Keramat Agung Pemecutan

Di Kota Denpasar terdapat sebuah makam seorang puteri muslim yang bernama Raden Ayu Siti Khotijah. Namanya di kalangan muslim tentu sangat familiar, walau berbeda penulisan dan pengucapannya, bahwa nama tersebut sama dengan nama istri Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah. Dari buku yang dijual di sekitar makam, Raden Ayu Siti Khotijah, yang punya nama asli Gusti Ayu Made Rai atau disebut juga dengan Raden Ayu Pemecutan ini adalah seorang putri dari Raja Pemecutan. Namun tidak jelas dari Raja Pemecutan yang mana.

Cerita awal sang Raden Ayu Pemecutan, seperti cerita legenda putri-putri keraton di seluruh nusantara. Sang putri terkenal cantik dan disayang hingga menjadi kembang kerajaan. Tak sedikit para pembesar kerajaan di Bali yang ingin meminang sang putri. Namun musibah datang, sang putri mengidap penyakit kuning. Raja Pemecutan berusaha untuk menyembuhkan sang anak kesayangan, namun tak berhasil menyembuhkan sang putri. Hingga Raja Pemecutan membuat sebuah sayembara yang bisa menyembuhkan penyakit sang putri, jika perempuan akan diangkat jadi anak raja dan jika laki-laki akan dikawinkan dengan Raden Ayu Pemecutan.

Kabar tentang sayembara ini terdengar oleh seorang ulama di Yogyakarta dan mempunyai seorang anak didik yang jadi raja di Madura yaitu Pangeran Cakraningrat IV. Ulama yang dalam buku Sejarah keramat Raden Ayu Pemecutan disebut Syech ini memanggil Pangeran Cakraningrat IV ke Yogyakarta untuk mengikuti sayembara tersebut. Raja Madura ini berangkat ke Bali, hasilnya dapat ditebak Raden Ayu Pemecutan dapat disembuhkan oleh Pangeran Cakraningrat IV.

Setelah sang putri sembuh, lalu Raden Ayu Pemecutan dan Pangeran Cakraningrat IV dikawinkan. Tentunya dalam perkawinan muslim, keduanya harus beragama Islam, Raden Ayu Pemecutan pun jadi mualaf dan bergelar Raden Ayu Siti Khotijah. Sang putri lalu di boyong ke Madura oleh Pangeran Cakraningrat IV.

Suatu ketika Raden Ayu  pulang ke Bali beserta 40 orang pengiring dan pengawal. Pangeran Cakraningrat IV memberikan bekal berupa guci, keris dan sebuah pusaka berbentuk tusuk konde yang diselipkan di rambut sang putri. Sesampainya di kerajaan Pemecutan, Siti Khotijah disambut dengan riang gembira. Namun, kala itu tidak ada yang mengetahui bahwa sang putri telah memeluk agama Islam. Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelinggihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah menjalankan persembahyangan (ibadah sholat maghrib) di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Kerudung). Ketika itu salah seorang Patih di Puri melihat hal tersebut. Para patih dan pengawal kerajaan tidak menyadari bahwa Puri telah memeluk islam dan sedang melakukan ibadah sholat. Menurut kepercayaan di Bali, hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam.

Akibat ketidaktahuan pengawal istana, ‘keanehan’ yang disaksikan di halaman istana membuat pengawal dan patih kerajaan menjadi geram dan melaporkan hal tersebut kepada Raja. Mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan areal pemakaman yang luasnya 9 Ha. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Siti Khotijah.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam, karena senjata tajam tak akan membunuhku. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih serta dililitkan dengan benang tiga warna, merah, putih dan hitam (Tri Datu), tusukan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka berikanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

 Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Peristiwa itu sangat mengejutkan para patih dan pengawal. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan belia . Jenazah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan. Pangeran 

Pasar Badung

Denpasar konsisten untuk merevitalisasi pasar-pasar tradisionalnya. Pasar Badung adalah salah satunya. Sejak terbakar pada tanggal 27 Februari 2016, tepat pada malam perayaan HUT Kota Denpasar, aktivitas Pasar Badung sempat direlokasi di eks Tiara Grosir, Jalan Cokroaminoto Denpasar. Kini Pasar Badung dibuka kembali dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 22 Maret 2019 dan menampung sekitar 1600 pedagang.

