Bali-Icon17-scaled

Icon Mall Bali

ICON Bali Mall merupakan pusat belanja dan gaya hidup modern yang menghadirkan pengalaman berbeda di kawasan Sanur. Mengusung konsep terbuka bernuansa tropis, tempat ini dirancang untuk menyatu dengan lingkungan sekitar, menciptakan suasana yang lebih santai dan alami dibandingkan pusat perbelanjaan konvensional.

Tidak hanya sebagai destinasi belanja, ICON Bali Mall juga menggabungkan berbagai elemen gaya hidup dalam satu kawasan—mulai dari pilihan kuliner, ruang hiburan, hingga area berkumpul yang nyaman. Keunggulan utamanya terletak pada akses langsung ke pantai, yang memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan laut sambil beraktivitas, menjadikan pengalaman berbelanja terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Terletak di kawasan pesisir yang dikenal dengan ketenangan dan karakter klasik Bali, mall ini turut menghadirkan suasana khas Sanur yang identik dengan ritme santai dan panorama matahari terbit yang indah. Perpaduan antara desain modern, nuansa tropis, dan kedekatan dengan alam menjadikan ICON Bali Mall sebagai destinasi lifestyle yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memberikan pengalaman yang berkesan.

Img Source : https://lelcogroup.com/

Bali-Icon17-scaled

Icon Bali Mall

ICON Bali Mall merupakan pusat belanja dan gaya hidup modern yang menghadirkan pengalaman berbeda di kawasan Sanur. Mengusung konsep terbuka bernuansa tropis, tempat ini dirancang untuk menyatu dengan lingkungan sekitar, menciptakan suasana yang lebih santai dan alami dibandingkan pusat perbelanjaan konvensional.

Tidak hanya sebagai destinasi belanja, ICON Bali Mall juga menggabungkan berbagai elemen gaya hidup dalam satu kawasan—mulai dari pilihan kuliner, ruang hiburan, hingga area berkumpul yang nyaman. Keunggulan utamanya terletak pada akses langsung ke pantai, yang memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan laut sambil beraktivitas, menjadikan pengalaman berbelanja terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Terletak di kawasan pesisir yang dikenal dengan ketenangan dan karakter klasik Bali, mall ini turut menghadirkan suasana khas Sanur yang identik dengan ritme santai dan panorama matahari terbit yang indah. Perpaduan antara desain modern, nuansa tropis, dan kedekatan dengan alam menjadikan ICON Bali Mall sebagai destinasi lifestyle yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memberikan pengalaman yang berkesan.

Img Source : https://lelcogroup.com/

Menjelajahi TCEC Serangan: Wisata Edukasi dan Konservasi Penyu di Bali

TCEC Serangan merupakan lokasi tepat bagi anda penyuka wisata lingkungan. Lokasi ini merupakan sebuah pusat pendidikan, kawasan wisata, konservasi dan sebagai pusat penelitian penyu. Lebih tepatnya berada di Pulau Serangan, sekitar 30 menit arah selatan dari Kota Denpasar. Di penangkaran yang memiliki lahan seluas 2,4 hektare ini, Anda bisa berwisata sekaligus belajar mengenai penangkaran hewan penyu. Pengelola akan siap menjelaskan seluk beluk penyu dan dari mana saja penyu-penyu yang ditangkarkan disini berasal.

TCEC ini dibuka secara resmi pada 20 Januari 2006 oleh Gubernur Bali Bapak Dewa Berata. Tujuannya awalnya bukan untuk lokasi belajar melainkan untuk strategiu mengatasi perdagangan penyu. Adanya penangkaran ini supaya membantu masyarakat lokal Serangan membuat alternatif lain disamping bisnis perdagangan penyu. Sekarang keberadaanya jauh dari sekedar tempat penyelamatan. TCEC selain menjadi lokasi penyu yang diselamatkan dari alam karena kondisi sakit.

Pusat konservasi ini juga ikut menyelamatkan telor-telor penyu di kawasan pantai yang ramai pengunjung,dan membeli telor penyu dari masyarakat lokal. Telor penyu nantinya akan di  tetaskan di pusat penangkaran, bayi – bayi penyu ( tukik ) dirawat kurang lebih 1 bulan untuk di lepas bebaskan di alam. semua alasan kegiatan penyu dalam kepunahan akibat kegiatan manusia, tidak hanya memburu dan mengkomsumsi telor penyu dan juga polusi laut dan pembangunan kawasan peneloran dan penurunan papulasi yang sangat dramatis.

Jadi, TCEC ini sangat vital keberadaanya. Sangat disayangkan jika berwisata ke Denpasar tidak mampir di destinasi yang mudah ditempuh oleh berbagai sarana kendaraan ini dari bandara maupun wilayah lain di Bali.


Serunya Menjelajah Kampung Kuliner Seafood Serangan: Wisata Rasa Baru di Denpasar

Bosan dengan menu seafood itu-itu di Kedonganan maupun Jimbaran saja saat wisata ke Bali? Mungkin, destinasi kuliner terbaru di Kota Denpasar ini sangat patut Anda coba.  Namanya Kampung Kuliner Seafood Serangan. 

Sesuai namanya, lokasinya ada di Pulau Serangan. Dari bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Jika Anda hendak menuju Sanur maupun Gianyar, kampung ini pasti akan Anda lewati. Jadi sangat sayang jika dilewatkan. 

Untuk mencari lokasinya sangat mudah karena begitu Anda masuk Pulau Serangan, akan dituntun oleh papan penunjuk nama. Tepatnya berlokasi di Lapangan desa Serangan. Ada banyak pilihan menu makanan laut yang disajikan di destinasi baru ini.

Ada sebanyak 14 petak bangunan dengan total 28 kios kuliner disini. Disini ada banyak menu dapat dipilih. Sebagian besar kuliner yang disajikan adalah berbahan dari seafood. Seperti, kerang bakar, udang, ikan bakar, cumi bumbu bali dll. Semuanya disajikan oleh warga setempat yang sudah mewarisi racikan menu sejak turun temurun. Warung Kuliner ini buka mulai pukul 10.00 pagi hingga 22.00 petang.

Kampung Kuliner ini tidak hanya menyajikan menu makanan. Pemerintah Kota Denpasar berupaya menjadikannya sebagai one stop solution bagi wisatawan. Karena itu, di pinggirnya dilengkapi juga dengan jogging track. Tujuanya agar tidak hanya untuk tempat makan saja tetapi juga bersantai bersama keluarga. Jadi jangan lewatkan wisata terbaru ini.

 

Wisata Edukasi Subak TeBA Majalangu

Buat keluarga yang ingin memperkenalkan anak-anaknya dengan pembelajaran tentang alam khususnya pertanian. Inilah destinasi paling tepat dituju. Namanya Wisata Edukasi TeBA Majelangu. Destinasi ini milik Desa Kesiman Kertalangu yang terletak di kawasan jogging track Desa Budaya Kertalangu. Konsep tempat wisata ini adalah memberikan pelajaran bagi anak-anak tentang pertanian. Mereka bisa mengidentifikasi alat-alat pertanian, metodenya sampai praktek di lapangan. Semuanya bisa dilakukan di sini.

Jangan khawatir terkait berapa banyak aktivitas bisa dilakukan disini karena luasan lahannya mencapai 1,4 hektare. Anak-anak maupun orang tua dapat melakukan banyak hal. Karena disini terdapat Museum subak yang bertujuan memperkenalkan alat-alat pertanian tempo dulu yang digunakan dalam kegiatan pertanian. Museum subak akan menyajikan informasi mulai dari nama alat, fungsinya dan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran siswa nantinya di lapangan.

Selain itu ada Rumah bibit tempat pameran untuk menampilkan contoh bibit organik yang sudah dibuat oleh kelompok tani setempat. Pengunjung bisa melihat bagaimana bentuk bibit / tanaman apa saja yang ada di kawasan TeBA Majalangu dan diberikan edukasi secara umum berkaitan dengan fungsi dari masing-masing tanaman.

Selesai dari dua lokasi itu masih ada tempat memberi makan binatang. Disini terdapat beberapa binatang ternak dan menjadi salah satu kegiatan yang mengasikkan terutama untuk anak-anak. Dalam proses edukasi mereka juga akan di ajarkan jenis-jenis hewan yang biasanya di pergunakan dalam kegiatan upacara / upakara tradisional bali.

Kegiatan terakhir yang bisa dinikmati adalah permainan atau game outbond merupakan salah satu kegiatan yang paling disukai anak-anak yang bertujuan untuk melatih dan mengembangkan kepercayaan diri, keberanian dan daya kreatifitas anak-anak. Jadi tunggu apalagi, TeBA Majelangu sangat cocok buat keluarga yang rindu dengan aktivitas alam dan sangat mudah dijangkau dari Kota Denpasar.

Menikmati Seni dan Budaya di Taman Budaya Bali: Pusat Pementasan Terbesar di Denpasar

Taman Budaya Bali atau lebih dikenal dengan Taman Werdhi Budaya Art Centre Denpasar salah satu pusat pementasan seni tertua di Bali yang terletak di Jalan Nusa Indah, Kota Denpasar.

Kawasan Taman Budaya ini terdiri dari empat kompleks, yaitu kompleks suci, meliputi Pura Taman Beji, Bale Selonding, dan Bale Pepaosan. Kedua, kompleks tenang, meliputi Perpustaan Widya Kusuma. Ketiga, kompleks setengah ramai, meliputi Gedung Pameran Mahudara, Gedung Kriya, studio patung, wisma seni, dan wantilan. Keempat, kompleks ramai, meliputi panggung Ardha Candra dan Ksirarnawa.

Ardha Candra adalah panggung terbuka yang biasa digunakan untuk pementasan kolosal, pertunjukan musik, dan pentas seni lainnya. Panggung yang menjadi salah satu ikon di taman budaya ini bisa menampung hingga enam ribu penonton. Ksirarnawa adalah panggung tertutup yang bisa juga digunakan untuk pementasan kolosal. Fungsinya hampir sama dengan Ardha Candra, hanya bentuknya saja yang tertutup. Pemerintah Provinsi Bali, khususnya Gubernur Bali kerap menggelar acara akbar di sini.

Selain Ardha Candra dan Ksirarnawa, ada juga Kalangan Ratna Kanda dan Kalangan Ayodya yang merupakan pentas terbuka. Panggung ini biasa digunakan untuk pentas seni, seperti tarian, arja, dan joged.

Kompleks seluas 14 Hektare ini dibangun menggunakan arsitektur Bali, serta dihiasi relief-relief indah dan menarik. Di dalam gedung pameran pengunjung bisa menyaksikan berbagai jenis lukisan dan ukiran karya para seniman Bali. Ide pembangunan fasilitas ini adalah Gubernur Bali Ida Bagus Mantra yang terkenal sangat mencintai budaya Bali. Beliau juga menyumbangkan lahan seluas lima hektar (ha) untuk membangun kompleks yang dibuka sejak tahun 1973.

Saat ini, Taman Budaya Art Center menjadi satu-satunya lokasi pementasan seni budaya Bali paling lengkap di Kota Denpasar.

Tempat ini dibuka setiap hari, mulai pagi hingga sore. Saat tepat berkunjung ke sini adalah ketika pelaksanaan Pekan Kesenian Bali (PKB) yang digelar setiap tahun tepatnya bulan Juni hingga Juli. Karena saat itulah perwakilan seniman dari sembilan kabupaten kota di Bali datang menampilkan kesenian khas daerah masing-masing, mulai dari seni tari, musik, ukir, lukisan, wayang, hingga makanan tradisional.

Menelusuri Sejarah dan Tradisi di Pura Petilan Pengerobongan: Dari Penjor Megah hingga Tari Ngurek

Sering penasaran saat melihat video viral penjor-penjor besar dan cantik dipajang bersamaan? Jika Anda penasaran dimana lokasi tersebut. Kami informasikan bahwa lokasi itu berada di Kesiman. Tepatnya di Pura Petilan Pengerobongan. Pura ini berlokasi di Desa Kesiman di Denpasar Timur. Aktivitas pemasangan penjor nan indah berukuran besar tersebut hanya segelintir aktivitas di pura ini.

Pura yang terletak di sisi utara Jalan WR. Supratman, Denpasar tersebut memiliki nilai sejarah dan tradisi unik yakni Ngerebong setiap Redite Pon Medangsia. Selain terkenal dengan pemasangan penjor berukuran besar, salah satu budaya menarik pura ini adalah Tari Ngurek atau Ngunying. Di Pura Pengerebongan tradisi menari setengah trance dengan menggunakan keris pada saat-saat tertentu.

Pura Petilan atau yang lebih dikenal dengan nama Pura Pangrebongan merupakan salah satu pura di Denpasar yang keberadaannya sangat erat kaitannya dengan sejarah PuriKesiman. Putra Raja Badung yang kemudian menjadi Raja di Kesiman dengan gelar Cokorda Kesiman atau Batara Inggas mendirikan puri baru di sebelah barat Puri Kedaton atau Puri Kesiman Baru. Untuk menguatkan dukungan rakyat di Kesiman, maka tempat pemujaan di wilayah Kesiman pun diperbaiki.

Di bagian timur Pura Petilan dibangun tempat pemujaan warga Pasek, Warga Gaduh, Warga Dangka. Demikian juga tempat pemujaan yang ada hubungannya dengan Pura Petilan dipugar oleh Raja. Pura tersebut antara lain Pura Kedaton, Pura Urasana, Pura Kesiman, dan Pura Tojan. Demikian juga upacara di Pura Petilan diteruskan dan saat upacara, Raja pun bersama rakyat ikut bersembahyang bersama-sama di Pura Petilan. Pengrebongan arca penambahan raja juga ikut diusung dan distanakan di Gedung Agung bersama arca Dalem Kesiman.

Di Pura Petilan Kesiman terdapat pelinggih gedong agung yang terletak di tengah-tengah dengan dasar bedawang nala tempat menstanakan arca. Ada juga gedong di sebelah gedong agung tempat menstanakan pura manca pengerob dan semua pecanangan atau pratima dari seluruh pura di daerah kesiman saat upacara pengerebongan di Pura Petilan.

Pura Petilan sangat menarik karena sebagai pemersatu rakyat, dalam hal ini warga Kelurahan Kesiman dengan berbagai soroh atau warga dengan berbagai profesinya. Mereka disatukan atas dasar kekuatan keagamaan seperti keberadaan pura yang tidak hanya berfungsi sebagai media pemujaan pada Tuhan dan roh suci leluhur, melainkan juga untuk menjangkau aspek sosial budaya.

Hutan Mangrove Bali atau Taman Hutan Raya Ngurah Rai: Destinasi Wisata Alam yang Memadukan Sejarah, Keindahan, dan Konservasi

Salah satu wisata alam di Kota Denpasar jangan pernah Anda lewatkan. Karena, destinasi ini pernah menjadi lokasi bersejarah tempat berkumpulkan kepala-kepala negara anggota G-20 seperti Presiden Amerika Serikat Joe Biden berkumpul, berfoto bersama dan menanam mangrove bersama. Inilah Hutan Mangrove Bali atau Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai. Lokasinya ada di Jalan By Pass Ngurah Rai, Km 21, Suwung Kauh Desa Pemogan, Kuta, Denpasar. Jika hendak masuk lokasi ini, perhatian petunjuk berupa papan besar bertulisan G-20.

Ada berbagai aktivitas dapat Anda nikmati di taman Mangrove seluas 1.373 hektare dengan panjang 1,5 kilometer ini. Disini Anda bisa berjalan menyusuri mangrove track yang terbuat dari susunan kayu di atas hutan mangrove. Pengunjung bisa mengamati dan mengidentifikasi aneka tanaman bakau di kiri dan kanannnya. Titik mangrove track ini adalah pemandangan Jalan Tol Bali Mandara.

Pengunjung juga bisa rehat sejenak sembari menghirup udara segar di tower khusus di tengah hutan. Tower ini juga instagramable, sehingga banyak dijadikan latar belakang untuk berswafoto. Dari puncak tower pengunjung bisa menikmati keindahan alam hutan bakau dari atas. Aktivitas lain yang bisa dicoba disini adalah menyewa jukung milik nelayan. Di hutan mangrove ini terdapat perahu-perahu ini milik Kelompok Nelayan Segara Guna Batu Lumbang dengan anggota mencapai 40 orang.

Wisatawan diajak berkeliling hutan bakau selama 25-30 menit, bahkan melintasi bawah Tol Bali Mandara. Kelompok Nelayan Guna Batu Lumbang juga memiliki area pembibitan tanaman mangrove. Mereka akan menanami kembali tanaman mangrove yang mati atau rusak. Penanaman mangrove dilakukan hingga ke pelosok-pelosok hutan sembari menggunakan perahu atau kano.

Ada setidaknya 16 jenis vegetasi bakau di Hutan Mangrove Bali didominasi Rhizophora, Bruguiera, dan Xylocarpus. Keberadaannya memberi naungan terhadap satwa air dan darat di sekitarnya. Unit Pelaksana Teknis Taman Hutan Raya Ngurah Rai mencatat sekitar 61 jenis burung, empat reptil, 30 jenis Crustacease, dan delapan jenis ikan hidup di dalamnya.

Menarik kan beraktivitas di Hutan Mangrove Denpasar? Siapa bilang wisata di Denpasar hanya soal budaya dan pantai. Masih ada hutan Mangrove yang layak dikunjungi.

 

Mengungkap Pesona Pasar Sindu Sanur: Tempat Kuliner Favorit Wisatawan Mancanegara dan Lokal

Buang dulu kesan jorok dan kotor saat mendengar Pasar Sindu Sanur. Semua kesan itu dapat dijamin tidak ada di pasar ini. Justru sebaliknya, Anda akan mendapatkan kesan istimewa. Di Pasar Sindu Sanur, pengunjung justru akan terkesima karena banyak wisatawan mancanegara layaknyaa warga lokal. Tidak heran kalau pasar ini dijuluki Pasar Senggolnya Bule.

Pasar Sindu Sanur Pasar Sindhu yang berada di Jalan Danau Toba No.17 Sanur, Bali. Pasar Sindu berdiri di atas lahan seluas 51 are untuk menampung 361 pedagang yang sebagian besar merupakan masyarakat lokal. Pada pagi hari, pasar ini menjual berbagai kebutuhan pokok. Saat malam hari, pelataran pasar disulap menjadi pasar senggol. Pasar diresmikan oleh Menteri Perdagangan RI Marie Elka Pangestu pada 4 tahun2010. Saat itu tujuannya menjadikan Pasar Sindu menjadi pasar yang ramah dan segar.

Jauh dari kesan pasar tradisional, pasar ini terbilang istimewa karena dikenal dengan kebersihannya. Pasar Sindu kini tidak saja dikenal ramah dan segar tetapi juga pasar bagi wisatawan. Khususnya saat pasar dibuka pada malam hari. Saat malam hari, pasar ini menyajikan aneka hidangan kuliner tradisional dari pada pedagangan kaki lima dengan harga yang terjangkau.

Adapun beberapa makanan unggulan yang menjadi primadona di Pasar Malam Sindu antara lain mi ayam, nasi goreng, bakso, sate, gulai kambing, hingga es buah. Lokasinya yang berada di destinasi utama Bali, yakni Sanur menjadikan Pasar Sindhu sering menjadi tujuan bagi wisatawan internasional berbelanja. Mereka berbaur dengan masyarakat lokal dan wisatawan domestic menikmati sajian kulier lokal. Kebersihan dan kerapian para pedagang ini membuat wisatawan menjadi nyaman sehingga jauh dari kesan jorok dan tidak beraturan.

Jangan kaget ketika suatu ketika Anda mampir untuk menikmati suguhan kuliner Pasar Sindu tiba-tiba duduk berdekatan dengan wisatawan mancanegara. Jika tidak percaya, bisa dibuktikan segera.

Makam Ratu Ayu Siti Khodijah: Kisah Multikulturalisme dan Legenda di Kota Denpasar

Makam Ratu Ayu Siti Khodijah ini merupakan bukti multikuralisme sudah sejak lama ada di Kota Denpasar. Makam ini berada di utara Setra Agung Badung, Desa Pekraman Denpasar. Tepatnya di sebelah timur Pura Dalem Kahyangan Denpasar.

Ratu Ayu Siti Khodijah Pemecutan, merupakan makam salah satu putri Raja Pemecutan bernama Gusti Ayu Made Rai atau disebut juga dengan Raden Ayu Pemecutan. Namun tidak jelas dari Raja Pemecutan yang mana. Ia menikah dengan putra Raja Bangkalan yang bernama Raden Sosroningrat. Setelah pernikahan mereka, Dewi Ayu diajak ke Madura, memeluk agama Islam dan berganti nama menjadi Siti Khotijah.

Cerita awal sang Raden Ayu Pemecutan, seperti cerita legenda putri-putri keraton di seluruh nusantara. Sang putri terkenal cantik dan disayang hingga menjadi kembang kerajaan. Tak sedikit para pembesar kerajaan di Bali yang ingin meminang sang putri. Namun musibah datang, sang putri mengidap penyakit kuning. Raja Pemecutan berusaha untuk menyembuhkan sang anak kesayangan, namun tak berhasil menyembuhkan sang putri. Hingga Raja Pemecutan membuat sebuah sayembara yang bisa menyembuhkan penyakit sang putri, jika perempuan akan diangkat jadi anak raja dan jika laki-laki akan di kawinkan dengan Raden Ayu Pemecutan.

Kabar tentang sayembara ini terdengar oleh seorang ulama di Yogyakarta dan mempunyai seorang anak didik yang jadi raja di Madura yaitu Pangeran Cakraningrat IV. Ulama yang dalam buku Sejarah keramat Raden Ayu Pemecutan disebut Syech ini memanggil Pangeran Cakraningrat IV ke Yogyakarta untuk mengikuti sayembara tersebut. Raja Madura ini berangkat ke Bali, hasilnya dapat ditebak Raden Ayu Pemecutan dapat disembuhkan oleh Pangeran Cakraningrat IV.

Setelah sang putri sembuh, lalu Raden Ayu Pemecutan dan Pangeran Cakraningrat IV dikawinkan. Tentunya dalam perkawinan muslim, keduanya harus beragama Islam, Raden Ayu Pemecutan pun jadi mualaf dan bergelar Raden Ayu Siti Khotijah. Sang putri lalu di boyong ke Madura oleh Pangeran Cakraningrat IV.

Suatu ketika Raden Ayu pulang ke Bali beserta 40 orang pegiring dan pengawal. Pangeran Cakraningrat IV memberikan bekal berupa guci, keris dan sebuah pusaka berbentuk tusuk konde yang diselipkan di rambut sang putri. Sesampainya di kerajaan Pamecutan, Siti Khotijah disambut dengan riang gembira. Namun, kala itu tidak ada yang mengetahui bahwa sang putri telah memeluk agama Islam. Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelingihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Kotijah menjalankan persembahyangan (ibadah sholat maghrib) di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Krudung). Ketika itu salah seorang Patih di Puri melihat hal tersebut. Para patih dan pengawal kerajaan tidak menyadari bahwa Puri telah memeluk islam dan sedang melakukan ibadah sholat. Menurut kepercayaan di Bali, hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam.

Akibat ketidaktahuan pengawal istana, ‘keanehan’ yang disaksikan di halaman istana membuat pengawal dan patih kerajaan menjadi geram dan melaporakan hal tersebut kepada Raja. Mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan areal pemakaman yang luasnya 9 Ha. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Siti Khotijah.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam, karena senjata tajam tak akan membunuhku. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih serta dililitkan dengan benang tiga warna, merah, putih dan hitam (Tri Datu), tusukkan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka buatkanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Peristiwa itu sangat mengejutkan para patih dan pengawal. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan belia . Jenasah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan