. Sikap kaki duduk diatas batu seperti duduk diatas batu, pada bagian bawah perut terlihat kain (uncal) teruntai ke bawah sampai lapik dengan motif garis, tumpal segitiga terbalik dengan motif suluran. 

5. Arca Dwarapala IV 

Arca dipahatkan duduk tanpa sandaran dengan kedua kaki ditekuk di atas lapik segi empat dengan motif garis-garis geometris membentuk segitiga dan suluran daun tanpa sandaran. Bentuk muka persegi, mata bulat besar, hidung besar pesek, bibir terbuka lebar memperlihatkan gigi dan taring, telinga besar dengan hiasan (simping) daun, rambut di pusung. Leher pendek, memakai upawita dari leher bersilangan di bagian depan arca ke bagian pinggang kanan dan kiri, pada bagian upawita belakang terdapat motif tumpal, memakai ikat perut polos. Sikap tangan kaku menempel di badan, tangan kanan mengarah ke depan dengan membawa gada, tangan kiri menempel ke badan mengarah ke depan bagian pergelangan patah. kedua tangan memakai gelang lengan (keyura) motif tumpal, dan gelang tangan (kankana) polos. Sikap kaki seperti duduk diatas batu, dengan kaki kanan dinaikan di atas paha kiri, pada bagian bawah perut terlihat kain (uncal) teruntai ke bawah sampai lapik.

6. Arca Dwarapala V 

Arca dipahatkan bersimpuh di atas lapik persegi, mata bulat melotot, hidung besar, mulut terbuka bertaring, pada bagian kepala memakai jamang yang diikatkan sampai kebelakang kepala, rambut lurus dengan bagian ujung yang ikal. Memakai hiasan telinga (simping) yang lebar, memakai anting-anting, memakai kalung (hara) dengan motif sulur, tanpa busana. Sikap tangan kanan ditekuk menyilang didepan dada ke bahu kanan membawa kapak, tangan kiri ditekuk di sebelah badan mengarah ke depan dan bagian telapak tangan menempel pada lutut kaki kiri. Kedua tangan memakai gelang lengan dan gelang tangan dengan motif geometris garis polos dan segitiga polos. Terlihat memakai kain dari pinggang di masukan ke belakang polos tanpa motif. Sikap kaki kanan ditekuk ke depan, kaki kanan ditekuk kebelakang, dan kedua kaki menggunakan gelang dengan motif geometris garis polos susun tiga.

7. Arca Dwarapala VI

Arca dipahatkan duduk dengan melipat kaki ke depan dan ke belakang di atas lapik persegi. Bentuk muka bulat, mata bulat melotot, hidung besar, mulut terbuka bertaring, pada bagian kepala memakai jamang yang diikatkan sampai kebelakang kepala, rambut lurus dengan bagian ujung yang ikal. Memakai hiasan telinga (simping) yang lebar, memakai anting-anting, memakai kalung (hara) dengan motif sulur, tanpa busana. Sikap tangan kanan ditekuk ke atas dengan membawa gada menempel di kepala tanpa motif (polos), tangan kiri ditekuk di sebelah badan mengarah ke depan dan bagian telapak tangan menempel pada lutut kaki kiri. Kedua tangan memakai gelang lengan dan gelang tangan dengan motif geometris garis polos dan segitiga polos. Terlihat memakai kain dari pinggang di masukan ke belakang polos tanpa motif. Sikap kaki kanan ditekuk ke depan, kaki kanan ditekuk kebelakang, dan kedua kaki menggunakan gelang dengan motif geometris garis polos dan segitiga polos.

8. Fragmen Arca Terakota

Fragmen arca  ini merupakan bagian kepala arca terakota, terlihat bentuk muka persegi, alis tebal, mata bulat, hidung mancung, bibir tebal terbuka memperlihatkan gigi, berkumis. Bagian rambut nampaknya diikat menjadi satu (dipusung) pada bagian tengah kepala, terdapat hiasan bintang bersudut empat di kening, kedua telinga patah. Saat ini bagian kepala ini ditempel dengan semen pada sebuah batu andesit dan diletakkan di areal kebun dekat sumur di sisi timur. 

9. Arca Tokoh 

Arca dipahatkan berdiri di atas lapik persegi tanpa sandaran. Bentuk kepala bulat lonjong, dengan rambut jambul pada bagian depan, mata bulat melotot, hidung pesek, mulut terbuka dengan lidah menjulur keluar (terlihat seperti tertawa mengejek). Telinga panjang sampai ke bahu, sikap tangan kanan memegang kepala belakang, sikap tangan kiri memegang perut, tanpa menggunakan busana (telanjang), perut buncit, memperlihatkan kemaluan (palus). Tipe arca seperti ini berkembang periode abad ke 19 (modern), hanya saja dengan sifat arca yang memperlihatkan kemaluan seperti ini merupakan tipe-tipe arca yang sudah ada dan berkembang pada periode sebelumnya seperti pada masa-masa prasejarah, dan masa Bali Pertengahan abad 15 masehi. Sikap menunjukan kemaluan ini merupakan simbol dari penolak bala (bencana/bahaya), yang biasanya dimunculkan pada arca-arca penjaga (dwarapala), ada juga sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran.

1. Arca Dwarapala I

Arca dipahatkan duduk kedua kaki ditekuk di atas lapik persegi polos tanpa sandaran (stela). Bentuk muka bulat, mata besar melotot, alis tebal, hidung besar, bibir tebal terbuka memperlihatkan taring, telinga lebar memakai simping dan anting-anting berbentuk bunga. Bentuk rambut ikal dipusung tiga, dan sisanya terurai di belakang sampai punggung. Memakai kalung (hara) motif garis polos, perut buncit, memakai ikat perut motif garis polos. Sikap tangan kanan lurus kaku ke bawah memegang lutut kaki kanan memakai gelang tangan (kankana) motif garis polos, sikap tangan kiri agak ditekuk dan telapak tangan memegang perut memakai gelang tangan (kankana) motif garis polos. 

1. Arca Dwarapala I

Arca dipahatkan duduk kedua kaki ditekuk di atas lapik persegi polos tanpa sandaran (stela). Bentuk muka bulat, mata besar melotot, alis tebal, hidung besar, bibir tebal terbuka memperlihatkan taring, telinga lebar memakai simping dan anting-anting berbentuk bunga. Bentuk rambut ikal dipusung tiga, dan sisanya terurai di belakang sampai punggung. Memakai kalung (hara) motif garis polos, perut buncit, memakai ikat perut motif garis polos. Sikap tangan kanan lurus kaku ke bawah memegang lutut kaki kanan memakai gelang tangan (kankana) motif garis polos, sikap tangan kiri agak ditekuk dan telapak tangan memegang perut memakai gelang tangan (kankana) motif garis polos. 

2. Arca Dwarapala II

Arca dipahatkan duduk tanpa sandaran di atas lapik persegi dengan kaki kiri ditekuk ke atas. Bentuk muka bulat, dengan mata bulat besar melotot, alis tebal, hidung besar, bibir tebal, mulut terbuka memperlihatkan taring. Bagian kepala atas tidak ditumbuhi rambut (botak), bagian rambut tumbuh di bagian pinggir saja, dengan bentuk ikal dan panjang terurai di bagian punggung. Telinga kecil memakai hiasan telinga (simping) dan anting-anting (kundala) ceplok bunga dan ron ronan (daun). Berjenggot ikal panjang sampai ke bagian dada. sikap tangan kanan ditekuk dengan telapak tangan dikepal memakai gelang tangan (kankana) motif geometri garis dan bulatan polos. Sikap tangan kiri lurus dengan telapak tangan memegang lutut memakai gelang tangan (kankana) motif geometri garis dan bulatan polos. Perut buncit, memakai kain sepaha dan ikat pinggang bermotif geometri belah ketupat polos, bagian uncal diikatkan ke belakang pinggang.

2. Arca Dwarapala II

Arca dipahatkan duduk tanpa sandaran di atas lapik persegi dengan kaki kiri ditekuk ke atas. Bentuk muka bulat, dengan mata bulat besar melotot, alis tebal, hidung besar, bibir tebal, mulut terbuka memperlihatkan taring. Bagian kepala atas tidak ditumbuhi rambut (botak), bagian rambut tumbuh di bagian pinggir saja, dengan bentuk ikal dan panjang terurai di bagian punggung. Telinga kecil memakai hiasan telinga (simping) dan anting-anting (kundala) ceplok bunga dan ron ronan (daun). Berjenggot ikal panjang sampai ke bagian dada. sikap tangan kanan ditekuk dengan telapak tangan dikepal memakai gelang tangan (kankana) motif geometri garis dan bulatan polos. Sikap tangan kiri lurus dengan telapak tangan memegang lutut memakai gelang tangan (kankana) motif geometri garis dan bulatan polos. Perut buncit, memakai kain sepaha dan ikat pinggang bermotif geometri belah ketupat polos, bagian uncal diikatkan ke belakang pinggang.

