Bali-Icon17-scaled

Icon Mall Bali

ICON Bali Mall merupakan pusat belanja dan gaya hidup modern yang menghadirkan pengalaman berbeda di kawasan Sanur. Mengusung konsep terbuka bernuansa tropis, tempat ini dirancang untuk menyatu dengan lingkungan sekitar, menciptakan suasana yang lebih santai dan alami dibandingkan pusat perbelanjaan konvensional.

Tidak hanya sebagai destinasi belanja, ICON Bali Mall juga menggabungkan berbagai elemen gaya hidup dalam satu kawasan—mulai dari pilihan kuliner, ruang hiburan, hingga area berkumpul yang nyaman. Keunggulan utamanya terletak pada akses langsung ke pantai, yang memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan laut sambil beraktivitas, menjadikan pengalaman berbelanja terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Terletak di kawasan pesisir yang dikenal dengan ketenangan dan karakter klasik Bali, mall ini turut menghadirkan suasana khas Sanur yang identik dengan ritme santai dan panorama matahari terbit yang indah. Perpaduan antara desain modern, nuansa tropis, dan kedekatan dengan alam menjadikan ICON Bali Mall sebagai destinasi lifestyle yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memberikan pengalaman yang berkesan.

Img Source : https://lelcogroup.com/

Menjelajahi TCEC Serangan: Wisata Edukasi dan Konservasi Penyu di Bali

TCEC Serangan merupakan lokasi tepat bagi anda penyuka wisata lingkungan. Lokasi ini merupakan sebuah pusat pendidikan, kawasan wisata, konservasi dan sebagai pusat penelitian penyu. Lebih tepatnya berada di Pulau Serangan, sekitar 30 menit arah selatan dari Kota Denpasar. Di penangkaran yang memiliki lahan seluas 2,4 hektare ini, Anda bisa berwisata sekaligus belajar mengenai penangkaran hewan penyu. Pengelola akan siap menjelaskan seluk beluk penyu dan dari mana saja penyu-penyu yang ditangkarkan disini berasal.

TCEC ini dibuka secara resmi pada 20 Januari 2006 oleh Gubernur Bali Bapak Dewa Berata. Tujuannya awalnya bukan untuk lokasi belajar melainkan untuk strategiu mengatasi perdagangan penyu. Adanya penangkaran ini supaya membantu masyarakat lokal Serangan membuat alternatif lain disamping bisnis perdagangan penyu. Sekarang keberadaanya jauh dari sekedar tempat penyelamatan. TCEC selain menjadi lokasi penyu yang diselamatkan dari alam karena kondisi sakit.

Pusat konservasi ini juga ikut menyelamatkan telor-telor penyu di kawasan pantai yang ramai pengunjung,dan membeli telor penyu dari masyarakat lokal. Telor penyu nantinya akan di  tetaskan di pusat penangkaran, bayi – bayi penyu ( tukik ) dirawat kurang lebih 1 bulan untuk di lepas bebaskan di alam. semua alasan kegiatan penyu dalam kepunahan akibat kegiatan manusia, tidak hanya memburu dan mengkomsumsi telor penyu dan juga polusi laut dan pembangunan kawasan peneloran dan penurunan papulasi yang sangat dramatis.

Jadi, TCEC ini sangat vital keberadaanya. Sangat disayangkan jika berwisata ke Denpasar tidak mampir di destinasi yang mudah ditempuh oleh berbagai sarana kendaraan ini dari bandara maupun wilayah lain di Bali.


Serunya Menjelajah Kampung Kuliner Seafood Serangan: Wisata Rasa Baru di Denpasar

Bosan dengan menu seafood itu-itu di Kedonganan maupun Jimbaran saja saat wisata ke Bali? Mungkin, destinasi kuliner terbaru di Kota Denpasar ini sangat patut Anda coba.  Namanya Kampung Kuliner Seafood Serangan. 

Sesuai namanya, lokasinya ada di Pulau Serangan. Dari bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Jika Anda hendak menuju Sanur maupun Gianyar, kampung ini pasti akan Anda lewati. Jadi sangat sayang jika dilewatkan. 

Untuk mencari lokasinya sangat mudah karena begitu Anda masuk Pulau Serangan, akan dituntun oleh papan penunjuk nama. Tepatnya berlokasi di Lapangan desa Serangan. Ada banyak pilihan menu makanan laut yang disajikan di destinasi baru ini.

Ada sebanyak 14 petak bangunan dengan total 28 kios kuliner disini. Disini ada banyak menu dapat dipilih. Sebagian besar kuliner yang disajikan adalah berbahan dari seafood. Seperti, kerang bakar, udang, ikan bakar, cumi bumbu bali dll. Semuanya disajikan oleh warga setempat yang sudah mewarisi racikan menu sejak turun temurun. Warung Kuliner ini buka mulai pukul 10.00 pagi hingga 22.00 petang.

Kampung Kuliner ini tidak hanya menyajikan menu makanan. Pemerintah Kota Denpasar berupaya menjadikannya sebagai one stop solution bagi wisatawan. Karena itu, di pinggirnya dilengkapi juga dengan jogging track. Tujuanya agar tidak hanya untuk tempat makan saja tetapi juga bersantai bersama keluarga. Jadi jangan lewatkan wisata terbaru ini.

 

Wisata Edukasi Subak TeBA Majalangu

Buat keluarga yang ingin memperkenalkan anak-anaknya dengan pembelajaran tentang alam khususnya pertanian. Inilah destinasi paling tepat dituju. Namanya Wisata Edukasi TeBA Majelangu. Destinasi ini milik Desa Kesiman Kertalangu yang terletak di kawasan jogging track Desa Budaya Kertalangu. Konsep tempat wisata ini adalah memberikan pelajaran bagi anak-anak tentang pertanian. Mereka bisa mengidentifikasi alat-alat pertanian, metodenya sampai praktek di lapangan. Semuanya bisa dilakukan di sini.

Jangan khawatir terkait berapa banyak aktivitas bisa dilakukan disini karena luasan lahannya mencapai 1,4 hektare. Anak-anak maupun orang tua dapat melakukan banyak hal. Karena disini terdapat Museum subak yang bertujuan memperkenalkan alat-alat pertanian tempo dulu yang digunakan dalam kegiatan pertanian. Museum subak akan menyajikan informasi mulai dari nama alat, fungsinya dan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran siswa nantinya di lapangan.

Selain itu ada Rumah bibit tempat pameran untuk menampilkan contoh bibit organik yang sudah dibuat oleh kelompok tani setempat. Pengunjung bisa melihat bagaimana bentuk bibit / tanaman apa saja yang ada di kawasan TeBA Majalangu dan diberikan edukasi secara umum berkaitan dengan fungsi dari masing-masing tanaman.

Selesai dari dua lokasi itu masih ada tempat memberi makan binatang. Disini terdapat beberapa binatang ternak dan menjadi salah satu kegiatan yang mengasikkan terutama untuk anak-anak. Dalam proses edukasi mereka juga akan di ajarkan jenis-jenis hewan yang biasanya di pergunakan dalam kegiatan upacara / upakara tradisional bali.

Kegiatan terakhir yang bisa dinikmati adalah permainan atau game outbond merupakan salah satu kegiatan yang paling disukai anak-anak yang bertujuan untuk melatih dan mengembangkan kepercayaan diri, keberanian dan daya kreatifitas anak-anak. Jadi tunggu apalagi, TeBA Majelangu sangat cocok buat keluarga yang rindu dengan aktivitas alam dan sangat mudah dijangkau dari Kota Denpasar.

Menikmati Seni dan Budaya di Taman Budaya Bali: Pusat Pementasan Terbesar di Denpasar

Taman Budaya Bali atau lebih dikenal dengan Taman Werdhi Budaya Art Centre Denpasar salah satu pusat pementasan seni tertua di Bali yang terletak di Jalan Nusa Indah, Kota Denpasar.

Kawasan Taman Budaya ini terdiri dari empat kompleks, yaitu kompleks suci, meliputi Pura Taman Beji, Bale Selonding, dan Bale Pepaosan. Kedua, kompleks tenang, meliputi Perpustaan Widya Kusuma. Ketiga, kompleks setengah ramai, meliputi Gedung Pameran Mahudara, Gedung Kriya, studio patung, wisma seni, dan wantilan. Keempat, kompleks ramai, meliputi panggung Ardha Candra dan Ksirarnawa.

Ardha Candra adalah panggung terbuka yang biasa digunakan untuk pementasan kolosal, pertunjukan musik, dan pentas seni lainnya. Panggung yang menjadi salah satu ikon di taman budaya ini bisa menampung hingga enam ribu penonton. Ksirarnawa adalah panggung tertutup yang bisa juga digunakan untuk pementasan kolosal. Fungsinya hampir sama dengan Ardha Candra, hanya bentuknya saja yang tertutup. Pemerintah Provinsi Bali, khususnya Gubernur Bali kerap menggelar acara akbar di sini.

Selain Ardha Candra dan Ksirarnawa, ada juga Kalangan Ratna Kanda dan Kalangan Ayodya yang merupakan pentas terbuka. Panggung ini biasa digunakan untuk pentas seni, seperti tarian, arja, dan joged.

Kompleks seluas 14 Hektare ini dibangun menggunakan arsitektur Bali, serta dihiasi relief-relief indah dan menarik. Di dalam gedung pameran pengunjung bisa menyaksikan berbagai jenis lukisan dan ukiran karya para seniman Bali. Ide pembangunan fasilitas ini adalah Gubernur Bali Ida Bagus Mantra yang terkenal sangat mencintai budaya Bali. Beliau juga menyumbangkan lahan seluas lima hektar (ha) untuk membangun kompleks yang dibuka sejak tahun 1973.

Saat ini, Taman Budaya Art Center menjadi satu-satunya lokasi pementasan seni budaya Bali paling lengkap di Kota Denpasar.

Tempat ini dibuka setiap hari, mulai pagi hingga sore. Saat tepat berkunjung ke sini adalah ketika pelaksanaan Pekan Kesenian Bali (PKB) yang digelar setiap tahun tepatnya bulan Juni hingga Juli. Karena saat itulah perwakilan seniman dari sembilan kabupaten kota di Bali datang menampilkan kesenian khas daerah masing-masing, mulai dari seni tari, musik, ukir, lukisan, wayang, hingga makanan tradisional.

Menelusuri Sejarah Bali di Museum Bali: Tempat Koleksi Budaya Tertua di Denpasar

Museum Bali ini merupakan museum legendaris. Lokasinya mungkin setiap hari dilintasi oleh masyarakat tetapi banyak yang tidak menyadarinya. Tepatnya berada di Jalan Mayor Wisnu, alias di sebelah timur lapangan Puputan Badung dan di sebelah selatan Pura Jagatnatha. Museum ini diresmikan pada tanggal 8 Desember 1932 dengan nama Bali Museum yang dikelola Yayasan Bali Museum

Museum di lahan seluas 2.600 meter persegi ini merupakan museum tertua di Bali dan merupakan pemicu kehadiran museum-museum lainnya. Berdasarkan atas koleksinya, Museum Bali merupakan museum etnografi yang memiliki dan memamerkan benda-benda budaya dari zaman prasejarah sampai kini yang mencerminkan seluruh unsur kebudayaan Bali terdiri dari koleksi arkeologi, koleksi historika, koleksi seni rupa dan koleksi etnografika.

Jadi, jika ingin belajar mengenai sejarah peninggalan budaya Bali. Sangat cocok berkunjung ke sini karena Anda bisa melihat koleksi seperti peralatan kustom tari, semua jenis topeng, wayang hingga keris serta berbagai koleksi benda prasejarah yang dapat memahami kebudayaan Bali.

Museum Bali merupakan museum umum yang pada awalnya merupakan museum etnografi yang didirikan oleh W.F.J. Kroon, asisten residen untuk Bali Selatan untuk melindungi dan melestarikan benda-benda budaya pada tahun 1910. Pemikiran ini atas dasar usulan dari Th.A. Resink dan mendapat sambutan yang baik dari kalangan ilmuwan, seniman, budayawan, dan seluruh raja-raja di Bali. Kroon kemudian memerintahkan Kurt Gundler, arsitek berkebangsaan Jerman yang sedang berada di Bali untuk meneliti agar membuat perencanaan bersama dengan para ahli bangunan tradisional Bali atau disebut undagi antara lain I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel.

Salah satu keunikan dari museum ini adalah arsitektur pembangunanya mengadopsi budaya lokal yakni didasarkan dari lontar Asta Kosala-Kosali. Ada tiga halaman, yaitu, yaitu halaman luar (jaba), halaman tengah (jaba tengah), dan halaman dalam (jeroan), masing-masing halaman dibatasi dengan tembok dan gapura (candi bentar dan candi kurung) sebagai pintu masuk, sebuah Balai Kulkul (menara kentongan) di sebelah Selatan jaba tengah.

Di sudut Barat Laut berdiri sebuah Balai Bengong yang pada jaman kerajaan dipergunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja ketika ingin mengamati situasi di luar istana. Dan di depan gedung Tabanan terdapat sebuah Beji (permandian untuk keluarga raja). Atap bangunan dari ijuk, di Bali hanya dipakai untuk bangunan pura. Pada halaman dalam terdapat tiga bangunan utama untuk memamerkan koleksi museum :

  1. Gedung Karangasem , dengan arsitektur khas Bali Timur untuk memamerkan koleksi Panca Yadnya.
  2. Gedung Tabanan, untuk memamerkan koleksi prasejarah, sejarah dan seni rupa.
  3. Gedung Buleleng , dengan dengan arsitektur gaya Bali Utara untuk memamerkan koleksi kain tradisional
Mari belajar menemukan sejarah Bali dengan mengunjungi Museum Bali.

Pura Agung Jagatnatha: Titik Awal Wisata Kota Denpasar yang Sarat Nilai Spiritual dan Sejarah

Jika ingin mengetahui program city tour di Kota Denpasar. Pura Agung Jagatnatha bisa menjadi salah satu titik utama untuk dijadikan sebagai langkah awal memulai perjalanan menyusuri ibu kota Bali. Bukan hanya sebagai tempat peribadatan, pura agung yang satu ini juga dikunjungi wisatawan karena keindahan dan keunikan yang dimiliki.

Lokasinya yang berada pada jalur wisata sehingga sangat strategis dan tidak pernah sepi pengunjung, baik yang datang beribadah maupun hanya untuk menikmati keindahan pura. Tepatnya di Jalan Mayor Wisnu, yakni tepat di sebelah timur Lapangan Puputan Badung, dan bersebelahan dengan Museum Bali.

Pura agung ini juga terbuka 24 jam bagi siapa saja yang datang untuk melakukan ibadah. Termasuk juga kedatangan para wisatawan. Namun, ada hal yang harus diperhatikan. Anda tetap harus menghormati dan tidak mengganggu kelangsungan para umat Hindu yang tengah beribadah di dalam pura ini.

Pura ini merupakan pura paling besar di Kota Denpasar. Pura ini dibangun dengan posisi menghadap ke barat ke arah Gunung Agung. Dipercaya bahwa Gunung Agung adalah istananya para dewa. Pura Agung Jagatnatha dibangun sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Pada Maret 2023, Pura Agung Jagatnatha mengalami renovasi. Perbaikan itu meliputi sosok, warna, material bangunan yang terdiri dari penyengker, bale gedong simpen, bale pesantian, bale pepelik, bale pawedan, bale gong, bale pengunggangan, bale kulkul, kori agung, candi bentar. Warna dasar bangunan pura kini memakai batu merah kelas satu dari Tulikup, Kabupaten Gianyar, sehingga berwarna dominan merah. Merah merupakan warna pelambangan Bhatara Brahma.

Renovasi dilakukan untuk mengembalikan arsitektur pura ke gaya bebadungan yakni arsitektur khas Kota Denpasar. Hanya khusus bangunan Padmasana tetap dibiarkan utuh seperti semula karena memiliki nilai historis. Dengan direnovasi ini, pemerintah Kota Denpasar merancang kekuatan fisik Pura Agung Jagatnatha dapat bertahan hingga 100 tahun.

 

Keunikan Museum Sidik Jari Denpasar: Mengenal Seni Lukis dengan Jari

Ini dia salah satu museum unik di Kota Denpasar yang sangat sayang dilewatkan. Sesuai namanya, Namanya mungkin terdengar aneh di telinga. Tapi, ketika Anda berkunjung ke lokasi ini akan dibuat terkesima dengan koleksi yang ada di museum yang berlokasi di jalan Hayam Wuruk Nomor 175, Tanjung Bungkak.

Museum Sidik Jari menampilkan hasil karya seni lukis dengan teknik melukis yang cukup unik, menggunakan kelihaian imajinasi melalui jari telunjuk berupa totol-totolan warna dasar di atas permukaan kanvas, dan menghasilkan hasil karya seni yang unik, indah dan spektakuler. Pemiliknya adalah Gede Ngurah Rai Pemecutan yang sekaligus sebagai pelukisnya. Beliau meurpakan cucu dari Pahlawan Nasional asal Bali I Gusti Ngurah Rai.

Teknik melukis dengan sidik jari ini sebenarnya ditemukan secara sengaja, pada saat beliau melukis dengan tema tari Baris, pada tanggal 9 Juli 1967, namun lukisan tersebut tidak kunjung selesai seperti harapan, sehingga membuat Bapak Gede Ngurah Rai Pemecutan menjadi kesal, beliau berusaha merusak lukisan yang tidak kunjung selesai tersebut dengan menempelkan ujung jari-jemarinya yang berlumuran cat di permukaan kanvas, disinilah muncul ide dan inspirasi untuk membuat lukisan dengan ujung jari telunjuk tidak menggunakan kuas lagi.

Metode Lukis yang ditemukan oleh Gede Ngurah Rai Pemecutan ini pernah mengantarkannya meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), sebagai pelopor tekhnik melukis dengan jari dan mengkoleksi lukisan sidik jari terbanyak. Museum ini sekarang menyimpan sebanyak 640 lukisan karya dari Gede Ngruah Rai Pemecutan. Tujuan dari bapak Gede Ngurah Rai Pemecutan untuk membangun museum Sidik Jari Denpasar, sebagai tempat untuk memajang aneka koleksi lukisan hasi karyanya, serta memajang puisi hasil karyanya yang ditulis diatas batu.

Di museum lukisan Sidik Jari Denpasar, pengunjung tidak hanya dapat melihat lukisan dan puisi saja, melainkan pengunjung yang ingin mendalami budaya Bali terutama seni tari Bali dapat belajar disini. Di museum ini diadakan kursus seni tari Bali, kursus melukis, kursus seni musik Bali dengan pengajar profesional. Keren kan mengetahui apa dan bagaimana berdirinya Museum Sidik Jari? Jadi tunggu apa lagi, segera kunjungi museum ini.

Pesona Mural Pasar Badung: Mengubah Wajah Pasar Tradisional dengan Sentuhan Seni Modern

Bagi penyuka seni dan pengguna media sosial, tempat ini pantang untuk dilewatkan. Mural Pasar Badung. Jangan mengira pasar hanya tempat pembeli dan penjual. Di Pasar Badung, Anda dapat menemukan berbagai mural bertebaran di tembok dinding pasar terbesar di Bali ini. Mural-mural tersebut dibuat pada tahun 2019 silam paska renovasi akibat kebakaran. Posisinya ada di gerbang, di lift, sekitar kios, ruang tunggu bahkan sampai di kamar mandi ada. 

Jika tidak puas dengan mural-mural tersebut, cobalah untuk melihat sisi timur pasar. Di sini terdapat mural raksasa yang digambar di kanvas tembok berukuran 308 meter persegi. Gambarnya pun atraktif dan menarik. Hampir seluruhnya gambar yang ditampilkan berupa pesan ajakan kepada masyarakat agar bangga berbelanja dan berjualan di pasar tradisional dengan kemasan modern seperti yang ada di Pasar Badung.

Ornamen kreatif ini bertujuan menjadikan Pasar Badung sebagai inspirasi bagi pasar tradisional lain di seluruh Bali bahkan Indonesia. Pembuatan mural ini melibatkan sebanyak 30 kreator muda dari Sekolah Tinggi Desain (STD) Bali. Sekaligus upaya mengubah persepsi apabila pasar tradisional hanya lokasi bertemunya penjual dan pembeli. Karena di Pasar Badung, wisatawan pun juga bisa berkunjung.

Oh iya, jangan lupa jam berapapun Anda bisa berkunjung melihat dan mengabadikan mural-mural di Pasar Badung. Karena pasar ini buka 24 jam. Dikarenakan merupakan pasar terbesar di Bali dan berbagai pasokan barang yang diperjualbelikan di Bali akan dimulai dari pasar ini.  Hanya tutup ketika Hari Raya Nyepi.

Pasar Seni Kumbasari: Pusat Kerajinan Seni dan Souvenir Bali yang Terjangkau

Penyuka produk kesenian wajib tahu Pasar Seni Kumbasari. Jauh sebelum adanya pusat oleh-oleh yang terkenal, pasar ini adalah tujuan wajib wisatawan saat ingin mencari oleh-oleh barang kesenian bagi sanak famili. Sampai sekarang pasar Seni Kumbasari masih tetap eksis dan layak untuk dikunjungi.

Lokasinya ada di sisi barat Pasar Tradisional Badung, tepat di Kawasan Heritage Gajah Mada. Dengan Pasar Badung hanya dipisahkan oleh Sungai “Korea” Tukad Badung. Pasar yang sudah mengalami tiga kali tahapan revitalisasi ini disebut sebagai pasar seni satu-satunya di Kota Denpasar. Pasar Kumbasari dibangun pada tahun 1977, pernah mengalami kebakaran pada tahun 2000, kemudian dilakukan renovasi dan pada tahun 2001 dibuka kembali.

Bangunanya cukup luas karena berdiri di atas lahan seluas 6.230 meter persegi. Adapun bangunannay terdiri dari lima lantai. Namun, hanya 4 lantai diperuntukkan bagi pedagang produk kesenian. Sedangkan satu lantai diperuntukkan bagi pedagang kebutuhan pokok dan piranti upacara keagamaan.

Pada lantai 2 pasar seni Kumbasari khusus menjual beraneka macam jenis pakaian, seperti pakaian adat Bali seperti udeng, kain dan destar, ditawarkan juga bed cover, sarung pantai, serta beraneka jenis tenun hasil kerajian Bali. Di lantai 3 gedung pasar seni Kumbasari, menjual beraneka macam jenis lukisan, patung, ornamen Bali seperti ukiran, sepatu, sandal, sampai tas wanita. Pada lantai 4, berbagai jenis kerajinan, pernak-pernik untuk souvenier seperti kerajinan dari bahan kerang, kertas dan beberapa juga hasil kerajinan luar Bali.

Belum banyak yang mengetahui jika keberadaan pasar ini sangat vital. Karena merupakan pusat grosir yang memasok produk-produk untuk pedagang seni seperti di Sanur, Kuta, Canggu sampai Ubud. Tidak banyak masyarakat mengetahui tentang ini. Karena rerata pedagang disini langsung mengambil dari produsen seni kerajinan di pelosok daerah.

Adapun produk kerajinan yang dijual di Pasar Seni Kumbasari sangat bervariasi. Mulai dari kerajinan kuningan, keramik, kaca, rotan sampai kerajinan kayu tersedia semua. Informasi terpenting lainnya yang sangat jarang disadari oleh wisatawan tentang pasar seni ini adalah soal harga. Jangan kaget ketika berbelanja disini, harganya jauh lebih murah dibandingkan di pusat oleh-oleh. Karena, produk yang dijual disini dijual secara grosiran jadi tentu saja jauh lebih murah.

Bagi Anda yang tahu informasi soal murah ini, tidak ada salahnya mencoba kesini. Satu lagi, harganya bisa negoisable seperti umumya di pasar-pasar tradisional. Sudah begitu, lokasinya sangat mudah dijangkau.