Menyelami Sejarah dan Tradisi Pura Tambang Badung: Dari Pura Taman ke Pura Penambangan Badung

Pura Tambang Badung terletak di Banjar Pemedilan Kerandan, Desa Pemecutan, Denpasar. Tepatnya di Jalan Gunung Batukaru, sebelah barat Pura Pasah Pemedilan. Pura Tambang Badung merupakan salah satu jajaran pura tua yang ada di Bali.

Pura ini dulunya bernama Pura Taman, kemudian berubah menjadi Pura Ayu Panesteran Panembahan Badung, baru akhirnya menjadi Pura Penambang Badung. Pura Tambangan Badung sendiri memiliki beberapa tradisi. Ada Tari Baris Tangklong yang dipentaskan setiap Penampahan Galungan dan Tradisi Siyat Sampian yang dilaksanakan setiap Manis Kuningan. Tujuan tradisi ini adalah untuk pembersihan mala dan menanamkan jiwa ksatria.

Pura Penambangan Badung merupakan pura yang berfungsi sebagai pura kerajaan Badung. Menurut sumber-sumber tradisional, pura ini didirikan pada awal-awal berdirinya kerajaan Badung oleh Kiyai Jambe Pule, yang bergelar Kiyai Anglurah Pemecutan I.

Nama Pura Penambangan erat kaitannya dengan anugerah yang diterima Kiyai Jambe Pule di Gunung Batukaru, yaitu berupa pecut (cemeti) dan tambang (tali). Pura ini dimaknai sebagai tali pengikat keluarga dan warga Pemecutan. Di pura ini berdiri berbagai palinggih (bangunan suci), termasuk paibon (ikatan keluarga) dari semua warga yang berjasa dalam pendirian Kerajaan Badung.

Tercatat ada 52 palinggih dengan 18 di antaranya merupakan palinggih paibon dan sisanya merupakan palinggih panyawangan berbagai pura penting di Bali. Pura ini di-empon (di bawah tanggung jawab) warga Puri Pemecutan. Upacara pujawali (hari peringatan berdirinya pura) dilaksanakan saban Purnama Kadasa (purnama pada bulan ke sepuluh dalam tradisi penanggalan Bali, sekitar bulan Maret).

Makam Ratu Ayu Siti Khodijah: Kisah Multikulturalisme dan Legenda di Kota Denpasar

Makam Ratu Ayu Siti Khodijah ini merupakan bukti multikuralisme sudah sejak lama ada di Kota Denpasar. Makam ini berada di utara Setra Agung Badung, Desa Pekraman Denpasar. Tepatnya di sebelah timur Pura Dalem Kahyangan Denpasar.

Ratu Ayu Siti Khodijah Pemecutan, merupakan makam salah satu putri Raja Pemecutan bernama Gusti Ayu Made Rai atau disebut juga dengan Raden Ayu Pemecutan. Namun tidak jelas dari Raja Pemecutan yang mana. Ia menikah dengan putra Raja Bangkalan yang bernama Raden Sosroningrat. Setelah pernikahan mereka, Dewi Ayu diajak ke Madura, memeluk agama Islam dan berganti nama menjadi Siti Khotijah.

Cerita awal sang Raden Ayu Pemecutan, seperti cerita legenda putri-putri keraton di seluruh nusantara. Sang putri terkenal cantik dan disayang hingga menjadi kembang kerajaan. Tak sedikit para pembesar kerajaan di Bali yang ingin meminang sang putri. Namun musibah datang, sang putri mengidap penyakit kuning. Raja Pemecutan berusaha untuk menyembuhkan sang anak kesayangan, namun tak berhasil menyembuhkan sang putri. Hingga Raja Pemecutan membuat sebuah sayembara yang bisa menyembuhkan penyakit sang putri, jika perempuan akan diangkat jadi anak raja dan jika laki-laki akan di kawinkan dengan Raden Ayu Pemecutan.

Kabar tentang sayembara ini terdengar oleh seorang ulama di Yogyakarta dan mempunyai seorang anak didik yang jadi raja di Madura yaitu Pangeran Cakraningrat IV. Ulama yang dalam buku Sejarah keramat Raden Ayu Pemecutan disebut Syech ini memanggil Pangeran Cakraningrat IV ke Yogyakarta untuk mengikuti sayembara tersebut. Raja Madura ini berangkat ke Bali, hasilnya dapat ditebak Raden Ayu Pemecutan dapat disembuhkan oleh Pangeran Cakraningrat IV.

Setelah sang putri sembuh, lalu Raden Ayu Pemecutan dan Pangeran Cakraningrat IV dikawinkan. Tentunya dalam perkawinan muslim, keduanya harus beragama Islam, Raden Ayu Pemecutan pun jadi mualaf dan bergelar Raden Ayu Siti Khotijah. Sang putri lalu di boyong ke Madura oleh Pangeran Cakraningrat IV.

Suatu ketika Raden Ayu pulang ke Bali beserta 40 orang pegiring dan pengawal. Pangeran Cakraningrat IV memberikan bekal berupa guci, keris dan sebuah pusaka berbentuk tusuk konde yang diselipkan di rambut sang putri. Sesampainya di kerajaan Pamecutan, Siti Khotijah disambut dengan riang gembira. Namun, kala itu tidak ada yang mengetahui bahwa sang putri telah memeluk agama Islam. Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelingihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Kotijah menjalankan persembahyangan (ibadah sholat maghrib) di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Krudung). Ketika itu salah seorang Patih di Puri melihat hal tersebut. Para patih dan pengawal kerajaan tidak menyadari bahwa Puri telah memeluk islam dan sedang melakukan ibadah sholat. Menurut kepercayaan di Bali, hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam.

Akibat ketidaktahuan pengawal istana, ‘keanehan’ yang disaksikan di halaman istana membuat pengawal dan patih kerajaan menjadi geram dan melaporakan hal tersebut kepada Raja. Mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan areal pemakaman yang luasnya 9 Ha. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Siti Khotijah.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam, karena senjata tajam tak akan membunuhku. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih serta dililitkan dengan benang tiga warna, merah, putih dan hitam (Tri Datu), tusukkan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka buatkanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Peristiwa itu sangat mengejutkan para patih dan pengawal. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan belia . Jenasah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan

Mengungkap Pesona Pasar Sindu Sanur: Tempat Kuliner Favorit Wisatawan Mancanegara dan Lokal

Buang dulu kesan jorok dan kotor saat mendengar Pasar Sindu Sanur. Semua kesan itu dapat dijamin tidak ada di pasar ini. Justru sebaliknya, Anda akan mendapatkan kesan istimewa. Di Pasar Sindu Sanur, pengunjung justru akan terkesima karena banyak wisatawan mancanegara layaknyaa warga lokal. Tidak heran kalau pasar ini dijuluki Pasar Senggolnya Bule.

Pasar Sindu Sanur Pasar Sindhu yang berada di Jalan Danau Toba No.17 Sanur, Bali. Pasar Sindu berdiri di atas lahan seluas 51 are untuk menampung 361 pedagang yang sebagian besar merupakan masyarakat lokal. Pada pagi hari, pasar ini menjual berbagai kebutuhan pokok. Saat malam hari, pelataran pasar disulap menjadi pasar senggol. Pasar diresmikan oleh Menteri Perdagangan RI Marie Elka Pangestu pada 4 tahun2010. Saat itu tujuannya menjadikan Pasar Sindu menjadi pasar yang ramah dan segar.

Jauh dari kesan pasar tradisional, pasar ini terbilang istimewa karena dikenal dengan kebersihannya. Pasar Sindu kini tidak saja dikenal ramah dan segar tetapi juga pasar bagi wisatawan. Khususnya saat pasar dibuka pada malam hari. Saat malam hari, pasar ini menyajikan aneka hidangan kuliner tradisional dari pada pedagangan kaki lima dengan harga yang terjangkau.

Adapun beberapa makanan unggulan yang menjadi primadona di Pasar Malam Sindu antara lain mi ayam, nasi goreng, bakso, sate, gulai kambing, hingga es buah. Lokasinya yang berada di destinasi utama Bali, yakni Sanur menjadikan Pasar Sindhu sering menjadi tujuan bagi wisatawan internasional berbelanja. Mereka berbaur dengan masyarakat lokal dan wisatawan domestic menikmati sajian kulier lokal. Kebersihan dan kerapian para pedagang ini membuat wisatawan menjadi nyaman sehingga jauh dari kesan jorok dan tidak beraturan.

Jangan kaget ketika suatu ketika Anda mampir untuk menikmati suguhan kuliner Pasar Sindu tiba-tiba duduk berdekatan dengan wisatawan mancanegara. Jika tidak percaya, bisa dibuktikan segera.

Hutan Mangrove Bali atau Taman Hutan Raya Ngurah Rai: Destinasi Wisata Alam yang Memadukan Sejarah, Keindahan, dan Konservasi

Salah satu wisata alam di Kota Denpasar jangan pernah Anda lewatkan. Karena, destinasi ini pernah menjadi lokasi bersejarah tempat berkumpulkan kepala-kepala negara anggota G-20 seperti Presiden Amerika Serikat Joe Biden berkumpul, berfoto bersama dan menanam mangrove bersama. Inilah Hutan Mangrove Bali atau Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai. Lokasinya ada di Jalan By Pass Ngurah Rai, Km 21, Suwung Kauh Desa Pemogan, Kuta, Denpasar. Jika hendak masuk lokasi ini, perhatian petunjuk berupa papan besar bertulisan G-20.

Ada berbagai aktivitas dapat Anda nikmati di taman Mangrove seluas 1.373 hektare dengan panjang 1,5 kilometer ini. Disini Anda bisa berjalan menyusuri mangrove track yang terbuat dari susunan kayu di atas hutan mangrove. Pengunjung bisa mengamati dan mengidentifikasi aneka tanaman bakau di kiri dan kanannnya. Titik mangrove track ini adalah pemandangan Jalan Tol Bali Mandara.

Pengunjung juga bisa rehat sejenak sembari menghirup udara segar di tower khusus di tengah hutan. Tower ini juga instagramable, sehingga banyak dijadikan latar belakang untuk berswafoto. Dari puncak tower pengunjung bisa menikmati keindahan alam hutan bakau dari atas. Aktivitas lain yang bisa dicoba disini adalah menyewa jukung milik nelayan. Di hutan mangrove ini terdapat perahu-perahu ini milik Kelompok Nelayan Segara Guna Batu Lumbang dengan anggota mencapai 40 orang.

Wisatawan diajak berkeliling hutan bakau selama 25-30 menit, bahkan melintasi bawah Tol Bali Mandara. Kelompok Nelayan Guna Batu Lumbang juga memiliki area pembibitan tanaman mangrove. Mereka akan menanami kembali tanaman mangrove yang mati atau rusak. Penanaman mangrove dilakukan hingga ke pelosok-pelosok hutan sembari menggunakan perahu atau kano.

Ada setidaknya 16 jenis vegetasi bakau di Hutan Mangrove Bali didominasi Rhizophora, Bruguiera, dan Xylocarpus. Keberadaannya memberi naungan terhadap satwa air dan darat di sekitarnya. Unit Pelaksana Teknis Taman Hutan Raya Ngurah Rai mencatat sekitar 61 jenis burung, empat reptil, 30 jenis Crustacease, dan delapan jenis ikan hidup di dalamnya.

Menarik kan beraktivitas di Hutan Mangrove Denpasar? Siapa bilang wisata di Denpasar hanya soal budaya dan pantai. Masih ada hutan Mangrove yang layak dikunjungi.

 

Menelusuri Sejarah dan Tradisi di Pura Petilan Pengerobongan: Dari Penjor Megah hingga Tari Ngurek

Sering penasaran saat melihat video viral penjor-penjor besar dan cantik dipajang bersamaan? Jika Anda penasaran dimana lokasi tersebut. Kami informasikan bahwa lokasi itu berada di Kesiman. Tepatnya di Pura Petilan Pengerobongan. Pura ini berlokasi di Desa Kesiman di Denpasar Timur. Aktivitas pemasangan penjor nan indah berukuran besar tersebut hanya segelintir aktivitas di pura ini.

Pura yang terletak di sisi utara Jalan WR. Supratman, Denpasar tersebut memiliki nilai sejarah dan tradisi unik yakni Ngerebong setiap Redite Pon Medangsia. Selain terkenal dengan pemasangan penjor berukuran besar, salah satu budaya menarik pura ini adalah Tari Ngurek atau Ngunying. Di Pura Pengerebongan tradisi menari setengah trance dengan menggunakan keris pada saat-saat tertentu.

Pura Petilan atau yang lebih dikenal dengan nama Pura Pangrebongan merupakan salah satu pura di Denpasar yang keberadaannya sangat erat kaitannya dengan sejarah PuriKesiman. Putra Raja Badung yang kemudian menjadi Raja di Kesiman dengan gelar Cokorda Kesiman atau Batara Inggas mendirikan puri baru di sebelah barat Puri Kedaton atau Puri Kesiman Baru. Untuk menguatkan dukungan rakyat di Kesiman, maka tempat pemujaan di wilayah Kesiman pun diperbaiki.

Di bagian timur Pura Petilan dibangun tempat pemujaan warga Pasek, Warga Gaduh, Warga Dangka. Demikian juga tempat pemujaan yang ada hubungannya dengan Pura Petilan dipugar oleh Raja. Pura tersebut antara lain Pura Kedaton, Pura Urasana, Pura Kesiman, dan Pura Tojan. Demikian juga upacara di Pura Petilan diteruskan dan saat upacara, Raja pun bersama rakyat ikut bersembahyang bersama-sama di Pura Petilan. Pengrebongan arca penambahan raja juga ikut diusung dan distanakan di Gedung Agung bersama arca Dalem Kesiman.

Di Pura Petilan Kesiman terdapat pelinggih gedong agung yang terletak di tengah-tengah dengan dasar bedawang nala tempat menstanakan arca. Ada juga gedong di sebelah gedong agung tempat menstanakan pura manca pengerob dan semua pecanangan atau pratima dari seluruh pura di daerah kesiman saat upacara pengerebongan di Pura Petilan.

Pura Petilan sangat menarik karena sebagai pemersatu rakyat, dalam hal ini warga Kelurahan Kesiman dengan berbagai soroh atau warga dengan berbagai profesinya. Mereka disatukan atas dasar kekuatan keagamaan seperti keberadaan pura yang tidak hanya berfungsi sebagai media pemujaan pada Tuhan dan roh suci leluhur, melainkan juga untuk menjangkau aspek sosial budaya.

Taman Kota Lumintang: Destinasi Rekreasi Terpadu di Jantung Kota Denpasar

Inilah taman kota favorit masyarakat Kota Denpasar. Lokasinya berada di Jalan Gatot Subroto Tengah. Salah satu taman kota yang memiliki fasilitas lengkap bagi keluarga dengan berbagai tujuan di Ibu Kota Bali. Bagi Anda yang belum tahu taman kota ini, simak dengan baik fasilitas yang tersedia di Lapangan Kota Lumintang.

Taman Kota Lumintang tidak hanya dilengkapi dengan sarana olahraga semata. Kini taman Kota Lumintang telah menjelma menjadi taman kota yang indah yang sudah barang tentunya menjadi pilihan baru untuk berekreasi dan mendapatkan edukasi bersama keluarga. Taman ini terbagi dalam beberapa jenis taman lain seperti Taman lalu lintas, taman lansia, taman fitnes, taman burung, taman digital, taman bermain anak. Semuanya dapat menjadi wahana rekreasi bersantai ditengah kota. Taman ini dibelah oleh jalan Gatot Subroto Tengah.

Di sisi selatan jalan, terdapat taman lalu lintas yang telah diresmikan dengan sarana dan prasarana rambu-rambu lalu lintas yang dapat menjadi edukasi bagi anak dalam berlalulintas dijalan raya. Salah satu fasilitas terbaru di bagian selatan ini adalah Skatepark berlevel internasional. Kemudian bergeser ke sisi utara lapangan Lumintang terdapat taman digital memberikan kemudahan masyarakat dalam mengakses media teknologi informasi lewat layanan internet yang nyaman serta dilengkapi tempat duduk dan meja. Kawasan ini juga dilengkapi CCTV dan wifi gratis sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengakses informasi.

Disini juga terdapat Youth Park ini yang sering digunakan sebagai coworking space, mini foodcort, pembinaan wirausaha muda, untuk live show musik, tari, teater, dan pameran kreatif (lukisan, foto, dan arsitektur). Youth Park juga dilengkapi jogging track tersendiri, dimana kita bisa jogging sambil melihat bersihnya aliran Tukad Tagtag yang sudah tertata dengan baik.

Fasilitas utama di sisi utara adalah ruang terbuka berupa jogging track. Fasilitas ini paling sering dimanfaatkan oleh warga pada pagi hari dan puncaknya sore hari. Disini juga terdapat lewat taman lansia yang hampir sering dipergunakan para masyarakat lanasia untuk menjalankan aktivitas senam maupun olahraga ringan seperti berjalan kaki.

Disana juga terdapat taman burung, dimana kita bisa mengajari anak dan mengenal kelincahan burung merpati yang dapat berinteraksi langsung sembari memberikan makan. Bagi masyarakat yang sedang berolahraga juga dimanjakan dengan beberapa fasilitas kebugaran yang sudah barang tentunya bisa dinikmati dengan tidak mengeluarkan biaya sedikitpun.

Salah satu kelayakan sebuah kota adalah punya taman kota yang layak. Taman Kota Lumintang ini tentu saja menjadi salah satu kelayakan tersebut.

Menampilkan Warisan Bali: Keajaiban Tari Barong dan Keris oleh Sekaa Barong and Keris Sari

Nah, ini salah satu kesenian yang sangat lazim ditemui di Kota Denpasar, yakni tari Barong dan Keris. Salah satu pegiatnya adalah Sekaa Barong and Keris Sari, yakni kelompok pariwisata budaya di Bali, Indonesia yang berfokus pada pelestarian dan pameran seni dan budaya tradisional Bali. Kelompok ini berdedikasi untuk mempromosikan keindahan dan pentingnya warisan budaya Bali melalui pertunjukan dan kegiatan mereka.

Sekaa Barong and Keris Sari mengkhususkan diri dalam dua elemen budaya penting, yaitu tari Barong dan tari Keris. Tari Barong adalah tarian tradisional Bali yang menggambarkan pertempuran abadi antara kebaikan dan kejahatan. Tarian ini menampilkan makhluk mitologi besar yang disebut Barong, yang mewakili kebaikan, dan makhluk mirip iblis yang disebut Rangda, yang mewakili kejahatan. Tarian ini disertai dengan musik yang enerjik dan kostum yang berwarna-warni, memukau penonton dengan gerakan yang energik dan alur cerita yang dramatis.

Tari Keris, di sisi lain, memamerkan senjata tradisional Indonesia yang dikenal sebagai keris. Tarian ini melibatkan gerakan yang lancar dan anggun, yang melambangkan keindahan dan presisi keris. Biasanya, tarian ini ditampilkan sebagai tarian solo, disertai dengan musik gamelan tradisional.

Sekaa Barong and Keris Sari aktif berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata budaya, termasuk pertunjukan di berbagai tempat dan acara. Mereka berkontribusi dalam mempromosikan seni dan budaya Bali dengan menampilkan keterampilan dan bakat mereka kepada penonton lokal dan internasional. Pertunjukan mereka sering menarik wisatawan yang tertarik untuk merasakan tradisi budaya kaya Bali.

Selain pertunjukan mereka, Sekaa Barong and Keris Sari juga terlibat dalam kegiatan pendidikan. Mereka menyelenggarakan lokakarya dan sesi pelatihan untuk mengajarkan generasi muda tentang tarian tradisional dan signifikansi budayanya. Dengan meneruskan pengetahuan dan keterampilan mereka, mereka memastikan kelangsungan warisan budaya Bali bagi generasi mendatang.

Selain itu, Sekaa Barong and Keris Sari secara aktif bekerja sama dengan kelompok budaya dan organisasi lain untuk mempromosikan pertukaran budaya dan kerja sama. Mereka berpartisipasi dalam festival, pameran, dan acara budaya baik secara lokal maupun internasional, mewakili tradisi artistik yang hidup di Bali.

Melalui dedikasi dan komitmen mereka, Sekaa Barong and Keris Sari berkontribusi dalam pelestarian dan promosi pariwisata budaya Bali. Mereka memainkan peran penting dalam memamerkan warisan artistik yang kaya di Bali, menarik wisatawan dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan dan keunikan seni dan budaya Bali.

Pasar Seni Kumbasari: Pusat Kerajinan Seni dan Souvenir Bali yang Terjangkau

Penyuka produk kesenian wajib tahu Pasar Seni Kumbasari. Jauh sebelum adanya pusat oleh-oleh yang terkenal, pasar ini adalah tujuan wajib wisatawan saat ingin mencari oleh-oleh barang kesenian bagi sanak famili. Sampai sekarang pasar Seni Kumbasari masih tetap eksis dan layak untuk dikunjungi.

Lokasinya ada di sisi barat Pasar Tradisional Badung, tepat di Kawasan Heritage Gajah Mada. Dengan Pasar Badung hanya dipisahkan oleh Sungai “Korea” Tukad Badung. Pasar yang sudah mengalami tiga kali tahapan revitalisasi ini disebut sebagai pasar seni satu-satunya di Kota Denpasar. Pasar Kumbasari dibangun pada tahun 1977, pernah mengalami kebakaran pada tahun 2000, kemudian dilakukan renovasi dan pada tahun 2001 dibuka kembali.

Bangunanya cukup luas karena berdiri di atas lahan seluas 6.230 meter persegi. Adapun bangunannay terdiri dari lima lantai. Namun, hanya 4 lantai diperuntukkan bagi pedagang produk kesenian. Sedangkan satu lantai diperuntukkan bagi pedagang kebutuhan pokok dan piranti upacara keagamaan.

Pada lantai 2 pasar seni Kumbasari khusus menjual beraneka macam jenis pakaian, seperti pakaian adat Bali seperti udeng, kain dan destar, ditawarkan juga bed cover, sarung pantai, serta beraneka jenis tenun hasil kerajian Bali. Di lantai 3 gedung pasar seni Kumbasari, menjual beraneka macam jenis lukisan, patung, ornamen Bali seperti ukiran, sepatu, sandal, sampai tas wanita. Pada lantai 4, berbagai jenis kerajinan, pernak-pernik untuk souvenier seperti kerajinan dari bahan kerang, kertas dan beberapa juga hasil kerajinan luar Bali.

Belum banyak yang mengetahui jika keberadaan pasar ini sangat vital. Karena merupakan pusat grosir yang memasok produk-produk untuk pedagang seni seperti di Sanur, Kuta, Canggu sampai Ubud. Tidak banyak masyarakat mengetahui tentang ini. Karena rerata pedagang disini langsung mengambil dari produsen seni kerajinan di pelosok daerah.

Adapun produk kerajinan yang dijual di Pasar Seni Kumbasari sangat bervariasi. Mulai dari kerajinan kuningan, keramik, kaca, rotan sampai kerajinan kayu tersedia semua. Informasi terpenting lainnya yang sangat jarang disadari oleh wisatawan tentang pasar seni ini adalah soal harga. Jangan kaget ketika berbelanja disini, harganya jauh lebih murah dibandingkan di pusat oleh-oleh. Karena, produk yang dijual disini dijual secara grosiran jadi tentu saja jauh lebih murah.

Bagi Anda yang tahu informasi soal murah ini, tidak ada salahnya mencoba kesini. Satu lagi, harganya bisa negoisable seperti umumya di pasar-pasar tradisional. Sudah begitu, lokasinya sangat mudah dijangkau.

Keunikan Museum Sidik Jari Denpasar: Mengenal Seni Lukis dengan Jari

Ini dia salah satu museum unik di Kota Denpasar yang sangat sayang dilewatkan. Sesuai namanya, Namanya mungkin terdengar aneh di telinga. Tapi, ketika Anda berkunjung ke lokasi ini akan dibuat terkesima dengan koleksi yang ada di museum yang berlokasi di jalan Hayam Wuruk Nomor 175, Tanjung Bungkak.

Museum Sidik Jari menampilkan hasil karya seni lukis dengan teknik melukis yang cukup unik, menggunakan kelihaian imajinasi melalui jari telunjuk berupa totol-totolan warna dasar di atas permukaan kanvas, dan menghasilkan hasil karya seni yang unik, indah dan spektakuler. Pemiliknya adalah Gede Ngurah Rai Pemecutan yang sekaligus sebagai pelukisnya. Beliau meurpakan cucu dari Pahlawan Nasional asal Bali I Gusti Ngurah Rai.

Teknik melukis dengan sidik jari ini sebenarnya ditemukan secara sengaja, pada saat beliau melukis dengan tema tari Baris, pada tanggal 9 Juli 1967, namun lukisan tersebut tidak kunjung selesai seperti harapan, sehingga membuat Bapak Gede Ngurah Rai Pemecutan menjadi kesal, beliau berusaha merusak lukisan yang tidak kunjung selesai tersebut dengan menempelkan ujung jari-jemarinya yang berlumuran cat di permukaan kanvas, disinilah muncul ide dan inspirasi untuk membuat lukisan dengan ujung jari telunjuk tidak menggunakan kuas lagi.

Metode Lukis yang ditemukan oleh Gede Ngurah Rai Pemecutan ini pernah mengantarkannya meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), sebagai pelopor tekhnik melukis dengan jari dan mengkoleksi lukisan sidik jari terbanyak. Museum ini sekarang menyimpan sebanyak 640 lukisan karya dari Gede Ngruah Rai Pemecutan. Tujuan dari bapak Gede Ngurah Rai Pemecutan untuk membangun museum Sidik Jari Denpasar, sebagai tempat untuk memajang aneka koleksi lukisan hasi karyanya, serta memajang puisi hasil karyanya yang ditulis diatas batu.

Di museum lukisan Sidik Jari Denpasar, pengunjung tidak hanya dapat melihat lukisan dan puisi saja, melainkan pengunjung yang ingin mendalami budaya Bali terutama seni tari Bali dapat belajar disini. Di museum ini diadakan kursus seni tari Bali, kursus melukis, kursus seni musik Bali dengan pengajar profesional. Keren kan mengetahui apa dan bagaimana berdirinya Museum Sidik Jari? Jadi tunggu apa lagi, segera kunjungi museum ini.

Menelusuri Sejarah Bali di Museum Bali: Tempat Koleksi Budaya Tertua di Denpasar

Museum Bali ini merupakan museum legendaris. Lokasinya mungkin setiap hari dilintasi oleh masyarakat tetapi banyak yang tidak menyadarinya. Tepatnya berada di Jalan Mayor Wisnu, alias di sebelah timur lapangan Puputan Badung dan di sebelah selatan Pura Jagatnatha. Museum ini diresmikan pada tanggal 8 Desember 1932 dengan nama Bali Museum yang dikelola Yayasan Bali Museum

Museum di lahan seluas 2.600 meter persegi ini merupakan museum tertua di Bali dan merupakan pemicu kehadiran museum-museum lainnya. Berdasarkan atas koleksinya, Museum Bali merupakan museum etnografi yang memiliki dan memamerkan benda-benda budaya dari zaman prasejarah sampai kini yang mencerminkan seluruh unsur kebudayaan Bali terdiri dari koleksi arkeologi, koleksi historika, koleksi seni rupa dan koleksi etnografika.

Jadi, jika ingin belajar mengenai sejarah peninggalan budaya Bali. Sangat cocok berkunjung ke sini karena Anda bisa melihat koleksi seperti peralatan kustom tari, semua jenis topeng, wayang hingga keris serta berbagai koleksi benda prasejarah yang dapat memahami kebudayaan Bali.

Museum Bali merupakan museum umum yang pada awalnya merupakan museum etnografi yang didirikan oleh W.F.J. Kroon, asisten residen untuk Bali Selatan untuk melindungi dan melestarikan benda-benda budaya pada tahun 1910. Pemikiran ini atas dasar usulan dari Th.A. Resink dan mendapat sambutan yang baik dari kalangan ilmuwan, seniman, budayawan, dan seluruh raja-raja di Bali. Kroon kemudian memerintahkan Kurt Gundler, arsitek berkebangsaan Jerman yang sedang berada di Bali untuk meneliti agar membuat perencanaan bersama dengan para ahli bangunan tradisional Bali atau disebut undagi antara lain I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel.

Salah satu keunikan dari museum ini adalah arsitektur pembangunanya mengadopsi budaya lokal yakni didasarkan dari lontar Asta Kosala-Kosali. Ada tiga halaman, yaitu, yaitu halaman luar (jaba), halaman tengah (jaba tengah), dan halaman dalam (jeroan), masing-masing halaman dibatasi dengan tembok dan gapura (candi bentar dan candi kurung) sebagai pintu masuk, sebuah Balai Kulkul (menara kentongan) di sebelah Selatan jaba tengah.

Di sudut Barat Laut berdiri sebuah Balai Bengong yang pada jaman kerajaan dipergunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja ketika ingin mengamati situasi di luar istana. Dan di depan gedung Tabanan terdapat sebuah Beji (permandian untuk keluarga raja). Atap bangunan dari ijuk, di Bali hanya dipakai untuk bangunan pura. Pada halaman dalam terdapat tiga bangunan utama untuk memamerkan koleksi museum :

  1. Gedung Karangasem , dengan arsitektur khas Bali Timur untuk memamerkan koleksi Panca Yadnya.
  2. Gedung Tabanan, untuk memamerkan koleksi prasejarah, sejarah dan seni rupa.
  3. Gedung Buleleng , dengan dengan arsitektur gaya Bali Utara untuk memamerkan koleksi kain tradisional
Mari belajar menemukan sejarah Bali dengan mengunjungi Museum Bali.