Menapak Jejak Sejarah di Puri Pemecutan: Warisan Perjuangan Bali Melawan Penjajah

Meskipun Denpasar dikenal sebagai salah satu kota modern di Bali, tetapi masih ada jejak-jejak perjuangan yang pantang untuk dilewatkan jika berwisata ke ibu kota Bali. Salah satunya adalah Puri Pemecutan Denpasar. Mengunjungi bangunan kerajaan ini menjadi salah satu pengingat akan besarnya pengaruh kerajaan-kerajaan dahulu kala bagi perkembangan Bali.

Puri Pemecutan terletak di Jalan Tamrin, Kota Denpasar. Puri ini masih berdiri kokoh dan megah di lahan seluas 4,2 hektare. Area tersebut belum termasuk perluasan yang dilakukan ke sisi barat, utara, timur, dan selatan Puri Tanjung Pemecutan yang merupakan tempat tinggal putra-putra kerajaan. Di sebelah barat puri terdapat gudang senjata bedil dan meriam. Di sebelah timur puri berdiri Jero Ukiran dan Jero Kanginan yang sekarang menjadi Puri Agung Pemecutan yang baru.

Puri ini juga pernah menjadi symbol perjuangan rakyat Bali dalam menentang penjajah Belanda. Tepatnya pada 1906 ketika terjadi perang Puputan melawan Belanda dan puri ini pernah dilahap api. Saat ini, kondisi puri masih sangat baik dan dipertahankan ciri khas ornament-ornamen Bali yang memenuhi hampir seluruh sisi bangunan.

Arsitektur di Pura Pemecutan masih tergolong kuno dibangun semirip aslinya sebelum terbakar. Di sini terdapat halaman depan yang disebut sebagai Jaba Jeroning Cerangcang, Pada sudut bagian Barat ada Jaba Bale Gong sebuah tempat untuk menyimpan gamelan atau alat musik kuno. Ada juga dapur dan kamar untuk tempat tinggal keluarga kerajaan. Bale kulkul yang terletak di selatan puri menjadi saksi bisu peristiswa perang puputan. Sebab, satu-satunya bangunan yang keberadaanya masih utuh saat api melalap puri.

Berwisata di sini seakan memberikan nostalgia akan perjuangan rakyat Bali melawan kependudukan Belanda. Jika Anda beruntung, tidak hanya akan melihat bagaimana isi kerajaan jaman dulu. Karena sudah dibuka untuk wisatawan, terkadang puri ini juga menjadi lokasi syuting film nasional. Tunggu apalagi, segera berwisata kunjungi Puri Pemecutan.

narasi-pembangunan-kampung-kuliner-serangan-docx-google-docs

Pembangunan Kampung Kuliner Serangan

Desa Serangan di Denpasar, Bali, yang dikenal dengan keindahan alam dan warisan budayanya, kini sedang membangun proyek unggulan yaitu Pembangunan Kampung Kuliner Seafood Serangan, pemerintah berupaya menciptakan destinasi wisata kuliner baru yang terletak di Jl. Tukad Pekaseh No.2, Serangan, Denpasar Selatan. Proyek ini berfokus pada penyediaan fasilitas kuliner berbasis makanan laut yang khas dengan nuansa lokal.
Proyek ini berlokasi di lapangan I Wayan Bulit, Serangan, yang dibangun di lahan dengan mempunyai luas lapangan = 21,190 m2 dan luas lahan BTID = 2,420 m2. Didukung penuh oleh Dinas Pariwisata Kota Denpasar sebagai pemberi tugas. Dengan dibantu Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik 2024 yang disalurkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, pembangunan ini akan mengoptimalkan fasilitas fisik untuk mendukung keberlangsungan wisata kuliner di Serangan.
Proyek ini melibatkan beberapa pihak ahli, termasuk PT. TATA RENCANA HIJAU sebagai konsultan perencana dan CV. BINA BWANA WISESA sebagai konsultan pengawas, dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana PT. MEGAH TAMA PERKASA dengan nilai kontrak sebesar Rp 5.204.246.761,00. Pembangunan ini direncanakan berlangsung selama 180 hari kalender dari 14 Juni hingga 10 Desember 2024, di mana setiap tahapannya diawasi dengan ketat untuk memastikan hasil yang optimal.

Pengembangan Kampung Kuliner Serangan merupakan bagian dari tiga program unggulan yang dirancang untuk meningkatkan potensi Desa Serangan secara menyeluruh. Program pertama adalah penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kelembagaan desa, di mana pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal agar mampu mengelola potensi wisata secara efektif, sekaligus memperkuat kelembagaan desa agar masyarakat terlibat aktif dalam pengelolaan kampung kuliner. Program kedua adalah memformulasikan branding, paket kegiatan, dan promosi desa wisata, yang berfokus pada pengembangan branding Desa Serangan sebagai destinasi kuliner yang khas, didukung oleh promosi intensif melalui media sosial dan kampanye pemasaran, serta kolaborasi dengan travel influencer. Selain itu, paket wisata kuliner yang dirancang akan memberikan pengalaman lengkap yang mencakup wisata kuliner, budaya, dan alam. Program ketiga adalah 55 rencana aksi yang mencakup berbagai aspek pengembangan desa, seperti peningkatan infrastruktur, pelatihan SDM, dan pengembangan produk wisata, yang semuanya bertujuan untuk memaksimalkan potensi wisata dan ekonomi Desa Serangan. Pembangunan Kampung Kuliner Seafood Serangan mencakup berbagai fasilitas penting, seperti pembangunan 14 bangunan dan 28 kios kuliner yang akan menjadi tempat bagi pedagang lokal untuk menawarkan hidangan seafood serta makanan khas Bali. Plaza Kuliner dirancang sebagai pusat kegiatan sosial dan rekreasi, di mana pengunjung dapat menikmati suasana santai sambil mencicipi berbagai hidangan. Selain itu, fasilitas toilet umum juga dibangun untuk memastikan kenyamanan pengunjung, dengan kebersihan dan standar fasilitas yang baik. Sebanyak 16 unit gazebo disediakan di sekitar area kuliner untuk tempat bersantai yang nyaman, didukung oleh area parkir yang memudahkan akses pengunjung. Infrastruktur pendukung seperti rumah STP dan resapan, serta tandon air bawah tanah (Ground Water Tank), berperan penting dalam menjaga pengelolaan air dan kebersihan lingkungan. Sebagai tambahan, 64 unit bangku taman tersebar di area plaza dan taman untuk menambah kenyamanan pengunjung selama menikmati suasana kuliner di Serangan.

Proyek Kampung Kuliner Seafood Serangan memanfaatkan dana DAK Fisik 2024 dengan total anggaran sebesar Rp 5.204.246.761,00 yang mencakup berbagai aspek penting dalam pembangunan infrastruktur kampung kuliner. Dana ini digunakan untuk penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMKK) sebesar Rp 18.640.000,00, pekerjaan persiapan senilai Rp 436.623,97, serta pembangunan inti berupa 14 bangunan dan 28 kios kuliner dengan anggaran Rp 1.637.899.041,95, di mana kios-kios tersebut akan diisi oleh pedagang yang menawarkan kuliner khas Bali dan Serangan. Selain itu, pembangunan plaza kuliner sebesar Rp 1.767.823.405,96, toilet senilai Rp 443.690.627,97, serta 16 unit gazebo dengan anggaran Rp 399.699.204,80 disiapkan untuk kenyamanan pengunjung. Fasilitas pendukung lainnya termasuk area parkir A sebesar Rp 106.424.186,73, rumah STP dan resapan sebesar Rp 72.450.829,52, Ground Water Tank (tandon air bawah tanah) senilai Rp 63.236.431,05, serta 64 unit bangku taman dengan total Rp 178.210.244,42. 

Namun, proyek ini menghadapi keterbatasan anggaran sehingga pemerintah memanfaatkan dana CSR sebesar Rp 2.599.991.078,00 dari perusahaan swasta untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan penting. Dana CSR tersebut digunakan untuk penerapan SMKK Rp 25.643.650,00, pekerjaan persiapan Rp 552.056,28, pembangunan pergola kayu Rp 468.000.000,00, softscape (penataan area hijau) Rp 11.900.000,00, meja taman Rp 54.000.000,00, meja gazebo Rp 6.400.000,00, service area Rp 238.000.000,00, peningkatan daya listrik Rp 139.521.228,00, pengadaan alat kios kuliner Rp 1.124.676.000,00, pembangunan bak sampah Rp 145.345.492,55, serta signage sebesar Rp 128.295.877,68 untuk membantu pengunjung menemukan area penting di kampung kuliner.

 

Pesona Mural Pasar Badung: Mengubah Wajah Pasar Tradisional dengan Sentuhan Seni Modern

Bagi penyuka seni dan pengguna media sosial, tempat ini pantang untuk dilewatkan. Mural Pasar Badung. Jangan mengira pasar hanya tempat pembeli dan penjual. Di Pasar Badung, Anda dapat menemukan berbagai mural bertebaran di tembok dinding pasar terbesar di Bali ini. Mural-mural tersebut dibuat pada tahun 2019 silam paska renovasi akibat kebakaran. Posisinya ada di gerbang, di lift, sekitar kios, ruang tunggu bahkan sampai di kamar mandi ada. 

Jika tidak puas dengan mural-mural tersebut, cobalah untuk melihat sisi timur pasar. Di sini terdapat mural raksasa yang digambar di kanvas tembok berukuran 308 meter persegi. Gambarnya pun atraktif dan menarik. Hampir seluruhnya gambar yang ditampilkan berupa pesan ajakan kepada masyarakat agar bangga berbelanja dan berjualan di pasar tradisional dengan kemasan modern seperti yang ada di Pasar Badung.

Ornamen kreatif ini bertujuan menjadikan Pasar Badung sebagai inspirasi bagi pasar tradisional lain di seluruh Bali bahkan Indonesia. Pembuatan mural ini melibatkan sebanyak 30 kreator muda dari Sekolah Tinggi Desain (STD) Bali. Sekaligus upaya mengubah persepsi apabila pasar tradisional hanya lokasi bertemunya penjual dan pembeli. Karena di Pasar Badung, wisatawan pun juga bisa berkunjung.

Oh iya, jangan lupa jam berapapun Anda bisa berkunjung melihat dan mengabadikan mural-mural di Pasar Badung. Karena pasar ini buka 24 jam. Dikarenakan merupakan pasar terbesar di Bali dan berbagai pasokan barang yang diperjualbelikan di Bali akan dimulai dari pasar ini.  Hanya tutup ketika Hari Raya Nyepi.

Pura Agung Jagatnatha: Titik Awal Wisata Kota Denpasar yang Sarat Nilai Spiritual dan Sejarah

Jika ingin mengetahui program city tour di Kota Denpasar. Pura Agung Jagatnatha bisa menjadi salah satu titik utama untuk dijadikan sebagai langkah awal memulai perjalanan menyusuri ibu kota Bali. Bukan hanya sebagai tempat peribadatan, pura agung yang satu ini juga dikunjungi wisatawan karena keindahan dan keunikan yang dimiliki.

Lokasinya yang berada pada jalur wisata sehingga sangat strategis dan tidak pernah sepi pengunjung, baik yang datang beribadah maupun hanya untuk menikmati keindahan pura. Tepatnya di Jalan Mayor Wisnu, yakni tepat di sebelah timur Lapangan Puputan Badung, dan bersebelahan dengan Museum Bali.

Pura agung ini juga terbuka 24 jam bagi siapa saja yang datang untuk melakukan ibadah. Termasuk juga kedatangan para wisatawan. Namun, ada hal yang harus diperhatikan. Anda tetap harus menghormati dan tidak mengganggu kelangsungan para umat Hindu yang tengah beribadah di dalam pura ini.

Pura ini merupakan pura paling besar di Kota Denpasar. Pura ini dibangun dengan posisi menghadap ke barat ke arah Gunung Agung. Dipercaya bahwa Gunung Agung adalah istananya para dewa. Pura Agung Jagatnatha dibangun sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Pada Maret 2023, Pura Agung Jagatnatha mengalami renovasi. Perbaikan itu meliputi sosok, warna, material bangunan yang terdiri dari penyengker, bale gedong simpen, bale pesantian, bale pepelik, bale pawedan, bale gong, bale pengunggangan, bale kulkul, kori agung, candi bentar. Warna dasar bangunan pura kini memakai batu merah kelas satu dari Tulikup, Kabupaten Gianyar, sehingga berwarna dominan merah. Merah merupakan warna pelambangan Bhatara Brahma.

Renovasi dilakukan untuk mengembalikan arsitektur pura ke gaya bebadungan yakni arsitektur khas Kota Denpasar. Hanya khusus bangunan Padmasana tetap dibiarkan utuh seperti semula karena memiliki nilai historis. Dengan direnovasi ini, pemerintah Kota Denpasar merancang kekuatan fisik Pura Agung Jagatnatha dapat bertahan hingga 100 tahun.

 

Big Garden Corner: Surga Fotografi dan Spot Instagramable di Sanur, Bali

Penyuka obyek fotografi dan instagramable, lokasi ini bisa menjadi tujuan berikutnya saat wisata di ibu kota Bali. Dibuka sejak 2016 silam. Awalnya hanya merupakan gallery seni patung berbahan batu.

Sesuai namanya, Big Garden Corner berada di pojok persimpangan Jalan Waribang dan Jalan By Pass Ngurah Rai Padanggalak, Sanur. Merupakan taman besar di lahan seluas 2,5 hektare. Big Garden Corner memiliki banyak pilihan titik untuk berfoto. Disini, pengunjung bisa berfoto berlatar belakang batu-batu megalitik, meja batu, patung skala besar, hingga atap payung.


Terdapat replika candi Borobudur yang memiliki tinggi 5 meter. Rumah pohon ukuran kecil, jalan setapak dari kayu, dengan atap batang pohon dengan bentuk menyilang. Hingga taman kupu-kupu berisikan lebih dari 100 spesies kupu-kupu.

Tempat ini juga dilengkapi dengan area taman beralaskan rumput hijau. Baik keluarga maupun pasangan sangat tepat meluangkan waktu datang ke lokasi ini. Pengelola menyiapkan pula restoran dan taman bermain bagi anak-anak. Lokasinya yang berada di daerah Sanur menjadikan tempat ini sangat cocok ketika Anda melintas hendak berwisata ke arah Bali Timur.

Menapak Jejak Sejarah di Puri Pemecutan: Warisan Perjuangan Bali Melawan Penjajah

Puri Agung Pemecutan merupakan salah satu puri atau keraton kerajaan Bali yang masih berdiri hingga sampai saat ini. Pemecutan berasal dari kata pecut/cambuk sehingga sering dikaitkan dengan pecut/cambuk. Dahulunya Puri Agung Pemecutan Kuno dilalap kobaran api pada tanggal 20 September 1906 atas perintah Raja Gusti Ngurah Pemecutan yang bergelar Ida Cokorda Pemecutan IX saat memimpin rakyat bali turun ke medan perang untuk memperjuangkan tanah airnya yang dikenal dengan Perang Puputan Badung. Walaupun dengan semangat yang membara, Raja bersama rakyatnya akhirnya gugur dalam perang dengan latar belakang puri terbakar di belakangnya. Untuk mengenang beliau telah dibuat monumen Ida Cokorda Pemecutan IX diperempatan jalan Puri Agung Pemecutan

Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X

Ida Meparab Anak Agung Sagung Adi

Anak Agung Ngurah Gede Lanang Pemecutan

Setelah Perang Puputan Badung, terjadi kekosongan pemerintahan terjadi di Puri Agung Pemecutan. Dikarenakan Ida Cokorda Pemecutan IX tidak memiliki keturunan laki-laki dan hanya memiliki seorang putri yaitu Ida Meparab Anak Agung Sagung Adi, kemudian atas prakarsa keluarga besar Puri Agung Pemecutan dan Warga Ageng Pemecutan dan untuk melestarikan budaya leluhur terdahulu, maka diangkatlah keponakannya I Gusti Ngurah Gde Pemecutan/ Kyahi Ngurah Gde Pemecutan untuk menjadi Raja Pemecutan yang kemudian bergelar Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X serta kakak beliau dari lain ibu yang Bernama Ida Anak Agung Gede Lanang Pemecutan sebagai wakilnya. Beliau sebagai kakak beradik menampakan kehidupan yang rukun dan selalu mengutamakan musyawarah mufakat dalam penyelesaian masalah sehingga masyarakat sangat segan kepada mereka.

Dikarenakan Puri Agung Pemecutan Kuno sudah hancur dan hanya menyisakan Bale Kulkul di sebelah selatan Puri Agung Pemecutan Kuno, maka Jero Kanginan yang berada tepat didepan Puri Agung Pemecutan Kuno direhab menjadi Puri Agung Pemecutan yang baru, beralamat di Jalan Thamrin Nomor 2 Denpasar. Sampai saat ini Puri Agung Pemecutan masih dijaga keaslian dan kesakralannya serta menjadi tempat tinggal bagi keturunan Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X dan Ida Anak Agung Gede Lanang Pemecutan. Sehingga menjadikan Puri Agung Pemecutan yang berada di Pusat Kota Denpasar sebagai salah satu cagar budaya yang patut untuk dilestarikan.

Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X

Di Puri Agung Pemecutan terdapat beberapa bangunan yang memiliki fungsi dan manfaat masing-masing. Puri Agung Pemecutan sendiri terdiri dari 3 bagian utama yaitu:

Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala.

Nista Mandala

Nista Mandala adalah bagian terluar dari Puri disebut juga sebagai “jaba puri” terdapat bangunan sebagai pemisah antara Madya Mandala dan Nista Mandala yaitu Kori Agung Puri Agung Pemecutan. 

Merupakan gerbang utama yang terdiri dari 1 pintu utama yang terletak di tengah-tengah dan 2 “betel”. Pintu utama hanya dipergunakan saat diadakan upacara adat dan keagamaan, dan disakralkan oleh keluarga Puri Agung Pemecutan, sedangkan 2 “betel” dipergunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Di pojokan barat daya jaba puri terdapat Bale Bengong, yang dipergunakan oleh keluarga Puri Agung Pemecutan untuk memantau kegiatan masyarakat disekitaran Puri Agung Pemecutan. Terdapat kulkul yang dahulunya dipergunakan sebagai sarana berkomunikasi dengan masyarakat.

Selain itu pada Barat laut terdapat Bale Kulkul Puri Agung Pemecutan yang baru. Bale kulkul ini dipergunakan sebagai sarana komunikasi pada masyarakat di sekitar Puri. Bale kulkul ini khusus dipergunakan untuk memberi tahu kepada masyarakat bahwa adanya pelaksanaan kegiatan di Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan.

Tepat di depan Bale Kulkul, terdapat Kori Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan sebagai tempat masuk bagi masyarakat dari luar Keluarga Puri untuk melaksanakan persembahyangan di Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan yang terletak di areal Utama Mandala

Madya Mandala

Madya Mandala

Madya Mandala adalah bagian tengah dari Puri, areal ini merupakan areal dimana kegiatan sehari-hari biasa dilakukan oleh keluarga Puri Agung Pemecutan. Menjadi tempat tinggal keluarga Puri, madya mandala Puri Agung Pemecutan dibagi menjadi 2 bagian yaitu saren daje dan saren delod, yang dimana saren daje ditempati oleh keluarga Ida Anak Agung Ngurah Gede Lanang Pemecutan dan saren delod yang ditempati oleh keluarga Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan. Saren daje berarti kamar di sebelah utara dan saren delod berarti kamar di sebelah selatan.

Dibagian paling selatan areal madya mandala terdapat Bale Lantang yang berarti Bale yang Panjang, dipergunakan multifungsi seperti untuk menerima tamu, pelatihan tari dan gambelan, atau pelaksanaan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan adat ataupun keagamaan. 

Pada Tahun 1970an hingga 1990an, atas tingginya antusiasme wisatawan pada saat itu agar bisa menginap di Puri Agung Pemecutan, maka Bale Lantang ini dimultifungsikan sebagai hotel, sehingga sebagaian bale ini sudah menjadi kamar hotel dan sebagian dipergunakan sebagai lobi hotel, namun seiiring berkembangnya jaman, hotel di Puri Agung Pemecutan kalah saing dengan kompetitor sehingga hotel pada saat ini tidak berfungsi.

Dibagian paling selatan areal madya mandala terdapat Bale Lantang yang berarti Bale yang Panjang, dipergunakan multifungsi seperti untuk menerima tamu, pelatihan tari dan gambelan, atau pelaksanaan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan adat ataupun keagamaan. 

Pada Tahun 1970an hingga 1990an, atas tingginya antusiasme wisatawan pada saat itu agar bisa menginap di Puri Agung Pemecutan, maka Bale Lantang ini dimultifungsikan sebagai hotel, sehingga sebagaian bale ini sudah menjadi kamar hotel dan sebagian dipergunakan sebagai lobi hotel, namun seiiring berkembangnya jaman, hotel di Puri Agung Pemecutan kalah saing dengan kompetitor sehingga hotel pada saat ini tidak berfungsi.

Ditengah areal ini terdapat Gedong Agung, yaitu sebagai tempat tinggal Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X, setelah sepeninggalnya Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X, Bale ini dipergunakan oleh Keluarga Puri Agung Pemecutan untuk melaksanakan rapat dalam rangka persiapan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di Puri Agung Pemecutan.

Sebelah barat Gedong Agung terdapat bale yang dipergunakan oleh keluarga Ida Anak Agung Gede Lanang Pemecutan tinggal, bale tersebut disambung dengan bangunan besar yang sekarang menjadi tempat tinggal anak cucu beliau.

Bagian paling utara di areal Madya Mandala adalah Bale Daje/Bale Bandung, seperti namanya “daje” berarti utara. Bale ini diperuntukan untuk anak gadis ataupun kepala keluarga. Di Puri Agung Pemecutan, bale ini ditempati oleh Parab Ida Anak Agung Sagung Adi. Ibu semasa hidupnya sebagai bentuk penghormatan kepada beliau. Sekarang sering dipergunakan untuk upacara “ngekeb”, yaitu upacara mengisolir anak gadis yang hendak menikah, “ngerajaswala” atau “mepandes”

Sebelah timur bale daje/bale bandung terdapat bale “dangin” yang berarti timur, bale ini difungsinkan sebagai tempat melanaksanakan upacara adat dan keagamaan yang berhubungan dengan manusa yadnya seperti pernikahan, “mepandes”, “otonan”, “ngerajaswala” dan lain – lain.

Disebelah selatan terdapat Bale murda/Bale Delod, yaitu bale yang dipergunakan untuk peletakan jenazah sambil menunggu hari baik untuk melaksanakan upacara “Ngaben” apabila ada keluarga dari Puri Agung Pemecutan meninggal dunia.

Sebelah barat terdapat bale “dauh”, dauh sendiri berarti barat. Bale ini dahulu dipergunakan sebagai tempat tidur untuk anak laki – laki, namun sekarang dipergunakan untuk menerima tamu pada saat upacara adat dan agama dilaksanakan.

Utama Mandala

Utama Mandala

Utama Mandala adalah bagian terdalam dari Puri disebut Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan, tempat keluarga puri melaksanakan persembahyangan dan berdoa kepada tuhan dan leluhurnya. Tempat ini merupakan tempat yang disucikan oleh keluarga Puri, bagi wanita yang sedang menstruasi tidak diperkenankan untuk memasuki areal ini.

Pemerajan Puri Agung Pemecutan memiliki beberapa “pelinggih”, pelinggih sendiri sebagai simbol pemujaan terhadap Dewa-Dewa tertentu, selain itu terdapat “pewaregan suci” atau dapur suci yang dipergunakan khusus untuk persiapan sarana upacara di Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan. Diatas Pewaregan terdapat “Jineng” sebagai tempat penyimpanan padi (lumbung)

Pada tembok Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan, terdapat ornamen ukiran kisah-kisah pewayangan yang menambahkan keunikan dari Pemerajan Puri Agung Pemecutan itu sendiri

Sempat mengalami kebakaran 11 pelinggih pada tanggal 11 Agustus 1995, Pemerajan Puri Agung Pemecutan sempat dipugar dan selesai pada tanggal 11 Agustus 1996 dan dilaksanakan Karya Memungkah Ngeteg Linggih pada Purnama Sasih Kelima Tanggal 26 November 1996. Kejadian ini dibuatkan Pracasti dan diletakan tepat di depan Kori Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan.

Menjelajah Waktu di Kebon Vintage Cars: Surga Bagi Penggemar Mobil Klasik di Denpasar

Destinasi ini ditujuan buat penggemar mobil klasik. Jangan mengira di Kota Denpasar tidak ada objek wisata yang memamerkan mobil-mobil klasik. Di Kebon Vintage Cars, dahaga Anda akan mobil klasik dari berbagai negara bisa dijamin akan terpuaskan. Ada lebih dari 100 unit mobil klasik keluaran tahun lama dipajang disini.

Beberapa mobil klasik yang bisa ditemukan disini seperti model Volvo 960 Limousine tahun 1991, Cadillac Fleetwood 75 Limousine tahun 1953, Austin A90 Atlantic tahun 1949-1952, sampai Dodge Brothers Spesial Series 116 Four Door tahun 1924 juga ada. Sejumlah mobil klasik itu terpajang rapi dan mudah untuk disentuh oleh pengunjung.

Bahkan, ada salah satu mobil jenis Plymouth Hudson Hornet keluaran tahun 1948 yang di BKPBnya tertera nama Fatmawati. Beliau adalah istri dari Presiden RI Soekarno. Beberapa mobil yang dipajang disini masih dapat digunakan untuk kegiataan.

Kebon Vintage ini dimiliki oleh Jos Dharmawan. Lokasinya berada di Jalan Tegal Harum No.13, Biaung, Kecamatan Denpasar Timur. Lokasinya mudah dijangkau jika Anda hendak menuju Gianyar. Meskipun dimiliki perorangan, tetapi destinasi ini dibuka untuk umum. Destinasi ini tergolong objek wisata baru karena baru dibuka pada saat pandemi Covid-19.

Awalnya oleh pemiliknya, tempat ini hanya garasi untuk mobil-mobil koleksi pribadinya. Adanya pandemi kemudian diputuskan untuk dibuka bagi masyarakat umum. Hingga saat ini cukup banyak pengunjung yang datang melihat-lihat koleksi mobil-mobil antik di Kebon Vintage Cars. Anda tidak perlu khawatir tiba disini, karena pengelola juga membuka layanan bagi pengunjung yang membutuhkan makanan dan minuman.

Pesona Spiritual Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap: Perpaduan Sejarah dan Kemakmuran di Muara Tukad Badung

Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap tidak hanya difungsikan untuk beribadah bagi umat Hindu semata. Pura ini juga menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menarik di kota Denpasar. Bagi Anda yang ingin mendapatkan ketenangan berbalut aura spiritual, maka tidak ada salahnya mengunjungi pura yang dikelilingi oleh muara ini.

Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap berlokasi di perbatasan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Tepatnya, di Muara Tukad Badung di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai Denpasar. Diyakini yang berstana Ida Ratu Bhatari Nihang Sakti, sebagai Dewi Kemakmuran. Sebagaimana difungsikan sebagai pura untuk mendapatkan kemakmuran, pura ini tidak pernah sepi dikunjungi pemedek. Keberadaan pura ini juga menjadi tujuan bagi para pedagang dan nelayan untuk memohon kemakmuran.

Dari penuturan Pemangku Pura Luhur Candi Narmada, IB Made Sudana, sebelum berdiri megah seperti saat ini, pura Luhur Tanah Kilap ini sudah ada, namun masih berupa pura sederhana. “Sejarah pura ini tertulis dalam lontar yang ditemukan di Griya Gede Gunung Beau Muncan- Karangasem,” jelasnya.

Adapun sejarah dari pura ini, seperti yang diceritakan Sudana, pada zaman pemerintahan kerajaan Bandana Raja, di pesisir bagian selatan pulau Bali hiduplah seorang Bendega (nelayan) bernama Pan Santeng, yang sehari-harinya hidup dari aktivitasnya sebagai nelayan di muara sungai yang menghadap ke laut Selatan Bali. Pada suatu hari, ketika sedang melaut, ternyata Pan Santeng sama sekali tidak mendapat hasil, dan kejadian tersebut berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

Akhirnya pada hari ketiga, akhirnya Pan Santeng mengucapkan janji masesangi (kaul), jika mendapatkan ikan, maka dia akan menghaturkan pekelem dan doanya pun terkabul.

“Sehingga Pan Santeng membangun pelinggih di atas batu karang dan setiap hari dengan tekun sang Bendega menghaturkan Bhakti di pelinggih tersebut, seiring dengan semakin banyaknya hasil tangkapan yang diperolehnya,” lanjut Sudana.

Hingga suatu hari, Pan Santeng mendapat sabda jika pelinggih tersebut adalah tempat stana Ida Brahma Putri dari Patni Keniten yang bernama Ida Ayu Ngurah Saraswati Swabhawa.

Demikianlah intisari dari sejarah Pura Luhur Candi Narmada dan pura tersebut selama berabad-abad tetap berupa pelinggih batu sederhana di atas karang, hingga akhirnya dilanjutkan Sudana pada tahun 1958 ada seorang ibu dari Kuta menerima pawisik untuk membangun sanggar agung di kawasan pelinggih Ratu Niang Sakti.

Akhirnya sanggar agung dibangun, dan lambat lain pelinggih tersebut semakin banyak dikunjungi masyarakat dari seluruh Kota Denpasar maupun dari luar Denpasar. “Terutama oleh para pedagang dan nelayan, pura ini menjadi tempat untuk memohon anugrah,” lanjutnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, secara perlahan, pembangunan pura Luhur Tanah Kilap semakin berkembang dengan beberapa gedong dan bangunan lainnya mulai dari Bale Kulkul, Pelinggih Ratu Gede Bendega, Gelung kuri dan Peletasan, Pelinggih Padmasana, Pelinggih Meru dan Negara Segara, Pelinggih Berada Rambut Sedana, Pelinggih Penglurah, Pelinggih Bhatara Wisnu, Pelinggih Ratu Bagus, Pelinggih Jineng, Pelinggih Bhatari Niang Sakti, Gedong Simpen dan Telaga Waja serta Bale Peselang.

Dikatakan Sudana, pelinggih tersebut berada di utama Mandala Pura Luhur Tanah Kilap. Sedangkan di areal palemahan, terdapat dua pelinggih lain yakni Pelinggih Persimpangan Bhatara Dalem Ped yang terletak di sebelah timur dan Pura Taman dan Tapa Gni yang terletak di sebelah Barat. Pelinggih dan pura-pura yang ada ini adalah satu kesatuan di Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap.

Subak Sembung: Surga Ekowisata dan Lari di Tengah Hamparan Sawah Denpasar

Penyuka olahraga lari pantang untuk melewatkan destinasi satu ini. Subak Sembung atau Uma Pala. Lokasinya ada di Jalan Ahmad Yani, Desa Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara. Subak ini merupakan salah satu tujuan wajib bagi mereka penyuka olahraga lari. Pasalnya, disini Anda bisa menikmati udara segar sekaligus menikmati pemandangan berupa hamparan sawah. Pematang sawah ini dilengkapi dengan jalan beton selebar 2 meter sepanjang sekitar 1 km. Saluran air di sebelah jalan beton mengalirkan air dengan lancar, membelah dan mengairi sawah.

Sejumlah delegasi internasional sudah banyak menjadikan Subak Embung sebagai lokasi ekowisata. Lokasi ini sangat sayang untuk dilewatkan saat mencari tujuan wisata di daerah Denpasar Utara. Di lahan seluas 11 hektare ini, Anda bisa menghabiskan waktu dengan melihat bagaimana pemanfaatan subak sebagai salah satu bentuk ekowisata. Jika beruntung, Anda dapat berinteraksi dengan petani pemilik lahan yang jumlahnya sebanyak 200 orang. Mereka inilah yang setiap hari menjaga eksistensi Subak Embung di tengah-tengah ancaman alih fungsi lahan.

Keistimewaan destinasi ini, meskipun menjadi lokasi wisata, para petani tetap berproduksi normal seperti sedia kala. Sejumlah bale bengong untuk bersantai ditempatkan di pinggir jalan, tempat pengunjung melepas lelah atau beristirahat menikmati pemandangan hijau. Petani-petani di Subak Sembung tak lagi menggunakan pupuk kimia demi melestarikan sawah mereka. Pupuk organik diutamakan, sejalan dengan awig-awig (aturan adat) subak yang melarang anggotanya mengalihfungsikan sawah.

Ekowisata Subak Embung menjadi saksi bahwa pemanfaatan lahan sawah dapat bersinergi dengan industri pariwisata. Di subak ini, pengunjung juga dapat mencicipi jajanan tradisional yang dijual oleh warga lokal di dekat pintu masuk dan parkiran kendaraan. Oh iya, meskipun sebuah subak, pengelola ekowisata ini sudah menyiapkan lahan parkir luas sehingga tidak perlu khawatir jika Anda akan berkunjung ke sini. Disarankan, bagi yang enggan berpanas-panasan, datang pada pagi hari maupun sore hari sebelum matahari tenggelam. Dijamin semakin jatuh cinta dengan keindahan penataan Subak Embung atau Uma Sari.

Taman Inspirasi Muntig Siokan: Surga Alam dan Matahari Terbenam di Sanur

Taman ini berlokasi di Pantai Mertasari, Sanur. Lokasinya ada di sisi barat pantai dari parkiran.
Destinasi wisata ini dikembangkan oleh warga Desa Adat Intaran Sanur. Fasilitas yang ada di Taman Inspirasi Muntig Siokan sangat lengkap, mulai dari playground, jineng Bali, hingga kano. Di taman ini terdapat warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau.

Salah satu wahana yang menjadi daya tarik utama di Taman Inspirasi Munting Siokan adalah wahana menaiki onta dan kuda. Wahana ini menjadi salah satu wahana favorit wisatawan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Ada juga masyarakat adat setempat yang menyewakan kano bagi yang meyukai olahraga ini. Bagi pungunjung yang ingin berwisata sepanjang hari di taman ini, tersedia juga gazebo-gazebo dengan gaya Bali yang beratapkan alang-alang.

Ada juga tempat dan sarana bermain khusus bagi anak-anak, seperti ayunan dan bebek-bebekan. Tempat yang sangat tepat bersantai bersama keluarga sembari menikmati suasana pantai dan pemandangan kapal-kapal bersandar.

Taman Inspirasi Muntig siokan adalah tujuan wisata yang wajib dikunjungi bagi para pecinta alam dan pengagum matahari terbenam. Taman yang indah ini menawarkan kesempatan untuk mengagumi kehijauan hutan yang subur, serta menyaksikan matahari terbenam yang memukau menghilang di balik cakrawala.

Taman ini memiliki hutan yang subur yang menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna. Taman ini adalah tempat yang ideal bagi para pecinta alam untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk kota dan kembali bersatu dengan alam. Pengunjung dapat berjalan-jalan melalui hutan dan meresapi suasana yang tenang yang mengelilingi mereka. Taman ini juga memiliki danau yang menakjubkan, yang menambah keindahan alami taman.

Salah satu daya tarik utama dari Taman Inspirasi Muntig Siokan adalah matahari terbenam yang menakjubkan yang dapat disaksikan dari taman. Ketika matahari perlahan-lahan tenggelam di balik cakrawala, langit berubah menjadi beragam warna, menciptakan pemandangan yang indah yang akan membuat pengunjung terpesona. Taman ini menawarkan berbagai sudut pandang di mana pengunjung dapat menonton matahari terbenam.

Taman ini tidak hanya populer di kalangan pengunjung lokal tetapi juga menarik banyak wisatawan domestik dari luar Bali dan bahkan wisatawan asing. Keindahan alam taman dan suasana yang tenang menjadikannya sebagai tujuan yang ideal bagi mereka yang mencari istirahat dari kehidupan mereka yang sibuk. Taman ini menawarkan berbagai kegiatan seperti jogging, bersepeda, dan piknik, menjadikannya tempat yang sempurna untuk keluarga dan kelompok menghabiskan waktu berkualitas bersama.

Sebagai kesimpulan, Taman Inspirasi Mertasari adalah tujuan yang sempurna bagi mereka yang mencari untuk mengagumi keindahan alam Bali dan menyaksikan matahari terbenam yang menakjubkan menghilang di balik cakrawala. Suasana yang tenang di taman, ditambah dengan acara budaya dan seni, menjadikannya sebagai tujuan yang wajib dikunjungi bagi wisatawan dari seluruh dunia. Mari bergegas menikmati suasana temaram sunset di Muntik Siokan.