3. Arca Macan 

Arca dipahat telungkup, seperti sedang tidur. Keempat kaki ditekuk ke depan,dengan ekor dikibaskan ke atas (bagian punggung), bentuk muka lonjong, mata bulat besar melotot, telinga lebar, hidung pesek, memakai kumis dan jenggot ikal, mulut lebar terbuka memperlihatkan gigi dan taring. Arca binatang ini merupakan salah satu wujud dari arca penjaga selain biasanya menggunakan wujud raksasa sebagai arca penjaga.

3. Arca Macan 

Arca dipahat telungkup, seperti sedang tidur. Keempat kaki ditekuk ke depan,dengan ekor dikibaskan ke atas (bagian punggung), bentuk muka lonjong, mata bulat besar melotot, telinga lebar, hidung pesek, memakai kumis dan jenggot ikal, mulut lebar terbuka memperlihatkan gigi dan taring. Arca binatang ini merupakan salah satu wujud dari arca penjaga selain biasanya menggunakan wujud raksasa sebagai arca penjaga.

4. Arca Dwarapala III

Arca dipahatkan duduk tanpa sandaran dengan melipat kaki kanan di atas paha kaki kiri. Bentuk muka persegi, mata bulat besar, hidung besar pesek, bibir terbuka lebar memperlihatkan gigi dan taring, telinga besar dengan hiasan (simping) daun, rambut di pusung. Leher pendek, memakai upawita dari leher bersilangan di bagian depan arca ke bagian pinggang kanan dan kiri, memakai ikat perut polos. Sikap tangan kaku menempel di badan, tangan kanan mengarah ke depan dan bagian pergelangan tangan patah, tangan kiri menempel ke badan mengarah ke depan dan dikepalkan di depan dada. kedua tangan memakai gelang lengan (keyura) motif sulur, dan gelang tangan (kankana) polos. Sikap kaki duduk diatas batu seperti duduk diatas batu, pada bagian bawah perut terlihat kain (uncal) teruntai ke bawah sampai lapik dengan motif garis, tumpal segitiga terbalik dengan motif suluran. 

4. Arca Dwarapala III

Arca dipahatkan duduk tanpa sandaran dengan melipat kaki kanan di atas paha kaki kiri. Bentuk muka persegi, mata bulat besar, hidung besar pesek, bibir terbuka lebar memperlihatkan gigi dan taring, telinga besar dengan hiasan (simping) daun, rambut di pusung. Leher pendek, memakai upawita dari leher bersilangan di bagian depan arca ke bagian pinggang kanan dan kiri, memakai ikat perut polos. Sikap tangan kaku menempel di badan, tangan kanan mengarah ke depan dan bagian pergelangan tangan patah, tangan kiri menempel ke badan mengarah ke depan dan dikepalkan di depan dada. kedua tangan memakai gelang lengan (keyura) motif sulur, dan gelang tangan (kankana) polos. Sikap kaki duduk diatas batu seperti duduk diatas batu, pada bagian bawah perut terlihat kain (uncal) teruntai ke bawah sampai lapik dengan motif garis, tumpal segitiga terbalik dengan motif suluran. 

5. Arca Dwarapala IV 

Arca dipahatkan duduk tanpa sandaran dengan kedua kaki ditekuk di atas lapik segi empat dengan motif garis-garis geometris membentuk segitiga dan suluran daun tanpa sandaran. Bentuk muka persegi, mata bulat besar, hidung besar pesek, bibir terbuka lebar memperlihatkan gigi dan taring, telinga besar dengan hiasan (simping) daun, rambut di pusung. Leher pendek, memakai upawita dari leher bersilangan di bagian depan arca ke bagian pinggang kanan dan kiri, pada bagian upawita belakang terdapat motif tumpal, memakai ikat perut polos. Sikap tangan kaku menempel di badan, tangan kanan mengarah ke depan dengan membawa gada, tangan kiri menempel ke badan mengarah ke depan bagian pergelangan patah. kedua tangan memakai gelang lengan (keyura) motif tumpal, dan gelang tangan (kankana) polos. Sikap kaki seperti duduk diatas batu, dengan kaki kanan dinaikan di atas paha kiri, pada bagian bawah perut terlihat kain (uncal) teruntai ke bawah sampai lapik.

