Pura Puseh Desa lan Bale Agung Tonja

Pura Puseh Desa lan Bale Agung merupakan Pura Khayangan Tiga di Desa Adat Tonja, secara etimologi Khayangan Tiga terdiri dari dua kata yaitu khayangan dan tiga. Khayangan berasal dari kata yang berarti suci mendapatkan awalan ka dan akhiran an yang menunjukan tempat dan tiga artinya tiga. Arti selengkapnya adalah tiga buah tempat suci, yaitu Pura Desa atau Pura Bale Agung, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Fungsi Pura Desa adalah tempat pemujaan Dewa Brahma dalam fungsinya sebagai pencipta alam semesta, Pura Puseh adalah tempat pemujaan Dewa Wisnu dalam fungsinya sebagai pemelihara alam semesta, dan Pura Dalem adalah tempat memuja Dewa Siwa serta sakti dengan fungsi sebagai pelebur alam semesta. Piodalan Pura Puseh Desa lan Bale Agung Puseh Tonja dilaksanakan pada hari Purnama Sasih Kasa.

Pura Puseh Desa lan Bale Agung Tonja secara administratif terletak di Jl. Seroja, Gang Tunas Mekar, Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar. Secara geografis berada pada titik koordinat geografis 50 L 03605209, 9045475 UTM, 66 Mdpl. Struktur pura ini terdiri dari dua halaman, yaitu halaman jeroan dan jaba tengah, sedangkan halaman yang paling luar, yaitu jaba sisi merupakan halaman terbuka. Secara simbolis tiga halaman ini dihubungkan dengan konsep Tri Bhuwana yaitu tingkatan alam semesta atau makrokosmos (bhuwana agung). Jaba sisi melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, jaba tengah melambangkan bwahloka yaitu alam pitra atau roh, alam peralihan, sedangkan Jeroan melambangkan swah loka alam para dewa atau dunia baka. 

 1. Gedong Ratu Gede Desa

Gedong Ratu Gede Desa merupakan bangunan suci yang diperuntukkan atau tempat berstananya manifestasi Tuhan dalam wujud Dewa Brahma sebagai sang pencipta alam semesta, terbuat dari susunan batu bata dengan kombinasi batu padas, tiang terbuat dari kayu dan atap mempergunakan bahan ijuk.  Tiang penyangga dan ornamen lainnya yang terbuat dari kayu diberikan pewarna berupa prada emas, dan warna biru. Pada bagian atas dari pintu dihiasi dengan karang boma. Bangunan gedong terdiri dari bagian bebaturan, kaki, badan, dan atap. Terlihat bentuk bangunan tambun tanpa ornamen (polos) pada bagian badan sehingga terkesan sederhana. Selasar Gedong Ratu Gede Desa sisi depan diletakkan 3 Arca Ganesha dan 1 Arca Dewi Durga.

2. Arca Ganesha I

Arca dipahatkan duduk wirasana di atas lapik segi polos, bersandar pada stella berbentuk lingkaran, menggunakan mahkota jatamakuta berupa jalinan rambut menyerupai mahkota dengan ikatan ardha candra kapala (bulan sabit dan tengkorak) yang merupakan ciri khas dari keluarga Siwa. Terlihat prabha sinar kedewataan yang polos di belakang mahkota. Telinga lebar, mata bulat kecil, terdapat dua gading pada mulut, gading sebelah kanan patah dan yang sebelah kiri utuh. Terlihat belalai menjuntai ke arah kiri dengan ujungnya menyentuh mangkok. Memiliki empat tangan, dua tangan belakang muncul dari siku dan masing-masing membawa atribut dewa, tangan kanan membawa parasu, tangan kiri membawa bunga padma. Dua tangan depan masing-masing membawa atribut padma mekar dan tangan kiri depan membawa patra lengkap isinya.

3. Arca Dewi Durga 

Arca dipahatkan berdiri di atas lapik persegi polos lengkap dengan sandaran (stela), bibir tipis tersenyum, memakai mahkota rambut yang dipusung (jata makuta) dengan hiasan ardhacandra kapala (tengkorak bulan sabit), memakai jamang dengan motif ceplok bunga, terdapat prabha (sinar kedewataan) di belakang kepala. Arca Dewi Durga bertangan delapan,  masing-masing membawa atribut dewa, dimulai dari tangan kiri depan dengan sikap ditekuk mengarah ke depan perut bagian telapak tangan aus, tangan kedua membawa camara (pengusir lalat), tangan ketiga membawa perisai, tangan keempat membawa busur. Sikap tangan kanan depan lurus ke bawah memegang pedang, tangan kedua memegang cakra, tangan ketiga memegang trisula, tangan keempat memegang anak panah. Kedua tangan depan memakai gelang tangan keyura motif ceplok bunga. Keenam tangan lainnya muncul dari bagian siku, seperti tangan bayangan tanpa lengan.

4. Arca Perwujudan Bhatari

Arca perwujudan Bhatari dipahatkan berdiri samabhanga diatas lapik persegi polos. Bentuk tubuh ramping, terlihat memakai memakai mahkota tetapi aus, telinga memakai kundala sebatas bahu dengan simping menempel pada stella. Arca memakai kain dari pinggang sampai pergelangan kaki bersusun tiga, didepan kain terdapat uncal dan disamping kanan kiri pinggang terdapat sampur menjulur ke bawah sampai dilapik.  

5. Arca Ganesha II

Arca Ganesha dipahatkan duduk wirasana di atas lapik bulat dengan motif padma ganda, wajah sangat rusak, belalai patah, kedua pergelangan tangan depan patah, kedua tangan bagian belakang patah, perut buncit, pergelangan kaki memakai gelang berbentuk genitri (tasbih). 

6. Arca Ganesha III

Arca Ganesha dipahatkan duduk wirasana di atas lapik bulat bermotif padma ganda, bagian wajah arca sudah rusak, terlihat dua gading pada mulut dengan kondisi aus, belalai menjulur ke arah kiri menyentuh mangkuk di atas telapak tangan kiri, kedua tangan bagian belakang patah, perut buncit, pergelangan kaki memakai gelang berbentuk genitri (tasbih).

7. Arca – arca di Pelinggih Ratu Panji

Pelinggih Ratu Panji terletak di sebelah selatan Gedong Ratu Gede Desa. Bentuk pelinggih ini berupa bebaturan persegi dengan bahan beton. Pelinggih ini menyimpan banyak fragmen-fragmen arca yang sudah rusak, seperti arca perwujudan bhatara – bhatari bagian kaki ataupun kepalanya saja, ada juga fragmen arca Siwa Mahaguru dengan ciri jenggot dan mahkota jatamakuta, ada juga dua arca perwujudan membawa ayam, dan fragmen kemuncak bangunan. Jika dilihat dari ciri-ciri ikonografinya, arca-arca ini berasal dari abad XI – XV Masehi.

8. Arca di Pelinggih Ratu Ayu Mas Maketel

Arca juga ditemukan di Pura Ratu Biang Susunan yang masih satu arel dengan Pura Puseh Desa lan Bale Agung Puseh Tonja dan masih memiliki kaitan yang erat. Arca dipahatkan sangat sederhana, mengingatkan kita pada arca-arca primitif dari zaman prasejarah. Arca  dipahatkan duduk dengan kedua telapak kaki saling bertemu di atas lapik persegi polos, tangan seperti sujud di depan dada, bentuk muka bulat, mata besar terbuka, hidung pesek, bibir tebal dengan rambut terurai di belakang. Tipe-tipe arca seperti ini biasanya disebut dengan tipe arca Polinesia yang merupakan produksi dari zaman prasejarah pada masa perundagian tradisi megalitik. Namun untuk perkembangan selanjutnya tipe-tipe arca ini muncul kembali pada masa Bali Pertengahan di Bali dan cenderung berkembang pada saat pengaruh Majapahit di Bali sekitar abad XIV – XVII Masehi, atau pada daerah-daerah pedalaman dan jauh dari pusat pemerintahan (kerajaan). Arca ini merupakan sebuah simbol atau perwujudan dari roh nenek moyang atau seorang tokoh yang dihormati semasa hidupnya, yang telah mencapai alam roh.

9. Arca di Pelinggih Meru Ratu Puseh

Pelinggih Meru Ratu Puseh terletak di sisi utara, ditemukan sebuah arca duduk bersimpuh di atas lapik persegi polos, kepala arca sudah patah hilang, bagian siku kanan patah dengan sikap tangan ditekuk ditaruh di atas paha, tangan kiri lurus ke depan dengan telapak tangan ditaruh diatas paha.

1. Gedong Ratu Gede Desa

Gedong Ratu Gede Desa merupakan bangunan suci yang diperuntukkan atau tempat berstananya manifestasi Tuhan dalam wujud Dewa Brahma sebagai sang pencipta alam semesta, terbuat dari susunan batu bata dengan kombinasi batu padas, tiang terbuat dari kayu dan atap mempergunakan bahan ijuk.  Tiang penyangga dan ornamen lainnya yang terbuat dari kayu diberikan pewarna berupa prada emas, dan warna biru. Pada bagian atas dari pintu dihiasi dengan karang boma. Bangunan gedong terdiri dari bagian bebaturan, kaki, badan, dan atap. Terlihat bentuk bangunan tambun tanpa ornamen (polos) pada bagian badan sehingga terkesan sederhana. Selasar Gedong Ratu Gede Desa sisi depan diletakkan 3 Arca Ganesha dan 1 Arca Dewi Durga.

 2. Arca Ganesha I

Arca dipahatkan duduk wirasana di atas lapik segi polos, bersandar pada stella berbentuk lingkaran, menggunakan mahkota jatamakuta berupa jalinan rambut menyerupai mahkota dengan ikatan ardha candra kapala (bulan sabit dan tengkorak) yang merupakan ciri khas dari keluarga Siwa. Terlihat prabha sinar kedewataan yang polos di belakang mahkota. Telinga lebar, mata bulat kecil, terdapat dua gading pada mulut, gading sebelah kanan patah dan yang sebelah kiri utuh. Terlihat belalai menjuntai ke arah kiri dengan ujungnya menyentuh mangkok. Memiliki empat tangan, dua tangan belakang muncul dari siku dan masing-masing membawa atribut dewa, tangan kanan membawa parasu, tangan kiri membawa bunga padma. Dua tangan depan masing-masing membawa atribut padma mekar dan tangan kiri depan membawa patra lengkap isinya.

3. Arca Dewi Durga 

Arca dipahatkan berdiri di atas lapik persegi polos lengkap dengan sandaran (stela), bibir tipis tersenyum, memakai mahkota rambut yang dipusung (jata makuta) dengan hiasan ardhacandra kapala (tengkorak bulan sabit), memakai jamang dengan motif ceplok bunga, terdapat prabha (sinar kedewataan) di belakang kepala. Arca Dewi Durga bertangan delapan,  masing-masing membawa atribut dewa, dimulai dari tangan kiri depan dengan sikap ditekuk mengarah ke depan perut bagian telapak tangan aus, tangan kedua membawa camara (pengusir lalat), tangan ketiga membawa perisai, tangan keempat membawa busur. Sikap tangan kanan depan lurus ke bawah memegang pedang, tangan kedua memegang cakra, tangan ketiga memegang trisula, tangan keempat memegang anak panah. Kedua tangan depan memakai gelang tangan keyura motif ceplok bunga. Keenam tangan lainnya muncul dari bagian siku, seperti tangan bayangan tanpa lengan.

5. Arca Ganesha II

Arca Ganesha dipahatkan duduk wirasana di atas lapik bulat dengan motif padma ganda, wajah sangat rusak, belalai patah, kedua pergelangan tangan depan patah, kedua tangan bagian belakang patah, perut buncit, pergelangan kaki memakai gelang berbentuk genitri (tasbih). 

5. Arca Ganesha II

Arca Ganesha dipahatkan duduk wirasana di atas lapik bulat dengan motif padma ganda, wajah sangat rusak, belalai patah, kedua pergelangan tangan depan patah, kedua tangan bagian belakang patah, perut buncit, pergelangan kaki memakai gelang berbentuk genitri (tasbih). 

6. Arca Ganesha III

Arca Ganesha dipahatkan duduk wirasana di atas lapik bulat bermotif padma ganda, bagian wajah arca sudah rusak, terlihat dua gading pada mulut dengan kondisi aus, belalai menjulur ke arah kiri menyentuh mangkuk di atas telapak tangan kiri, kedua tangan bagian belakang patah, perut buncit, pergelangan kaki memakai gelang berbentuk genitri (tasbih).

7. Arca – arca di Pelinggih Ratu Panji

Pelinggih Ratu Panji terletak di sebelah selatan Gedong Ratu Gede Desa. Bentuk pelinggih ini berupa bebaturan persegi dengan bahan beton. Pelinggih ini menyimpan banyak fragmen-fragmen arca yang sudah rusak, seperti arca perwujudan bhatara – bhatari bagian kaki ataupun kepalanya saja, ada juga fragmen arca Siwa Mahaguru dengan ciri jenggot dan mahkota jatamakuta, ada juga dua arca perwujudan membawa ayam, dan fragmen kemuncak bangunan. Jika dilihat dari ciri-ciri ikonografinya, arca-arca ini berasal dari abad XI – XV Masehi.

8. Arca di Pelinggih Ratu Ayu Mas Maketel

Arca juga ditemukan di Pura Ratu Biang Susunan yang masih satu arel dengan Pura Puseh Desa lan Bale Agung Puseh Tonja dan masih memiliki kaitan yang erat. Arca dipahatkan sangat sederhana, mengingatkan kita pada arca-arca primitif dari zaman prasejarah. Arca  dipahatkan duduk dengan kedua telapak kaki saling bertemu di atas lapik persegi polos, tangan seperti sujud di depan dada, bentuk muka bulat, mata besar terbuka, hidung pesek, bibir tebal dengan rambut terurai di belakang. Tipe-tipe arca seperti ini biasanya disebut dengan tipe arca Polinesia yang merupakan produksi dari zaman prasejarah pada masa perundagian tradisi megalitik. Namun untuk perkembangan selanjutnya tipe-tipe arca ini muncul kembali pada masa Bali Pertengahan di Bali dan cenderung berkembang pada saat pengaruh Majapahit di Bali sekitar abad XIV – XVII Masehi, atau pada daerah-daerah pedalaman dan jauh dari pusat pemerintahan (kerajaan). Arca ini merupakan sebuah simbol atau perwujudan dari roh nenek moyang atau seorang tokoh yang dihormati semasa hidupnya, yang telah mencapai alam roh.

9. Arca di Pelinggih Meru Ratu Puseh

Pelinggih Meru Ratu Puseh terletak di sisi utara, ditemukan sebuah arca duduk bersimpuh di atas lapik persegi polos, kepala arca sudah patah hilang, bagian siku kanan patah dengan sikap tangan ditekuk ditaruh di atas paha, tangan kiri lurus ke depan dengan telapak tangan ditaruh diatas paha.

 1. Gedong Ratu Gede Desa

Gedong Ratu Gede Desa merupakan bangunan suci yang diperuntukkan atau tempat berstananya manifestasi Tuhan dalam wujud Dewa Brahma sebagai sang pencipta alam semesta, terbuat dari susunan batu bata dengan kombinasi batu padas, tiang terbuat dari kayu dan atap mempergunakan bahan ijuk.  Tiang penyangga dan ornamen lainnya yang terbuat dari kayu diberikan pewarna berupa prada emas, dan warna biru. Pada bagian atas dari pintu dihiasi dengan karang boma. Bangunan gedong terdiri dari bagian bebaturan, kaki, badan, dan atap. Terlihat bentuk bangunan tambun tanpa ornamen (polos) pada bagian badan sehingga terkesan sederhana. Selasar Gedong Ratu Gede Desa sisi depan diletakkan 3 Arca Ganesha dan 1 Arca Dewi Durga.

 2. Arca Ganesha I

Arca dipahatkan duduk wirasana di atas lapik segi polos, bersandar pada stella berbentuk lingkaran, menggunakan mahkota jatamakuta berupa jalinan rambut menyerupai mahkota dengan ikatan ardha candra kapala (bulan sabit dan tengkorak) yang merupakan ciri khas dari keluarga Siwa. Terlihat prabha sinar kedewataan yang polos di belakang mahkota. Telinga lebar, mata bulat kecil, terdapat dua gading pada mulut, gading sebelah kanan patah dan yang sebelah kiri utuh. Terlihat belalai menjuntai ke arah kiri dengan ujungnya menyentuh mangkok. Memiliki empat tangan, dua tangan belakang muncul dari siku dan masing-masing membawa atribut dewa, tangan kanan membawa parasu, tangan kiri membawa bunga padma. Dua tangan depan masing-masing membawa atribut padma mekar dan tangan kiri depan membawa patra lengkap isinya.

3. Arca Dewi Durga 

Arca dipahatkan berdiri di atas lapik persegi polos lengkap dengan sandaran (stela), bibir tipis tersenyum, memakai mahkota rambut yang dipusung (jata makuta) dengan hiasan ardhacandra kapala (tengkorak bulan sabit), memakai jamang dengan motif ceplok bunga, terdapat prabha (sinar kedewataan) di belakang kepala. Arca Dewi Durga bertangan delapan,  masing-masing membawa atribut dewa, dimulai dari tangan kiri depan dengan sikap ditekuk mengarah ke depan perut bagian telapak tangan aus, tangan kedua membawa camara (pengusir lalat), tangan ketiga membawa perisai, tangan keempat membawa busur. Sikap tangan kanan depan lurus ke bawah memegang pedang, tangan kedua memegang cakra, tangan ketiga memegang trisula, tangan keempat memegang anak panah. Kedua tangan depan memakai gelang tangan keyura motif ceplok bunga. Keenam tangan lainnya muncul dari bagian siku, seperti tangan bayangan tanpa lengan.

4. Arca Perwujudan Bhatari

Arca perwujudan Bhatari dipahatkan berdiri samabhanga diatas lapik persegi polos. Bentuk tubuh ramping, terlihat memakai memakai mahkota tetapi aus, telinga memakai kundala sebatas bahu dengan simping menempel pada stella. Arca memakai kain dari pinggang sampai pergelangan kaki bersusun tiga, didepan kain terdapat uncal dan disamping kanan kiri pinggang terdapat sampur menjulur ke bawah sampai dilapik.  

5. Arca Ganesha II

Arca Ganesha dipahatkan duduk wirasana di atas lapik bulat dengan motif padma ganda, wajah sangat rusak, belalai patah, kedua pergelangan tangan depan patah, kedua tangan bagian belakang patah, perut buncit, pergelangan kaki memakai gelang berbentuk genitri (tasbih). 

6. Arca Ganesha III

Arca Ganesha dipahatkan duduk wirasana di atas lapik bulat bermotif padma ganda, bagian wajah arca sudah rusak, terlihat dua gading pada mulut dengan kondisi aus, belalai menjulur ke arah kiri menyentuh mangkuk di atas telapak tangan kiri, kedua tangan bagian belakang patah, perut buncit, pergelangan kaki memakai gelang berbentuk genitri (tasbih).

7. Arca – arca di Pelinggih Ratu Panji

Pelinggih Ratu Panji terletak di sebelah selatan Gedong Ratu Gede Desa. Bentuk pelinggih ini berupa bebaturan persegi dengan bahan beton. Pelinggih ini menyimpan banyak fragmen-fragmen arca yang sudah rusak, seperti arca perwujudan bhatara – bhatari bagian kaki ataupun kepalanya saja, ada juga fragmen arca Siwa Mahaguru dengan ciri jenggot dan mahkota jatamakuta, ada juga dua arca perwujudan membawa ayam, dan fragmen kemuncak bangunan. Jika dilihat dari ciri-ciri ikonografinya, arca-arca ini berasal dari abad XI – XV Masehi.

8. Arca di Pelinggih Ratu Ayu Mas Maketel

Arca juga ditemukan di Pura Ratu Biang Susunan yang masih satu arel dengan Pura Puseh Desa lan Bale Agung Puseh Tonja dan masih memiliki kaitan yang erat. Arca dipahatkan sangat sederhana, mengingatkan kita pada arca-arca primitif dari zaman prasejarah. Arca  dipahatkan duduk dengan kedua telapak kaki saling bertemu di atas lapik persegi polos, tangan seperti sujud di depan dada, bentuk muka bulat, mata besar terbuka, hidung pesek, bibir tebal dengan rambut terurai di belakang. Tipe-tipe arca seperti ini biasanya disebut dengan tipe arca Polinesia yang merupakan produksi dari zaman prasejarah pada masa perundagian tradisi megalitik. Namun untuk perkembangan selanjutnya tipe-tipe arca ini muncul kembali pada masa Bali Pertengahan di Bali dan cenderung berkembang pada saat pengaruh Majapahit di Bali sekitar abad XIV – XVII Masehi, atau pada daerah-daerah pedalaman dan jauh dari pusat pemerintahan (kerajaan). Arca ini merupakan sebuah simbol atau perwujudan dari roh nenek moyang atau seorang tokoh yang dihormati semasa hidupnya, yang telah mencapai alam roh.

9. Arca di Pelinggih Meru Ratu Puseh

Pelinggih Meru Ratu Puseh terletak di sisi utara, ditemukan sebuah arca duduk bersimpuh di atas lapik persegi polos, kepala arca sudah patah hilang, bagian siku kanan patah dengan sikap tangan ditekuk ditaruh di atas paha, tangan kiri lurus ke depan dengan telapak tangan ditaruh diatas paha.

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *