Pantai Kesuma Sari

Jika Anda berencana melakukan perjalanan ke Bali dan ingin merasakan budaya dan keindahan alamnya yang unik, Pantai Kesumasari harus masuk dalam daftar kunjungan Anda. Pantai yang menakjubkan ini menawarkan berbagai aktivitas air, termasuk berlayar dengan perahu Jukung tradisional, yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan warisan budaya Bali yang kaya.

Salah satu pengalaman yang paling unik di Pantai Kesumasari adalah berlayar dengan perahu Jukung tradisional. Perahu kecil yang berwarna-warni ini telah digunakan oleh nelayan Bali selama berabad-abad dan menawarkan pengalaman budaya yang benar-benar otentik. Pengunjung dapat mengambil tur dengan perahu ini, yang tersedia untuk perjalanan memancing dan sunset cruise. Dengan matahari terbenam di atas air dan suara ombak yang menghantam perahu, ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan.

Perjalanan memancing dengan perahu Jukung juga populer di kalangan wisatawan. Perahu-perahu ini dilengkapi dengan semua peralatan memancing yang diperlukan, dan kru yang berpengalaman dapat membawa Anda ke beberapa tempat memancing terbaik di daerah tersebut. Menangkap ikan dengan cara tradisional Bali adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan. Anda juga akan menyaksikan keahlian luar biasa dari nelayan lokal, yang telah memancing di perairan ini selama berabad-abad.

Sunset cruise dengan perahu Jukung sangat sempurna untuk pasangan yang ingin menghabiskan malam romantis. Saat Anda berlayar di sepanjang pantai, Anda akan dimanjakan dengan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan di atas samudera. Warna jingga dan merah muda lembut langit menciptakan suasana yang tenang, dan angin sejuk yang bertiup melalui rambut Anda menambah suasana romantis.

Selain berlayar dengan perahu Jukung, Pantai Kesumasari juga merupakan tempat yang bagus untuk berenang, berjemur, dan berselancar. Pantainya bersih dan airnya jernih, sehingga sangat cocok untuk berenang yang menyegarkan. Jika anda adalah peselancar berpengalaman, pantai ini memiliki beberapa ombak yang bagus yang akan menguji kemampuan Anda.

Selain aktivitas air, ada juga banyak fasilitas di Pantai Kesumasari yang membuat kunjungan Anda lebih nyaman. Ada kursi pantai dan payung yang tersedia untuk disewa, serta shower dan ruang ganti. Anda juga dapat menemukan berbagai restoran dan kafe yang menawarkan masakan Bali yang lezat.

Secara keseluruhan, jika Anda mencari pengalaman pantai yang menyenangkan yang juga menawarkan pandangan ke warisan budaya Bali yang kaya, Pantai Kesumasari adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi. Pengalaman berlayar dengan perahu Jukung tradisional adalah hal yang harus dicoba, dan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan tidak akan terlupakan.

Pantai Duyung

Pantai Duyung terletak tidak jauh dari Pantai Sanur dan berada di pantai yang sama. Kamu bahkan bisa menemukan jalan pedestrian yang menghubungkan kedua pantai tersebut hanya dengan jarak 5 menit berjalan kaki.

Ada banyak fasilitas di sekitar area tersebut, termasuk hotel-hotel mewah, berbagai restoran, bar, dan kafe. Pantai Duyung juga dikenal sebagai Pantai Hyatt Sanur karena berada di belakang Hotel Hyatt Sanur.

Pantai Duyung lebih tenang dan tidak terlalu ramai, sehingga cocok bagi mereka yang ingin menikmati waktu santai di pantai. Suasana yang tenang ini membuat Pantai Duyung menjadi tempat yang ideal bagi keluarga dengan anak-anak untuk bermain di pasir dan berenang di air yang tenang.

Selain itu, Pantai Duyung juga merupakan lokasi yang tepat bagi para penggemar fotografi karena banyak kapal nelayan yang sering bersandar di pantai, memberikan pesona yang unik. Pantai ini juga bersih dan terawat dengan baik, sehingga menjadi tempat yang sempurna untuk perjalanan sehari.

Untuk mencapai Pantai Duyung, kamu bisa dengan mudah mengaksesnya dari Sanur atau berkendara selama sekitar 40 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Ada banyak ruang parkir yang tersedia bagi pengunjung yang membawa kendaraan sendiri.

Pantai Mertasari

Sanur merupakan tujuan wisata populer bagi para pengunjung ke Bali. Menawarkan berbagai aktivitas dan atraksi bagi mereka yang ingin merasakan budaya lokal. Salah satu tradisi kuno yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu adalah seni layang-layang, yang menjadi kegiatan favorit bagi banyak orang Bali.

Para pengunjung ke Sanur dapat merasakan tradisi kuno ini dengan mengikuti Festival Layang-Layang Bali yang populer, yang diadakan setiap tahun pada bulan Juli atau Agustus. Festival ini merupakan perayaan seni layang-layang dan menampilkan layang-layang yang rumit dengan berbagai bentuk dan ukuran, termasuk beberapa yang panjangnya mencapai beberapa meter. Ini adalah pemandangan yang sangat spektakuler, dengan layang-layang yang mengisi langit sejauh mata memandang.

Bagi mereka yang tidak dapat menghadiri Festival Layang-Layang Bali, masih banyak kesempatan untuk merasakan tradisi layang-layang di Sanur. Pantai Mertasari sangat populer di kalangan penduduk lokal dan wisatawan, dan merupakan tempat yang bagus untuk terbangkan layang-layang. Para pengunjung dapat membeli layang-layang dari pedagang lokal atau bahkan mencoba membuat layang-layang mereka sendiri.

Menerbangkan layang-layang tidak hanya merupakan kegiatan yang menyenangkan, tetapi juga memiliki makna budaya di Bali. Layang-layang diyakini mewakili keseimbangan antara surga dan bumi, dan sering digunakan dalam upacara keagamaan dan ritual. Selain menjadi kegiatan yang menyenangkan, Menerbangkan layang-layang juga menjadi cara untuk terhubung dengan komunitas lokal dan mempelajari lebih banyak tentang tradisi dan keyakinan mereka.

Bagi mereka yang mencari pengalaman budaya yang unik di Sanur, Menerbangkan layang-layang pasti patut dieksplorasi. Baik Anda menghadiri Festival Layang-Layang Bali atau hanya menerbangkan layang-layang di pantai, Anda pasti akan menciptakan kenangan yang tak terlupakan dan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang budaya lokal. Jadi, ketika Anda berada di Sanur, jangan lupa untuk mencoba menerbangkan layang-layang.

Pura Campuhan Windu Segara

Bali yang dikenal sebagai pulau seribu pura merupakan rumah bagi berbagai pura dengan fungsi yang berbeda-beda, antara lain Pura Campuhan Windhu Segara yang merupakan tempat populer untuk melukat (penyucian) dan mencari berkah untuk keselamatan dan penyembuhan dari penyakit.

Terletak di tepi pantai, Pura Campuhan dinamai dari tempat bertemunya air laut dan air tawar dari Sungai Ayung. Meskipun relatif baru, pembangunannya dimulai pada tahun 2005, pura ini dengan cepat mendapatkan popularitas di kalangan penduduk lokal dan wisatawan.

Tidak seperti candi kuno lainnya di pulau itu, Pura Campuhan Windhu Segara dimulai dengan kisah ajaib Jro Mangku Gede Alit Adnyana, seorang pendeta yang sembuh dari gagal ginjal setelah menerima pesan spiritual untuk membangun Parahyangan Ida Bhatara di lokasi di mana ia menemukan sebuah sepotong kayu yang mengeluarkan asap di pantai Padang Galak.

Dengan dukungan masyarakat, termasuk pemeluk agama yang berbeda, pembangunan pura dimulai pada tahun 2005, menunjukkan toleransi beragama di Bali. Saat ini, pura berdiri dengan indah di pantai berpasir di Padang Galak, menawarkan pengalaman yang unik dan menarik bagi pengunjung yang mencari pemurnian dan berkah spiritual.

Pantai Matahari Terbit

Pantai Matahari Terbit Menawarkan Fasilitas Menonton Matahari Terbit yang Nyaman

Pantai Matahari Terbit, yang terletak di kawasan Sanur Bali, merupakan destinasi populer bagi wisatawan maupun warga setempat. Pantai ini menawarkan pemandangan matahari terbit yang menakjubkan, sehingga menjadi tempat yang harus dikunjungi bagi mereka yang ingin merasakan keindahan Bali. Pantai ini dilengkapi dengan area duduk yang nyaman dan area parkir yang luas untuk kendaraan pribadi, sehingga mudah dan nyaman untuk dikunjungi.

Selain area duduk yang nyaman, para wisatawan juga dapat menikmati gazebo, toilet, dan kios souvenir. Akomodasi juga tersedia, sehingga para pengunjung dapat menginap semalam dan menikmati pantai selama periode waktu yang lebih lama. Sewa perahu juga tersedia, memungkinkan para pengunjung untuk menjelajahi garis pantai dan pulau-pulau terdekat.

Pantai ini juga cocok untuk foto hunting dan pemotretan pre-wedding. Dengan pemandangan yang menakjubkan dan fasilitas yang nyaman, pantai ini merupakan lokasi yang sempurna untuk pasangan yang ingin mengabadikan kenangan indah dari hari spesial mereka.

Bagi mereka yang suka beraktivitas, tersedia juga lintasan jogging untuk berlari di pagi hari sepanjang pantai. Pantai ini merupakan tempat yang tepat untuk menikmati jalan-jalan yang tenang, menikmati udara laut segar, dan menyerap pemandangan yang menakjubkan.

Secara keseluruhan, Pantai Matahari Terbit adalah tempat yang harus dikunjungi bagi siapa saja yang ingin merasakan keindahan Bali. Dengan fasilitas yang nyaman, pemandangan yang menakjubkan, dan berbagai kegiatan yang tersedia, ada sesuatu untuk dinikmati oleh semua orang. Baik Anda mencari hari santai di pantai atau pengalaman petualangan menjelajahi pulau-pulau terdekat, Pantai Matahari Terbit memiliki semuanya.

Pantai Sanur

Pantai Sanur adalah salah satu pantai yang paling menarik di Bali, terkenal dengan keindahan alamnya dan sejarah budayanya yang kaya. Pantai ini sudah populer selama berabad-abad, bahkan raja-raja kuno mengakui daya tariknya. Bahkan, Pantai Sanur tercatat dalam Prasasti Raja Kesari Warmadewa, yang berasal dari tahun 917 Masehi.

Terletak di pantai tenggara Bali, Pantai Sanur dikenal dengan pasir putihnya yang bersih dan air laut yang jernih. Pantai ini membentang selama beberapa kilometer dan merupakan tempat yang ideal untuk berenang, berjemur, dan berolahraga air. Pantai Sanur juga menawarkan pemandangan spektakuler dari garis pantai timur Bali, dengan Gunung Agung yang menjulang di kejauhan.

Pantai ini tidak hanya menjadi tujuan wisata populer tetapi juga situs sejarah penting. Prasasti Raja Kesari Warmadewa adalah bukti pentingnya Pantai Sanur dalam sejarah Bali. Prasasti ini adalah artefak tertua sejarah Bali yang diketahui, dan menceritakan kisah raja pertama yang dikenal di Bali, yang memerintah pada abad ke-10.

Menurut prasasti, Raja Kesari Warmadewa adalah seorang penguasa yang bijaksana dan adil yang tinggal di Singhadwala, yang sekarang dikenal sebagai Gianyar. Ia dikenal karena cintanya terhadap seni dan dukungannya terhadap para sarjana dan seniman. Ia mengakui keindahan Pantai Sanur dan membangun sebuah pura di sana, yang masih berdiri hingga saat ini.

Pura tersebut, disebut Pura Blanjong, terletak di dekat ujung selatan pantai. Struktur pura yang kecil dan sederhana ini sangat penting sebagai landmark budaya. Pura ini menyimpan prasasti batu kuno, termasuk Prasasti Raja Kesari Warmadewa, yang merupakan artefak sejarah penting Bali.

Selain pura, Pantai Sanur juga menjadi rumah bagi beberapa objek wisata budaya lainnya. Lapangan Golf Bali Beach terletak di sebelah utara pantai, dan merupakan salah satu lapangan golf terbaik di Bali. Museum Le Mayeur, yang terletak di dekat ujung utara pantai, adalah museum yang didedikasikan untuk karya pelukis Belgia, Adrien-Jean Le Mayeur, yang tinggal di Bali selama bertahun-tahun.

Pantai Sanur juga menjadi tujuan populer bagi para penggemar olahraga air. Air laut yang tenang di pantai ini sangat cocok untuk berenang, snorkeling, dan menyelam. Pantai ini juga menjadi tempat populer untuk berselancar angin, berselancar layang-layang, dan parasailing.

Secara keseluruhan, Pantai Sanur adalah destinasi yang wajib dikunjungi bagi siapa pun yang berkunjung ke Bali. Keindahan alamnya dan signifikansi budayanya menjadikannya salah satu pantai paling menarik di Bali.

Pura Dalem Kedewatan

Kala itu…

Banjir kerap melanda warga Tangtu. Ritual upacara keagamaan pun sulit digelar. Maka, Pura Dalem Kadewatan pun pindah ke arah selatan, menyusuri pesisir (Sanur). Pura Dalem Kadewatan berlokasi di Tangtu, berdekatan dengan Sungai Sagsag (Sungai Ayung).

Keberadaan Pura Dalem Kadewatan tidak dapat terlepas dari perjalanan putra dari Ida Made Wetan, bernama Pedanda Anom Bendesa yang merupakan keturunan dari Dang Hyang Nirartha dari Kamasan Klungkung menuju Tangtu yang ketika itu dikuasasi oleh I Gusti Ngurah Agung Pinatih sebagai penguasa Kertalangu Kesiman. Tangtu sekarang merupakan sebuah banjar yang berada di bawah naungan Desa Kesiman Kertalangu secara kedinasan dan Desa Adat Kesiman secara adatnya.

Diceritakan mengenai kedekatan Ida Pedanda Anom Bendesa dengan I Gusti Agung Pinatih, membuat Ida Pedanda Anom Bendesa memperistri adiknya yang bernama Ni Gusti Ayu Putu Pacung, selain itu I Gusti Ngurah Agung Pinatih juga menyerahkan kawula warga sebanyak 40 keluarga.

Lambat laun sebagai penunjang kehidupan sosial-religius membuat Ida Pedanda Anom Bendesa membangun beberapa pura yang mengikat masyarakat Tangtu seperti Pura Dalem Kadewatan, Pura Puseh, Pura Kentel Gumi, Pura Padang Sakti, Palinggih Pengayatan Bhatara Batur, dan Palinggih Gunung Agung. Begitu juga dengan I Gusti Ngurah Agung Pinatih membangun Pura Bangun Sakti di sebelah timur Tangtu atas petunjuk Ida Pedanda Anom Bendesa.

Hal inilah yang menyebabkan kemudian cucu Ida Pedanda Anom Bendesa memindahkan Pura Dalem Kadetawan ke tempat yang lebih aman. Ida Pedanda Anom Bendesa di Tangtu menurunkan putra bernama Ida Pedanda Sakti Ngenjung yang kelak memiliki dua putra bernama Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bendesa.

Pemindahan beberapa pelinggih Pura Dalem Kadewatan yang dilakukan oleh dua bersaudara atau dikenal dengan surya kalih melibatkan juga masyarakat pengiring yang setia, mencari tempat ke arah selatan menyusuri pesisir pantai dengan mengusung pratimapratima, dan akhirnya perjalanan yang ditempuh sekitar 4 kilometer dijumpai lahan datar yang kosong, kemudian disebut dengan Tegal Asah.

Menemukanlah, tanah lapang di Tegal Asah, yang terdapat undak-undak tanah yang cukup tinggi  dan menyembulkan sinar menjulang tinggi. Sinar tersebut yang menjadi cikal bakal nama Sanur : Sa artinya tunggal dan Nur itu sinar suci

Pura Dalem Kadewatan

Pura Dalem Kadewatan, Desa Sanur, merupakan pura warisan budaya Denpasar di wilayah pesisir Sanur. Tak hanya pada warisan bangunannya, melainkan juga keberadaan tari sakralnya. Bangunan pura berdiri kisaran abad XV – abad XX.

Ketika telah memantapkan tempat yang disebut dengan Tegal Asah itu, kemudian surya kalih, yaitu Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bendesa beserta para masyarakat pengiring kembali membangun tempat suci sebagai identitas religius menghubungkan diri dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi), yang kemudian tetap diberi nama Pura Dalem Kadewatan.

Tari-tari sakral

Ritual keagamaan, Pura Dalem Kadewatan menggunakan waktu spiritual, pada hari Tilem (bulan mati) menuju triwara Kajeng, tepatnya di Tilem Kajeng. Tilem merupakan prabhawa dari Sang Hyang Siwa yang juga sebagi wujud Sang Hyang Yamadipati (dewa kematian) yang memiliki kekuatan melebur (pralina).

Tari-tarian sakral berupa Sang Hyang dipentaskan ketika piodalan itu. Salah satunya, Sang Hyang Jaran merupakan tarian sakral hanya ditarikan setiap upacara piodalan Tilem Kajeng. Namun pernah tidak dimunculkan dan terakhir pada tahun 1938. Kembali Sang Hyang Jaran ditarikan pada tahun 2016.

Sang Hyang Jaran merupakan sebuah tarian kuda (jaran) yang bermain-main hingga mandi (masiraman) dengan api oleh dua sungsungan pratima Sang Hyang Jaran berwarna putih dan merah. Sang Hyang Jaran mulai masolah (menari) ketika serabut-serabut kelapa sudah mulai dibakar api di halaman madya manda (jaba tengah) pura, dilanjutkan dengan iringan-iringan nyanyian (kidung) Sang Hyang Jaran mulai dinyanyikan untuk memanggil (nedunang) taksu Sang Hyang Jaran.

Sehari selepas puncak acara piodalan  Tilem Kajeng, warga menghaturkan gebogan yang diwakili oleh ibu-ibu rumah tangga berbusana kebaya putih dan kuning. Mereka berbaris menyunggi gebogan sebagai sarana persembahan rasa syukur atas berkah Ida Sang Hyang Widi, atau disebut Mepeed.

Konsep catus patha

Pura Dalem Kadewatan

Pura Dalem Kadewatan dibangun menggunakan konsep catus patha desa, yaitu di sebalah timur ada Pura Surya Batanpoh, di sebelah barat Pura Surya Bolong, di sebelah utara Pura Dalem Kadewatan, dan di sebelah selatan Pura Kembar, sedangkan di tengah-tengahnya adalah Griya Jero Gede Sanur sebagai tempat tinggal sang surya kalih.

Pura Dalem Kadewatan dipercayai sebagai tempat memuja Bhatari Hyang Nini Dewati, yaitu nama lain dari Bhatari Giri Putri ketika turun ke dunia menempati arah utara. Selain itu, masyarakat juga mempercayai Pura Dalem Kadewatan juga bersthana Bhatara Siwa, sehingga pemujaan di Pura Dalem Kadewatan adalah untuk Siwa – sakti sebagai simbol purusa dan pradana.

Secara karakteristik dan fungsi, Pura Dalem Kadewatan merupakan pura territorial atau Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Sanur. Prosesi upacara piodalan di Pura Dalem Kadewatan menggunakan waktu spiritual, yaitu pada hari Tilem (bulan mati) menuju triwara Kajeng. Hal inilah upacara piodalan di Pura Dalem Kadewatan disebut dengan Tilem Kajeng.

Hari Tilem (bulan mati) atau disebut juga kresna paksa adalah siklus 30 atau 29 hari sekali sesuai dengan sistem waktu Bali. Tilem merupakan prabhawa dari Sang Hyang Siwa yang juga sebagi wujud Sang Hyang Yamadipati (dewa kematian) yang memiliki kekuatan melebur (pralina). Identitas aktivitas tersebut nampak pada hari upacara piodalan Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan yang menunjukkan sebuah proses ritual sakral bercorak Siwaistis.

Upacara Piodalan Tilem Kajeng diawali dengan prosesi nanceb sanggar tawang/surya yang merupakan sthana sementara Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Surya Raditya dan Sang Hyang Catur Lokapala, selanjutnya adalah acara ngingsah beras, upacara ngaturang bendu guru piduka yang dilakukan untuk permohonan maaf kepada bhatarabhatari yang bersthana di Pura Dalem Kadewatan sebelum puncak acara piodalan, setelah itu adalah prosesi upacara mapepada dengan mengarak hewan-hewan kurban mengelilingi pura, dan kemudian prosesi menghias pratima sungsungan di Pura Dalem kadewatan, Griya Jero Gede Sanur, serta pura-pura prasanak untuk dihadirkan ke pura pada upacara piodalan Tilem Kajeng.

Setelah mengetahui letak, latar belakang sejarah, dan karakteristik Pura Dalem Kadewatan, sekarang dibahas potensi-potensi heritage menarik yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya dapat digunakan sebagai daya tarik wisata heritage di kawasan sanur, seperti acara Melasti, Mapeed, Tari Sang Hyang Jaran, dan Tari Baris Gede sebagai potensi heritage intangible, sedangkan heritage tangiblenya adalah Gedong Ratu Susun Dalem Kadewatan, Palinggih Babaturan Rong Solas Linggih Ratu Pangenter, Gedong Simpen Linggih Ratu Pamayun, Palinggih Gunung Agung, dan Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung).

1. Melasti

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Latar Budaya     : Hindu

Deskripsi             : Melasti sebagai salah satu rangkaian penting acara piodalan Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan dengan melibatkan ratusan umat di Desa Adat Sanur mengarak mengiringi pratimapratima ke Pantai Sanur. Selain pratima ada juga sasuhunan berupa Barong dan Rangda diiringi ke pesisir pantai untuk melaksanakan penyucian. Iringan-iringan biasanya lengkap dengan Tari Baris Gede, iringan tombak, tamiang, tedung, pasepan, dan Gamelan Baleganjur. Masyarakat meyakini rangkaian acara melasti ini sebagai proses penyucian pratima, sasuhunan, dan simbol-simbol lainnya di Sanur, mereka memohon agar Bhatara Baruna (dewa penguasa laut) senantiasa memberikan tirtha paleburan mala (kotoran) bagi bhuwana agung maupun bhuwana alit. Pantai digunakan sebagai tempat acara melasti karena laut dianggap sebagai tempat peleburan segala jenis mala (kotoran), sebagai muara akhir, dan sari-sari kehidupan diyakini berada di tengah laut (telengin segara).

2. Mapeed

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Latar Budaya     : Hindu

Deskripsi             : Tradisi mapeed dilaksanakan pada manis piodalan (sehari setelah acara puncak piodalan) Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan, berupa barisan iring-iringan ibu-ibu berbusana putih kuning sambil memunut gebogan di atas kepalanya, berjalan berbaris rapi menuju Pura Dalem Kadewatan. Mapeed dengan memunut gebogan ini sebagai wujud syukur masyarakat ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi karena telah menganugerahkan kesejahteraan, berkah yang melimpah.

3. Tari Sang Hyang Jaran

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Latar Budaya     : Hindu

Deskripsi            : Sang Hyang Jaran merupakan tarian sakral di Pura Dalem Kadewatan, yang biasa ditarikan setiap upacara piodalan Tilem Kajeng, tetapi pernah selama 78 tahun tidak ditarikan lagi karena sempat tidak ada yang nyungsung (menarikan), yaitu terakhir ditarikan pada tahun 1938 dan kembali ditarikan lagi pada tahun 2016. Kembali ditarikan itu karena ada pamuwus bahwa akan ada saja wabah-wabah penyakit di Sanur jika terus menerus Ida Sang Hyang Jaran tidak masolah (menari).

Sang Hyang Jaran merupakan sebuah tarian kuda (jaran) yang bermain-main hingga mandi (masiraman) dengan api. Sang Hyang Jaran mulai masolah (menari) ketika serabut-serabut kelapa sudah mulai dibakar api di halaman madya manda (jaba tengah) pura, dilanjutkan dengan iringan-iringan nyanyian (kidung) Sang Hyang Jaran mulai dinyanyikan untuk memanggil (nedunang) taksu Sang Hyang Jaran, mulai dua sungsungan pratima Sang Hyang Jaran berwarna putih dan merah dipundut oleh dua orang, suara kidung mulai dinyanyikan dengan tempo cepat, mulai juga kedua penari trance tidak sadarkan diri mendekati kobaran api, meloncat-loncat bermain api, dan hingga mandi (masiraman) api. Setelah sekian lama bermain api, biasanya juru pundut pratima Sang Hyang Jaran mulai lemas dan tersungkur, dengan cepat kemudian masyarakat mengambil pratima agar tidak menyentuh tanah.

4. Tari Baris Gede (I Kebo Dengkol)

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Latar Budaya     : Hindu

Deskripsi              : Tari Baris Gede sebagai tarian sakral yang wajib dipentaskan ketika upacara piodalan Tilem Kajeng di Pura Dalem Kadewatan, disebut juga dengan I Kebo Dengkol sebagai identitas religius masyarakat Desa Adat Sanur dalam penganut agama Hindu (Siwaistik). Keberadaan Tari Baris Gede ini dapat ditelisik melalui cerita proses pemindahan Pura Dalem Kadewatan dari Tangtu ke Tegal Asah (Sanur sekarang). Diceritakan ketika itu seluruh masyarakat mengiringi surya kalih, yaitu Ida Pedanda Wayahan Bendesa dan Ida Pedanda Made Bendesa dengan membawa bahan-bahan bangunan pura termasuk pratima menelusuri pesisir nampaknya disertai dengan suasana kegembiraan, tanpa disadari ternyata ada beberapa pengiring yang mengalami trance. Saat itulah terdengar pawisik (sabda) yang meminta kepada masyarakat pengiring bahwa ketika Ida Bhatara di Pura Dalem Kadewatan turun (tedun) ke dunia atau disebut juga dengan napak pertiwi, wajiblah diiringi dengan Tarian I Kebo Dengkol (Tari Bari Gede) (Putra dkk, 2015: 228-229).

Tari Baris Gede biasanya dipentaskan di halaman nista mandala (jaba sisi) Pura Dalem Kadewatan, terdiri dari 12 – 16 orang penari yang masing-masingnya menggunakan kostum sederhana seperti babuntilan, calana putih, baju putih, kain putih kuning di dalamnya berisi kain gringsing, menggunakan gelungan berhiaskan bunga gumitir, dan hanya satu orang penari yang berbeda disebut dengan petelek (senapati) menggunakan baju hitam. Masing-masing penari membawa perlengkapan perang seperti tombak dan keris, biasanya tokoh petelek (senapati) ketika telah mengalami trance akan ditikam-tikam dengan tombak.

Sang senapati berbusana hitam biasanya keluar dengan sorot mata tajam, inilah I Kebo Dengkol, berjalan mondar-mandir menatap seluruh pasukan tombak, suatu saat sang senapati I Kebo Dengkol menghunus kerisnya memenggal bunga gumitir di gelungan pasukan penari pembawa tombak.  Seketika pasukan penari tombak mulai mengambil ancang-ancang siaga, membungkuk, dan satu persatu mulai mengarahkan mata tombaknya ke dada sang senapati I Kebo Dengkol dengan teriakan-teriakan bersemangat, akhirnya seluruh penari mengalami trance mulai diboyong masuk ke halaman utama mandala (jeroan) Pura Dalem Kadewatan untuk dipercikan tirtha suci.

5. Gedong Ratu Susun Dalem Kadewatan

Lokasi                   : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : batu bata, kayu, dan ijuk

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Gedong Ratu Susun Dalem Kadewatan merupakan bangunan sentral utama di Pura Dalem Kadewatan, letaknya di tengah-tengah halaman utama mandala (jeroan) pura, pada sisi timur menghadap ke barat , bangunan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Kaki bangunan berbentuk bebaturan terbuat dari batu bata merah yang setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, pada sisi baratnya terdapat lima susun anak tangga untuk menuju garbhagraha pada bagian badan gedong. Badan bangunan juga terbuat dari batu bata merah, bagian depannya terdapat pintu untuk memasuki ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berukir berwarna emas, sama halnya dengan kaki setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, di atas ambang pintu terdapat ornament kala berupa pahatan karang sae, sedangkan pada altar badan gedong diletakkan dua arca dwarapala, dan terdapat umpak-umpak batu padas berukir sebagai landasan tiang-tiang kayu sebanyak sembilan buah penopang atap gedong. Atap bangunan gedong berbentuk limasan terbuat dari susunan kayu dan ijuk, puncak atap diletakkan bentala terbuat dari batu padas berbentuk gunungan dengan hiasan karang bentulu, karang manuk, dan suluran daun.

6. Palinggih Babaturan Rong Solas Linggih Ratu Pangenter

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : batu bata

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Bangunan ini memiliki keunikan, yaitu berbentuk memanjang dan memiliki 11 ruangan suci (garbha graha), berdiri di sisi utara halaman utama mandala (jeroan) pura menghadapa ke selatan, bangunan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Kaki bangunan berbentuk bebaturan polos berupa susunan batu bata, badan bagunan juga terbuat dari batu bata merah polos tanpa hiasan, hanya terdapat 11 garbha graha, begitu juga atapnya berupa 10 susunan batu bata dengan bentuk bertingkat-tingkat semakin ke atas semakin mencil.

7. Gedong Simpen Linggih Ratu Pamayun

Lokasi                   : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : batu bata, kayu, dan ijuk

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Bangunan Gedong Simpen Linggih Ratu Pamayun berdiri di halaman utama mandala (jeroan) pura, pada sisi timur menghadap ke barat , bangunan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Kaki bangunan berbentuk bebaturan terbuat dari batu bata merah yang setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, pada sisi baratnya terdapat lima susun anak tangga untuk menuju garbhagraha. Badan bangunan juga terbuat dari batu bata merah, bagian depannya terdapat pintu untuk memasuki ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berukir berwarna emas, sama halnya dengan kaki setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, di atas ambang pintu terdapat ornament kala berupa pahatan karang sae, sedangkan pada altar badan gedong diletakkan dua arca dwarapala, dan empat umpak-umpak berukir sebagai landasan tiang-tiang kayu penopang atap gedong. Atap bangunan gedong berbentuk limasan terbuat dari susunan kayu dan ijuk, puncak atap diletakkan bentala terbuat dari batu padas dihiasi dengan ornament suluran daun.