 

Pasar Badung merupakan pasar rakyat di Kota Denpasar yang beroperasi (market hours) selama 24 jam, dan telah menjadi pusat perekonomian masyarakat Kota Denpasar dan sekitarnya dari sejak jaman kerajaan dulu. Pasar Badung memiliki posisi bersebelahan dengan Pasar Kumbasari (sisi barat) dan dibelah oleh aliran Tukad Badung (Badung River) dengan jembatan penghubung di antara keduanya. Konon katanya, Tukad Badung menjadi lintasan ekspedisi Belanda yang bergerak menuju Puri Pemecutan dari Denpasar pada saat peristiwa Perang Puputan Badung, 20 September 1906.

 

Pasar Badung sendiri menyimpan perjalanan sejarah yang panjang, sebagai pusat perekonomian kerajaan Badung pada saat itu. Nama Denpasar sebagai pusat pemerintahan diambil dari kata den (yang berarti di sebelah utara) dan pasar (yang merujuk pada keberadaan pasar).

 

Pada tahun 1907, lokasi pasar Kerajaan Badung yang pada mulanya bertempat di Kantor Walikota (sekarang di Jalan Gajah Mada) dipindahkan agak ke barat (di lokasi Pasar Badung saat ini). Pada mulanya lokasi Pasar Badung adalah tempat kediaman orang-orang Jawa dan Madura. Karena tempat tersebut digunakan sebagai lokasi pasar, maka orang-orang Jawa dan Madura dialihkan lokasinya ke arah utara yaitu di Kampung Wonosari (Kampung Jawa sekarang). Oleh Pemerintah Kolonial Belanda di dalam lokasi Pasar Badung dibangun los-los pasar untuk para pedagang, sedangkan tempat-tempat di sekitar Pasar Badung, yaitu di Jalan Gajah Mada dan Jalan Sulawesi sekarang bermukim pedagang Cina, India dan Arab yang mata pencaharian utamanya adalah berdagang dan dengan cara membuka toko sebagai sebagai tempat untuk berjualan. Barang-barang yang diperdagangkannya adalah candu, tembakau, barang-barang perhiasan, dan barang-barang kelontong lainnya.

 

Selain sebagai tempat yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok, pasar juga merupakan tempat pertukaran kebudayaan. Pasar Badung telah menjelma menjadi ruang interaksi sosial antara masyarakat lokal dan pendatang. Ada transaksi tukar menukar dan jual beli hasil pertanian, barang kerajinan, perlengkapan upacara adat atau agama, dan industri rumah tangga.

 

Secara alami, Pasar Badung seperti memiliki dua waktu operasional, yaitu pagi dan malam. Pasar Badung pagi menjual berbagai kebutuhan rumah tangga sehari-hari, baik berupa kebutuhan pokok maupun kebutuhan upacara agama. Selain itu, pasar Badung juga menjadi daya tarik wisata yang menarik bagi wisatawan mancanegara, dan menjadi salah satu objek wisata City Tour di Kawasan Heritage Gajah Mada. Aktivitas pasar pagi berlangsung dari jam 05.00 – 17.00 Wita.

 

Sedangkan pada malam harinya, aktivitas pasar memanfaatkan pelataran parkir. Komoditas yang ditawarkan juga sama dengan pasar pagi, yaitu sayur-mayur, daging, sarana upacara agama (janur, bunga, buah), dan kuliner. Aktivitas pasar malam berlangsung mulai pukul 15.30 – 06.00 Wita.

 

Hal unik yang dapat dijumpai di Pasar Badung adalah keberadaan “tukang suun”, tukang angkut belanja bagi pembeli yang memborong barang dalam jumlah banyak. Tukang suun ini hampir seluruhnya perempuan, biasanya membawa keranjang bambu yang dijunjung di atas kepalanya. Anda dapat membayar 5-10 ribu rupiah untuk sekali angkut belanjaan.

 

Di samping itu, Anda juga dapat menikmati side riverwalk “Taman Kumbasari” yang cantik dengan hiasan lampu warna-warni dan berbagai mural paintings yang menarik. Di samping menikmati keindahan pemandangan tepi sungai, Anda juga dapat berswa foto”selfie” yang instagramable.

 

Jika Anda ingin berjalan lebih jauh lagi, anda dapat menyusuri Kawasan Heritage Gajah Mada, yang menyimpan berbagai nostalgia yang menginspirasi.

Pasar Sindhu

Sindhu Night Market, juga dikenal sebagai “Pasar Malam Sindu Sanur” di kalangan penduduk setempat atau kadang disebut “Sanur Night Market” oleh wisatawan asing, buka mulai pukul 18.00 WITA (Waktu Indonesia Tengah). Pasar ini mengkhususkan diri dalam menyajikan aneka hidangan kuliner tradisional yang disiapkan oleh pedagang kaki lima dengan harga yang terjangkau. Kamu bisa menemukan berbagai jajanan tradisional mulai dari Rp 3.000. Pasar ini menawarkan berbagai hidangan unggulan, termasuk mie ayam, bakso, nasi goreng, sate, gulai kambing, dan es buah segar yang menyegarkan.

Setiap malam, pasar ini ramai dengan kegiatan dan dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun internasional. Meskipun suasana ramai, pasar ini tidak terlalu penuh sehingga keluarga bisa menikmati berbagai hidangan kuliner yang ditawarkan. Pasar ini menjaga kebersihan, keteraturan, dan lingkungan yang aman bebas dari kejahatan. Bagi wisatawan Muslim, tidak perlu khawatir mencari makanan halal karena sebagian besar pilihan makanan yang tersedia terbuat dari bahan halal.

Sindhu Night Market terletak di Jl. Pungutan No. 2, Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, Indonesia. Pasar ini berjarak sekitar 550 meter dari Pasar Sanur, 1,8 km dari Pantai Sanur, 7,9 km dari Kota Denpasar, dan 14,2 km dari Pantai Kuta. Dari Bandara Internasional Ngurah Rai, membutuhkan sekitar 30 menit perjalanan untuk mencapai Sindhu Night Market dengan jarak tempuh 15,7 km

Living World

Living World Denpasar tidak hanya pusat perbelanjaan tetapi juga merupakan tujuan populer bagi penduduk lokal Bali dan wisatawan yang mencari hiburan, pengalaman budaya, dan berbagai layanan. Mal ini dirancang dengan tema budaya Bali, termasuk gapura, air mancur, dan ornamen dekoratif. Arsitekturnya menggabungkan konsep ramah lingkungan seperti sistem hemat energi, panel surya, pencahayaan LED, dan pengelolaan air limbah yang diminimalkan untuk irigasi tanaman dan pengisian kolam.

Living World Denpasar menghadirkan merek-merek bisnis Kawan Lama Group seperti ACE, INFORMA, INFORMA Custom Furniture, INFORMA ELECTRONICS, Toys Kingdom, Pet Kingdom, ATARU, Pendopo, EYE SOUL, dan THYS, melayani kebutuhan furniture dan perbaikan rumah, gaya hidup, dan hiburan. Merek kuliner seperti Chatime Atelier, Cupbop, Gindaco, dan Go! Pergi! CURRY – Genki no Minamoto, serta brand ternama seperti Uniqlo, H&M, Cinema XXI, Funworld, Kidzlandia, iBox, Puma, Giordano, The Body Shop, dan Guardian juga hadir di mall ini.

Pengunjung juga dapat menikmati area outdoor seperti area trotoar untuk berolahraga atau jalan-jalan santai di sepanjang sungai, acara budaya dan seni di amfiteater dan taman komunitas rooftop, serta area ramah hewan peliharaan. Living World Denpasar berusaha memberikan dampak positif yang signifikan bagi penduduk Bali melalui berbagai inisiatif keberlanjutan.

Pasar Kreneng

Pasar Kreneng Denpasar, didirikan pada tahun 1983, adalah pasar tradisional tertua di area tersebut. Dengan tiga lantai, pasar ini menampung sekitar 805 pedagang tetap dan 211 pedagang kaki lima. Nama Kreneng berasal dari lokasinya. Pada pagi hari, Pasar Kreneng Denpasar menawarkan berbagai kebutuhan sehari-hari, namun suasana berubah di malam hari. Pasar Kreneng khusus melayani wisatawan yang ingin menikmati kelezatan kuliner Bali dan kepulauan sekitarnya.

Pasar Kreneng buka setiap hari mulai dari pagi hingga malam. Pasar ini memberikan dua pengalaman yang berbeda: pasar pagi dan pasar malam (Pasar Senggol). Sekitar pukul 3 sore, pasar pagi perlahan berubah menjadi pasar malam saat para pedagang tiba dan mempersiapkan lapak mereka. Pukul 4 sore, pasar sudah beroperasi penuh dan melayani pelanggan dengan berbagai barang dagangan. Dengan harga yang terjangkau sekitar Rp 20.000, pengunjung dapat menikmati Lawar Bali, hidangan lokal yang terdiri dari daging babi cincang yang dibumbui dengan rempah-rempah dan sayuran. Hidangan ini umumnya tersedia di Pasar Kreneng, terutama saat pasar malam (Pasar Senggol).

Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi)

Monumen Perjuangan Rakyat Bali atau yang lebih dikenal sebagai Monumen Bajra Sandhi, terletak di pusat kota Denpasar, ibu kota Bali, merupakan sebuah bukti yang kuat akan warisan budaya yang kaya dan semangat tak tergoyahkan pulau ini. Monumen megah ini, juga dikenal sebagai Monumen Bajra Sandhi, menjadi pengingat simbolis akan perjuangan sejarah Bali dan ketangguhannya dalam menghadapi tantangan. Dengan arsitektur yang menakjubkan dan pameran yang memukau, Monumen Bajra Sandhi telah menjadi landmark populer yang menarik wisatawan dan penduduk setempat.

Arsitektur monumen ini terinspirasi oleh konsep “mandala” Bali, yang melambangkan alam semesta dan keseimbangan harmonis. Didesain oleh arsitek terkenal Bali, Ida Bagus Gede Yadnya, struktur ini menjulang setinggi 45 meter, terdiri dari tiga tingkat. Setiap tingkat mewakili tahap sejarah Bali yang berbeda, dengan berbagai diorama, tampilan, dan pameran interaktif yang memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada pengunjung mengenai masa lalu pulau ini.

Tingkat Bawah: Tingkat pertama monumen menawarkan wawasan tentang era prasejarah Bali, dengan diorama yang menggambarkan permukiman Bali awal, praktik pertanian, dan tradisi budaya. Pengunjung dapat belajar tentang komunitas asli pulau ini dan hubungan harmonis mereka dengan alam.

Tingkat Kedua: Pindah ke tingkat kedua, pengunjung diperkenalkan pada kerajaan-kerajaan kuno Bali dan kontribusi mereka terhadap warisan budaya, seni, dan agama pulau ini. Patung-patung yang diukir dengan detail dan pameran mengungkapkan cerita sejarah dan mitologi yang telah membentuk masyarakat Bali.

Tingkat Ketiga: Tingkat terakhir Monumen Bajra Sandhi menggambarkan era modern, dengan menyoroti perjuangan Bali untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan dan perkembangan ekonomi pulau ini. Bagian ini menghormati individu-individu pemberani yang berjuang untuk kedaulatan Bali dan memamerkan perkembangan ekonomi pulau ini.

Monumen Bajra Sandhi menawarkan pengalaman komprehensif dan menarik melalui pameran dan kegiatan yang mengikutsertakan pengunjung. Selain pameran permanen, monumen ini menjadi tuan rumah acara budaya, pameran seni, dan pertunjukan tradisional, memungkinkan pengunjung untuk menyaksikan tradisi hidup Bali.

Selain itu, area luas di luar monumen berfungsi sebagai tempat berkumpulnya komunitas lokal, yang sering berkumpul untuk latihan tarian tradisional, musik, dan kegiatan budaya lainnya. Taman sekitarnya memberikan suasana yang tenang di mana pengunjung dapat bersantai dan menghargai keindahan sekitar.

Monumen Bajra Sandhi memainkan peran penting dalam melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Bali. Monumen ini berfungsi sebagai pusat pendidikan, mencerahkan baik penduduk lokal maupun wisatawan tentang sejarah, nilai, dan tradisi pulau ini. Dengan memamerkan perjuangan dan kemenangan masyarakat Bali, monumen ini memupuk rasa bangga dan identitas di kalangan komunitas lokal sambil meningkatkan pemahaman lintas budaya.

Monumen Bajra Sandhi tegak sebagai lambang ketangguhan Bali, kekayaan budaya, dan komitmen dalam melestarikan warisannya. Monumen yang mengagumkan ini menawarkan perjalanan yang menarik melalui sejarah pulau ini, memberikan pengunjung apresiasi yang lebih dalam terhadap budaya yang hidup dan semangat tak tergoyahkan masyarakatnya. Sebagai tujuan wisata wajib di Bali, Monumen Bajra Sandhi menawarkan pengalaman yang memperjuangkan perayaan masa lalu, masa kini, dan masa depan pulau ini.

Trans Studio Theme Park Bali

Ada banyak wahana seru di taman hiburan ini, menjadikannya tempat yang cocok untuk pengunjung segala usia, termasuk mereka yang mencari kencan romantis. Saat memasuki dan naik lift ke wahana pertama, pengunjung akan tenggelam dalam pengalaman sci-fi ala Hollywood dengan ubur-ubur dan angin sejuk.

Trans Studio Bali menawarkan harga tiket promo untuk sebagian besar wahana, dengan pemegang KTP Bali menerima harga khusus Rp 150.000 per orang hingga dua tiket hingga Sabtu. Untuk wisatawan domestik, harga tiket berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 275.000 tergantung usia.

Jam operasional taman mulai pukul 11.00 WITA hingga 18.00 WITA pada hari kerja dan pukul 10.30 WITA hingga 19.00 WITA pada akhir pekan dan hari libur nasional. Trans Studio Bali juga dikenal sebagai “The Most Instagrammable Theme Park in The World” dengan spot foto di replika kapal Titanic dan Illusion House.

Taman ini dibagi menjadi lima zona: Pelabuhan Liverpool, Zona Kamera, Zona Budaya, Zona Petualangan, dan Zona Aksi. Setiap zona menawarkan aktivitas unik dan seru, seperti terbang di atas Indonesia di Zona Budaya atau melawan zombie di wahana Kota Mati di Zona Petualangan.

Zona Aksi memungkinkan pengunjung untuk merasakan sensasi Kota New York dan menghadapi tantangan di Kursus Ninja. Dengan begitu banyak wahana dan zona menarik untuk dijelajahi, Trans Studio Bali adalah tujuan yang harus dikunjungi bagi siapa saja yang mencari petualangan yang menyenangkan.

Patung Catur Muka

Patung Catur Muka didirikan 1973 oleh I Gusti Nyoman Lempad, seniman asal Ubud. Patung granit setinggi sembilan meter ini menghadap empat penjuru mata angin, yaitu barat, timur, utara, dan selatan. Patung ini dilengkapi dengan air mancur menari dan warna-warni layaknya pelangi saat disaksikan malam hari.

Sesuai namanya, Patung Catur Muka memiliki empat wajah yang masing-masingnya menghadap ke Jalan Surapati, Jalan Udayana, Jalan Veteran, dan Jalan Gajah Mada. Sosok patung ini menggambarkan Dewa Brahma dengan empat sifat berbeda.

Wajah yang menghadap timur disebut Shanghyang Iswara, mewakili sifat bijaksana. Wajah yang menghadap barat disebut Sanghyang Mahadewa, mewakili sifat kasih sayang.

Wajah yang menghadap utara disebut Sanghyang Wisnu, mewakili sifat kuat dan mensucikan jiwa manusia. Wajah yang menghadap selatan disebut Sanghyang Brahma, mewakili sifat menjaga ketentraman.

teBA

Wisata TeBA Majelangu

TeBa Majelagu adalah destinasi unik dan menarik yang terletak di Desa Budaya Kertalangu di Bali, Indonesia. Tempat ini menawarkan tur edukasi yang memamerkan keindahan dan pentingnya sistem subak, yang merupakan sistem irigasi tradisional yang digunakan oleh petani di pulau tersebut selama berabad-abad. Tur ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar tentang warisan pertanian yang kaya di Bali, dan untuk mengalami secara langsung kegiatan sehari-hari petani setempat.

Salah satu kegiatan utama yang ditawarkan oleh TeBa Majelagu adalah Pendidikan Pertanian, di mana pengunjung dapat belajar tentang berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan di Bali, bagaimana cara membudidayakannya, dan pentingnya sistem subak dalam menjaga pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Tur edukasi ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang budaya lokal dan cara hidup tradisionalnya.

Museum Subak adalah atraksi menarik lainnya di TeBa Majelagu. Museum ini memamerkan sejarah dan evolusi sistem subak, dan signifikansinya bagi kehidupan masyarakat Bali. Museum ini memberikan wawasan yang unik tentang sistem irigasi yang rumit yang telah menopang pertanian Bali selama berabad-abad. Pengunjung dapat menjelajahi berbagai pameran, belajar tentang teknik irigasi kuno, dan memahami bagaimana sistem subak telah dilestarikan dari waktu ke waktu.

Selain tur edukasi, TeBa Majelagu juga menawarkan berbagai kegiatan lain yang menarik bagi pengunjung. Salah satunya adalah Memberi Makan Hewan, di mana pengunjung dapat berinteraksi dengan berbagai hewan ternak, seperti sapi, bebek, dan ayam. Kegiatan ini sangat populer di kalangan anak-anak, karena memungkinkan mereka untuk berinteraksi langsung dengan hewan-hewan tersebut, dan belajar tentang pentingnya peternakan dalam pertanian Bali.

Kegiatan lain yang populer adalah mengunjungi Kebun Percobaan, di mana pengunjung dapat belajar tentang berbagai jenis tanaman dan bunga yang dibudidayakan di Bali. Kebun percobaan ini memamerkan flora yang beragam di Bali, termasuk anggrek, mawar, dan berbagai jenis tanaman tropis. Pengunjung juga dapat membeli tanaman dan bunga untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

TeBa Majelagu terletak di dalam Desa Budaya Kertalangu, yang merupakan destinasi populer bagi lokal dan wisatawan. Desa ini memiliki jalur jogging yang indah, yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk berolahraga sambil menikmati pemandangan yang indah di Bali. Jalur jogging ini adalah cara yang bagus untuk menjelajahi daerah sekitarnya, dan untuk mengalami budaya dan tradisi unik Bali.

Museum Lukisan Sidik Jari

Museum sidik jari Denpasar dan sangat berbeda dengan museum yang lain di Bali. Museum lukisan buka dari hari Senin – Sabtu, hari Minggu tutup. Jam buka museum lukisan sidik jari dari jam, 08:00 – 16:00. Rata-rata waktu yang dihabiskan pengunjung saat berada di gallery lukisan, kurang lebih 2 jam.

Lokasi museum lukisan sidik jari Denpasar terletak di Jalan Hayam Wuruk No 175, Tanjung Bungkak Denpasar Bali. Jika anda berangkat dari bandara Ngurah Rai, akan menempuh waktu kurang lebih 40 menit. Jaraknya hanya 15 km dari bandara Ngurah Rai, tapi karena kemacetan di kota Denpasar, maka waktu tempuh bertambah.

Sebagian besar dari kita, saat mendengar kata museum, pasti membayangkan sebuah tempat untuk menyimpan koleksi barang peninggalan zaman dahulu atau koleksi penyimpanan peninggalan prasejarah, baik itu berupa batu, patung, lukisan ataupun benda antik.

Lain halnya dengan museum sidik jari Denpasar dan sangat berbeda dengan museum yang lain di Bali. Museum lukisan buka dari hari Senin – Sabtu, hari Minggu tutup. Jam buka museum lukisan sidik jari dari jam, 08:00 – 16:00. Rata-rata waktu yang dihabiskan pengunjung saat berada di gallery lukisan, kurang lebih 2 jam.

Lokasi museum lukisan sidik jari Denpasar terletak di Jalan Hayam Wuruk No 175, Tanjung Bungkak Denpasar Bali. Jika anda berangkat dari bandara Ngurah Rai, akan menempuh waktu kurang lebih 40 menit. Jaraknya hanya 15 km dari bandara Ngurah Rai, tapi karena kemacetan di kota Denpasar, maka waktu tempuh bertambah.

Museum Sidik Jari Denpasar dibangun pada tahun 1993. Peresmian dilakukan setelah 2 tahun, tepatnya pada bulan Juli 1995. Tokoh yang memiliki gagasan, sekaligus pemilik dari museum lukisan Sidik Jari Denpasar adalah bapak Gede Ngurah Rai Pemecutan. Ada filosofi tersendiri, dibalik penamaan museum sidik jari. Museum ini dinamakan museum Sidik Jari karena berkaitan dengan cara yang digunakan ketika melukis. Metodenya ujung jari pelukis diolesi oleh berbagai macam warna cat lukis sesuai dengan imajinasi dari pelukisnya. Karena melukis menggunakan jari tanpa menggunakan kuas, tentunya terdapat bekas sidik jari dari tangan pelukis. Cara melukis ini yang dinamakan lukisan Sidik Jari.

Sejarah menggunakan jari untuk melukis, semuanya berawal dari kegagalan dalam menyelesaikan lukisan tari Baris. Bapak Gede Ngurah memperbaiki lukisan tari Baris bukan dengan kuas, melainkan dengan memoles tangannya dengan cat lukis, kemudian memoleskan cat warna-warna diatas lukisan tari Baris tersebut menggunakan jari tangan. Setelah lukisan tari Baris selesai diperbaiki, ternyata lukisan tari Baris tampak sangat indah dengan goresan sidik jari dari pelukisnya. Tentunya yang mengetahui seni lukis akan mengetahui letak keindahannya.