Sejarah Kesiman

Kesiman sebagai wilayah secara administratif terletak di Kota Denpasar, menurut Eka Ilikita Desa Adat kesiman (1990) menyebutkan nama Kesiman berasal dari kata Ku dan Sima, istilah ini tercantum dalam Babad Wanggayah yang menceritakan Ida Dalem Batu Ireng.Ida Dalem Batu Ireng di Taman Hyang Batur membangun prahyangan bernama Dalem Tungkub yang disungsung oleh para Pasek Dangka. Kemudian dari Taman Hyang Batur beliau melanjutkan perjalanan ke Bukit Bali, Batu Belig, dan Sumerta. Kedatangan Ida Dalem Batu Ireng di Desa Sumerta tidak dihiraukan oleh Anglurah Bongaya, kemudian melanjutkan perjalanan berkelana angider bhuwana (angrebong) menuju Desa Tangkas mencari sungai dan meniatkan diri untuk moksa menggunakan media air, karena menurutnya moksa menggunakan air adalah jalan terbaik dan mampu membwa berkah. Sungai  tersebut kemudian bernama Sungai Ayu atau We Ayu, “we” berarti air dan “ayu” berarti kedamaian, sekarang sungai tersebut dikenal dengan Sungai Ayung. Setelah Ida Dalem Batu Ireng  mencapai moksa, para pengikutnya endirikan sebuah tugu peringatan berupa batu besar yang dinamakan Batu Sima. Ketiga keturunan Dalem Batu Ireng mengikuti yadnya moksa di Sungai Ayung, kemudian Bendesa Mas dan Gaduh membangun grema (desa pakraman) bernama Pendem lengkap dengan Prahyangan Desa Puseh dan Manik Aji di hutan ambengan Abian Nangka (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 3-4).

Ketika Adipati Sri Aji Kresna Kepakisan telah menjadi Adipati Majapahit di Bali, salah satu pendampingnya yaitu Arya Wang Bang mendirikan puri di tepi Sungai Ayung tepat di tempat Ida Dalem Batu Ireng Moksa. Arya Wang Bang Pinatih Majapahit disana bertemu dengan masyarakat Bali dengan menyatakan diri adalah utusan dari Sang Prabhu Majapahit untuk melanjutkan Sima Krama yang dijalankan oleh masyarakat Bali di wilayah kekuasaan Dalem Batu Ireng, wilayah tersebut bernama Ngerebongan. Setelah Arya Wang Bang  menerima warisan dari Ida Dalem Batu Ireng (Dalem Moksa) di tepi Sungai Ayung, kemudian Arya Wang Bang mengukuhkan tempat peninggalan Ida Dalem Batu Ireng dengan nama Kusima dan tempat inti Ida Dalem Batu Ireng moksa apengrebongan bernama Amuter Bhuana. Arya Wang Bang menegaskan arti Kusima, yaitu “ku” berarti kukuh atau kuat dan “sima” merupakan wilayah Prahyangan Dalem Muter. Prahyangan yang dibangun oleh Arya Wang Bang di tepi Sungai Ayung selesai pada hari Wrespati wuku Sungsang (Sugihan Jawa), sebagai penanda masyarakat Bali yang berasal dari Jawa melaksanakan upacara piodalan Sugihan Jawa. Kemudian kata Kusima lama kelamaan disebut dengan Kesiman hingga saat ini (Eka Ilikita Desa Adat Kesiman, 1990: 4).

Kesiman dengan perjalanan sejarahnya yang cukup panjang  dimulai dari kesiman sebagai kerajaan, distrik, kecamatan, kelurahan/desa, dan hingga desa adat secara kronologi perlu juga dijabarkan terlebih dahulu sejarah singkat peradaban Kota Denpasar, karena secara administratif  Kesiman berada di Kota Denpasar. Berdirinya Puri Denpasar pada tahun 1788 dengan menobatkan I Gusti Ngurah Made sebagai Raja dengan abhiseka gelar I Gusti Ngurah Made Pemecutan (1788-1813) karena berasal dari keturunan Pemecutan. Pengganti I Gusti Ngurah Made Pemecutan di Puri Denpasar adalah I Gusti Gde Ngurah dengan abhiseka I Gusti Ngurah Jambe (1813-1817) sebagai Raja Denpasar II, sedangkan adiknya yang bernama I Gusti Gde Kesiman mendirikan puri di sisi timur Kerajaan Badung yang bernama Puri Kesiman pada tahun 1813 (Geriya dkk, 2011 dalam Amerta dkk, 2018: 11-12).


Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)
Tjokorda Sakti Kesiman (1862)

I Gusti Gde Kesiman sebagai Raja Kesiman I pernah menjadi wali raja Kerajaan Badung, ketika I Gusti Ngurah Jambe sebagai Raja Denpasar II meninggal pada tahun 1817, digantikan oleh I Gusti Made Ngurah pada tahun 1817-1829 sebagai Raja Denpasar III, karena masih kecil tapuk pemerintahan dikendalikan oleh pamannya di Puri Kesiman. Pengaruh I Gusti Gde Kesiman dapat menciptakan kerjasama atas dasar saling pengertian antara tiga puri di Kerajaan Badung, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman. Hal ini membuat Kerajaan badung memiliki kekuatan yang disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangga. Kemampuannya dalam berbahas melayu juga membuat I Gusti Gde Kesiman mudah berkomunikasi dengan orang-orang asing yang datang berniaga ke Kerajaan Badung (Gora Sirikan, II, ANRI, 1964 dalam Geriya dkk, 2011: 38-39)

Ketika I Gusti Gde Ngurah naik tahta menjadi Raja Denpasar IV pada tahun 1829 bergelar Cokorda Denpasar dan pada tahun 1865 setelah I Gusti Gde Kesiman meninggal, pucuk pimpinan Kerajaan Badung mulai pindah ke Puri Denpasar. Setidaknya di Puri Denpasar ada tiga raja lagi yang memerintah sebelum meletusnya perang Puputan Badung pada tahun 1906, yaitu I Gusti Gde Ngurah sebagai Raja Denpasar V (1963-1883), dan I Gusti Alit Ngurah sebagai Raja Denpasar VI (1883-1902) dengan gelar I Gusti Ngurah Jambe Pemecutan, kemudian diganti oleh I Gusti Ngurah Made Agung sebagai Raja Denpasar VII pada tahun 1902 hingga akhirnya gugur dalam perang Puputan Badung pada 20 September 1906. Selain Raja Denpasar VII yaitu I Gusti Ngurah Made Agung, gugur juga I Gusti Ngurah Pemecutan (1890-20 September 1906) sebagai Raja Pemecutan VIII, sedangkan sebelum itu pada 18 September 1906 Raja Kesiman yaitu I Gusti Ngurah Agung/I Gusti Gde Ngurah Kesiman telah mendahului gugur tertusuk keris di dalam puri.

Pasca perang Puputan Badung pada tahun 1906 Kerajaan Badung dengan tiga purinya, yaitu Puri Pemecutan, Puri Denpasar, dan Puri Kesiman secara resmi menjadi wilayah koloni Pemerintah Kolonial Belanda. Pengaruh-pengaruh kolonial Belanda mulai diterapkan seperti membangun perkampungan pendatang, museum, sekolah, perkantoran, pasar, pelabuhan, jalan, jembatan, dan lain sebagainya. Kota Denpasar digunakan untuk menyebut ibukota afdeling Bali Selatan, situs bekas Puri Denpasar dimanfaatkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda setingkat afdeling dan onderafdeling beserta pejabatnya, yaitu Asisten Residen dan Kontrolir (Boon, 1938 dalam Geriya dkk, 2011: 63-64). Kesiman juga menjadi salah satu nama distrik, yaitu Distrik Kesiman membawahi yang berkedudukan di Benculuk, Tegehkuri, dan Tonja dipimpin oleh seorang Punggawa bernama Jero Gede Rai dari Singaraja. Sekitar tahun 1920 Kantor Distrik Kesiman dipindahkan ke Bencingah Puri Kesiman (sekarang Kantor Camat Denpasar Timur). 

Bale Kulkul Kesiman Kedaton (1906)

Adapun urutan yang menjabat di Distrik Kesiman antara lain I Gusti Ngurah Gde Kesiman (1921 – bulan Mei 1954), I Gusti Ngurah Anom Pacung (1954 – 12 Desember 196), I Gusti Ketut Redung, (1960 – 1963), I Gusti Kompyang Rogig Sugriwa (1963 – 1965), dan I Gusti Ngurah Gde (1965 – 1970).

Sekitar tahun 1970 Distrik Kesiman berubah nama menjadi Kecamatan Kesiman dengan mewilayahi 11 desa yaitu Desa Kesiman, Desa Tonja, Desa Penatih, Desa Sumerta, Desa Sanur, Desa Renon, Desa Sesetan, Desa Panjer, Desa Serangan, Desa Ubung, dan Desa Peguyangan. Pada tahun 1978 terjadi pemekaran kecamatan di Kota Denpasar yang pada awalnya hanya ada dua, yaitu Kecamatan Denpasar dan Kecamatan Kesiman dimekarkan menjadi tiga, yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Kecamatan Denpasar Timur, dan Kecamatan Denpasar Selatan. Setelah adanya pemekaran kecamatan dilanjutkan dengan pemekaran desa serta perubahan status desa menjadi kelurahan, maka Kesiman yang awalnya merupakan kecamatan berubah menjadi Kelurahan Kesiman pada tanggal 1 Desember 1979, serta ditambah dengan dua desa pemekaran, yaitu Desa Kesiman Petilan dan Desa Kesiman Kertalangu dengan secara adat dinaungi oleh Desa Adat Kesiman di wilayah Kecamatan Denpasar Timur.

IMG_1086-1

Masjid Assyuhada

Pembangunan Masjid Asy-Syuhada melibatkan warga Kampung Bugis dan Raja Hindu Badung, Cokorda Ngurah Sakti. Masjid bersejarah ini berdiri sebagai bukti koeksistensi damai Islam dan Hindu di Bali selama bertahun-tahun. Masjid ini terletak di tengah desa di Jl. Tukad Pekaseh, Serangan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali 80229, dan berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Islam lokal dan tujuan populer bagi mereka yang tertarik untuk belajar tentang multikulturalisme di pulau itu. Ciri-ciri kuno masjid ini, seperti Alquran kuno, pilar kayu, dan mimbar tinggi, merupakan bukti keberadaannya yang telah lama ada dan signifikansi historisnya di Bali.

Masjid Asy-Syuhada diyakini merupakan bangunan asli, hanya dengan sedikit renovasi seperti mengganti atap dengan genting dan penambahan kubah. Interior masjid menampilkan papan semen asbes di langit-langit dan ubin marmer di lantai ruang sholat.

Arsitektur masjid mencerminkan perpaduan budaya Bali dan Bugis. Pengaruh Bali terlihat pada pagar, atap, dan elemen dekoratif masjid, sedangkan budaya Bugis tercermin pada mimbar yang terbuat dari kayu berukiran rumit dan pagar besi. Area wudhu, bangunan terpisah dari masjid, merupakan tambahan modern.

Koeksistensi damai umat Hindu dan Muslim Bali di Kampung Bugis, Serangan, adalah contoh indah dari kerukunan antaragama. Meski berasal dari banjar yang berbeda, mereka tidak terpisah secara geografis. Selama festival seperti Idul Fitri dan Galungan, mereka saling mengunjungi rumah dan bertukar makanan, yang dikenal sebagai jootan dalam bahasa Bali.

taman-kumbasari-27

Taman Kumbasari

Taman Kumbasari, juga dikenal sebagai Tukad Korea, adalah taman yang dirancang dengan indah dan terletak di pusat kota Denpasar, Bali. Taman ini meniru sungai Cheonggyecheon di Seoul dan telah menjadi tempat yang populer bagi penduduk lokal dan wisatawan, berkat lanskap yang indah dan fitur uniknya.

Salah satu daya tarik utama dari Taman Kumbasari adalah jalur berliku sungai sepanjang 548 meter. Pengunjung dapat berjalan-jalan di sepanjang jalur tersebut dan menikmati pemandangan indah dari tempat duduk berwarna-warni, ornamen batu yang diatur rapi, dan air mancur di kedua sisi sungai. Jalur berliku ini menuju jembatan apung yang menjadi tempat yang sempurna untuk mengambil foto dan menikmati suasana yang tenang.

Desain taman ini terinspirasi oleh keindahan sungai Cheonggyecheon di Korea Selatan, dan pengunjung tentunya dapat merasakan kesamaan antara kedua tempat tersebut. Taman Kumbasari dirancang dengan cermat, dengan perhatian yang diberikan pada setiap detail untuk menciptakan pengalaman yang benar-benar menarik bagi mereka yang mengunjunginya.

Area duduk taman dihiasi dengan bantal berwarna-warni yang nyaman, memberikan tempat yang nyaman untuk bersantai dan menikmati pemandangan. Ornamen batu menambah sentuhan elegan pada lingkungan sekitar, sedangkan air mancur di kedua sisi sungai menciptakan suara yang menenangkan dan menambah suasana yang tenang di taman.

Selain jalur berliku sungai, Taman Kumbasari juga memiliki beberapa fitur menarik lainnya. Taman ini juga dilengkapi dengan area bermain anak-anak, sehingga menjadi destinasi yang sangat baik untuk keluarga dengan anak kecil. Ada juga beberapa warung makanan dan penjual souvenir, menjadikannya tempat yang bagus untuk menghabiskan waktu dengan teman atau keluarga.

Popularitas Taman Kumbasari dapat dikaitkan dengan desain uniknya, yang menawarkan pengunjung rasa keindahan dan budaya Korea Selatan. Taman ini telah menjadi destinasi populer bagi wisatawan yang mencari tempat foto Instagram-worthy dan pelarian yang tenang dari kesibukan kota.

Secara keseluruhan, Taman Kumbasari, atau Tukad Korea, adalah destinasi wajib bagi siapa pun yang bepergian ke Bali. Jalur berliku sungai, jembatan apung, tempat duduk yang berwarna-warni, ornamen batu yang diatur rapi, dan air mancur di kedua sisi sungai menyediakan pengunjung dengan rasa keindahan dan budaya Korea Selatan, menjadikannya tempat yang sangat baik untuk berjalan-jalan sore atau hari keluarga.

IMG_0758

Big Garden Corner

Popularitas dari kawasan ini sudah tidak perlu diragukan lagi apalagi untuk kalangan para remaja di Denpasar, Bali. Area hiburan ini memiliki latar belakang untuk foto yang unik serta tempat nongkrong di tempat keren. Wadah rekreasi yang buka pada bulan Juni tahun 2016 ini selalu menghadirkan kreasi dan inovasi baru sehingga tidak membosankan. 

Big Garden Corner berlokasi di sebelah barat area lampu lalu lintas Padang Galak – Waribang, By Pass Ngurah Rai, Sanur, Denpasar Timur. Beragam pilihan aktivitas berikut ini yang mungkin dapat Anda lakukan seperti bermain dengan anak, duduk bersantai di bean bag dan berfoto ria di berbagai objek yang dimiliki Big Garden Corner seperti

“Miniatur Candi Borobudur”

Miniatur Candi Borobudur ini mempunyai tinggi 5 meter dan Anda harus sabar karena ada banyak pengunjung ingin berfoto.

“Patung batu dengan jumlah yang banyak”

Dalam arena ini ada pahatan seni patung dari batu mulai ukuran terkecil hingga yang paling besar. Akan tetapi, kebanyakan yang ada adalah patung berukuran besar utamanya patung Buddha.

Banyak kerajinan seni patung dan batu disana yang kebanyakan di ekspor dan diperjual belikan. Karena itu hampir Sebagian besar dari kerajinan patung yang ada nampak masih baru.

“Atap yang berupa payung warna warni”

Kawasan dengan minat pengunjung terbanyak untuk memperoleh foto keren di jalan setapak yang dinaungi atap payung warna – warni. Bilamana Anda membuat rencana untuk melakukan foto pre wedding disini akan ditarik dana sebesar Rp 200.000.

Disini juga dapat dipakai sebagai tempat untuk acara resepsi pernikahan yang mampu mewadahi 500 – 1000 orang.

“Area nongkrong berwarna warni”

Spot untuk bersantai di taman ini sangat beragam apalagi ditambah dengan kursi dan bantal yang memiliki warna warni.

Arena santai ini ada di area kebun dengan payung yang berukuran besar serta ada meja kayu.

“Bentuk silang batang pohon”

Jarang ada objek wisata yang menawarkan hal ini karena memang sangat langkah. Harga batang pohon yang menyilang ini tergolong sangat mahal ditambah harus disertai perawatan intensif.

“Rumah pohon mini”

Terdapat sebuah rumah pohon yang beratapkan Jerami dan bahan dasarnya kayu. Sesuatu yang tidak terduganya ada patung kera di dalamnya.

Bokashi Farm

Bokashi Farm yang berlokasi di Jl. Waribang No.27, Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, berfungsi sebagai pusat edukasi tanaman obat dan pertanian organik dengan menggunakan teknologi EM. Menawarkan halaman yang hijau dan luas, menjadikannya tempat yang ideal untuk berbagai kegiatan di luar ruangan seperti reuni, pernikahan, ulang tahun, dan pertemuan. Selain itu, peternakan ini memiliki restoran yang bekerja sama dengan Warung Sunda “Kang Zanger” yang menyajikan makanan khas Sunda halal seperti Nasi Timbel, Gurami, Ayam Bakar, dan lainnya, cocok untuk makan siang kantor, pertemuan klien, atau pertemuan keluarga.

Perkebunan Bokashi juga merupakan tempat yang tepat untuk mengedukasi masyarakat tentang manfaat tanaman obat. Ini sering menerima kunjungan dari SD, SMA, mahasiswa, dan instansi pemerintah. Dengan luas sekitar 20 hektar, pengunjung dapat belajar tentang berbagai jenis tanaman obat, hidroponik, praktik berkebun, pengomposan organik, dan kegiatan tamasya lainnya. Peternakan berfungsi sebagai model pertanian terpadu dan laboratorium lapangan yang lengkap.

Selain itu, masyarakat Denpasar didorong untuk mendaur ulang sampahnya menggunakan teknologi EM untuk menghasilkan pupuk organik, yang dapat digunakan untuk menyuburkan kebun, kebun, kebun hotel dan villa, dan terutama kebun di kawasan pemukiman masing-masing.

Citraland Waterpark

Citraland Waterpark Denpasar merupakan tempat rekreasi air di Denpasar, Bali yang mengusung tema bajak laut. Terletak di kawasan perumahan Citraland di jalan Cargo Permai, menjadikannya pilihan yang nyaman dan ramah keluarga. Taman ini menawarkan berbagai fasilitas bagi wisatawan, antara lain area parkir yang luas, pusat informasi, dan loket tiket destinasi Citraland Water. Pengunjung juga bisa menikmati wahana air yang menegangkan, berfoto di spot Instagenic, berenang di kolam renang, menggunakan toilet, sholat di mushola, hingga menyimpan barang bawaan di loker. Taman ini juga memiliki gazebo, area tempat duduk untuk turis, dan kafetaria.

Untuk liburan yang menyenangkan di Denpasar Bali, jelajahi atraksi dan wahana terbaik di Citraland Waterpark Denpasar dan segarkan kembali tubuh dan pikiran Anda dengan menyegarkan diri dengan berenang di kolam renang bersama orang-orang tersayang. Ada banyak aktivitas seru yang bisa dinikmati, seperti foam pool, race slider, tube slider, adventure gallery rides, lazy river, spilling bucket, dan reflection pool.

Dharma Negara Alaya

Gedung Dharma Negara Alaya dibangun dengan tujuan untuk menginspirasi generasi muda agar tetap kreatif dan inovatif. Ini berfungsi sebagai tempat untuk pameran, acara bertema budaya, lokakarya, dan banyak lagi.

Pembangunan gedung Dharma Negara Alaya merupakan cerminan ekonomi digital 4.0, sejalan dengan visi Denpasar sebagai pusat kreativitas dan budaya. Masuk gratis, dan individu atau kelompok dipersilakan untuk terlibat dalam kegiatan kreatif di dalam gedung. Bangunan DNA menawarkan berbagai fasilitas.

Jika Anda berasumsi bahwa hanya ruang seni (auditorium dalam dan luar ruangan) dan ruang kerja bersama (baik dalam maupun luar ruangan) yang tersedia, pikirkan lagi. Bagi pecinta buku, terdapat perpustakaan dengan berbagai macam buku yang akan menggugah rasa penasaran Anda. Jika lapar atau haus, Anda bisa menuju ke Mulai Denpasar, kedai kopi yang menawarkan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Tempat yang pas untuk hangout, kan?

WiFi juga tersedia bagi mereka yang ingin mencari inspirasi atau melepaskan imajinasinya. Apakah Anda menuju ke tempat lain atau tinggal di dalam lokasi, yakinlah bahwa WiFi dapat diakses. Jadi mengapa tidak menghabiskan waktu berkualitas di ruang kreatif yang disediakan oleh DNA?

Duta Orchid Garden

Duta Orchid Garden lebih dari sekedar tujuan wisata. Di sini wisatawan akan menghabiskan liburannya dengan pengalaman yang begitu baik dan mendapatkan lebih banyak pengetahuan terutama tentang anggrek dan tumbuhan tropis pada umumnya. Duta Orchid Garden melayani wisatawan dengan pemandangan taman yang berkualitas serta edukasi atau informasi yang baik terutama tentang tanaman. Selama tour di Duta Orchid Garden wisatawan didampingi oleh guide lokal yang berpengetahuan luas yang membantu untuk mengambil gambar di spot yang bagus, guide juga menjelaskan cara merawat anggrek di taman. memperlakukan wisatawan bukan sebagai tamu, tetapi sebagai teman baik untuk berbagi informasi yang benar tentang merawat anggrek dan juga mempromosikan bahwa Indonesia memiliki banyak anggrek langka yang unik.

Terletak di jalan bypass ngurah rai no 21X, Tohpati, Denpasar, Bali, hanya 15 menit dari Kawasan Sanur. Ini akan memberikan kesempatan bagi Anda untuk menyegarkan pikiran dan jiwa Anda.

Konsep desain dibagi menjadi beberapa bagian seperti resepsionis, air terjun, rumah teduh, kafe kecil, toko souvenir, zona kaktus, area dedaunan, taman buah-buahan, anggrek, dan bunga tropis ditampilkan untuk memberikan efek segar yang berkilau di taman tropis yang indah dan rimbun. Berbagai macam anggrek berpadu dengan berbagai jenis tanaman tropis. Semua ditampilkan dalam pemandangan indah taman seluas satu hektar.

Embung Sanur

Kawasan Desa Sanur Kauh dulunya merupakan hutan bakau yang telah mati dan kemudian diubah menjadi tambak ikan oleh masyarakat setempat. Baru-baru ini, kawasan tersebut telah diubah menjadi fasilitas penyimpanan air untuk mengurangi banjir.

Embung Sanur dibangun di atas sebidang tanah seluas kurang lebih 2,3 hektar dari kawasan Tahura. Memiliki luas kolam seluas 0,96 hektare dan kapasitas penyimpanan 34.500 meter persegi. Tinggi tanggul dari dasar tampungan adalah 5,18 meter. Struktur ini dirancang untuk secara efektif mengurangi terjadinya banjir.

Selain fungsi pencegahan banjir, Embung Sanur diharapkan dapat menjadi tempat rekreasi, olah raga, dan fotografi bagi masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Denpasar, ibu kota provinsi Bali. 

Sanur merupakan destinasi wisata yang terkenal, dan penambahan Embung Sanur pada objek wisatanya diharapkan dapat semakin mendongkrak daya tariknya.

Taman Jepun

Denpasar, ibu kota provinsi Bali, memiliki tujuan wisata yang berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi berbagai macam bunga kamboja – Istana Taman Jepun terletak di Jl. Hayam Wuruk Tanjung Bungkak, No. 104H, Sumerta Kelod, Denpasar Timur, ini merupakan taman kamboja terbesar di dunia.

Istana Taman Jepun berfungsi sebagai tempat konservasi plasma nutfah Indonesia, dengan fokus khusus pada bunga kamboja. Oka Dipa mendirikan taman bunga berbahan dasar kamboja ini pada tahun 2009 karena preferensi pribadinya terhadap bunga ini. Awalnya, sebagian besar bibit bunga ditanam melalui usaha budidaya sendiri. Namun, Departemen Pertanian kemudian memberikan bantuan, yang mengarah pada penanaman hingga 400 varietas kamboja di lokasi seluas 2,5 hektar ini.

Dari 400 varietas tersebut, 140 berasal dari Bali sedangkan 260 sisanya berasal dari luar negeri, terutama Hawaii dan Thailand. Istana Frangipani memiliki beberapa fitur menarik, termasuk Monumen Charles Plumier, yang menyambut pengunjung saat memasuki taman. Plumier, seorang ahli botani Prancis terkenal, menemukan genus Frangipani bernama Plumeria. Pekerjaan klasifikasinya pada lebih dari 4.000 spesies tanaman menghasilkan identifikasi 700 spesies baru, termasuk kamboja.

Danau buatan yang luas, yang terletak tepat di depan Restoran La Jepun, menawarkan pemandangan yang menyegarkan dan indah. Banyak spesies burung, seperti angsa hitam dan putih, bebek, dan burung air lainnya dapat ditemukan di sini. Selain itu, hadir lapangan gateball berstandar internasional. Atraksi terbaru yang ditambahkan ke Istana Taman Jepun adalah permainan pedal go-car, yang diperkenalkan sebagai salah satu pilihan rekreasi taman mulai 1 September 2020.