5. Arca Dwarapala IV 

Arca dipahatkan duduk tanpa sandaran dengan kedua kaki ditekuk di atas lapik segi empat dengan motif garis-garis geometris membentuk segitiga dan suluran daun tanpa sandaran. Bentuk muka persegi, mata bulat besar, hidung besar pesek, bibir terbuka lebar memperlihatkan gigi dan taring, telinga besar dengan hiasan (simping) daun, rambut di pusung. Leher pendek, memakai upawita dari leher bersilangan di bagian depan arca ke bagian pinggang kanan dan kiri, pada bagian upawita belakang terdapat motif tumpal, memakai ikat perut polos. Sikap tangan kaku menempel di badan, tangan kanan mengarah ke depan dengan membawa gada, tangan kiri menempel ke badan mengarah ke depan bagian pergelangan patah. kedua tangan memakai gelang lengan (keyura) motif tumpal, dan gelang tangan (kankana) polos. Sikap kaki seperti duduk diatas batu, dengan kaki kanan dinaikan di atas paha kiri, pada bagian bawah perut terlihat kain (uncal) teruntai ke bawah sampai lapik.

6. Arca Dwarapala V 

Arca dipahatkan bersimpuh di atas lapik persegi, mata bulat melotot, hidung besar, mulut terbuka bertaring, pada bagian kepala memakai jamang yang diikatkan sampai kebelakang kepala, rambut lurus dengan bagian ujung yang ikal. Memakai hiasan telinga (simping) yang lebar, memakai anting-anting, memakai kalung (hara) dengan motif sulur, tanpa busana. Sikap tangan kanan ditekuk menyilang didepan dada ke bahu kanan membawa kapak, tangan kiri ditekuk di sebelah badan mengarah ke depan dan bagian telapak tangan menempel pada lutut kaki kiri. Kedua tangan memakai gelang lengan dan gelang tangan dengan motif geometris garis polos dan segitiga polos. Terlihat memakai kain dari pinggang di masukan ke belakang polos tanpa motif. Sikap kaki kanan ditekuk ke depan, kaki kanan ditekuk kebelakang, dan kedua kaki menggunakan gelang dengan motif geometris garis polos susun tiga.

6. Arca Dwarapala V 

Arca dipahatkan bersimpuh di atas lapik persegi, mata bulat melotot, hidung besar, mulut terbuka bertaring, pada bagian kepala memakai jamang yang diikatkan sampai kebelakang kepala, rambut lurus dengan bagian ujung yang ikal. Memakai hiasan telinga (simping) yang lebar, memakai anting-anting, memakai kalung (hara) dengan motif sulur, tanpa busana. Sikap tangan kanan ditekuk menyilang didepan dada ke bahu kanan membawa kapak, tangan kiri ditekuk di sebelah badan mengarah ke depan dan bagian telapak tangan menempel pada lutut kaki kiri. Kedua tangan memakai gelang lengan dan gelang tangan dengan motif geometris garis polos dan segitiga polos. Terlihat memakai kain dari pinggang di masukan ke belakang polos tanpa motif. Sikap kaki kanan ditekuk ke depan, kaki kanan ditekuk kebelakang, dan kedua kaki menggunakan gelang dengan motif geometris garis polos susun tiga.

7. Arca Dwarapala VI

Arca dipahatkan duduk dengan melipat kaki ke depan dan ke belakang di atas lapik persegi. Bentuk muka bulat, mata bulat melotot, hidung besar, mulut terbuka bertaring, pada bagian kepala memakai jamang yang diikatkan sampai kebelakang kepala, rambut lurus dengan bagian ujung yang ikal. Memakai hiasan telinga (simping) yang lebar, memakai anting-anting, memakai kalung (hara) dengan motif sulur, tanpa busana. Sikap tangan kanan ditekuk ke atas dengan membawa gada menempel di kepala tanpa motif (polos), tangan kiri ditekuk di sebelah badan mengarah ke depan dan bagian telapak tangan menempel pada lutut kaki kiri. Kedua tangan memakai gelang lengan dan gelang tangan dengan motif geometris garis polos dan segitiga polos. Terlihat memakai kain dari pinggang di masukan ke belakang polos tanpa motif. Sikap kaki kanan ditekuk ke depan, kaki kanan ditekuk kebelakang, dan kedua kaki menggunakan gelang dengan motif geometris garis polos dan segitiga polos.

7. Arca Dwarapala VI

Arca dipahatkan duduk dengan melipat kaki ke depan dan ke belakang di atas lapik persegi. Bentuk muka bulat, mata bulat melotot, hidung besar, mulut terbuka bertaring, pada bagian kepala memakai jamang yang diikatkan sampai kebelakang kepala, rambut lurus dengan bagian ujung yang ikal. Memakai hiasan telinga (simping) yang lebar, memakai anting-anting, memakai kalung (hara) dengan motif sulur, tanpa busana. Sikap tangan kanan ditekuk ke atas dengan membawa gada menempel di kepala tanpa motif (polos), tangan kiri ditekuk di sebelah badan mengarah ke depan dan bagian telapak tangan menempel pada lutut kaki kiri. Kedua tangan memakai gelang lengan dan gelang tangan dengan motif geometris garis polos dan segitiga polos. Terlihat memakai kain dari pinggang di masukan ke belakang polos tanpa motif. Sikap kaki kanan ditekuk ke depan, kaki kanan ditekuk kebelakang, dan kedua kaki menggunakan gelang dengan motif geometris garis polos dan segitiga polos.

8. Fragmen Arca Terakota

Fragmen arca  ini merupakan bagian kepala arca terakota, terlihat bentuk muka persegi, alis tebal, mata bulat, hidung mancung, bibir tebal terbuka memperlihatkan gigi, berkumis. Bagian rambut nampaknya diikat menjadi satu (dipusung) pada bagian tengah kepala, terdapat hiasan bintang bersudut empat di kening, kedua telinga patah. Saat ini bagian kepala ini ditempel dengan semen pada sebuah batu andesit dan diletakkan di areal kebun dekat sumur di sisi timur. 

8. Fragmen Arca Terakota

Fragmen arca  ini merupakan bagian kepala arca terakota, terlihat bentuk muka persegi, alis tebal, mata bulat, hidung mancung, bibir tebal terbuka memperlihatkan gigi, berkumis. Bagian rambut nampaknya diikat menjadi satu (dipusung) pada bagian tengah kepala, terdapat hiasan bintang bersudut empat di kening, kedua telinga patah. Saat ini bagian kepala ini ditempel dengan semen pada sebuah batu andesit dan diletakkan di areal kebun dekat sumur di sisi timur. 

9. Arca Tokoh 

Arca dipahatkan berdiri di atas lapik persegi tanpa sandaran. Bentuk kepala bulat lonjong, dengan rambut jambul pada bagian depan, mata bulat melotot, hidung pesek, mulut terbuka dengan lidah menjulur keluar (terlihat seperti tertawa mengejek). Telinga panjang sampai ke bahu, sikap tangan kanan memegang kepala belakang, sikap tangan kiri memegang perut, tanpa menggunakan busana (telanjang), perut buncit, memperlihatkan kemaluan (palus). Tipe arca seperti ini berkembang periode abad ke 19 (modern), hanya saja dengan sifat arca yang memperlihatkan kemaluan seperti ini merupakan tipe-tipe arca yang sudah ada dan berkembang pada periode sebelumnya seperti pada masa-masa prasejarah, dan masa Bali Pertengahan abad 15 masehi. Sikap menunjukan kemaluan ini merupakan simbol dari penolak bala (bencana/bahaya), yang biasanya dimunculkan pada arca-arca penjaga (dwarapala), ada juga sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran.

9. Arca Tokoh 

Arca dipahatkan berdiri di atas lapik persegi tanpa sandaran. Bentuk kepala bulat lonjong, dengan rambut jambul pada bagian depan, mata bulat melotot, hidung pesek, mulut terbuka dengan lidah menjulur keluar (terlihat seperti tertawa mengejek). Telinga panjang sampai ke bahu, sikap tangan kanan memegang kepala belakang, sikap tangan kiri memegang perut, tanpa menggunakan busana (telanjang), perut buncit, memperlihatkan kemaluan (palus). Tipe arca seperti ini berkembang periode abad ke 19 (modern), hanya saja dengan sifat arca yang memperlihatkan kemaluan seperti ini merupakan tipe-tipe arca yang sudah ada dan berkembang pada periode sebelumnya seperti pada masa-masa prasejarah, dan masa Bali Pertengahan abad 15 masehi. Sikap menunjukan kemaluan ini merupakan simbol dari penolak bala (bencana/bahaya), yang biasanya dimunculkan pada arca-arca penjaga (dwarapala), ada juga sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran.