Sejarah Kesiman

Tjokorda Sakti Kesiman (1862)

Kesiman sebagai wilayah secara administratif terletak di Kota Denpasar, menurut Eka Ilikita Desa Adat kesiman (1990) menyebutkan nama Kesiman berasal dari kata Ku dan Sima, istilah ini tercantum dalam Babad Wanggayah yang menceritakan Ida Dalem Batu Ireng.Ida Dalem Batu Ireng di Taman Hyang Batur membangun prahyangan bernama Dalem Tungkub yang disungsung oleh para Pasek Dangka. Kemudian dari Taman Hyang Batur beliau melanjutkan perjalanan ke Bukit Bali, Batu Belig, dan Sumerta. Kedatangan Ida Dalem Batu Ireng di Desa Sumerta tidak dihiraukan oleh Anglurah Bongaya, kemudian melanjutkan perjalanan berkelana angider bhuwana (angrebong) menuju Desa Tangkas mencari sungai dan meniatkan diri untuk moksa menggunakan media air, karena menurutnya moksa menggunakan air adalah jalan terbaik dan mampu membwa berkah. Sungai  tersebut kemudian bernama Sungai Ayu atau We Ayu, “we” berarti air dan “ayu” berarti kedamaian, sekarang sungai tersebut dikenal dengan Sungai Ayung. Setelah Ida Dalem Batu Ireng  mencapai moksa, para pengikutnya endirikan sebuah tugu peringatan berupa batu besar yang dinamakan Batu Sima. Ketiga keturunan Dalem Batu Ireng mengikuti yadnya moksa di Sungai Ayung, kemudian Bendesa Mas dan Gaduh membangun grema (desa pakraman) bernama Pendem lengkap dengan Prahyangan Desa Puseh dan Manik Aji di hutan ambengan Abian Nangka (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 3-4).

Ketika Adipati Sri Aji Kresna Kepakisan telah menjadi Adipati Majapahit di Bali, salah satu pendampingnya yaitu Arya Wang Bang mendirikan puri di tepi Sungai Ayung tepat di tempat Ida Dalem Batu Ireng Moksa. Arya Wang Bang Pinatih Majapahit disana bertemu dengan masyarakat Bali dengan menyatakan diri adalah utusan dari Sang Prabhu Majapahit untuk melanjutkan Sima Krama yang dijalankan oleh masyarakat Bali di wilayah kekuasaan Dalem Batu Ireng, wilayah tersebut bernama Ngerebongan. Setelah Arya Wang Bang  menerima warisan dari Ida Dalem Batu Ireng (Dalem Moksa) di tepi Sungai Ayung, kemudian Arya Wang Bang mengukuhkan tempat peninggalan Ida Dalem Batu Ireng dengan nama Kusima dan tempat inti Ida Dalem Batu Ireng moksa apengrebongan bernama Amuter Bhuana. Arya Wang Bang menegaskan arti Kusima, yaitu “ku” berarti kukuh atau kuat dan “sima” merupakan wilayah Prahyangan Dalem Muter. Prahyangan yang dibangun oleh Arya Wang Bang di tepi Sungai Ayung selesai pada hari Wrespati wuku Sungsang (Sugihan Jawa), sebagai penanda masyarakat Bali yang berasal dari Jawa melaksanakan upacara piodalan Sugihan Jawa. Kemudian kata Kusima lama kelamaan disebut dengan Kesiman hingga saat ini (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 4).

