Menelusuri Sejarah dan Tradisi di Pura Petilan Pengerobongan: Dari Penjor Megah hingga Tari Ngurek

Sering penasaran saat melihat video viral penjor-penjor besar dan cantik dipajang bersamaan? Jika Anda penasaran dimana lokasi tersebut. Kami informasikan bahwa lokasi itu berada di Kesiman. Tepatnya di Pura Petilan Pengerobongan. Pura ini berlokasi di Desa Kesiman di Denpasar Timur. Aktivitas pemasangan penjor nan indah berukuran besar tersebut hanya segelintir aktivitas di pura ini.

Pura yang terletak di sisi utara Jalan WR. Supratman, Denpasar tersebut memiliki nilai sejarah dan tradisi unik yakni Ngerebong setiap Redite Pon Medangsia. Selain terkenal dengan pemasangan penjor berukuran besar, salah satu budaya menarik pura ini adalah Tari Ngurek atau Ngunying. Di Pura Pengerebongan tradisi menari setengah trance dengan menggunakan keris pada saat-saat tertentu.

Pura Petilan atau yang lebih dikenal dengan nama Pura Pangrebongan merupakan salah satu pura di Denpasar yang keberadaannya sangat erat kaitannya dengan sejarah PuriKesiman. Putra Raja Badung yang kemudian menjadi Raja di Kesiman dengan gelar Cokorda Kesiman atau Batara Inggas mendirikan puri baru di sebelah barat Puri Kedaton atau Puri Kesiman Baru. Untuk menguatkan dukungan rakyat di Kesiman, maka tempat pemujaan di wilayah Kesiman pun diperbaiki.

Di bagian timur Pura Petilan dibangun tempat pemujaan warga Pasek, Warga Gaduh, Warga Dangka. Demikian juga tempat pemujaan yang ada hubungannya dengan Pura Petilan dipugar oleh Raja. Pura tersebut antara lain Pura Kedaton, Pura Urasana, Pura Kesiman, dan Pura Tojan. Demikian juga upacara di Pura Petilan diteruskan dan saat upacara, Raja pun bersama rakyat ikut bersembahyang bersama-sama di Pura Petilan. Pengrebongan arca penambahan raja juga ikut diusung dan distanakan di Gedung Agung bersama arca Dalem Kesiman.

Di Pura Petilan Kesiman terdapat pelinggih gedong agung yang terletak di tengah-tengah dengan dasar bedawang nala tempat menstanakan arca. Ada juga gedong di sebelah gedong agung tempat menstanakan pura manca pengerob dan semua pecanangan atau pratima dari seluruh pura di daerah kesiman saat upacara pengerebongan di Pura Petilan.

Pura Petilan sangat menarik karena sebagai pemersatu rakyat, dalam hal ini warga Kelurahan Kesiman dengan berbagai soroh atau warga dengan berbagai profesinya. Mereka disatukan atas dasar kekuatan keagamaan seperti keberadaan pura yang tidak hanya berfungsi sebagai media pemujaan pada Tuhan dan roh suci leluhur, melainkan juga untuk menjangkau aspek sosial budaya.

Taman Kota Lumintang: Destinasi Rekreasi Terpadu di Jantung Kota Denpasar

Inilah taman kota favorit masyarakat Kota Denpasar. Lokasinya berada di Jalan Gatot Subroto Tengah. Salah satu taman kota yang memiliki fasilitas lengkap bagi keluarga dengan berbagai tujuan di Ibu Kota Bali. Bagi Anda yang belum tahu taman kota ini, simak dengan baik fasilitas yang tersedia di Lapangan Kota Lumintang.

Taman Kota Lumintang tidak hanya dilengkapi dengan sarana olahraga semata. Kini taman Kota Lumintang telah menjelma menjadi taman kota yang indah yang sudah barang tentunya menjadi pilihan baru untuk berekreasi dan mendapatkan edukasi bersama keluarga. Taman ini terbagi dalam beberapa jenis taman lain seperti Taman lalu lintas, taman lansia, taman fitnes, taman burung, taman digital, taman bermain anak. Semuanya dapat menjadi wahana rekreasi bersantai ditengah kota. Taman ini dibelah oleh jalan Gatot Subroto Tengah.

Di sisi selatan jalan, terdapat taman lalu lintas yang telah diresmikan dengan sarana dan prasarana rambu-rambu lalu lintas yang dapat menjadi edukasi bagi anak dalam berlalulintas dijalan raya. Salah satu fasilitas terbaru di bagian selatan ini adalah Skatepark berlevel internasional. Kemudian bergeser ke sisi utara lapangan Lumintang terdapat taman digital memberikan kemudahan masyarakat dalam mengakses media teknologi informasi lewat layanan internet yang nyaman serta dilengkapi tempat duduk dan meja. Kawasan ini juga dilengkapi CCTV dan wifi gratis sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengakses informasi.

Disini juga terdapat Youth Park ini yang sering digunakan sebagai coworking space, mini foodcort, pembinaan wirausaha muda, untuk live show musik, tari, teater, dan pameran kreatif (lukisan, foto, dan arsitektur). Youth Park juga dilengkapi jogging track tersendiri, dimana kita bisa jogging sambil melihat bersihnya aliran Tukad Tagtag yang sudah tertata dengan baik.

Fasilitas utama di sisi utara adalah ruang terbuka berupa jogging track. Fasilitas ini paling sering dimanfaatkan oleh warga pada pagi hari dan puncaknya sore hari. Disini juga terdapat lewat taman lansia yang hampir sering dipergunakan para masyarakat lanasia untuk menjalankan aktivitas senam maupun olahraga ringan seperti berjalan kaki.

Disana juga terdapat taman burung, dimana kita bisa mengajari anak dan mengenal kelincahan burung merpati yang dapat berinteraksi langsung sembari memberikan makan. Bagi masyarakat yang sedang berolahraga juga dimanjakan dengan beberapa fasilitas kebugaran yang sudah barang tentunya bisa dinikmati dengan tidak mengeluarkan biaya sedikitpun.

Salah satu kelayakan sebuah kota adalah punya taman kota yang layak. Taman Kota Lumintang ini tentu saja menjadi salah satu kelayakan tersebut.

Menampilkan Warisan Bali: Keajaiban Tari Barong dan Keris oleh Sekaa Barong and Keris Sari

Nah, ini salah satu kesenian yang sangat lazim ditemui di Kota Denpasar, yakni tari Barong dan Keris. Salah satu pegiatnya adalah Sekaa Barong and Keris Sari, yakni kelompok pariwisata budaya di Bali, Indonesia yang berfokus pada pelestarian dan pameran seni dan budaya tradisional Bali. Kelompok ini berdedikasi untuk mempromosikan keindahan dan pentingnya warisan budaya Bali melalui pertunjukan dan kegiatan mereka.

Sekaa Barong and Keris Sari mengkhususkan diri dalam dua elemen budaya penting, yaitu tari Barong dan tari Keris. Tari Barong adalah tarian tradisional Bali yang menggambarkan pertempuran abadi antara kebaikan dan kejahatan. Tarian ini menampilkan makhluk mitologi besar yang disebut Barong, yang mewakili kebaikan, dan makhluk mirip iblis yang disebut Rangda, yang mewakili kejahatan. Tarian ini disertai dengan musik yang enerjik dan kostum yang berwarna-warni, memukau penonton dengan gerakan yang energik dan alur cerita yang dramatis.

Tari Keris, di sisi lain, memamerkan senjata tradisional Indonesia yang dikenal sebagai keris. Tarian ini melibatkan gerakan yang lancar dan anggun, yang melambangkan keindahan dan presisi keris. Biasanya, tarian ini ditampilkan sebagai tarian solo, disertai dengan musik gamelan tradisional.

Sekaa Barong and Keris Sari aktif berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata budaya, termasuk pertunjukan di berbagai tempat dan acara. Mereka berkontribusi dalam mempromosikan seni dan budaya Bali dengan menampilkan keterampilan dan bakat mereka kepada penonton lokal dan internasional. Pertunjukan mereka sering menarik wisatawan yang tertarik untuk merasakan tradisi budaya kaya Bali.

Selain pertunjukan mereka, Sekaa Barong and Keris Sari juga terlibat dalam kegiatan pendidikan. Mereka menyelenggarakan lokakarya dan sesi pelatihan untuk mengajarkan generasi muda tentang tarian tradisional dan signifikansi budayanya. Dengan meneruskan pengetahuan dan keterampilan mereka, mereka memastikan kelangsungan warisan budaya Bali bagi generasi mendatang.

Selain itu, Sekaa Barong and Keris Sari secara aktif bekerja sama dengan kelompok budaya dan organisasi lain untuk mempromosikan pertukaran budaya dan kerja sama. Mereka berpartisipasi dalam festival, pameran, dan acara budaya baik secara lokal maupun internasional, mewakili tradisi artistik yang hidup di Bali.

Melalui dedikasi dan komitmen mereka, Sekaa Barong and Keris Sari berkontribusi dalam pelestarian dan promosi pariwisata budaya Bali. Mereka memainkan peran penting dalam memamerkan warisan artistik yang kaya di Bali, menarik wisatawan dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan dan keunikan seni dan budaya Bali.

Pasar Seni Kumbasari: Pusat Kerajinan Seni dan Souvenir Bali yang Terjangkau

Penyuka produk kesenian wajib tahu Pasar Seni Kumbasari. Jauh sebelum adanya pusat oleh-oleh yang terkenal, pasar ini adalah tujuan wajib wisatawan saat ingin mencari oleh-oleh barang kesenian bagi sanak famili. Sampai sekarang pasar Seni Kumbasari masih tetap eksis dan layak untuk dikunjungi.

Lokasinya ada di sisi barat Pasar Tradisional Badung, tepat di Kawasan Heritage Gajah Mada. Dengan Pasar Badung hanya dipisahkan oleh Sungai “Korea” Tukad Badung. Pasar yang sudah mengalami tiga kali tahapan revitalisasi ini disebut sebagai pasar seni satu-satunya di Kota Denpasar. Pasar Kumbasari dibangun pada tahun 1977, pernah mengalami kebakaran pada tahun 2000, kemudian dilakukan renovasi dan pada tahun 2001 dibuka kembali.

Bangunanya cukup luas karena berdiri di atas lahan seluas 6.230 meter persegi. Adapun bangunannay terdiri dari lima lantai. Namun, hanya 4 lantai diperuntukkan bagi pedagang produk kesenian. Sedangkan satu lantai diperuntukkan bagi pedagang kebutuhan pokok dan piranti upacara keagamaan.

Pada lantai 2 pasar seni Kumbasari khusus menjual beraneka macam jenis pakaian, seperti pakaian adat Bali seperti udeng, kain dan destar, ditawarkan juga bed cover, sarung pantai, serta beraneka jenis tenun hasil kerajian Bali. Di lantai 3 gedung pasar seni Kumbasari, menjual beraneka macam jenis lukisan, patung, ornamen Bali seperti ukiran, sepatu, sandal, sampai tas wanita. Pada lantai 4, berbagai jenis kerajinan, pernak-pernik untuk souvenier seperti kerajinan dari bahan kerang, kertas dan beberapa juga hasil kerajinan luar Bali.

Belum banyak yang mengetahui jika keberadaan pasar ini sangat vital. Karena merupakan pusat grosir yang memasok produk-produk untuk pedagang seni seperti di Sanur, Kuta, Canggu sampai Ubud. Tidak banyak masyarakat mengetahui tentang ini. Karena rerata pedagang disini langsung mengambil dari produsen seni kerajinan di pelosok daerah.

Adapun produk kerajinan yang dijual di Pasar Seni Kumbasari sangat bervariasi. Mulai dari kerajinan kuningan, keramik, kaca, rotan sampai kerajinan kayu tersedia semua. Informasi terpenting lainnya yang sangat jarang disadari oleh wisatawan tentang pasar seni ini adalah soal harga. Jangan kaget ketika berbelanja disini, harganya jauh lebih murah dibandingkan di pusat oleh-oleh. Karena, produk yang dijual disini dijual secara grosiran jadi tentu saja jauh lebih murah.

Bagi Anda yang tahu informasi soal murah ini, tidak ada salahnya mencoba kesini. Satu lagi, harganya bisa negoisable seperti umumya di pasar-pasar tradisional. Sudah begitu, lokasinya sangat mudah dijangkau.

Keunikan Museum Sidik Jari Denpasar: Mengenal Seni Lukis dengan Jari

Ini dia salah satu museum unik di Kota Denpasar yang sangat sayang dilewatkan. Sesuai namanya, Namanya mungkin terdengar aneh di telinga. Tapi, ketika Anda berkunjung ke lokasi ini akan dibuat terkesima dengan koleksi yang ada di museum yang berlokasi di jalan Hayam Wuruk Nomor 175, Tanjung Bungkak.

Museum Sidik Jari menampilkan hasil karya seni lukis dengan teknik melukis yang cukup unik, menggunakan kelihaian imajinasi melalui jari telunjuk berupa totol-totolan warna dasar di atas permukaan kanvas, dan menghasilkan hasil karya seni yang unik, indah dan spektakuler. Pemiliknya adalah Gede Ngurah Rai Pemecutan yang sekaligus sebagai pelukisnya. Beliau meurpakan cucu dari Pahlawan Nasional asal Bali I Gusti Ngurah Rai.

Teknik melukis dengan sidik jari ini sebenarnya ditemukan secara sengaja, pada saat beliau melukis dengan tema tari Baris, pada tanggal 9 Juli 1967, namun lukisan tersebut tidak kunjung selesai seperti harapan, sehingga membuat Bapak Gede Ngurah Rai Pemecutan menjadi kesal, beliau berusaha merusak lukisan yang tidak kunjung selesai tersebut dengan menempelkan ujung jari-jemarinya yang berlumuran cat di permukaan kanvas, disinilah muncul ide dan inspirasi untuk membuat lukisan dengan ujung jari telunjuk tidak menggunakan kuas lagi.

Metode Lukis yang ditemukan oleh Gede Ngurah Rai Pemecutan ini pernah mengantarkannya meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), sebagai pelopor tekhnik melukis dengan jari dan mengkoleksi lukisan sidik jari terbanyak. Museum ini sekarang menyimpan sebanyak 640 lukisan karya dari Gede Ngruah Rai Pemecutan. Tujuan dari bapak Gede Ngurah Rai Pemecutan untuk membangun museum Sidik Jari Denpasar, sebagai tempat untuk memajang aneka koleksi lukisan hasi karyanya, serta memajang puisi hasil karyanya yang ditulis diatas batu.

Di museum lukisan Sidik Jari Denpasar, pengunjung tidak hanya dapat melihat lukisan dan puisi saja, melainkan pengunjung yang ingin mendalami budaya Bali terutama seni tari Bali dapat belajar disini. Di museum ini diadakan kursus seni tari Bali, kursus melukis, kursus seni musik Bali dengan pengajar profesional. Keren kan mengetahui apa dan bagaimana berdirinya Museum Sidik Jari? Jadi tunggu apa lagi, segera kunjungi museum ini.

Menelusuri Sejarah Bali di Museum Bali: Tempat Koleksi Budaya Tertua di Denpasar

Museum Bali ini merupakan museum legendaris. Lokasinya mungkin setiap hari dilintasi oleh masyarakat tetapi banyak yang tidak menyadarinya. Tepatnya berada di Jalan Mayor Wisnu, alias di sebelah timur lapangan Puputan Badung dan di sebelah selatan Pura Jagatnatha. Museum ini diresmikan pada tanggal 8 Desember 1932 dengan nama Bali Museum yang dikelola Yayasan Bali Museum

Museum di lahan seluas 2.600 meter persegi ini merupakan museum tertua di Bali dan merupakan pemicu kehadiran museum-museum lainnya. Berdasarkan atas koleksinya, Museum Bali merupakan museum etnografi yang memiliki dan memamerkan benda-benda budaya dari zaman prasejarah sampai kini yang mencerminkan seluruh unsur kebudayaan Bali terdiri dari koleksi arkeologi, koleksi historika, koleksi seni rupa dan koleksi etnografika.

Jadi, jika ingin belajar mengenai sejarah peninggalan budaya Bali. Sangat cocok berkunjung ke sini karena Anda bisa melihat koleksi seperti peralatan kustom tari, semua jenis topeng, wayang hingga keris serta berbagai koleksi benda prasejarah yang dapat memahami kebudayaan Bali.

Museum Bali merupakan museum umum yang pada awalnya merupakan museum etnografi yang didirikan oleh W.F.J. Kroon, asisten residen untuk Bali Selatan untuk melindungi dan melestarikan benda-benda budaya pada tahun 1910. Pemikiran ini atas dasar usulan dari Th.A. Resink dan mendapat sambutan yang baik dari kalangan ilmuwan, seniman, budayawan, dan seluruh raja-raja di Bali. Kroon kemudian memerintahkan Kurt Gundler, arsitek berkebangsaan Jerman yang sedang berada di Bali untuk meneliti agar membuat perencanaan bersama dengan para ahli bangunan tradisional Bali atau disebut undagi antara lain I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel.

Salah satu keunikan dari museum ini adalah arsitektur pembangunanya mengadopsi budaya lokal yakni didasarkan dari lontar Asta Kosala-Kosali. Ada tiga halaman, yaitu, yaitu halaman luar (jaba), halaman tengah (jaba tengah), dan halaman dalam (jeroan), masing-masing halaman dibatasi dengan tembok dan gapura (candi bentar dan candi kurung) sebagai pintu masuk, sebuah Balai Kulkul (menara kentongan) di sebelah Selatan jaba tengah.

Di sudut Barat Laut berdiri sebuah Balai Bengong yang pada jaman kerajaan dipergunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja ketika ingin mengamati situasi di luar istana. Dan di depan gedung Tabanan terdapat sebuah Beji (permandian untuk keluarga raja). Atap bangunan dari ijuk, di Bali hanya dipakai untuk bangunan pura. Pada halaman dalam terdapat tiga bangunan utama untuk memamerkan koleksi museum :

  1. Gedung Karangasem , dengan arsitektur khas Bali Timur untuk memamerkan koleksi Panca Yadnya.
  2. Gedung Tabanan, untuk memamerkan koleksi prasejarah, sejarah dan seni rupa.
  3. Gedung Buleleng , dengan dengan arsitektur gaya Bali Utara untuk memamerkan koleksi kain tradisional
Mari belajar menemukan sejarah Bali dengan mengunjungi Museum Bali.

Sejarah Sumerta

Mengenai latar belakang sejarah Desa Sumerta secara pasti dan tertulis sampai saat ini belum ditemukan, tetapi penulis berusaha menyusun sejarah keberadaan Desa Sumerta berdasarkan hasil wawancara dan studi kepustakaan. Menurut kisah dari panglingsir/tetua yang tercantum dalam Eka Suwarnita Desa Adat Sumerta (2014: 2-3) dikatakan Desa Sumerta dahulunya bernama Wongaya dan lama kelamaan menjadi Sumerta Wongaya. Mengenai kata Sumerta ini diturunkan dari nama salah seorang penguasa wilayah pada saat itu yang ditemukan dalam Babad Ki Bandesa Krobokan Badung. Adapun kutipan babad tersebut sebagai berikut.

“…walian ikang kata, ceritanen mangke tmajanira Ki Gusti Pasek Gelgel Aan, pada sahing Hyang Widi, apasanakan rahning nalikang rat, tembenia Gde Pasek Sumerta tmajanira Ki Gusti Pasek Aan, angalih lungguh mareng jagat bandana, sira kawuwus Pasek Sumerta, muang lungguh hira raju ingaranan Sumerta, apan sira Ki Pasek Gegel winuwus widagda wicaksana, sida pwa sira anampa sajnira Sang Natheng Bandana…” (Anonim, 2014: 3)

Kepergian Ki Pasek Sumerta ke jagat bandana (Badung) menurut cerita di atas diperkirakan pada akhir masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Kata-kata Sumerta dalam kutipan di atas muncul beberapa kali dalam menyebutkan nama tokoh dan berdasarkan hasil wawancara dengan Pemangku Pura Puseh Sumerta (I Made Rai Suta Maskaya, 2018) juga menerangkan dulu Desa Sumerta pernah dipimpin oleh seorang tokoh yang bernama I Gusti Ngurah Sumerta. Hal tersebut memunculkan sebuah asumsi bahwa wilayah yang dulunya bernama Wongaya berubah namanya menjadi Sumerta yang disebabkan oleh turunan nama tokoh yang pernah memimpin wilayah ini, yaitu menurut Babad Ki Bandesa Krobokan Badung ialah Gde Pasek Sumerta dan menurut penuturan Pemangku Pura Puseh Sumerta ialah I Gusti Ngurah Sumerta. 

Mengenai keberadaan Pura Puseh Sumerta dan Pura Kebon Sumerta yang  menjadi objek inventarisasi dapat diketahui latar belakang pembangunannya berdasarkan atas piagam abad XV Śaka yang masih dibawa sampai saat ini oleh keluarga Pemangku Puseh Sumerta di Banjar Sima. Piagam tersebut isinya kurang lebih mengenai perintah dari I Gusti Ngurah Sumerta kepada Ki Bendesa Bekung di Sumerta Wongaya agar secepatnya membangun Pura Puseh dan Pura Kebon dalam waktu setahun dengan mendapatkan imbalan berupa tanah lengkap dengan biji/bibit tanaman (Anonim, 2014: 3).

4D6C0A25-D56E-45E9-B56E-7447F65535FA_1_105_c-transformed

Sejarah Pohmanis

Berbicara mengenai sejarah Desa Adat Taman Pohmanis tidak dapat terlepas dari Prasasti yang tersimpan di Pemrajan Agung Pohmanis, yang turunannya secara bebas dideskripsikan dalam Babad Kesatria Sukahet. Diceritakan telah hilang seorang anak kecil di Puri Klungkung yang merupakan putra dari I Dewa Karang. I Dewa Karang ini merupakan putra dari I Dewa Paduhungan yang merupakan putra dari  I Dewa Sumretha sebagai putra Dalem Sagening dari istri panawing. I Dewa Sumretha putra Dalem Sagening diperkirakan sebaya dengan Dalem Dimade yang menjadi raja pada tahun 1665-1686 Masehi. Ketika masa pemerintahan Dalem Dimade terjadi pemberontakan oleh I Gusti Agung Maruti dan kerajaan ketika itu berhasil dikuasai. Dalem Dimade bersama dua putranya, yaitu I Dewa Pemayun dan I Dewa Jambe mengungsi ke Desa Guliang Pejeng dan dalam pengungsian Dalem Dimade wafat di Desa Guliang. I Dewa Jambe setelah dewasa mengatur strategi untuk menyerang Kerajaan Swucapura Gelgel bersama-bersama dengan saudaranya, yaitu I Dewa Paduhungan untuk merebut kembali kerajaan dari I Gusti Agung Maruti. 

I Dewa Jambe kira-kira sebaya dengan umur I Dewa Paduhungan putra dari I Dewa Sumretha ketika itu berhasil mengalahkan I Gusti Agung Maruti dan kerajaan dapat direbut dengan memindahkan pusat kerajaan dari Swecapura Gelgel ke Smarajaya Klungkung dan I Dewa Jambe naik tahta tanpa menggunakan gelar dalem dari tahun 1710-1775 Masehi dengan abhiseka Ida I Dewa Agung Jambe. 

Putra Ida I Dewa Agung Jambe bernama I Dewa Dimade yang melanjutkan pemerintahan di Kerajaan Smarapura Klungkung pada tahun 1775-1825 Masehi dengan abhiseka Ida I Dewa Agung Dimade. Ketika terjadi penumpasan I Gusti Agung Maruti di Kerajaan Swecapura Gelgel dulu oleh Ida I Dewa Agung Jambe, putranya yang bernama I Dewa Dimade masih sangat kecil dan diperkirakan seumuran dengan I Dewa Karang putra dari I Dewa Paduhungan. Terjadinya perebutan kekuasaan tersebut membuat kondisi sangat kacau sehingga I Dewa Karang beserta dengan parekan dan panginte ketika itu diselamatkan dengan cara dilarikan ke Denbukit (Buleleng) oleh I Ngakan Kaleran (Kertha dkk, 2001: 9-10).

Diceritakan ada seorang anglurah bernama I Gusti Ngurah Bija berkuasa di Kerajaan Bun yang memiliki penduduk sebanyak ± 5000 jiwa. Kerajaan Bun sekarang merupakan sebuah wilayah yang terletak di sebelah utara Desa Angabaya Penatih, di sebelah timur Desa Sibang Badung, di sebelah selatan Desa Lambing-Tingas Badung, serta di disebelah barat Desa Sedang, Angantaka, dan Jagapati Badung.

 Kerajaan Bun sekarang hanya berupa hamparan persawahan yang bernama Carik Pengumpian, karena sudah di hancurkan oleh I Gusti Agung Mhahiun dari Kerajaan Mengwi ketika ekspansi ke wilayah utara Kerajaan Badung. Penduduk di Kerajaan Bun ketika itu ada yang memiliki pekerjaan sebagai pedagang (panghalu) hingga ke wilayah Denbukit (Buleleng) dan suatu ketika seorang pedagang dari Denbukit (panghalu Den Bukit) memberikan anak kecil kepada seorang pedagang dari Bun (panghalu Bun) agar anak kecil tersebut dibawa ke Badung (Kertha dkk, 2001: 2-3). 

Panghalu Bun merasa senang menerima pemberian itu dan segera anak kecil tersebut disimpan dalam sebuah katung (kalesan) (nama I Dewa Karang berubah menjadi I Dewa Kalesan). Sesampainya di Kerajaan Bun, banyak penduduk berkumpul di bencingah mendengar kabar bahwa telah terjadi penculikan terhadap putra I Dewa Karang di Klungkung beserta dengan panginte dan parekan dilarikan oleh I Ngakan Kaleran. Berdasarkan cerita tersebut kemudian panghalu Bun itu menceritakan bahwa telah diberikan anak kecil di Denbukit (Buleleng). Mendengar cerita tersebut, I Gusti Ngurah Bija segera pergi ke Klungkung menghadap I Dewa Agung Klungkung (Raja Smarajaya Klungkung) untuk memberi tahu bahwa putra dalem yang hilang tersebut sekarang sudah di Kerajaan Bun dan memohon agar anak kecil tersebut dibesarkan di Kerajaan Bun. I Dewa Agung Klungkung (Raja Smarajaya Klungkung) sangat gembira mendengar permohonan I Gusti Ngurah Bija, serta membenarkan bahwa anak kecil tersebut adalah putra I Dewa Karang dan kemudian diberikan nama sama dengan ayahnya, yaitu I Dewa Karang dan mengijinkan anak kecil (I Dewa Karang) dibesarkan di Kerajaan Bun dengan diberikan pengikut (panjak) sebanyak 400 orang. 

I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) dibesarkan di Kerajaan Bun dan berita tersebut menyebar ke berbagai wilayah hingga sampai di Kerajaan Badung yang ketika itu I Gusti Ngurah Jambe Pule sebagai penguasanya. Raja Badung meminta kepada I Gusti Ngurah Bija agar I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) diserahkan ke Badung dan akan diberikan tempat untuk dijadikan penguasa di wilayah timur Kerajaan Badung, yaitu wilayah Taak dengan diberikan pengiring dari Badung sebanyak 1000 orang (35 orang dari Badung, 40 orang dari Bun, dan sisanya adalah perarudan). Perjalanan untuk mulai membuka wilayah baru (ngewangun ngelantur) dilakukan oleh I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) bersama para warga pengiring merabas hutan dimulai dari selatan selama satu bulan (sasih) penuh dan berhasil menemukan tempat yang tinggi (tegehe). Terjadinya peristiwa tersebut merupakan cikal bakal dari nama Banjar Menguntur, Banjar Sasih, dan Banjar Tegehe

Ketika perjalanan dilanjutkan ke utara ditemukanlah wilayah tujuan yang dimaksudkan oleh Raja Badung, yaitu wilayah bernama Taak yang merupakan wilayah kekuasaan dari Kerajaan Badung ketika itu. Rumah (jero gede) Taak milik Senggehu Taak kemudian dijadikan pusat kekuasaan oleh I Dewa Karang (I Dewa Kalesan) dengan abhiseka I Dewa Gde Sukahet dan Jero Gede Taak berubah nama menjadi Puri/Jero Gede Batubulan. Tempat tinggal Senggehu Taak kemudian dipindahkan ke timur pada tanah lapang yang bernama pegat embang ditumbuhi alang-alang (ambengan), kedua kata tersebut (embang dan ambengan) kemudian menjadi cikal bakal nama Banjar Pegambangan.

I Dewa Kalesan alias I Dewa Karang alias I Dewa Gde Sukahet ketika berkuasa di Batubulan memiliki tujuh putra salah satunya yang lahir dari istri prami bernama I Dewa Gde Pameregan dan yang lahir dari istri panawing bernama I Dewa Wayan Panenjoan. Jabatan sebagai penguasa kemudian dilanjutkan oleh I Dewa Gde Pameregan yang kemudian memiliki sembilan putra bernama I Dewa Rai Guwang, I Dewa Gde Dukuh, I Dewa Gde Ngurah, I Dewa Made Batan, I Dewa Ketut Tegal, I Dewa Wayan Muntur, I Dewa Made Muntur, I Dewa Nyoman Badung, dan I Dewa Gde Rai. Kekuasaan I Dewa Gde Pameregan sebenarnya akan digantikan oleh putra bungsunya bernama I Dewa Gde Rai, karena merupakan putra istri prami dari Klungkung. Ketika akan terjadi pergantian kekuasaan tersebut muncul pemberontakan yang dilakukan oleh keturunan I Dewa Wayan Panenjoan bernama I Dewa Made Lukluk yang berkerjasama dengan I Dewa Manggis Jorog dari Kerajaan Gianyar berhasil membunuh I Dewa Gde Rai di Payangan dan I Dewa Made Muntur terbunuh di Bangli. I Dewa Gde Rai setelah meninggal dibuatkan bangunan suci berupa meru tumpang solas (sekarang candi tumpang pitu) di Pura Puseh Batubulan sebagai tempat pedharmaan. Setelah I Dewa Gde Rai terbunuh secara otomatis I Dewa Made Lukluk berkuasa dan tidak memiliki putra, sehingga diberikan putra dari Gianyar bernama I Dewa Gelugu selanjutnya naik tahta dengan abhiseka I Dewa Oka. Sejak I Dewa Oka naik tahta dan berkuasa di Batubulan maka dinasti I Dewa Gde Sukahet digantikan oleh dinasti I Dewa Manggis (Gianyar) (Kertha dkk, 2001: 19-20). Melihat perilaku ksatria (keluarga raja) di Batubulan saat itu membuat Raja Badung marah dan menyerahkan wilayah Batubulan ke Kerajaan Sukawati yang ketika itu juga telah dikuasai oleh Kerajaan Gianyar pada tahun 1810 Masehi (Kertha dkk, 2001: 13). Adapun kutipan Prasasti di Pemerajan Agung Pohmanis yang membahas tentang terbunuhnya I Dewa Gde Rai di Payangan sebagai berikut.

“…yan pirang kunang lawasnia, hana penangkan kali ring Badung. Kalah I Gusti Jambe, molih I Gsuti Ngurah Kaleran. Pirang tahun penangkan kali, di Batubulan I Dewa Made Lukluk masangan bawos ring I Dewa Agung Manggis apus I Dewa Gde Rai (Sukahet) sedayang di payangan. I Dewa Made Muntur ke sedayang di Bangli…” (Terjemahan Bebas Prasasti di Pemerajan Agung Pohmanis).

Karena tragedi tersebut Puri Taak menjadi kacau, kesedihan dan kekecewaan yang sangat mendalam karena adu domba dan fitnah berkembang sehingga para semeton/keluarga yang masih di Puri Taak merasa tidak aman fisik maupun keselamatan juwa masing-masing, sehingga memutuskan untuk mengungsi. I Dewa Wayan Badung mengungsi ke Taman Intaran Sanur bersama-sama dengan I Dewa Gde Dukuh menuju Gria Taman Intaran/Ida Pedanda Gde Alang Kajeng. I Dewa Nyoman Badung bersama-sama I Dewa Wayan Muntur menuju Denpasar menghadap I Gusti Ngurah Kajanan di Puri Satria dan akhirnya beliau berdua ditempatkan di Kusiman (Kesiman sekarang).

Diceritakan sekarang pengungsian I Dewa Nyoman Badung bersama-sama dengan I Dewa Wayan Muntur, oleh penguasa Badung ketika itu ditempatkan di Desa Kusiman (Kesiman sekarang). Dalam perjalanan itu beliau diiringi oleh panjak/pengikut warga Pungakan Banjar kalah dan warga lainnya bernama: I Kepang, I Taring, I Mastra, I Ngembu, dan I Garda. Dari Banjar Sumerta diiringioleh I Pinrih, I Malang, I Silur anaknya Nyoman Del dan I Medil. Selain itu juga ikutBagus Pengunteran dengan anak-anaknya, yaitu Bagus Coak dan Bagus Made Bandem. Iringan lainnya, yaitu: I Lebah dan I Trekas. I Dewa Wayan Muntur diiringi oleh 2 orang, yaitu: I Gulingan dan I Mandesa..

I Dewa Nyoman Badung wafat/mantuk di Kesiman. Beliau mempunyai 3 orang putra-putri. Yang perempuan dikawinkan dengan I Dewa Gde Pande anak I Dewa Gde Dukuh dari Taman Intaran. Atas perintah I Gusti Ngurah Gede (Penguasa Badung ketika itu), I Dewa Gede Pande dan I Dewa Wayan Muntur bersama-sama menuju desa perbatasan wilayah Badung dengan Mengwi dan Gianyar. Raja Badung ketika itu menginginkan agar I Dewa Wayan Muntur bersama I Dewa Gde Pande untuk membangun dan membina wilayah perdikan baru di perbatasan timur laut wilayah Badung (Denpasar sekarang) untuk menghadang Kerajaan Mengwi yang telah menguasai Bun dan Kerajaan Gianyar yang telah menguasai Batubulan Sukawati. Akhirnya I Dewa Wayan Muntur bersama dengan I Dewa Gde Pande (Menantu I Dewa Nyoman Badung) menuju wilayah perbatasan tersebut diiringi oleh panjak pengiring warga-wargi sebanyak 40 orang terdiri dari klan Pasek, Kalah, dan Karang Buncing seperti Pan Edan, Pan Gejor, Pan Gobyah, dan Pan Gudug menetap di Kalah Penatih, sedangkan I Dunia, I Tusan, I Enteg, I Nedeng, I Runia, dan I Tebeng ikut mengiringi sampai wilayah pemanes (Pohmanis sekarang) (Kertha dkk, 2001: 22). Wilayah perbatasan itu merupakan wilayah yang sangat gawat karena disana sering terjadi pertempuran. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tonggak-tonggak sejarah seperti belumbang (banteng yang terbuat dari susunan tanah) melintang mengelilingi wilayah ini, penamaan tempat seperti carik cucukan dan kalangan yang identik dengan istilah dalam peperangan, dan karena wilayah ini sebagai banteng pertahanan Badung pada masanya sehingga wilayah ini bernama pemanes terus berkembang menjadi pemanis dan pohmanis sampai saat ini.

Keberadaan I Dewa Wayan Muntur bersama I Dewa Gde Pande beserta dengan warga masyarakat lainnya di wilayah pemanes ini mampu meredam invansi meliter Kerajaan Mengwi dari utara serta Kerajaan Gianyar dari timur dan membuat keadaan semakin aman. Keadaan aman tersebut selanjutnya membuat masyarakat berangsur-angsur membangun jero, rumah-rumah warga, tempat suci (pura), dan membagi wilayah pertanian yang nantinya digunakan untuk bercocok tanam. Mendengar keadaan wilayah pemanes semakin aman, Raja Badung sangat bahagia dan kembali mengirimkan panjak pengiring dari warga-wargi soroh Pande dan Senggehu untuk melengkapi wilayah pemanes sebagai banteng pertahanan timur laut Kerajaan Badung ketika itu. Berdasarkan uraian tersebut di atas sekitar tahun 1740 Masehi invansi meliter Mengwi yang mengalahkan Kerajaan Bun dan disaat yang hampir bersamaan terjadi gejolak kekuasaan di Kerajaan Batubulan yang mengakibatkan terbunuhnya I Dewa Gde Rai (sekarang didharmakan pada meru di Pura Puseh Batubulan). Pada masa-masa itu beberapa keluarga raja seperti I Dewa Wayan Muntur dan I Dewa Nyoman Badung meninggalkan Batubulan menuju wilayah pemanes (Pohmanis sekarang) bersama para warga-wargi (panjak tatadan) untuk membangun serta membina wilayah baru di tepi siring Kerajaan Badung sekitar abad XVII-XVIII Masehi. 

Mengenai istilah nama taman itu baru muncul ketika wilayah desa ini dibagi menjadi dua banjar adat, yaitu taman dan pohmanis yang dulunya secara keseluruhan bernama pemanes/pemanis/pohmanis. Taman dikaitkan dengan adanya Pura Taman Sari di sisi barat desa yang sekarang dimiliki oleh Brahmana dari Geriya Bindu Kesiman.

Sejarah Peguyangan

Mengenai latar belakang sejarah Desa Pakraman Peguyangan  secara pasti dan tertulis sampai saat ini belum ditemukan, tetapi berdasarkan studi kepustakaan isi Dresta Ilikita Desa Pakraman Peguyangan penulis menemukan beberapa hal yang merujuk pada kesejarahan desa, seperti nama Desa Pakraman Peguyangan muncul berdasarkan kisah gajah Kyai Panji Sakti yang maguyang (berguling-guling) dan ditempat gajah tersebut maguyang disebut dengan peguyangan. Istilah peguyangan juga dikaitkan dengan isi prasasti tembaga di Pura Dalem Batan Celagi yang menyebutkan penyungsung  prasasti tersebut dianugrahi kebebasan membayar pajak, karena telah diberikan tanggung jawab menyungsung dan ngaci sam sat kahyangan yang berarti “yang menjaga tempat hyang”. Menjaga prahyangan tersebut harus pageh (kukuh/konsisten) yang kemudian kata pageh dan hyang tersebut menjadi cikal bakal nama peguyangan (Anonim, 2011: 1)

Sejarah Penatih

Perjalanan Maha Rsi Markandya yang diiringi oleh muridnya bernama Bhujangga Sari dengan membangun Pura Gunung Raung, Pura Payogan, dan juga di Campuhan membangun Pura Tangga Hyang Api ditepian Sungai Oos. Bhujangga Sari diceritakan telah lama menuntut ilmu dan ingin mendirikan pasraman di sebuah tanah berwarna putih yang ternyata telah ditempati oleh orang Bali Aga berasal dari daerah Taro. Pura yang dibangun di Tanah Putih ini bernama Payogan Hyang Api sebagai pemujaan tri sakti dan tempat pemujaan pakraman. Tanah Putih merupakan cikal bakal dari nama Penatih yang berasal dari kata pinih dan tih yang berarti pertama (tih) (Dhaksa, t.t). 

Setelah Bali berhasil ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit sekitar abad XIV Masehi, maka Patih Gajah Mada  atas perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi mengirim Dalem Ketut Kresna Kepakisan (Dalem Samprangan) untuk dijadikan Adipati Bali beserta dengan beberapa pengiring seperti Arya Kanuruhan, Arya Demung, Arya Belog, Arya Mengori, Arya Tumenggung, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Kepakisan, Arya Pangalasan, Arya Kutawaringin, Arya Gajahpara, Arya Getas, dan Arya Wang Bang. Diiringi juga oleh para waisya seperti Si Tan Kober, Si Tan Kawur, dan Si Tan Mundur. Wilayah Penatih ditempati oleh Arya Wang Bang Pinatih yang bergelar Kyai Anglurah Pinatih Mantra  dengan pasukan sejumlah 35.000 yang merupakan rakyat dari Arya Buleteng. Penatih dalam kekuasaan Kyai Anglurah Penatih Mantra banyak mengalalami perubahan pembangunan, salah satunya adalah bangunan-bangunan suci. Pura Payogan Hyang Api yang sebelumnya sudah ada pada masa Bhujangga Sari juga ikut dipugar yang pada awalnya sebagai pemujaan tri sakti ditambahkan dengan beberapa palinggih leluhur (kawitan), yaitu Palinggih Manik Angkeran, Palinggih Dukuh Blatungan, Palinggih Padma Siwa, dan Palinggih Padma Budha (Padma Kurung). Pembangunan dua Padma (Siwa-Budha) ini sebagai penghormatan terhadap leluhurnya yang bernama Mpu Sidhimantra sebagai penganut ajaran Budha dan Mpu Sedah penganut ajaran Siwa (Dhaksa, t.t).

Pura Payogan Hyang Api setelah pemugran dan penambahan beberapa palinggih selanjutnya namanya dirubah menjadi Pura Penataran Agung Penatih yang memiliki makna: Pura Artinya tempat yang disucikan, Penataran artinya yang dimiliki penguasa, serta Penatih merupakan nama wilayah dan nama penguasa ketika itu. Saat ini Pura Penataran Agung Penatih diwarisi kepada warga masyarakat Desa Pakraman/Adat Penatih yang dipuja sebagai Kahyangan Tunggal dan sebagai Kawitan Arya Wang Bang Pinatih (Dhaksa, t.t).