8. Palinggih Gunung Agung

Lokasi                   : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XX Masehi

Bahan                  : batu bata dan batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Palinggih Gunung Agung berdiri di halaman utama mandala (jeroan) pura, pada sisi timur menghadap ke barat, tepat di samping kanan Gedong Ratu Susun Dalem Kadewatan. bangunan ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Kaki bangunan berbentuk bebaturan terbuat dari batu bata merah kombinasi batu padas sebagai hiasan ornamentnya, keempat sudat bawahnya berhiaskan ornament karang gajah, dan setiap sudut atasnya berhiaskan pahatan simbar. Badan bangunan juga terbuat dari batu bata merah dengan kombinasi batu padas sebagai hiasan ornament, pada keempat sudut bawahnya dihiasi dengan pahatan karang manuk, bagian atasnya pada sisi barat terdapat pintu ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berwarna coklat, pada altar badan palinggih diletakkan dua arca, yaitu arca tokoh dan arca balagana. Atap bangunan palinggih berbentuk limasan terbuat dari batu padas, pada puncaknya diletakkan murdha berupa kuncup padma, dan setiap sudut atapnya berhiaskan karang manuk.

9. Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung)

Lokasi                  : Pura Dalem Kadewatan

Arah Hadap       : Utara – selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XV – XVI Masehi

Bahan                  : Batu bata

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung) di Pura Dalem Kadewatan ini merupakan gapura yang menghubungkan halaman tengah (madya mandala) ke halaman dalam (utama mandala/jeroan). Kori Agung ini terbuat dari susunan batu bata secara vertikal dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan dan atap. Bagian kaki Kori Agung terbuat dari susunan batu bata, bagian kaki pada setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas, pada sisi depan yang merupakan sebagai tempat meletakkan arca dwarapala diberikan hiasan simbar gantung dan simbar duduk yang lengkap di tengah-tengahnya berhiaskan pepalihan khas bebadungan, serta pada bagian kaki sisi luar terdapat undakan berupa anak tangga bertingkat tujuh.

Bagian badan Kori Agung terbuat dari susunan batu bata secara keseluruhan terdiri dari badan pengawak gede, badan caping, dan badan pegandong. Badan pengawak gede terbuat dari batu bata, ditengah-tengahnya tedapat pintu masuk yang terbuat dari kayu dengan ambang pintu (dedanga/ulap-ulap) bersusun enam, pada setiap sudut badan masing-masing sisinya dihiasi dengan relief simbar gantung pada bagian atas dan simbar duduk pada bagian bawahnya, serta di atas ambang pintu pada sisi depan dan belakang (utara – selatan) terdapat hiasan kepala kala dengan ciri-ciri mata melotot, mulut terbuka dengan gigi runcing, taring mencuat keluar, telinga runcing ke atas, dan rambut di atas kepala dipahatkan ikal menyerupai karang batu. Badan caping merupakan bagian badan yang mengapit badan pengawak gede, terbuat dari susunan batu bata, setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas, serta pada bagian kuping juga berhiaskan balok persegi terbuat dari batu bata yang biasa disebut dengan subeng. Badan pegandong merupakan struktur yang terbuat dari susunan batu bata yang berukuran lebih kecil sebagai penyambung tembok pura pada setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas.

Bagian atap Kori Agung terbuat dari susunan batu bata terdiri dari atap pengawak gede, atap caping, dan atap pegandong. Atap pengawak gede terbuat dari susunan batu bata, disusun bertingkat lima yang semakin ke atas semakin kecil, pada bagian kemuncak berbentuk mahkota ratna, setiap sudutnya berhiaskan antefik yang terbuat dari batu padas berupa suluran daun, setiap sisi atap berhiaskan simbar duduk dan setiap sudutnya berhiaskan simbar gantung. Bagian atap caping pada sisi kanan ataupun kiri memiliki ciri-ciri sama yaitu terbuat dari susunan batu bata, pada setiap sudut dan puncaknya berhiaskan simbar duduk dan simbar gantung lengkap dengan antefik terbuat dari batu padas berupa suluran daun, dan pada puncak atap caping disusun batu bata menjulang  tinggi yang disebut dengan kampid (sayap) gapura. Bagian atap pegandong terbuat dari batu bata yang disusun dengan hiasan simbar duduk dan simbar gantung lengkap dengan antefik pada setiap sudutnya, serta pada kemuncak atap pegandong diletakkan kemucak susunan batu bata seperti atap caping, tetapi lebih kecil.

Pura Dalem Penataran

Jalan-jalan bangunan cagar budaya di Sanur, berlanjut ke Pura Dalem Penataran. Pura ini berdekatan dengan Pura Siwa Dampati.

Bangunan di kawasan Pura Dalem Penataran diperkirakan ada dalam periode abad XVIII – XIX. Dinding Gedong Dalem, tertulis dalam aksara Bali, yakni angka 1793, dan kemungkinan sebagai tahun śaka atau 1871 Masehi. Sebagian besar bangunan Gedong Dalem, Palinggih Sumur Suci, Palinggih Hyang Api (Lebuh Geni), Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung), serta arca-arca menggunakan batu bata merah dan padas.

Keberadaan Pura Dalem Penataran memiliki kaitan dengan Pura Siwa Dampati, sehingga tidak dapat terlepas dari keberadaan Griya Gede Taman Intaran yang hingga saat ini masih mengempon bersama masyarakat Banjar Taman Sari.

Menurut para tetua setempat,  pura ini erat kaitannya dengan perjalanan Ida Pedanda Made Alangkajeng dari Griya Delod Pasar. Beliau membuat parahyangan di sekitar tetamanan Mimba/Intaran (Udiyana Mimba) yang menjadi cikal bakal nama Banjar Taman Sari.

Pura Dalem Penataran dulunya merupakan pura keluarga Griya Gede Taman Intaran. Perkembangannya, desa adat harus memiliki tri kahyangan, akhirnya Pura Dalem Penataran di sungsung oleh Desa Adat Intaran sebagai salah satu Pura Kahyangan Tiga. Pura Dalem Penataran diperkirakan sudah ada sejak abad XVIII-XIX Masehi. Hal tersebut dapat ditelisik berdasarkan inskripsi angka tahun menggunakan aksara Bali yang terpahat di bangunan Gedong Dalem berbunyi 1793 yang kemungkinan sebagai tahun śaka atau 1871 Masehi.

Pura Dalem Penataran

Struktur tri mandala dari pura, yaitu jaba sisi (nista mandala) merupakan halaman terbuka, jaba tengah (madya mandala), dan jeroan (utama mandala). Utama mandala (jeroan/halaman paling suci) dan jaba tengah (madya mandala) dikelilingi dengan tembok keliling, serta dihubungkan dengan candi bentar dari jaba sisi ke jaba tengah, dan candi kurung atau Kori Agung dari jaba tengah ke jeroan pura.

Halaman jeroan (utama mandala) di dalamnya terdapat bangunan-bangunan utama dan penunjang dalam melaksanakan kegiatan keagamaan pemujaan, seperti Gedong Dalem,  Palinggih Hyang Api, Sumur Suci, Palinggih Prajapati, Bale Pesanekan Sasuhunan Siwa Dampati, Sumur, Bale Pesantian, Tajuk, Bale Pawedan, Bale Pesanekan, dan Bale Gong. Sedangkan di halaman jaba tengah (madya mandala) terdapat bangunan wantilan.

Karakteristik pura ini geneologis dan territorial. Geneologis ditandai dengan keluarga Griya Gede Taman Intaran sebagai pangemponnya, termasuk juga sebagai pura territorial (kahyangan tiga desa).  Hal ini karena pangemponnya adalah masyarakat Banjar Taman Sari dan penyungsungnya adalah masyarakat Desa Adat Intaran. Upacara piodalan Pura Dalem Penataran dilaksanakan setiap enam bulan sekali yang jatuh pada hari Anggarakasih Wuku Tambir.

Setelah mengetahui letak, sejarah, struktur, dan karakteristik Pura Dalem Penataran, sekarang dibahas potensi-potensi heritage menarik yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya dapat sebagai daya tarik wisata heritage di kawasan Sanur, seperti Gedong Dalem, Palinggih Sumur Suci, Palinggih Hyang Api (Lebuh Geni), Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung), dan arca dwarapala.

1. Gedong Dalem

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                : Tinggi                      :    –   cm

                                Panjang                  : 375 cm

                                Lebar                       : 349 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Tahun Śaka 1793 (1871 Masehi)

Bahan                  : Batu bata, kayu, dan ijuk

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Gedong Dalem merupakan bangunan utama di Pura Dalem Penataran, terletak di halaman jeroan (utama mandala) pada  sisi timur menghadap ke barat. Kaki bangunan berbentuk bebaturan, sudah pernah mengalami renovasi, terbuat dari batu bata merah yang setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, keempat sudut atasnya berhiaskan relief karang manuk lengkap dengan pahatan simbar gantung berupa suluran daun, sedangkan pada setiap sisi ditengahnya berhiaskan relief karang bentulu lengkap dengan simbar gantung berupa pahatan patra cina, dan pada sisi baratnya terdapat lima susun anak tangga untuk menuju garbhagraha pada bagian badan gedong.

Badan bangunan gedong juga terbuat dari batu bata merah, bagian depannya terdapat pintu untuk memasuki ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berukir berwarna coklat, sama halnya dengan kaki setiap sisi dan sudutnya dipahatkan pepalihan khas bebadungan, di atas ambang pintu terdapat pahatan surya candra, yaitu matahari ditopang bulan sabit, dan pada ambang pintu bagian dalam terdapat goresan inskripsi angka tahun menggunakan aksara Bali berbunyi 1793 yang kemungkinan sebagai tahun śaka atau 1871 Masehi. Keempat sisi badan sangat raya dengan ukiran seperti karang manuk lengkap dengan simbar patra sari, patra cina, dan pada masing-masing sisi tengahnya berhiaskan karang bentulu lengkap dengan simbar gantung berupa patra sari dan patra cina, dan pada selasar badan gedong diletakkan tiga arca dwarapala terbuat dari batu padas. Atap bangunan gedong berbentuk limasan terbuat dari susunan kayu dan ijuk yang ditopang dengan empat tiang kayu berwarna coklat, pada puncak atap diletakkan murdha terbuat dari batu padas berbentuk ratna dengan hiasan karang bentulu dan karang manuk.

2. Palinggih Sumur Suci

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                : Tinggi keseluruhan  : 196 cm

                                Panjang                        : 180 cm

                                 Lebar                             : 132 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu bata dan padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Palinggih Sumur Suci merupakan struktur yang terbuat dari susunan batu bata berbentuk babaturan lengkap dengan sandaran yang puncaknya dihiasi dengan bentala berukir. Palinggih ini posisinya di  halaman jeroan (utama mandala) pada  sisi timur laut menghadap ke barat. Kaki bangunan berbentuk bebaturan polos, badannya terbuat dari batu padas persegi bertingkat tiga sebagai penutup lobang subur, lengkap dengan tabeng pada kanan dan kirinya. Sumur suci ini oleh masyarakat dimanfaatkan untuk memohon air suci (tirtha) untuk kelengkapan sarana upakara ketika prosesi upacara piodalan berlangsung.

3. Palinggih Hyang Api (Lebuh Geni)

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                : Tinggi                      :    –   cm

                                Panjang                  : 130 cm

                                Lebar                       : 124 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu bata dan padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Palinggih Hyang Api (Lebuh Geni) merupakan bangunan yang terletak di halaman jeroan (utama mandala) pada  sisi timur menghadap ke barat, yaitu di sebelah kanan Gedong Dalem. Kaki palinggih berbentuk bebaturan yang setiap sudutnya berhiaskan simbar duduk dan simbar gantung polos, serta pada sisi baratnya terdapat tiga anak tangga. Badan bangunan palinggih juga terbuat dari batu bata merah, terdiri dari dua bagian, yaitu badan bagian bawah berupa susunan batu bata polos berhiaskan simbar gantung dan simbar duduk pada setiap sudutnya, sedangkan badan bagian atas terdapat ruangan suci (grabhagraha) lengkap dengan pintu berbahan kayu berwarna coklat, ambang pintunya berupa balok batu padas yang dipahat dengan hiasan karang bentulu yang disamarkan dengan stilir suluran daun dan diapit dengan ceplok bunga. Atap palinggih berbentuk limasan terbuat dari susunan batu bata yang sudah disemen, pada puncak atap diletakkan murdha terbuat dari batu padas berbentuk ratna.

4. Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung)

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Arah Hadap       : Timur – barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XX ( Tahun 1955)

Bahan                  : Batu bata dan padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung) di Pura Dalem Kadewatan ini merupakan gapura yang menghubungkan halaman tengah (madya mandala) ke halaman dalam (utama mandala/jeroan). Kori Agung ini terbuat dari susunan batu bata secara vertikal dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan dan atap. Bagian kaki Kori Agung terbuat dari susunan batu bata, bagian kaki pada setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas, pada sisi depan yang merupakan sebagai tempat meletakkan arca dwarapala diberikan hiasan simbar gantung dan simbar duduk yang lengkap di tengah-tengahnya berhiaskan pepalihan khas bebadungan, serta pada bagian kaki sisi luar dan dalam terdapat undakan berupa anak tangga bertingkat lima.

Bagian badan Kori Agung terbuat dari susunan batu bata secara keseluruhan terdiri dari badan pengawak gede, badan caping, dan badan pegandong. Badan pengawak gede terbuat dari batu bata, ditengah-tengahnya tedapat pintu masuk yang terbuat dari kayu dengan ambang pintu (dedanga/ulap-ulap) bersusun enam, pada setiap sudut badan masing-masing sisinya dihiasi dengan relief simbar gantung pada bagian atas dan simbar duduk pada bagian bawahnya, serta di atas ambang pintu pada sisi barat terdapat tulisan angka tahun yang berbunyi T.22 B.11 T.1955 yang artinya tanggal 22 bulan Nopember tahun 1955. Selain itu terdapat juga hiasan kepala kala atau disebut dengan karang bhoma memiliki ciri-ciri mata melotot, mulut terbuka dengan gigi runcing, taring mencuat keluar, telinga lebar, kedua tangan terbuka, rambut di atas kepala dipahatkan ikal menyerupai karang batu menopang relief tokoh dewa, dan dikelilingi dengan suluran-suluran daun maupun ceplok bunga. Badan caping merupakan bagian badan yang mengapit badan pengawak gede, terbuat dari susunan batu bata, setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas, serta pada bagian kuping juga berhiaskan balok persegi terbuat dari batu bata yang biasa disebut dengan subeng. Badan pegandong merupakan struktur yang terbuat dari susunan batu bata yang berukuran lebih kecil sebagai penyambung tembok pura pada setiap sudatnya berhiaskan susunan pola simbar duduk pada bagian bawah dan simbar gantung pada bagian atas.

Atap Kori Agung terbuat dari susunan batu bata terdiri dari atap pengawak gede, atap caping, dan atap pegandong. Atap pengawak gede terbuat dari susunan batu bata, disusun bertingkat tiga, pada bagian kemuncak berbentuk murdha mahkota, setiap sudutnya berhiaskan antefik yang terbuat dari batu padas berupa suluran daun, setiap sisi atap berhiaskan simbar duduk dan setiap sudutnya berhiaskan simbar gantung. Bagian atap caping pada sisi kanan ataupun kiri memiliki ciri-ciri sama yaitu terbuat dari susunan batu bata, pada setiap sudut dan puncaknya berhiaskan simbar duduk dan lengkap dengan antefik terbuat dari batu padas berupa suluran daun, dan pada puncak atap caping disusun batu bata menjulang  tinggi yang disebut dengan kampid (sayap) gapura. Bagian atap pegandong terbuat dari batu bata yang disusun dengan hiasan simbar duduk lengkap dengan antefik pada setiap sudutnya, serta pada kemuncak atap pegandong diletakkan kemucak susunan batu bata seperti atap caping dengan ukuran lebih kecil.

5. Arca Dwarapala I

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 29 cm

                                 Lebar        : 22 cm

                                 Tebal        : 18 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Rusak

Deskripsi             : Arca Dwarapala I di Pura Dalem Penataran ini berukuran sangat kecil, diletakkan pada selasar sisi barat Gedong Dalem, arca sudah dalam keadaan rusak keropos, muka arca bulat telur, rambutnya tebal, berbadan tambun, duduk di atas lapik persegi polos. Tangan kanan arca membawa gada menempel di samping kanan perut hingga samping kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping dada membawa prisai berbentuk bulat.

6. Arca Dwarapala II

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 72 cm

                                 Lebar        : 40 cm

                                 Tebal        : 38 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala II di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada selasar Gedong Dalem sisi barat sebelah kiri, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi berhiaskan karang batu dengan menekuk kaki kanan lebih tinggi, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kiri atas, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut ikal terurai tanpa menggunakan hiasan kepala. Tangan kanan arca membawa gada diletakkan di atas kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, dan ikat pinggang berhiaskan ceplok bunga.

7. Arca Dwarapala III

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 77 cm

                                 Lebar        : 35 cm

                                 Tebal        : 33 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala III di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada selasar Gedong Dalem sisi barat sebelah kanan, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan menekuk kaki kanan lebih tinggi, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kiri atas, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut ikal terurai tanpa menggunakan hiasan kepala. Tangan kanan arca membawa gada diarahkan ke samping kiri kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, dan ikat pinggang berhiaskan ceplok bunga.

8. Arca Dwarapala IV

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 107 cm

                                 Lebar        : 39 cm

                                 Tebal        : 41 cm

Arah Hadap       : Tenggara

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala IV di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada lantai sudut tenggara Bale Pawedan, arca ini tidak sebagai penjaga pintu masuk, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi polos dengan menekuk kaki kanan lebih tinggi, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke depan, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan terikat di atas kepala. Kedua tangan masing-masing diletekkan di samping pinggang. Arca menggunakan baju rompi dengan memperlihatkan perutnya yang buncit, menyelipkan keris dipinggang belakang, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, dan lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik.

9. Arca Dwarapala V

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 94 cm

                                 Lebar        : 33 cm

                                 Tebal        : 37 cm

Arah Hadap       : Barat daya

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala V di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada lantai sudut barat daya Bale Pawedan, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan sikap menekuk kedua kakinya, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut ikal terurai tanpa menggunakan hiasan kepala. Tangan kanan arca membawa gada disamping dada, sedangkan tangan kiri ditekuk di depan dada, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, menggunakan upawita, dan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu.

10. Arca Dwarapala VI

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 97 cm

                                  Lebar        : 38 cm

                                  Tebal        : 36 cm

Arah Hadap       : Barat laut

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala VI di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada lantai sudut barat laut Bale Pawedan, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan sikap menekuk kedua kakinya, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut diikat di atas kepala. Tangan kanan arca membawa pedang golok di depan dada, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping dada, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, menggunakan upawita, dan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu.

11. Arca Dwarapala VII

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 97 cm

                                 Lebar        : 38 cm

                                  Tebal        : 36 cm

Arah Hadap       : Barat laut

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala VII di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan pada lantai sudut timur laut Bale Pawedan, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan sikap menekuk kedua kakinya, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut diikat di atas kepala. Tangan kanan arca membawa pedang golok di depan dada, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping dada, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik, leher arca berhiaskan badong, menggunakan upawita, dan ikat pinggang berhiaskan ceplok bunga.

12. Arca Dwarapala VIII

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 132 cm

                                 Lebar        :   48 cm

                                 Tebal        :   51 cm            

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala VIII di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan sebelah kiri depan Kori Agung, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi polos dengan menekuk kaki kanan lebih tinggi, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kanan atas, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, menggunakan mahkota dan petitis. Tangan kanan arca membawa gada menempel di samping kiri kepala, sedangkan tangan kiri ditekuk disamping perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron bercabang dua hingga menyentuh lapik, menggunakan badong, dan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu.

13. Arca Dwarapala IX

Lokasi                  : Pura Dalem Penataran

Ukuran                 : Tinggi       : 136 cm

                                  Lebar        :   49 cm

                                  Tebal        :   52 cm            

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala IX di Pura Dalem Pentaran ini diletakkan sebelah kanan depan Kori Agung, ciri-ciri raksasanya sama dengan arca dwarapala VIII disebelahnya, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi polos dengan menekuk kaki kiri lebih tinggi. Tangan kanan arca membawa gada disamping dada, sedangkan tangan kiri ditekuk di depan perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron bercabang dua hingga menyentuh lapik, menggunakan badong, dan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu.

Pura Siwa Dampati

Pura Siwa Dampati, pura yang terletak di Jalan Danau Buyan, Banjar Taman Sari, Desa Intaran, diperkirakan terbangun diperiode abad XVIII-XIX. Khas bangunan ini bertahan dengan batu bata merah asli sejak berdirinya.

Mengenai keberadaan Pura Siwa Dampati tidak dapat terlepas dari keberadaan Griya Gede Taman Intaran, yang masih sebagai pengempon pura ini, begitu juga Banjar Taman Sari sebagai penyungsungnya.  Menurut para tetua banjar tersebut, pura ini sangat erat kaitannya dengan perjalanan Ida Pedanda Made Alangkajeng dari Griya Delod Pasar. Beliau membuat parahyangan di sekitar tetamanan Mimba/Intaran (Udiyana Mimba).

Pura ini juga erat kaitannya dengan Pura Dalem Penataran yang pertemuan niskalanya terjadi di pura ini.  Cikal bakal inilah yang menyebabkan disebut dengan Siwa Dampati.

Kata dampati berarti pertemuan. Dalam Regweda bisa diartikan sebagai laki dan perempuan yang sudah menjadi suami istri disebut dengan dampati, tidak dapat dipisahkan. Hal ini manifestasi dari penyatuan Dewa Siwa dengan Sakti, Dewi Durga yang bersthana di Pura Dalem Penataran.

Struktur bangunan

Pura Siwa Dampati

Bangunan cagar budayanya di antaranya, Gedong Siwa Dampati, Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung), arca dwarapala, dan arca tokoh pendeta (Brahmana). Secara lengkap, Pura Siwa Dampati memiliki struktur tri mandala, yaitu jaba sisi (nista mandala) merupakan halaman terbuka langsung jalan raya, jaba tengah (madya mandala), dan jeroan (utama mandala).

Secara simbolis nista mandala melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, sedangkan madya mandala merupakan alam transisi menuju utama mandala yang melambangkan swahloka yaitu sebagai alam para dewa atau dunia baka. Utama mandala (jeroan/halaman paling suci) dan jaba tengah (madya mandala) dikelilingi dengan tembok keliling, serta dihubungkan dengan candi bentar dari jaba sisi ke jaba tengah, dan candi kurung atau Kori Agung dari jaba tengah ke jeroan pura.

Halaman jeroan (utama mandala) di dalamnya terdapat bangunan-bangunan utama dan penunjang dalam melaksanakan kegiatan keagamaan pemujaan, seperti Tugu Pengapit Gedong Siwa Dampati,  Bale Tajuk, Gedong Siwa Dampati, Piyasan, Sumur, Bale Pesanekan, dan Bale Gong. Sedangkan di halaman jaba tengah (madya mandala) terdapat beberapa bangunan utama dan penunjang seperti Gedong Parerepan untuk menyimpan Sasuhunan Tapakan Barong dan Rangda, Tugu Pangameng, Tajuk Ida Dewa Rangda, dan Bale Gong Parerepan.

Pura Siwa Dampati memiliki karakteristik pura geneologis dan territorial, karena secara geneologis ditandai dengan keluarga Griya Gede Taman Intaran sebagai pangemponnya, dan masyarakat umum Banjar Taman Sari sebagai penyungsungnya. Upacara piodalan Pura Siwa Dampati dilaksanakan setiap tahun yang jatuh pada hari Purnamaning Sasih Kapat (sekitar bulan September – Oktober), sedangkan piodalan di Parerepan atau Sasuhunan Tapakan Barong dan Rangda yang terletak di jaba tengah (madya mandala) dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu pada hari Saniscara Wuku Wayang (Tumpek Wayang).

Setelah mengetahui letak, sejarah, struktur, dan karakteristik Pura Siwa Dampati, sekarang dibahas potensi-potensi heritage menarik yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya dapat sebagai daya tarik wisata heritage di kawasan Sanur, seperti Gedong Siwa Dampati, Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung), arca dwarapala, dan arca tokoh pendeta (Brahmana).

1. Gedong Siwa Dampati

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                : Lebar kaki              : 240 cm

                                Panjang kaki         : 325 cm

                                Panjang badan     : 247 cm

                                 Lebar badan         :   99 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu bata, kayu, dan ijuk

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Gedong Siwa Dampati merupakan bangunan utama di Pura Siwa Dampati, terletak di halaman jeroan (utama mandala) pura, sisi timur menghadap ke barat. Kaki bangunan berbentuk bebaturan, sudah pernah mengalami renovasi, terbuat dari batu bata merah yang setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, beberapa bagiannya ditempelkan ornament keramik piring, pada sisi baratnya terdapat lima susun anak tangga untuk menuju garbhagraha pada bagian badan gedong. Badan bangunan gedong juga terbuat dari batu bata merah yang masih asli, bagian depannya terdapat pintu untuk memasuki ruangan suci (garbha graha) yang terbuat dari kayu berukir berwarna coklat, sama halnya dengan kaki setiap sisi dan sudutnya menggunakan hiasan pepalihan khas bebadungan, di atas ambang pintu terdapat lubang persegi dikelilingi dengan garis-garis berbentuk segitiga menyerupai sinar matahari, lubang persegi tersebut ditutup dengan kaca. Ketiga sisi badan, yaitu depan dan samping dihiasi dengan keramik piring maupun mangkuk berwarna putih, abu-abu, dan biru, sedangkan pada selasar badan gedong diletakkan dua arca, yaitu sebuah arca dwarapa dan sebuah arca pendeta (Brahmana). Atap bangunan gedong berbentuk limasan terbuat dari susunan kayu dan ijuk yang ditopang dengan empat tiang kayu berwarna coklat, pada puncak atap diletakkan murdha terbuat dari batu padas berbentuk ratna dengan hiasan karang bentulu dan karang manuk.

2. Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung)

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                : Lebar keseluruhan            : 558 cm

                                Tebal                                      :   97 cm

Arah Hadap       : Utara – selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu bata, kayu

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung) di Pura Siwa Dampati merupakan gapura penghubung jaba tengah (madya mandala) ke jeroan (utama mandala). Kori Agung ini terbuat dari susunan batu bata secara vertikal dibagi menjadi tiga bagian yaitu kaki, badan dan atap. Kaki Kori Agung terbuat dari susunan batu bata, bagian kaki ini sudah pernah direnovasi dengan menggunakan bahan bata baru, pada sisi depan yang merupakan tempat meletakkan arca dwarapala juga sudah direnovasi dengan bahan bata baru, arca dwarapala di depan Kori Agung adalah Mahakala dan Nandiswara membawa gada, serta pada bagian kaki sisi luar terdapat undakan berupa anak tangga bertingkat lima.

Bagian badan Kori Agung terbuat dari susunan batu bata secara keseluruhan terdiri dari badan pengawak gede dan badan caping sekaligus sebagai badan pegandong. Badan pengawak gede terbuat dari batu bata, ditengah-tengahnya tedapat pintu masuk yang terbuat dari kayu dengan ambang pintu (dedanga/ulap-ulap) bersusun tiga, pada setiap sudut badan masing-masing sisinya dihiasi dengan relief simbar gantung pada bagian atas dan simbar duduk pada bagian bawahnya, Badan caping merupakan bagian badan yang mengapit badan pengawak gede, terbuat dari susunan batu bata polos tanpa hiasan, serta pada bagian kuping juga berhiaskan balok persegi terbuat dari batu bata berbahan baru yang biasa disebut dengan subeng.

Atap Kori Agung terbuat dari susunan batu bata disusun bertingkat tiga yang semakin ke atas semakin kecil, puncak atap berbentuk rata tanpa hiasan ratna, setiap sudutnya berhiaskan antefik yang terbuat dari batu bata berupa simbar duduk maupun simbar gantung.

3. Arca Dwarapala I

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 74 cm

                                 Lebar        : 37 cm

                                 Tebal        : 33 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala I di Pura Siwa Dampati ini diletakkan sebelah utara depan sumur, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik bulat dengan kedua lutut sedikit ditekuk, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kiri, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, dan rambut ikal terurai tanpa menggunakan hiasan kepala. Tangan kanan arca membawa gada menempel di samping kanan perut, sedangkan tangan kiri ditekuk di depan perut dengan memperlihatkan kuku panjang tajam, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron ujungnya bercabang dua hingga menyentuh lapik.

4. Arca Dwarapala II

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 75 cm

                                 Lebar        : 38 cm

                                 Tebal        : 31 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala II di Pura Siwa Dampati ini diletakkan sebelah selatan depan sumur, ciri-ciri arca sama dengan arca Dwarapala I, karena kedua arca ini memang sepasang, tetapi yang membedakan adalah arca ini menoleh ke kanan, tangan kiri arca menempel di samping perut, sedangkan tangan kanan membawa gada diletakkan di samping kiri kepalanya.

5. Arca Dwarapala III

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 80 cm

                                 Lebar        : 33 cm

                                 Tebal         : 31 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala III di Pura Siwa Dampati ini diletakkan pada selasar sisi barat sebelah kiri Gedong Siwa Dampati, arca bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik persegi dengan kedua lutut sedikit ditekuk, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke kiri, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, menggunakan petitis di atas dahi, dan ron-ronan pada belakang telinga arca. Tangan kanan arca membawa gada menempel di sebelah kanan perut, sedangkan tangan kiri ditekuk di depan perut, menggunakan kain bawah hanya sebatas lutut, lengkap dengan kain wiron bercabang dua hingga menyentuh lapik.

6. Arca Dwarapala Mahakala

Lokasi                   : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 116 cm

                                 Lebar       :   47 cm

                                 Tebal        :   53 cm            

Arah Hadap       : Selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala Mahakala ini diletakkan sebelah barat depan paduraksa, berpasangan dengan Arca Dwarapala Nandiswara, dalam ikonografi Hindu kedua arca dwarapala ini memang bertugas untuk menjaga kuil Dewa Siwa, Arca Dwarapala Mahakala bermuka raksasa, berbadan tambun, berdiri di atas lapik berhiaskan suluran daun dan karang batu, kaki kiri diangkat lebih tinggi daripada kaki kanan, tidak menggunakan gelang pada pergelangan kaki, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke depan, gigi taring mencuat keluar, hidung besar, rambut ikal, dan menggunakan ikat pinggang berhiaskan karang bentulu. Tangan kanan arca membawa gada disamping perut, sedangkan tangan kanan dilipat ke depan dada terkepal memperlihatkan kuku ibu jari yang panjang.

7. Arca Dwarapala Nandiswara

Lokasi                   : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 114 cm

                                 Lebar       :   43 cm

                                 Tebal        :   43 cm            

Arah Hadap       : Selatan

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Dwarapala Nandiswara ini diletakkan sebelah timur depan paduraksa, berpasangan dengan Arca Dwarapala Mahakala, dalam ikonografi Hindu kedua arca dwarapala ini memang bertugas untuk menjaga kuil Dewa Siwa, Arca Dwarapala Nandiswara bermuka kera, berbadan tambun, berdiri di atas lapik berhiaskan suluran daun dan karang bentulu, kaki kiri diangkat lebih tinggi, tanpa menggunakan gelang kaki, raut wajah sangat menyeramkan, mata melotot, menoleh ke depan, gigi taring mencuat keluar, hidung kecil, menggunakan mahkota, dan menggunakan ikat pinggang berhiaskan samar-samar karang bentulu. Tangan kiri arca dilipat disamping dada, sedangkan tangan kanan membawa gada diletakkan di samping kiri kepalanya.

8. Arca Pendeta (Brahmana)

Lokasi                  : Pura Siwa Dampati

Ukuran                 : Tinggi       : 82 cm

                                 Lebar        : 34 cm

                                 Tebal        : 30 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Hindu

Periodisasi         : Abad XVIII – XIX Masehi

Bahan                  : Batu padas

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Arca Pendeta (Brahmana) di Pura Siwa Dampati ini dapat dikenali melalui ciri-ciri ikonografinya, seperti jenggot, menggunakan baju, upawita, dan mahkota berupa ketu. Arca diletakkan pada selasar sisi barat sebelah kanan Gedong Siwa Dampati, arca berdiri di atas lapik persegi dengan menekuk lutut kanan lebih tinggi, bibir tersenyum memperlihatkan gigi, mata melotot, menoleh ke depan, hidung besar, menggunakan petitis di atas dahi, dan ron-ronan pada belakang telinga. Tangan kanan arca ditekuk di depat dada dengan sikap nyambir, sedangkan tangan kiri ditekuk di samping pinggang membawa bulatan, menggunakan kain bawah tebal hanya sebatas lutut kanan, sadangkan lutut kirinya tertutup kain, menggunakan baju lengkap dengan upawita. Kemungkinan arca Pendeta (Brahmana) ini merupakan wujud simbolisasi tokoh Ida Pedanda Made Alangkajeng dari Griya Delod Pasar yang membangun Pura Siwa Dampati di Udiyana Mimba (Taman Mimba/Intaran).

Pura Segara

Pura Segara. Keberadaannya masih sederetan di Pantai Segara Ayu. Bangunan dari pura ini hampir serupa dengan kondisi Pura Dalem Jumeneng. Bentuknya bebatuan gamping yang bertingkat-tingkat, punden berundak, sebagai tradisi dari periode megalitik.

Keberadaan pura ini dipesisir berkaitan erat dengan pekerjaan masyarakat setempat sebagai nelayan, terutama zaman itu. Pura Segara Ayu menjadi tempat bersembahyang agar mendapatkan lindungan dan keselamatan dari-Nya selama melaut. Pantai atau laut dalam bahasa Bali berarti segara, yang juga sebagai manifestasi Dewa Wisnu. Piodalan digelar setiap tahunnya pada Purnama Kedasa (purnamaning sasih kedasa).

Terdapat tempat pemujan, Palinggih Gunung Agung, Palinggih Gunung Batur, dan Palinggih Dalem Segara. Palinggih ini bagian dari pemujaan rasa syukur kepada alam lingkungan dan gunung. Masyarakat setempat menambahkan ornamen arca di setiap seperti arca naga, penyu, ikan berkepala gajah. 

Segara sebagai nama pura dikaitkan dengan lokasinya yang berada dekat dengan pantai. Nah,  penyebutan pantai dalam bahasa Bali adalah segara.

Istilah segara juga dikaitkan dengan air sebagai manifestasi Dewa Wisnu dalam ajaran Hindu Bali. Karenanya, masyarakat menganggap Pura Segara Sanur juga sebagai Pura Puseh.

Upacara piodalannya dilaksanakan setiap tahunnya pada Purnama Kedasa (purnamaning sasih kedasa). Pengempon yang bertanggung jawab mengurus dan membina keberadaan Pura Segara Sanur adalah kelompok keluarga sebanyak enam kepala keluarga, sedangkan penyungsungnya adalah masyarakat Desa adat Intaran dan masyarakat umum lainnya. Berdasarkan pengempon dan penyungsung pura, dapat dikatakan Pura Segara Sanur tersebut berkarakter sebagai pura geneologis dan umum.

Tri mandala

Pura Segara

Struktur Pura Dalem Jumeneng adalah tri mandala, yaitu terdiri dari jaba sisi (nista mandala) berada di sisi utara, jaba tengah (madya mandala), dan jeroan (utama mandala) berada di sisi selatan. Secara simbolis tiga halaman ini dihubungkan dengan konsep Tri Bhuwana yaitu tingkatan alam semesta (bhuwana agung) seperti nista mandala melambangkan bhurloka yaitu alam fana tempat manusia, madya mandala melambangkan bwahloka yaitu alam pitra/roh atau alam peralihan, dan utama mandala melambangkan swahloka yaitu sebagai alam para dewa atau dunia baka. Jaba sisi (nista mandala) tidak dikelilingi oleh tembok, tetapi berupa sebuah halaman terbuka yaitu Jalan Segara Ayu.

Utama mandala (jeroan/halaman paling suci) dan madya mandala (jaba tengah) dikelilingi oleh tembok keliling terbuat dari susunan batu gamping (karang laut) dibatasi dengan candi bentar terbuat dari susunan batu padas. Halaman utama mandala terdapat bangunan-bangunan utama dan penunjang dalam melaksanakan kegiatan keagamaan pemujaan, seperti Penyawangan Gunung Agung, Penyawangan Gunung Batur, Palinggih Dalem Segara, Palinggih Penyarikan, Palinggih Manik Kembar, Palinggih Linggih Bhatara Bayu, Palinggih Ratu Mas Melanting, Palinggih Jilih Lambih, Bale Pawedan Bhatara Bayu, Palinggih Ratu Niang Gobleh, Piyasan, Bale Tajuk, Bale Paruman, Pale Pawedan, Bale Gong, Aling-aling, Bale Kulkul, Wantilan, dan Palinggih Linggih Ratu Dalem Peed.

Punden berundak dan tahta batu di Pura Segara jika ditinjau dari keilmuan arkeologi, dapat dikatakan sebagai tinggalan yang berasal dari masa prasejarah akhir, tepatnya pada masa tradisi megalitik yang masih berlanjut hingga awal masa sejarah (protohistoris). Struktur punden berundak sebagai hasil budaya masa tradisi megalitik berlanjut hingga saat ini masih tetap bertahan dan dimanfaatkan oleh masyarakat pendukungnya sebagai media pemujaan, hal tersebut dapat disebut juga dengan living megalithic tradition.

Susunan punden berundak di Pura Segara berjumah empat buah struktur, yaitu punden berundak paling besar disisi selatan menghadap ke barat sebagai Penyawangan Gunung Agung, Penyawangan Gunung Batur, Palinggih Dalem Segara, dan Palinggih Penyarikan. Terdapat juga punden berundak sebagai Linggih Bhatara Bayu, punden berundak sebagai Linggih Ratu Mas Melanting dan Linggih Ratu Jilih Lambih, serta terdapat juga tahta batu Linggih Ratu Manik Kembar.

Setelah mengetahui letak kondisi geografis, latar belakang sejarah, struktur, dan karakteristik Pura Segara, sekarang dibahas potensi-potensi heritage menarik yang terkandung di dalamnya, sehingga nantinya dapat sebagai daya tarik wisata heritage di kawasan Sanur, seperti punden berundak, tahta batu, sumur, menhir, dan kedok muka.

1. Punden Berundak I

Lokasi                  : Pura Segara

Ukuran                : Tinggi                             :    219 cm

                                Panjang                         : 1.265 cm

                                Lebar                              :    600 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi          : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Beberapa bagian rusak

Deskripsi       : Punden berundak I ini dibentuk menggunakan susunan batu gamping asli tanpa proses pembentukan, berada di sisi selatan halaman utama mandala pura berbentuk teras berundak dengan tiga tingkatan semakin ke atas semakin kecil. Teras pertama merupakan bagian dasar tanpa hiasan berbentuk persegi panjang dengan ukuran tinggi 87 cm, panjang 1.265 cm, dan lebar 600 cm. Selanjutnya tingkatan teras kedua berbentuk persegi panjang berukuran lebih kecil dari pada teras dasar  dengan tinggi 70 cm, panjang 1030 cm, dan lebar 365 cm. Pada selasar teras kedua ini ditancapkan menhir disamping tangga yang menghubungkan kedua teras ini. Antara undakan/teras pertama dengan kedua dihubungkan dengan empat struktur tangga untuk menuju tahta batu pada puncak punden berundak ini. 

              Tingkatan ketiga struktur punden berundak ini berukuran tinggi 62 cm, panjang 960 cm, dan lebar 287, terdapat tahta batu berjajar dari utara sebagai tempat pemujaan atau penyawangan yang disebut dengan Palinggih Gunung Agung, Palinggih Gunung Batur, dan Palinggih Dalem Segara. Sedangkan paling selatan tidak berbentuk tahta batu, tetapi bangunan beratap terbuat dari batu gamping yang disebut dengan Palinggih Penyarikan. Hal menarik nampak pada tahta batu yang disebut sebagai Palinggih Dalem Segara, karena pada sandaran tahtanya terdapat pahatan kedok muka yang disamar-samarkan. Punden berundak ini oleh masyarakat ditambahkan dengan ornament arca pada setiap terasnya seperti arca naga, penyu, ikan berkepala gajah, dan arca-arca tokoh.

              Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk masih dipertahankan menyerupai gunung, digunakan sebagai pemujaan kepada roh suci leluhur dengan adanya menhir dan kedok muka pada salah satu tahta batu, serta masyarakat masih melakukan pemujaan kepada alam lingkungan seperti gunung dan segara (laut) yang merupakan budaya kental tradisi megalitik.

2. Punden Berundak II

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             : 308 cm

                                 Panjang                         : 374 cm

                                 Lebar                              : 365 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi         : Punden berundak ini dibentuk menggunakan susunan batu gamping asli tanpa proses pembentukan, berbentuk teras berundak dengan lima tingkatan semakin ke atas semakin kecil di halaman utama mandala. Teras pertama merupakan bagian dasar berbentuk persegi dengan ukuran tinggi 20 cm, panjang 374 cm, dan lebar 365 cm dilengkapi dengan tangga bersusun tiga sebagai penghubung ke teras kedua. Selanjutnya tingkatan teras kedua berbentuk persegi berukuran tinggi 82 cm, panjang 316 cm, dan lebar 336 cm, teras ketiga berukuran tinggi 25 cm, panjang 255 cm, dan lebar 250 cm, teras keempat berukuran tinggi 87 cm, panjang 247 cm, dan lebar 240 cm, serta teras kelima sebagai puncak berukuran tinggi 96 cm, panjang 173 cm, dan lebar 150 cm lengkap dengan tahta batu di atasnya.

              Punden berundak ini dipercayai oleh masyarakat sebagai Palinggih Bhatara Bayu yang ditambahkan dengan ornament arca pendeta, arca tokoh, dan arca kera. Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang diakulturasikan dengan budaya agama Hindu  tetap mempertahankan bentuk bertingkat-tingkat menyerupai gunung dan digunakan sebagai pemujaan kepada roh suci leluhur dan Dewa Bayu sebagai dewa penguasa angin dalam agama Hindu di Bali.

3. Punden Berundak III

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             : 399 cm

                                 Panjang                         : 439 cm

                                 Lebar                              : 356 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi        : Punden berundak III  ini dibentuk menggunakan susunan batu gamping asli berbentuk teras berundak dengan tiga tingkatan semakin ke atas semakin kecil di sisi utara halaman utama mandala menghadap ke barat. Teras pertama merupakan bagian dasar berbentuk persegi dengan ukuran tinggi 19 cm, panjang 439 cm, dan lebar 356 cm dilengkapi dengan tangga sebagai penghubung ke teras kedua. Selanjutnya tingkatan teras kedua berbentuk persegi berukuran tinggi 76 cm, panjang 370 cm, dan lebar 303 cm, serta teras ketiga sebagai puncak punden berundak berukuran tinggi 304 cm, panjang 304 cm, dan lebar 247 cm. Pada teras puncak ini dilengkapi dengan tahta batu pada sisi utara sebagai tempat pemujaan atau penyawangan Ratu Mas Melanting dan pada sisi selatan terdapat palinggih yang memiliki atap terbuat dari batu gamping sebagai pemujaan atau penyawangan Ratu Jilih Lambih.

              Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk masih dipertahankan bertingkat-tingkat menyerupai gunung, digunakan sebagai pemujaan kepada roh suci leluhur, serta masyarakat masih menggunakan istilah atau nama lokal seperti Ratu Melanting dan Ratu Jilih Lambih yang biasanya dikaitkan dengan permohonan kesuburan, keselamatan, dan kemakmuran.

4. Tahta Batu I

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             : 206 cm

                                 Panjang                         :   67 cm

                                 Lebar                              :   63 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Tahta batu I ini disebut oleh masyarakat sebagai Linggih Ratu Manik Kembar terbuat dari susunan batu gamping berbentuk bebaturan yang di atasnya terdapat tiga ruang tahta batu. Ukuran kaki bebaturan adalah tinggi 13 cm, panjang 67 cm, dan lebar 63 cm, sedangkan bebaturannya sendiri berukuran tinggi 90 cm, panjang 61 cm, dan lebar 56 cm, dan puncaknya berupa tahta batu berukuran tinggi 90 cm, panjang 52 cm, dan lebar 54 cm. Sandaran tahta batu dibuat tidak menggunakan susunan batu, tetapi menggunakan batu gamping utuh yang cukup lebar. Pada kanan kiri tahta batu dibuat lagi bebaturan dari susunan batu gamping sebagai tempat meletakkan arca tokoh.

              Tahta batu di atas bebaturan ini secara fungsional dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk berupa singgasana tempat berstananya para roh leluhur yang oleh masyarakat sekarang difungsikan sebagai media memohon keselamatan dan kemakmuran.

5. Tahta Batu II

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             :   85 cm

                                 Panjang                         : 140 cm

                                 Lebar                              :   40 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Tahta batu II ini terbuat dari susunan batu gamping berbentuk bebaturan yang di atasnya terdapat sandaran berupa susunan batu gamping berbentuk segitiga menyerupai gunung. Tahta batu ini hanya memiliki sandaran, tanpa adanya susunan batu pembatas pada kanan atau kirinya, dan di tengah-tengahnya diletakkan pahatan kedok muka yang kemungkinan sebagai simbol dari roh leluhur pada masa lampau.

              Berdasarkan bentuk yang menyerupai gunung dan dengan adanya hiasan kedok muka, dapat dikatakan tahta batu ini sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai media pemujaan.

6. Tahta Batu III

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             : 141 cm

                                 Panjang                         :   58 cm

                                  Lebar                              :   52 cm

Arah Hadap       : Barat                 

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Tahta batu III ini terbuat dari susunan batu gamping berbentuk bebaturan yang di atasnya berbentuk kusi duduk (singgasana) dengan sandaran dan pembatas disampingnya terbuat dari batu gamping utuh. Tahta batu ini pengerjaannya sangat sederhana dan sedikitpun tidak menonjolkan hiasan.

              Secara fungsi punden berundak ini dapat dikatakan sebagai tinggalan tradisi megalitik yang masih berlanjut, dengan ciri-ciri bentuk yang sangat sederhana dan sesaui fungsi masa lampau bahwa tahta batu difungsikan sebagai media pemujaan kepada roh suci leluhur. Tahta batu (singgasana) dipercayai oleh masyarakat tradisi megalitik sebagai tempat duduknya para roh leluhur yang telah disucikan.

7. Sumur

Lokasi                   : Pura Segara

Ukuran                 : Tinggi                             :   57 cm

                                 Diameter                       : 107 cm

Arah Hadap       : –

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Sumur ini merupakan struktur yang disusun sedemikan rupa membentuk silinder sebagai sumber mata air terletak diantara tahta tahta batu I dan III.  Sumur sebagai sumber mata air masih difungsikan oleh masyarakat untuk memohon air suci (tirta) yang digunakan untuk kegiatan keagamaan di Pura Segara.

8. Menhir

Lokasi                   : Pura Segara Sanur

Ukuran                 : Tinggi       : 62 cm

                                 Lebar        : 35 cm

                                 Tebal        : 17 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal

                                sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Rusak

Deskripsi             : Menhir diletakkan pada teras tingkatan pertama punden berundak I. Menhir ini merupakan monolit (batu tunggal) berbahan batu gamping dengan bentuk yang tidak beraturan. Menhir merupakan hasil kebudayaan tradisi megalitik yang paling sederhana, karena hanya berupa batu tegak (berdiri) yang belum dikerjakan, tetapi diletakkan dengan sengaja pada suatu tempat untuk kepentingan memperingati jasa-jasa orang yang telah meninggal, sebagai simbol atau tempat bersemayamnya para roh leluhur.

9. Kedok Muka I

Lokasi                   : Pura Segara Sanur

Ukuran                 : Tinggi       : 37 cm

                                 Lebar        : 22 cm

                                 Tebal        :   7 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Rusak

Deskripsi             : Kedok muka I ini bentuknya sangat sederhana, hanya berupa goresan-goresan membentuk mata, hidung, dan mulut, dengan diletakkan pada tengah tahta batu Pelinggihan Dalem Segara di atas punden berundak. Tradisi megalitik ditandai dengan adanya pemujaan kepada roh leluhur sehingga oleh masyarakat prasejarah dimasa lalu kedok muka dijadikan penggambaran orang yang sudah meninggal atau leluhur. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan.

10. Kedok Muka II

Lokasi                   : Pura Segara Sanur

Ukuran                 : Tinggi       : 32 cm

                                 Lebar        : 29 cm

                                 Tebal        : 15 cm

Arah Hadap       : Barat

Latar Budaya     : Tradisi Megalitik

Periodisasi         : Prasejarah akhir dan awal sejarah (protohistoris)

Bahan                  : Batu gamping (karang laut)

Kondisi                : Baik

Deskripsi             : Kedok muka ini berbentuk bulat, dibuat dengan sangat sederhana, hanya berupa goresan-goresan membentuk mata, hidung, dan mulut yang memperlihatkan gigi. Kedok muka ini diletakkan di atas tahta batu I. Sama halnya dengan kedok muka lainnya pada masa tradisi megalitik terdapat kebiasaan melakukan pemujaan kepada roh leluhur dengan membuat kedok muka sebagai simbolnya. Biasanya juga dijadikan sebagai media pemujaan untuk meminta perlindungan dan keselamatan.