Kesiman dengan perjalanan sejarahnya yang cukup panjang  dimulai dari kesiman sebagai kerajaan, distrik, kecamatan, kelurahan/desa, dan hingga desa adat secara kronologi perlu juga dijabarkan terlebih dahulu sejarah singkat peradaban Kota Denpasar, karena secara administratif  Kesiman berada di Kota Denpasar. Berdirinya Puri Denpasar pada tahun 1788 dengan menobatkan I Gusti Ngurah Made sebagai Raja dengan abhiseka gelar I Gusti Ngurah Made Pemecutan (1788-1813) karena berasal dari keturunan Pemecutan. Pengganti I Gusti Ngurah Made Pemecutan di Puri Denpasar adalah I Gusti Gde Ngurah dengan abhiseka I Gusti Ngurah Jambe (1813-1817) sebagai Raja Denpasar II, sedangkan adiknya yang bernama I Gusti Gde Kesiman mendirikan puri di sisi timur Kerajaan Badung yang bernama Puri Kesiman pada tahun 1813 (Geriya dkk, 2011 dalam Amerta dkk, 2018: 11-12).

Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)

I Gusti Gde Kesiman sebagai Raja Kesiman I pernah menjadi wali raja Kerajaan Badung, ketika I Gusti Ngurah Jambe sebagai Raja Denpasar II meninggal pada tahun 1817, digantikan oleh I Gusti Made Ngurah pada tahun 1817-1829 sebagai Raja Denpasar III, karena masih kecil tapuk pemerintahan dikendalikan oleh pamannya di Puri Kesiman. Pengaruh I Gusti Gde Kesiman dapat menciptakan kerjasama atas dasar saling pengertian antara tiga puri di Kerajaan Badung, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman. Hal ini membuat Kerajaan badung memiliki kekuatan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangga. Kemampuannya dalam berbahas melayu juga membuat I Gusti Gde Kesiman mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing yang datang berniaga ke Kerajaan Badung (Gora Sirikan, II, ANRI, 1964 dalam Geriya dkk, 2011: 38-39)

Ketika I Gusti Gde Ngurah naik tahta menjadi Raja Denpasar IV pada tahun 1829 bergelar Cokorda Denpasar dan pada tahun 1865 setelah I Gusti Gde Kesiman meninggal, pucuk pimpinan Kerajaan Badung mulai pindah ke Puri Denpasar. Setidaknya di Puri Denpasar ada tiga raja lagi yang memerintah sebelum meletusnya perang Puputan Badung pada tahun 1906, yaitu I Gusti Gde Ngurah sebagai Raja Denpasar V (1963-1883), dan I Gusti Alit Ngurah sebagai Raja Denpasar VI (1883-1902) dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan, kemudian diganti oleh I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar VII pada tahun 1902 hingga akhirnya gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906. Selain Raja Denpasar VII yaitu I Gusti Ngurah Made Agung, gugur juga I Gusti Ngurah Pemecutan (1890-20 September 1906) sebagai Raja Pemecutan VIII, sedangkan sebelum itu pada 18 September 1906 Raja Kesiman yaitu I Gusti Ngurah Agung/I Gusti Gde Ngurah Kesiman telah mendahului gugur tertusuk keris di dalam puri.

Pasca perang Puputan Badung pada tahun 1906 Kerajaan Badung dengan tiga purinya, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman secara resmi menjadi wilayah koloni Pemerintah Kolonial Belanda. Pengaruh-pengaruh kolonial Belanda mulai diterapkan seperti membangun perkampungan pendatang, museum, sekolah, perkantoran, pasar, pelabuhan, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Kota Denpasar digunakan untuk menyebut ibukota afdeling Bali Selatan, situs bekas Puri Denpasar dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat afdeling dan onderafdeling beserta pejabatnya, yaitu Asisten Residen dan Kontrolir (Boon, 1938 dalam Geriya dkk, 2011: 63-64). Kesiman juga menjadi salah satu nama distrik, yaitu Distrik Kesiman membawahi yang berkedudukan di Benculuk, Tegehkuri, dan Tonja dipimpin oleh seorang Punggawa bernama Jero Gede Rai dari Singaraja. Sekitar tahun 1920 Kantor Distrik Kesiman dipindahkan ke Bencingah Puri Kesiman (sekarang Kantor Camat Denpasar Timur). Adapun urutan yang menjabat di Distrik Kesiman antara lain I Gusti Ngurah Gde Kesiman (1921 – bulan Mei 1954), I Gusti Ngurah Anom Pacung (1954 – 12 Desember 196), I Gusti Ketut Redung, (1960 – 1963), I Gusti Kompyang Rogig Sugriwa (1963 – 1965), dan I Gusti Gde Ngurah (1965 – 1970).

Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)

Sekitar tahun 1970 Distrik Kesiman berubah nama menjadi Kecamatan Kesiman dengan mewilayahi 11 desa yaitu Desa Kesiman, Desa Tonja, Desa Penatih, Desa Sumerta, Desa Sanur, Desa Renon, Desa Sesetan, Desa Panjer, Desa Serangan, Desa Ubung, dan Desa Peguyangan. Pada tahun 1978 terjadi pemekaran kecamatan di Kota Denpasar yang pada awalnya hanya ada dua, yaitu Kecamatan Denpasar dan Kecamatan Kesiman dimekarkan menjadi tiga, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Kecamatan Denpasar Timur, dan Kecamatan Denpasar Selatan. Setelah adanya pemekaran kecamatan dilanjutkan dengan pemekaran desa serta perubahan status desa menjadi kelurahan, maka Kesiman yang awalnya merupakan kecamatan berubah menjadi Kelurahan Kesiman pada tanggal 1 Desember 1979, serta ditambah dengan dua desa pemekaran, yaitu Desa Kesiman Petilan dan Desa Kesiman Kertalangu dengan secara adat dinaungi oleh Desa Adat Kesiman di wilayah Kecamatan Denpasar Timur.

Kesiman sebagai wilayah secara administratif terletak di Kota Denpasar, menurut Eka Ilikita Desa Adat kesiman (1990) menyebutkan nama Kesiman berasal dari kata Ku dan Sima, istilah ini tercantum dalam Babad Wanggayah yang menceritakan Ida Dalem Batu Ireng.Ida Dalem Batu Ireng di Taman Hyang Batur membangun prahyangan bernama Dalem Tungkub yang disungsung oleh para Pasek Dangka. Kemudian dari Taman Hyang Batur beliau melanjutkan perjalanan ke Bukit Bali, Batu Belig, dan Sumerta. Kedatangan Ida Dalem Batu Ireng di Desa Sumerta tidak dihiraukan oleh Anglurah Bongaya, kemudian melanjutkan perjalanan berkelana angider bhuwana (angrebong) menuju Desa Tangkas mencari sungai dan meniatkan diri untuk moksa menggunakan media air, karena menurutnya moksa menggunakan air adalah jalan terbaik dan mampu membwa berkah. Sungai  tersebut kemudian bernama Sungai Ayu atau We Ayu, “we” berarti air dan “ayu” berarti kedamaian, sekarang sungai tersebut dikenal dengan Sungai Ayung. Setelah Ida Dalem Batu Ireng  mencapai moksa, para pengikutnya endirikan sebuah tugu peringatan berupa batu besar yang dinamakan Batu Sima. Ketiga keturunan Dalem Batu Ireng mengikuti yadnya moksa di Sungai Ayung, kemudian Bendesa Mas dan Gaduh membangun grema (desa pakraman) bernama Pendem lengkap dengan Prahyangan Desa Puseh dan Manik Aji di hutan ambengan Abian Nangka (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 3-4).

Ketika Adipati Sri Aji Kresna Kepakisan telah menjadi Adipati Majapahit di Bali, salah satu pendampingnya yaitu Arya Wang Bang mendirikan puri di tepi Sungai Ayung tepat di tempat Ida Dalem Batu Ireng Moksa. Arya Wang Bang Pinatih Majapahit disana bertemu dengan masyarakat Bali dengan menyatakan diri adalah utusan dari Sang Prabhu Majapahit untuk melanjutkan Sima Krama yang dijalankan oleh masyarakat Bali di wilayah kekuasaan Dalem Batu Ireng, wilayah tersebut bernama Ngerebongan. Setelah Arya Wang Bang  menerima warisan dari Ida Dalem Batu Ireng (Dalem Moksa) di tepi Sungai Ayung, kemudian Arya Wang Bang mengukuhkan tempat peninggalan Ida Dalem Batu Ireng dengan nama Kusima dan tempat inti Ida Dalem Batu Ireng moksa apengrebongan bernama Amuter Bhuana. Arya Wang Bang menegaskan arti Kusima, yaitu “ku” berarti kukuh atau kuat dan “sima” merupakan wilayah Prahyangan Dalem Muter. Prahyangan yang dibangun oleh Arya Wang Bang di tepi Sungai Ayung selesai pada hari Wrespati wuku Sungsang (Sugihan Jawa), sebagai penanda masyarakat Bali yang berasal dari Jawa melaksanakan upacara piodalan Sugihan Jawa. Kemudian kata Kusima lama kelamaan disebut dengan Kesiman hingga saat ini (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 4).

Kesiman dengan perjalanan sejarahnya yang cukup panjang  dimulai dari kesiman sebagai kerajaan, distrik, kecamatan, kelurahan/desa, dan hingga desa adat secara kronologi perlu juga dijabarkan terlebih dahulu sejarah singkat peradaban Kota Denpasar, karena secara administratif  Kesiman berada di Kota Denpasar. Berdirinya Puri Denpasar pada tahun 1788 dengan menobatkan I Gusti Ngurah Made sebagai Raja dengan abhiseka gelar I Gusti Ngurah Made Pemecutan (1788-1813) karena berasal dari keturunan Pemecutan. Pengganti I Gusti Ngurah Made Pemecutan di Puri Denpasar adalah I Gusti Gde Ngurah dengan abhiseka I Gusti Ngurah Jambe (1813-1817) sebagai Raja Denpasar II, sedangkan adiknya yang bernama I Gusti Gde Kesiman mendirikan puri di sisi timur Kerajaan Badung yang bernama Puri Kesiman pada tahun 1813 (Geriya dkk, 2011 dalam Amerta dkk, 2018: 11-12).


Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)
Tjokorda Sakti Kesiman (1862)

I Gusti Gde Kesiman sebagai Raja Kesiman I pernah menjadi wali raja Kerajaan Badung, ketika I Gusti Ngurah Jambe sebagai Raja Denpasar II meninggal pada tahun 1817, digantikan oleh I Gusti Made Ngurah pada tahun 1817-1829 sebagai Raja Denpasar III, karena masih kecil tapuk pemerintahan dikendalikan oleh pamannya di Puri Kesiman. Pengaruh I Gusti Gde Kesiman dapat menciptakan kerjasama atas dasar saling pengertian antara tiga puri di Kerajaan Badung, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman. Hal ini membuat Kerajaan badung memiliki kekuatan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangga. Kemampuannya dalam berbahas melayu juga membuat I Gusti Gde Kesiman mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing yang datang berniaga ke Kerajaan Badung (Gora Sirikan, II, ANRI, 1964 dalam Geriya dkk, 2011: 38-39)

Ketika I Gusti Gde Ngurah naik tahta menjadi Raja Denpasar IV pada tahun 1829 bergelar Cokorda Denpasar dan pada tahun 1865 setelah I Gusti Gde Kesiman meninggal, pucuk pimpinan Kerajaan Badung mulai pindah ke Puri Denpasar. Setidaknya di Puri Denpasar ada tiga raja lagi yang memerintah sebelum meletusnya perang Puputan Badung pada tahun 1906, yaitu I Gusti Gde Ngurah sebagai Raja Denpasar V (1963-1883), dan I Gusti Alit Ngurah sebagai Raja Denpasar VI (1883-1902) dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan, kemudian diganti oleh I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar VII pada tahun 1902 hingga akhirnya gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906. Selain Raja Denpasar VII yaitu I Gusti Ngurah Made Agung, gugur juga I Gusti Ngurah Pemecutan (1890-20 September 1906) sebagai Raja Pemecutan VIII, sedangkan sebelum itu pada 18 September 1906 Raja Kesiman yaitu I Gusti Ngurah Agung/I Gusti Gde Ngurah Kesiman telah mendahului gugur tertusuk keris di dalam puri.

Pasca perang Puputan Badung pada tahun 1906 Kerajaan Badung dengan tiga purinya, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman secara resmi menjadi wilayah koloni Pemerintah Kolonial Belanda. Pengaruh-pengaruh kolonial Belanda mulai diterapkan seperti membangun perkampungan pendatang, museum, sekolah, perkantoran, pasar, pelabuhan, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Kota Denpasar digunakan untuk menyebut ibukota afdeling Bali Selatan, situs bekas Puri Denpasar dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat afdeling dan onderafdeling beserta pejabatnya, yaitu Asisten Residen dan Kontrolir (Boon, 1938 dalam Geriya dkk, 2011: 63-64). Kesiman juga menjadi salah satu nama distrik, yaitu Distrik Kesiman membawahi yang berkedudukan di Benculuk, Tegehkuri, dan Tonja dipimpin oleh seorang Punggawa bernama Jero Gede Rai dari Singaraja. Sekitar tahun 1920 Kantor Distrik Kesiman dipindahkan ke Bencingah Puri Kesiman (sekarang Kantor Camat Denpasar Timur). 

Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)

Adapun urutan yang menjabat di Distrik Kesiman antara lain I Gusti Ngurah Gde Kesiman (1921 – bulan Mei 1954), I Gusti Ngurah Anom Pacung (1954 – 12 Desember 196), I Gusti Ketut Redung, (1960 – 1963), I Gusti Kompyang Rogig Sugriwa (1963 – 1965), dan I Gusti Ngurah Gde (1965 – 1970).

Sekitar tahun 1970 Distrik Kesiman berubah nama menjadi Kecamatan Kesiman dengan mewilayahi 11 desa yaitu Desa Kesiman, Desa Tonja, Desa Penatih, Desa Sumerta, Desa Sanur, Desa Renon, Desa Sesetan, Desa Panjer, Desa Serangan, Desa Ubung, dan Desa Peguyangan. Pada tahun 1978 terjadi pemekaran kecamatan di Kota Denpasar yang pada awalnya hanya ada dua, yaitu Kecamatan Denpasar dan Kecamatan Kesiman dimekarkan menjadi tiga, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Kecamatan Denpasar Timur, dan Kecamatan Denpasar Selatan. Setelah adanya pemekaran kecamatan dilanjutkan dengan pemekaran desa serta perubahan status desa menjadi kelurahan, maka Kesiman yang awalnya merupakan kecamatan berubah menjadi Kelurahan Kesiman pada tanggal 1 Desember 1979, serta ditambah dengan dua desa pemekaran, yaitu Desa Kesiman Petilan dan Desa Kesiman Kertalangu dengan secara adat dinaungi oleh Desa Adat Kesiman di wilayah Kecamatan Denpasar Timur.

I Gusti Gde Kesiman sebagai Raja Kesiman I pernah menjadi wali raja Kerajaan Badung, ketika I Gusti Ngurah Jambe sebagai Raja Denpasar II meninggal pada tahun 1817, digantikan oleh I Gusti Made Ngurah pada tahun 1817-1829 sebagai Raja Denpasar III, karena masih kecil tapuk pemerintahan dikendalikan oleh pamannya di Puri Kesiman. Pengaruh I Gusti Gde Kesiman dapat menciptakan kerjasama atas dasar saling pengertian antara tiga puri di Kerajaan Badung, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman. Hal ini membuat Kerajaan badung memiliki kekuatan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangga. Kemampuannya dalam berbahas melayu juga membuat I Gusti Gde Kesiman mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing yang datang berniaga ke Kerajaan Badung (Gora Sirikan, II, ANRI, 1964 dalam Geriya dkk, 2011: 38-39)

Ketika I Gusti Gde Ngurah naik tahta menjadi Raja Denpasar IV pada tahun 1829 bergelar Cokorda Denpasar dan pada tahun 1865 setelah I Gusti Gde Kesiman meninggal, pucuk pimpinan Kerajaan Badung mulai pindah ke Puri Denpasar. Setidaknya di Puri Denpasar ada tiga raja lagi yang memerintah sebelum meletusnya perang Puputan Badung pada tahun 1906, yaitu I Gusti Gde Ngurah sebagai Raja Denpasar V (1963-1883), dan I Gusti Alit Ngurah sebagai Raja Denpasar VI (1883-1902) dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan, kemudian diganti oleh I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar VII pada tahun 1902 hingga akhirnya gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906. Selain Raja Denpasar VII yaitu I Gusti Ngurah Made Agung, gugur juga I Gusti Ngurah Pemecutan (1890-20 September 1906) sebagai Raja Pemecutan VIII, sedangkan sebelum itu pada 18 September 1906 Raja Kesiman yaitu I Gusti Ngurah Agung/I Gusti Gde Ngurah Kesiman telah mendahului gugur tertusuk keris di dalam puri.

Pasca perang Puputan Badung pada tahun 1906 Kerajaan Badung dengan tiga purinya, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman secara resmi menjadi wilayah koloni Pemerintah Kolonial Belanda. Pengaruh-pengaruh kolonial Belanda mulai diterapkan seperti membangun perkampungan pendatang, museum, sekolah, perkantoran, pasar, pelabuhan, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Kota Denpasar digunakan untuk menyebut ibukota afdeling Bali Selatan, situs bekas Puri Denpasar dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat afdeling dan onderafdeling beserta pejabatnya, yaitu Asisten Residen dan Kontrolir (Boon, 1938 dalam Geriya dkk, 2011: 63-64). Kesiman juga menjadi salah satu nama distrik, yaitu Distrik Kesiman membawahi yang berkedudukan di Benculuk, Tegehkuri, dan Tonja dipimpin oleh seorang Punggawa bernama Jero Gede Rai dari Singaraja. Sekitar tahun 1920 Kantor Distrik Kesiman dipindahkan ke Bencingah Puri Kesiman (sekarang Kantor Camat Denpasar Timur) . Adapun urutan yang menjabat di Distrik Kesiman antara lain I Gusti Ngurah Gde Kesiman (1921 – bulan Mei 1954), I Gusti Ngurah Anom Pacung (1954 – 12 Desember 196), I Gusti Ketut Redung, (1960 – 1963), I Gusti Kompyang Rogig Sugriwa (1963 – 1965), dan I Gusti Ngurah Gde (1965 – 1970). 

I Gusti Gde Kesiman sebagai Raja Kesiman I pernah menjadi wali raja Kerajaan Badung, ketika I Gusti Ngurah Jambe sebagai Raja Denpasar II meninggal pada tahun 1817, digantikan oleh I Gusti Made Ngurah pada tahun 1817-1829 sebagai Raja Denpasar III, karena masih kecil tapuk pemerintahan dikendalikan oleh pamannya di Puri Kesiman. Pengaruh I Gusti Gde Kesiman dapat menciptakan kerjasama atas dasar saling pengertian antara tiga puri di Kerajaan Badung, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman. Hal ini membuat Kerajaan badung memiliki kekuatan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangga. Kemampuannya dalam berbahas melayu juga membuat I Gusti Gde Kesiman mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing yang datang berniaga ke Kerajaan Badung (Gora Sirikan, II, ANRI, 1964 dalam Geriya dkk, 2011: 38-39)

Ketika I Gusti Gde Ngurah naik tahta menjadi Raja Denpasar IV pada tahun 1829 bergelar Cokorda Denpasar dan pada tahun 1865 setelah I Gusti Gde Kesiman meninggal, pucuk pimpinan Kerajaan Badung mulai pindah ke Puri Denpasar. Setidaknya di Puri Denpasar ada tiga raja lagi yang memerintah sebelum meletusnya perang Puputan Badung pada tahun 1906, yaitu I Gusti Gde Ngurah sebagai Raja Denpasar V (1963-1883), dan I Gusti Alit Ngurah sebagai Raja Denpasar VI (1883-1902) dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan, kemudian diganti oleh I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar VII pada tahun 1902 hingga akhirnya gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906. Selain Raja Denpasar VII yaitu I Gusti Ngurah Made Agung, gugur juga I Gusti Ngurah Pemecutan (1890-20 September 1906) sebagai Raja Pemecutan VIII, sedangkan sebelum itu pada 18 September 1906 Raja Kesiman yaitu I Gusti Ngurah Agung/I Gusti Gde Ngurah Kesiman telah mendahului gugur tertusuk keris di dalam puri.

Pasca perang Puputan Badung pada tahun 1906 Kerajaan Badung dengan tiga purinya, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman secara resmi menjadi wilayah koloni Pemerintah Kolonial Belanda. Pengaruh-pengaruh kolonial Belanda mulai diterapkan seperti membangun perkampungan pendatang, museum, sekolah, perkantoran, pasar, pelabuhan, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Kota Denpasar digunakan untuk menyebut ibukota afdeling Bali Selatan, situs bekas Puri Denpasar dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat afdeling dan onderafdeling beserta pejabatnya, yaitu Asisten Residen dan Kontrolir (Boon, 1938 dalam Geriya dkk, 2011: 63-64). Kesiman juga menjadi salah satu nama distrik, yaitu Distrik Kesiman membawahi yang berkedudukan di Benculuk, Tegehkuri, dan Tonja dipimpin oleh seorang Punggawa bernama Jero Gede Rai dari Singaraja. Sekitar tahun 1920 Kantor Distrik Kesiman dipindahkan ke Bencingah Puri Kesiman (sekarang Kantor Camat Denpasar Timur) . Adapun urutan yang menjabat di Distrik Kesiman antara lain I Gusti Ngurah Gde Kesiman (1921 – bulan Mei 1954), I Gusti Ngurah Anom Pacung (1954 – 12 Desember 196), I Gusti Ketut Redung, (1960 – 1963), I Gusti Kompyang Rogig Sugriwa (1963 – 1965), dan I Gusti Ngurah Gde (1965 – 1970). 

Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)

Sekitar tahun 1970 Distrik Kesiman berubah nama menjadi Kecamatan Kesiman dengan mewilayahi 11 desa yaitu Desa Kesiman, Desa Tonja, Desa Penatih, Desa Sumerta, Desa Sanur, Desa Renon, Desa Sesetan, Desa Panjer, Desa Serangan, Desa Ubung, dan Desa Peguyangan. Pada tahun 1978 terjadi pemekaran kecamatan di Kota Denpasar yang pada awalnya hanya ada dua, yaitu Kecamatan Denpasar dan Kecamatan Kesiman dimekarkan menjadi tiga, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Kecamatan Denpasar Timur, dan Kecamatan Denpasar Selatan. Setelah adanya pemekaran kecamatan dilanjutkan dengan pemekaran desa serta perubahan status desa menjadi kelurahan, maka Kesiman yang awalnya merupakan kecamatan berubah menjadi Kelurahan Kesiman pada tanggal 1 Desember 1979, serta ditambah dengan dua desa pemekaran, yaitu Desa Kesiman Petilan dan Desa Kesiman Kertalangu dengan secara adat dinaungi oleh Desa Adat Kesiman di wilayah Kecamatan Denpasar Timur.

 

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *