Tukad Bindu

Tukad Bindu adalah sungai yang tenang yang terletak di tengah-tengah hijauan yang rimbun, menawarkan kesempatan unik bagi pengunjung untuk melarikan diri dari kehidupan sehari-hari yang sibuk dan menikmati lingkungan yang tenang dan damai. Lokasi yang indah ini adalah tujuan yang sempurna untuk keluarga dan pecinta alam yang mencari istirahat dari kekacauan kehidupan perkotaan.

Salah satu daya tarik utama dari Bindu adalah keindahan alamnya. Sungai ini dikelilingi oleh bukit-bukit hijau, dan airnya jernih bening, menjadikannya tempat yang ideal untuk memancing atau berenang. Pengunjung dapat menikmati jalan-jalan santai di sepanjang tepi sungai, menghirup udara segar, dan menikmati pemandangan yang menakjubkan. Bersepeda juga merupakan kegiatan populer di Bindu, dengan beberapa layanan penyewaan sepeda tersedia di daerah tersebut.

Bagi mereka yang lebih suka pengalaman yang lebih santai, piknik adalah pilihan yang sangat baik. Daerah ini memiliki beberapa tempat piknik, dengan area yang ditunjuk untuk barbekyu dan ruang yang cukup untuk permainan outdoor. Dengan suasana yang tenang dan damai, Bindu adalah lokasi yang ideal untuk hari keluarga atau piknik romantis bersama orang yang dicintai.

Tukad Bindu juga merupakan rumah bagi berbagai flora dan fauna. Pengamat burung dapat melihat beberapa spesies burung, termasuk burung kingfisher, bangau, dan elang. Kera dan primata lainnya juga sering terlihat di daerah ini. Pengunjung dapat menyewa pemandu lokal untuk mengajak mereka jalan-jalan alam dan mempelajari lebih lanjut tentang flora dan fauna setempat.

Secara keseluruhan, Bindu adalah destinasi yang sangat baik bagi mereka yang mencari lingkungan yang tenang dan damai jauh dari kekacauan kehidupan perkotaan. Apakah Anda ingin bersepeda, jalan-jalan, piknik, atau hanya bersantai dan menikmati pemandangan yang menakjubkan, Bindu memiliki sesuatu untuk semua orang. Jadi, mengapa tidak merencanakan kunjungan ke lokasi yang indah ini dan merasakan kedamaian alam?

Pura Dalem Cemara

Latar belakang sejarah pendirian Pura Dalem Cemara tidak dapat ditemukan dalam sumber-sumber tertulis, tetapi cerita-cerita masyarakat sebagai pangempon dan penyungsung pura dapat digunakan sebagai salah satu narasi dalam menceritakan keberadaan pura ini.

Menurut pemangku pura, Jero Mangku Made Sukanadia dahulu masyarakat serangan merupakan nelayan-nelayan yang melintasi teluk di sekitaran Tanjung Benoa. Mereka datang dari, misalnya, sekitar Pamogan, Suwung, Kepaon, Kelan, Pago, Panjer, Dukuh, Pedungan, Intaran, Cemenggon, Batusasih (Batubulan).

Secara struktur, Pura Dalem Cemara posisinya menghadap ke barat dengan terbagi atas tiga halaman. Yaitu halaman dalam (utama mandala/jeroan), halaman tengah (madya mandala), dan halaman luar (nista mandala/jabaan).

Halaman dalam dan tengah dibatasi dengan tembok keliling yang terbuat dari susunan batu gamping (kapur) atau disebut juga dengan paras tombong, halaman luar dengan halaman tengah dihubungkan dengan paduraksa berupa candi bentar, sedangkan halaman tengah dengan halaman dalam dihubungkan dengan paduraksa berupa candi kurung (kori agung).

Halaman dalam (utama mandala/jeroan) di dalamnya berdiri bangunan maupun arca  seperti Candi Prasada sebagai Gedong Ratu Agung, Palinggih Tajuk, Gedong Bhatara Dalem Kahyangan, Gedong Bhatara Lamun, Piyasan, Gedong Bahatara Ratu Pemade, Bale Papelik, Gedong Bahatara Ratu Singosari, Palinggih Batur, Meru Bhatara Ratu Pasek, Tugu Kepah Kembar, Gedong Bhatara Ratu Hyang Gelar, Bale Pengaruman, Linggih Ratu Ayu, Palinggih Hyang Ibu, Gedong Bhatara Ratu Apuan, dan Palinggih Ratu Sawo.

Kemudian pada halaman tengah (madya mandala) terdapat juga bangunan seperti Palinggih Arca Prakangge, Bale Kulkul, Bale Gong, Perantenan, dan Palinggih Arca Taman. Halaman luar (nista mandala/jabaan) yang berada di sisi barat merupakan jalan, tanpa dikelilingi tembok.

Pura Dalem Cemara termasuk bagian dari pura kahyangan tiga atau pemujanya terikat oleh kesatuan wilayah dan dulu sebagai Pura Desa, Puseh, Dalem. Sekarang, pura ini merupakan bagian dari pura kahyangan tiga sebagai bersthananya Dewa Wisnu, dewa pemelihara. Hal ini diperkuat dengan adanya Pura Segara di sisi utara Pura Dalem Cemara yang memiliki simbol air sama dengan manifestasi Dewa Wisnu. Upacara piodalan di Pura Dalem Cemara dilaksanakan setiap 210 hari, yaitu pada hari Buda (Rabu) Kliwon, Wuku Sinta (hari raya Pagerwesi).

Desa Budaya Kertalangu

Desa Budaya Kertalangu merupakan desa budaya yang ada di Kota Denpasar Indonesia. Desa Budaya Kertalangu berada di Denpasar Timur Provinsi Bali. Desa ini merupakan salah satu ikon wisata budaya yang ada di Bali. Sebagai ikon wisata budaya, desa ini cukup banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Letaknya yang berada di jalan utama Denpasar yaitu di jalan By Pass Ngurah Rai juga membuat desa ini tidak sulit untuk ditemukan. Ketika memasuki Desa Budaya Kertalangu wisatawan akan disambut dengan sajian pemandangan alam yang tampak hijau dan alami berupa persawahan dan kebun-kebun hijau yang subur. Keistimewaan dari Desa Budaya Kertalangu ini adalah di dalam desa ini terdapat tugu perdamaian dunia. Tugu ini dibuat oleh negara-negara independen yang begitu mendukung adanya perdamaian di dunia. Di tugu ini juga terdapat 9 simbol agama yang ada di dunia.

Desa Budaya Kertalangu didirikan atas pemikiran seorang masyarakat Bali yang menginginkan sebuah desa yang di dalamnya terdapat perdamaian, kebudayaan serta memiliki daerah yang hijau. Desa Budaya Kertalangu merupakan desa pertama yang memiliki ketiga konsep tersebut. Keunikan dari desa yang mengandung 3 konsep tersebut tentunya banyak mendatangkan wisatawan untuk datang menyaksikan simbol perdamaian dunia yang berada di desa Denpasar Indonesia ini. Selain itu mereka juga bisa menyaksikan pementasan seni dan budaya sambil menikmati makanan khas Bali yang berada di sekitar Desa Kertalangu. Pentas seni yang biasa di adakan di desa ini yaitu Tari kecak, Tari Barong dan Joged Bumbung. Selain menyaksikan pementasan seni wisatawan juga dapat menemukan kerajinan tangan khas Bali yang beraneka ragam.

Beragam tempat wisata yang ditawarkan kota Denpasar Indonesia, membuat kota ini menjadi salah satu kota dengan perkembangan pariwisata yang baik. Selain Desa Budaya Kertalangu. wisatawan domestik maupun mancanegara dapat melakukan wisata budaya di tempat lainnya yang juga menyuguhkan wisata budaya yang menarik. Wisatawan dapat mengunjungi situs Indonesia Travel, situs ini menyajikan beragam tempat wisata yang dapat dijadikan pilihan para wisatawan untuk berlibur.

Kawasan Hutan Mangrove

Tersembunyi di jantung kota Denpasar, Hutan Mangrove adalah oasis hijau yang menawarkan tempat beristirahat dari kebisingan kota. Seperti namanya, hutan ini adalah semak belukar lebat yang terdiri dari mangrove, yang menyediakan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Hutan ini terbuka bagi pengunjung, yang dapat berjalan di jalur kayu yang berkelok-kelok di antara pohon-pohon, memungkinkan mereka untuk menjelajahi pemandangan yang menakjubkan dengan dekat.

Hutan mangrove adalah ekosistem unik yang tumbuh di zona intertidal sepanjang pantai wilayah tropis dan subtropis. Hutan ini memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem pesisir dan melindunginya dari erosi. Mangrove sendiri adalah jenis pohon yang telah beradaptasi dengan kondisi yang keras dan selalu berubah di zona intertidal. Akar mereka tumbuh di atas tanah untuk membentuk jaringan yang padat dan membantu menjaga pohon-pohon tetap berada di tempat dan memberikan habitat bagi berbagai jenis binatang laut.

Hutan Mangrove di Denpasar adalah contoh terbaik dari ekosistem yang unik ini. Hutan ini menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan binatang, termasuk beberapa jenis mangrove, pakis, dan anggrek. Pengunjung ke hutan ini juga bisa melihat berbagai jenis burung, termasuk raja udang dan burung camar, serta biawak dan hewan reptil lainnya.

Salah satu cara terbaik untuk menjelajahi Hutan Mangrove adalah dengan berjalan di jalur kayu yang berkelok-kelok di antara pohon-pohon. Jalur ini memberikan pengunjung pandangan yang dekat dengan mangrove dan kesempatan untuk melihat beberapa hewan yang tinggal di hutan ini. Jalurnya terawat dengan baik, dan ada beberapa titik pengamatan di sepanjang jalan di mana pengunjung dapat berhenti dan menikmati pemandangan yang menakjubkan.

Selain berjalan, pengunjung ke Hutan Mangrove juga bisa berkeliling dengan kano atau mengikuti tur perahu untuk menjelajahi perairan sekitarnya. Hutan ini terletak di tepi Laut Bali, dan airnya merupakan rumah bagi berbagai jenis binatang laut, termasuk penyu laut dan ikan-ikan berwarna-warni.

Hutan Mangrove adalah tujuan populer bagi para pecinta alam dan tempat yang tepat untuk melarikan diri dari kebisingan kota. Hutan ini buka setiap hari dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore, dan ada biaya kecil untuk masuk. Pengunjung disarankan untuk

Pantai Tangtu

Pantai Tangtu terletak di Jalan Pucuk Bang, Banjar Tangtu, Desa Kesiman Kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali. Akan lebih mudah untuk mencapai lokasi jika kamu melewati Jalan Bypass Ida Bagus Mantra. Dari jalan ini, kamu akan langsung masuk gerbang pantai.

Ada beberapa aktivitas yang bisa kamu lakukan saat berlibur di Pantai Tangtu, seperti berenang, memancing, berjemur, atau hanya berjalan-jalan menikmati keindahan laut dan hembusan angin sejuk. Di pantai ini terdapat spot foto Instagramable yang terbuat dari cabang pohon daur ulang.

Spot foto ayunan kayu sangat populer di kalangan lokal dan wisatawan untuk berfoto. Kamu mungkin harus antri untuk mendapatkan sudut terbaik untuk foto. Ada juga patung huruf yang terbuat dari barisan cabang pohon yang menjadi tempat favorit wisatawan untuk berfoto.

Ombak di Pantai Tangtu di Denpasar tidak terlalu besar, dan tidak jauh dari pantai, kamu bisa melihat muara Sungai Ayung yang mengalir ke laut. Angin laut yang sejuk sangat cocok untuk menemani berbagai aktivitasmu di pantai ini.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Pantai Tangtu adalah di pagi dan sore hari, di mana kamu bisa melihat keindahan matahari terbit dan terbenam yang terbaik. Banyak orang lokal atau wisatawan yang tinggal di sekitar pantai biasanya berjoging atau hanya berjalan-jalan di pagi atau sore hari.

Di pantai ini, kamu juga bisa melihat Pura Campuhan Segara Windu dan pertemuan Sungai Ayung yang disebut “campuhan”. Oleh karena itu, banyak orang lokal atau wisatawan yang datang untuk “menghilangkan” kesialan atau penyakit.

Pura Maospahit

Pada awalnya,Pura ini dibangun oleh seorang tokoh  Bali yang legendaries, Sri Kebo Iwa namanya. Beliau dikenal ahli pada bidang bangunan Bali. Dalam Babad Wongayah Dalem yang dipandang sebagai Prasasti Pura Maospahit diterangkan tentang perjalanan Sri Kebo Iwa mengajar dan memimpin masyarakat membangun Pura.

Sri Kebo Iwa membangun Candi Rasas Maospahit tahun 1200 Saka (1278 Masehi). Adapun yang disebut Candi Rasa Maospahit itu adalah pelinggih gedong bata merah yang cukup besar dan unik dengan dua patung gerabah kuno mengapit pintu. Candi menghadap ke Barat di Mandala Utama Pura Maospahit.

Tampaknya benar isi Babad diatas.Karena kini kita dapat menyaksikan adanya dua pelinggih utama di Mandala Utama Pura Maospahit. Pelinggih itu berupa gedong.Gedong bata merah beratap ijuk yang menghadap ke Barat disebut Candi Raras Maospahit. Sementara itu kembarannya menghadap ke Selatan disebut Candi Raras Majapahit. Di Depan agak keselatan berjajar sanggar Kebudayaan. Sementara itu salu kembar ada di areal sebelah timur penyengker mandala utama Pura Maospahit.

Jro Mangku Gede menjelaskan bahwa yang paling dimuliakan saban sembahyang di mandala utama itu adalah Ratu Ayu Mas Maospahit yang dicandikan dalam Candi Raras Maospahit dan Ida Bhatara Lingsir Sakti yang dicandikan dalam Candi  Raras Majapahit. Pujawali untuk memuliakan Ratu Ayu Mas Maospahit jatuh pada hari Purnama Jyesta, sedangkan Pujawali untuk memuliakan Ida Bhatara Lingsir Sakti jatuh pada hari Purnama Kalima.

Frase Candi Raras artinya Candi yang indah dan secara arsitektural candi tua ini memang antik, walaupun kini bata merahnya mulai lapuk dan mangkuk-mangkuk kuno yang menempel pada tubuh Candi Raras Majapahit sudah banyak yang hilang. Kata “maospahit ” sama artinya dengan kata “majapahit”. Teks Babad terkutip jelas mengatakan bahwa gedong yang dibangun dengan nama Candi Raras Majapahit didasarkan atas ukuran gedong atau candi yang ada di kerajaan Majapahit. Fungsinya dijelaskan sebagai panyawangan bangunan suci untuk menghubungkan diri dengan dewa-dewa atau roh leluhur yang bertempat jauh,yaitu Majapahit. 

Ista Dewata yang dipuja dapat dijadikan indikator tentang agama yang dianut raja dan/atau masyarakat bersangkutan.Kekawin Negara Kertagama menerangkan bahwa ajaran suci yang dianut oleh raja Majapahit adalah ajaran Siwa-Budha. Jro Mangku Gede membenarkan hal ini. Bahwa Dewata yang dipuja di pura Maospahit sesungguhnya adalah Dewa yang menjadi pusat orientasi Agama yang dianut oleh Raja Majapahit.Akan tetapi, dalam konteks rasa hormat tradisi Bali, Tuhan dipuja dengan gelar Ida Bhatara Lingsir. Beliau adalah purasa ‘laki-laki’ bersifat surya ‘matahari’. Sebaliknya Ratu Mas Maospahit adalah Predana ‘perempuan’ bersifat Chandra ‘bulan’.

Seperti dimaksud dalam Babad bahwa Raja Kerajaan Bandana(Badung) merasa tidak lengkap dan tidak rasional, bila hanya memuja Tuhan sebagai Pradana ‘Ibu’. Agar lengkap dan Rasional, juga sebaiknya memuja sebagai Purusa ‘Bapa’. Konsep rwa bhineda ‘oposisi biner’ memang menjadi hakikat kearifan masyarakat Bali sejak zaman purba. Oleh karena itu beliau memerintahkan membangun Candi  Raras Majapahit untuk mendampingi Candi Raras Maospahit yang telah dibangun oleh Sri Kebo Iwa sebelumnya.

Sejalan dengan itu, Jro Mangku Pun menegaskan pendiriannya Bhatara Lingsir dan Ida Ayu adalah Sang Hyang Ardanareswari ‘dua dewata yang tunggal’. Beliau adalah taksu ‘magis religius kerajaan Badung. Tuhan sebagai Bhatara Lingsir Sakti diyakininya mengemban tugas menganugerahkan kadiatmikan ‘pencerahan spiritual’ kepada raja dan masyarakat badung yang bakti kepadanya. Sebaliknya, Tuhan sebagai Ratu Ayu Mas Maospahit diyakininya sebagai pengemban tugas untuk menganugerahkan kewisesan.

‘Kemampuan untuk dapat bekerja secara profesional dan kedigdayaan’ sehingga kerajaan menjadi aman dan makmur.Mangku meyakini bahwa itulah yang dialami para leluhur yang menjadi pangrajeg “penanggung jawab” Pura Maospahit dan kerajaan Bandana.

Mengingat itu sehingga keberadaan Pura Maospahit ini sangat penting artinya bagi penerus kerajaan Bandana terutama keluarga Puri Pemecutan dan Puri Satriya (Satria).

Pura ini tampaknya tidak semata-mata untuk memuja Ista Dewata, tetapi juga untuk memuliakan leluhur khususnya leluhur raja. Ida Bhatara Lingsir, juga adalah gelar untuk menghormati leluhur laki-laki kerajaan Majapahit. Sebaiknya, Ratu Ayu Maospahit, boleh jadi juga adalah gelar untuk menghormati leluhur perempuan kerajaan Majapahit. Termasuk untuk memuliakan Sri Kebo Iwa atas jasa-jasanya. Hindu yakin bahwa leluhur adalah jan bangul ‘pengantar puja’ untuk dapat berhubungan dengan Ista Dewata yang dipuja. Tanpa restu leluhur, puja kepada Tuhan dipandang cacat. Leluhur, karena perbuatan baiknya setelah Beliau berpulang, melalui ritual Sradha atau Ngaben dan Mamukur, rohnya dicandikan dan diyakini dapat menunggal dengan Ista Dewata yang dipujanya. Para Maharsi mengajarkan: “Pitra Dewa Bhawa” ‘Leluhur adalah perwujudan Tuhan’.

Jro Mangku menerangkan bahwa luas Pura sekitar 70-80 are (belum diukur). Pura terpilih atas lima mandala. Mandala pertama ada di depan dengan pintu gerbang yang bernama Candi Kusuma menghadap ke jalan Sutomo. Sebagaimana halnya pintu gerbang Kori Agung lainnya, pintu candi Kusuma itu pun tidaklah lebar. Di dalam mandala depan itu ada Salu Kembar, Bale Kulkul yang megah dan tinggi, Pelinggih Ratu Ngurah Pengalasan, dan Piasan. Pada penyengker sebelah Barat, di bagian pojok Selatan ada pintu gerbang yang kokoh dan tinggi menghadap ke sebelah Barat. Namanya Candi Rengat. Pintu gerbang ini berfungsi menjadi jalan menuju mandala dua.

Mandala kedua yang ada di Selatan Pura, dulunya cukup luas. Akan tetapi, kini hanya tertinggal berupa gang selebar dua meteran untuk menuju gerbang berikutnya yang ada sebelah Barat penyengker Selatan Pura. Dengan menyusuri gang ini, agak jauh di Barat ada sebuah candi bentar yang juga kekar dan megah lelengisan bata merah. Candi Rebah namanya. Mandala ketiga ini, juga disebut Jaba Sisi. Ada sejumlah bangunan khas di sini. Di antaranya Palinggih Ratu Cede Kobar Api, Bale Pesandekan, Bale Cede, Bale Sakaulu, Parerepan, Pawaregan, Pelinggih Bhatara Wisnu, dan Sumur. Ada pula sebuah pohon Soka dan Nyambu Rata yang besar menaungi mandala ini yang menjadikan Pura sejuk dan terkesan angker. Fungsi utama mandala ini adalah sebagai dapur upakani ‘sesajen’, dapur umum, dan pasandekan ‘tempat istirahat’.

Di sebelah Timur mandala ini ada Candi Bentar bata merah berpintu lebar yang juga kekar dan juga unik. Pada Candi Bentar belahan Utara ada relief (patung yang menempel) Bima yang besar yang dililit oleh dua naga. Ratu Ngurah Bayu namanya. Berjejer ke Utara pada dinding candi ada patung Dewa Yama, Indra, dan Sangkara. Sebaliknya, pada belahan candi bagian Selatannya ada patung Burung Garuda ukuran besar membawa Sangku Amerta ‘periuk air kehidupan’. Ratu Ngurah Paksi namanya. Berjejer ke arah Selatan ada patung Dewa Kuwera dan Baruna. Patung unik ini tentu menarik terutama bagi arkeolog.

Patung-patung sakral yang mendampingi Ratu Ngurah Bayu dan Ratu Ngurah Paksi adalah lima dewata yang disebut Sanghyang Panca Korsika. Mereka adalah Dewa penjaga kiblat. Keberadaannya diyakini sebagai yang menganugerahkan rahmat perlindungan gaib sehingga kesucian Pura dan umat Hindu yang melakukan aktivitas religius di dalam Pura selamat dari berbagai bentuk gangguan yang bersifat tidak menguntungkan. Sementara itu, Ratu Ngurah Bayu dan Ratu Ngurah Paksi juga diyakini memiliki fungsi perlindungan.

 Dengan melintasi Candi Bentar ini, kita diajak memasuki mandala keempat yang disebut Jaba Tengah. Mandala ini pun cukup lebar. Ada sejumlah bangunan suci disini, yaitu Bale Pesucian, Bale Tajuk, dan Bale Sumanggen. Di mandala ini ada pohon Sawo Kecik, penyejuk yang cukup rimbun. Mandala ini tentulah untuk wall ‘seni sakral’ terutama ketika ada upacara di Pura ini.

Di Bagian Timur mandala ini ada Kori Agung yang kekar, unik, dan tinggi. Dengan melalui Kori Agung ini, sampailah di mandala utama yang disebut Jeroan. Di sini terdapat cukup banyak bangunan suci. Di sinilah Candi Raras Maospait dan Candi Raras Majapahit yang telah dibicarakan sebelumnya berdiri. Bangunan suci lainnya yang tidak kalah uniknya adalah Bale Pangayunan, Bale Taksu, sejumlah Palinggih Kabuyutan. Palinggih Ratu Hyang Agung, Piasan, Dan beberapa palinggih Kabuyutan. Di bagian bagian tertentu mandala ini tumbuh pohon jepun yang umurnya tampak cukup tua, kayu Putih, Pala Jiwa dan pohon hias lainnya menambah citra kekunoan Pura Maospait.

Kekunoan dan kemegahan Dang Kahyangan Maospait adalah bukti sejarah keberadaan Raja Bandana Kerajaan Badung. Cita-cita dan restu raja, Keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat bersama dengan masyarakat membangun dan bakti di Pura Maospahit dahulu sesungguhnya merupakan tanda bahwa Pura adalah pusat orientasi kerajaan. Pura adalah wujud agama yang dianut kerajaan. Ista Dewata yang dipuja di Pura adalah spirit atau pamor kerajaan.

Pantai Serangan

Terletak di pesisir tenggara Bali, pantai yang indah ini terkenal dengan air lautnya yang jernih, pasir pantai putihnya yang lembut, dan berbagai kegiatan air yang menyenangkan.

Bagi para pengunjung yang lebih berjiwa petualangan, Serangan Beach menawarkan peluang berselancar yang sangat baik ketika ombak sedang tinggi. Jika kamu baru memulai dalam olahraga berselancar, banyak sekolah selancar yang menawarkan pelajaran, sehingga kamu bisa memulai dengan mudah. Untuk para peselancar yang sudah berpengalaman, kamu bisa menangkap beberapa ombak terbaik di Bali dan menikmati sensasi menakjubkan dari bermain ombak.

Jika kamu suka dengan olahraga air, kamu bisa memanjakan diri dengan berbagai aktivitas seperti naik jet ski dan banana boat. Air tenang di Serangan Beach sempurna untuk aktivitas ini, memberikan pengalaman yang aman dan menyenangkan untuk semua usia.

Jika kamu memerlukan istirahat dari kegiatan air, kunjungilah salah satu restoran terdekat dan nikmati hidangan seafood yang lezat. Pantai ini terkenal dengan hidangan seafood-nya, dan kamu bisa mencoba beberapa hidangan seafood terbaik dan paling lezat di Bali. Restoran-restoran tepi pantai menawarkan berbagai pilihan, mulai dari masakan tradisional Bali hingga masakan internasional.

Serangan Beach juga menjadi rumah bagi pusat konservasi penyu. Pengunjung bisa mengambil tur di pusat konservasi dan belajar tentang upaya konservasi yang dilakukan untuk melindungi makhluk-makhluk indah ini. Kamu bahkan bisa memiliki kesempatan untuk melepaskan seekor bayi penyu ke laut, pengalaman yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

Sebagai kesimpulan, Serangan Beach adalah destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Bali, Indonesia. Dengan pantainya yang bersih dan jernih, kegiatan air yang menyenangkan, dan hidangan seafood yang lezat, ada sesuatu untuk semua orang. Jadi, apakah kamu ingin berselancar, berenang, berjemur, atau menikmati hidangan seafood yang lezat, Serangan Beach adalah tempat yang sempurna untuk menghabiskan waktu.



Pura Sakenan

Pura Sakenan merupakan bagian dari ribuan pura yang ada di Bali. Letaknya di desa Serangan, kecamatan Denpasar Selatan, dulunya Serangan merupakan sebuah pulau terpisah yang hanya bisa diakses melalui jalur laut, namun setelah mengalami reklamasi, kawasan ini begitu mudah untuk dikunjungi melalui jalur darat. Serangan sendiri menjadi tempat menarik bagi sejumlah kalangan wisatawan, ada penangkaran penyu, rekreasi diving dan juga kegiatan watersport lainnya seperti di Tanjung Benoa, sehingga menjadi salah satu objek wisata di Bali yang sayang untuk dilewatkan.

Pulau Serangan terbilang sangat kecil dengan panjang 2,9km dan lebar 1 km, seperti namanya yang berasal dari kata sira dan angen, memang membuat ngangenin karena keindahannya, itu sebabnya pelaut-pelaut Bugis sengaja untuk berhenti dan beristirahat mencari minum disini,  karena keindahan pulaunya mereka betah berlama-lama, itu sebabnya sampai sekarang ada perkampungan dinamakan Kampung Bugis pada kawasan ini. Jika anda wisatawan coba agendakan acara tour di Bali anda berkunjung ke sini, selain beberapa rekreasi seperti watersport dan penangkaran penyu anda bisa memancing dan diving.

Pura Sakenan sendiri merupakan pura kahyangan jagat, dan menurut lontar Usana Bali dibangun oleh Mpu Kuturan (Rajaketha), dalam sejarahnya pura dibangun karena perwujudan rasa syukur sekelompok orang yang merasa sira angen karena keindahan pulau Serangan, masyarakat Bali sekitarnya juga ikut melakukan persembahyangan walaupun sebelumnya hanya bisa diakses melalui jalur laut menggunakan perahu-perahu nelayan, lambat laun transportasi laut ini mulai ditinggalkan, karena sekarang kendaraan seperti mobil bahkan bus besar bisa dengan mudah mengakses Serangan.

Kalau dari prasasti desa Sading, Kec. Mengwi, Badung, pembangunan Pura Sakenan diperkirakan saat Bali diperintah oleh raja Sri Masula Masuli, beliau bertahta dari tahun Isaka 1.100 (1178 Masehi) dan memerintah selama 77 tahun. Pada saat Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan rohani keliling pulau Bali, beliau juga sempat singgah ke pulau Serangan, beliau sangat mengagumi keindahan pulau ini, perpaduan alam laut dan pulau begitu serasi, sehingga memutuskan untuk bermalam beberapa hari, dan akhirnya pada bagian sebelah Barat beliau membangun tempat suci bernama Pura Sakenan.

Ada yang menterjemahkan Sakenan berasal dari kata Cakya yang berarti langsung menyatukan pikiran, sangat beralasan tempat kecil yang dipisahkan oleh laut ini memiliki ketenangan dan keheningan lebih, sehingga mudah untuk menyatukan rohani ataupun pikiran ke Hyang Pencipta. Pujawali di Pura Sakenan setiap 210 hari sekali tepatnya hari Raya Kuningan pada hari Sabtu Kliwon, Kuningan.

Saat umat Hindu melakukan persembahyangan pada Hari Raya Kuningan, setidaknya ada 3 buah pura tempat umat melakukan persembahyangan , yaitu pura Susunan Wadon sekitar 500 meter sebelah timur pura utama, kemudian pura Susunan Agung dan Dalem Sakenan pada pinggir pantai tepi Barat. Ini satu paket perjalanan spiritual saat melakukan persembahyangan ke Pulau Serangan. Karena ketiga pura tersebut melambangkan Purusa, Pradhana dan Lingga.

Ada menyebutkan Pura Sakenan sebagai Samudra Kertih bagian dari Sad Kertih. Tempat memuja Ida Hyang Baruna sebagai penguasa lautan untuk menjaga keselamatan dunia, menyucikan segala bhuta kala dan manusia, menghilangkan segala jenis penyakit dan rintangan.

Jika anda seorang wisatawan, walaupun bukan warga Hindu anda bisa menyaksikan ketenangan dan kesakralan Pura Sakenan ini, selain itu anda bisa menikmati beberapa wisata bahari seperti banana boat, diving, parasailing dan jetski, permainan watersport disini lebih tenang tidak seperti Tanjung Benoa yang selalu ramai.

Pantai Biaung

Pantai Biaung terletak di Kesiman, Denpasar. Pantai ini terkenal di kalangan peselancar dan pengepak layang-layang karena ombaknya yang menantang dan ruang terbuka yang luas. Pantai Biaung adalah pantai berpasir hitam  panjang yang membentang sekitar 2,5 kilometer di sepanjang pantai timur Bali. Air di sini jernih dan biru, dan ombaknya cukup menantang, menjadikannya tempat yang ideal bagi peselancar berpengalaman.

Selain peselancar, pantai Biaung juga menjadi tempat populer untuk menerbangkan layang-layang. Ruang terbuka yang luas di pantai ini memberikan cukup ruang bagi kompetisi layang-layang yang diadakan sepanjang tahun. Pantai ini terutama ramai selama Festival Layang-layang Bali tahunan, yang berlangsung setiap bulan Juli.

Festival Layang-layang Bali adalah acara budaya yang merayakan seni tradisional Bali membuat dan terbang layang-layang. Selama festival, tim dari seluruh Bali datang ke Pantai Biaung untuk berkompetisi dalam kompetisi terbang layang-layang. Layang-layang yang diterbangkan selama festival seringkali cukup besar dan dirancang dengan rumit, dan festival ini adalah kesempatan yang fantastis untuk melihat seni tradisional membuat layang-layang dalam aksi.

Secara keseluruhan, Pantai Biaung di Kesiman, Denpasar, Bali, adalah destinasi wajib bagi peselancar dan pengepak layang-layang. Ombak yang menantang dan ruang terbuka yang luas menjadikannya tempat yang ideal untuk kedua olahraga tersebut, dan pemandangan yang menakjubkan dan acara budaya menjadikannya tempat yang bagus untuk bersantai dan menikmati budaya Bali yang unik.

Pantai Cemara Alit

Pantai Cemara Alit dikelilingi oleh pepohonan hijau yang lebat, air yang jernih, dan suasana yang damai. Pantai ini relatif kecil, sehingga pengunjung dapat menikmati pengalaman yang lebih pribadi dan intim tanpa kerumunan. Airnya yang tenang, yang sangat cocok untuk berenang dan snorkeling. Air yang jernih memberikan kesempatan untuk melihat keanekaragaman kehidupan laut yang berkembang di area tersebut, sehingga menjadikannya tujuan populer bagi para penggemar snorkeling.

Pemandangan matahari terbenam yang memukau di Pantai Cemara Alit membuatnya menjadi tempat yang ideal untuk jalan-jalan romantis pada malam hari. Saat matahari terbenam di cakrawala, langit berubah menjadi palet warna yang menakjubkan, memberikan latar belakang yang indah untuk jalan-jalan romantis bersama orang terkasih.

Sebagai kesimpulan, Pantai Cemara Alit menawarkan pelarian yang sempurna dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Airnya yang tenang, lokasi terpencil, dan pemandangan matahari terbenam yang memukau menjadikannya tujuan yang ideal untuk pengalaman yang tenang dan intim. Baik itu berenang, snorkeling, berjemur, atau jalan-jalan romantis pada malam hari, Pantai Cemara Alit memiliki sesuatu untuk semua orang.