Menjelajah Waktu di Kebon Vintage Cars: Surga Bagi Penggemar Mobil Klasik di Denpasar

Destinasi ini ditujuan buat penggemar mobil klasik. Jangan mengira di Kota Denpasar tidak ada objek wisata yang memamerkan mobil-mobil klasik. Di Kebon Vintage Cars, dahaga Anda akan mobil klasik dari berbagai negara bisa dijamin akan terpuaskan. Ada lebih dari 100 unit mobil klasik keluaran tahun lama dipajang disini.

Beberapa mobil klasik yang bisa ditemukan disini seperti model Volvo 960 Limousine tahun 1991, Cadillac Fleetwood 75 Limousine tahun 1953, Austin A90 Atlantic tahun 1949-1952, sampai Dodge Brothers Spesial Series 116 Four Door tahun 1924 juga ada. Sejumlah mobil klasik itu terpajang rapi dan mudah untuk disentuh oleh pengunjung.

Bahkan, ada salah satu mobil jenis Plymouth Hudson Hornet keluaran tahun 1948 yang di BKPBnya tertera nama Fatmawati. Beliau adalah istri dari Presiden RI Soekarno. Beberapa mobil yang dipajang disini masih dapat digunakan untuk kegiataan.

Kebon Vintage ini dimiliki oleh Jos Dharmawan. Lokasinya berada di Jalan Tegal Harum No.13, Biaung, Kecamatan Denpasar Timur. Lokasinya mudah dijangkau jika Anda hendak menuju Gianyar. Meskipun dimiliki perorangan, tetapi destinasi ini dibuka untuk umum. Destinasi ini tergolong objek wisata baru karena baru dibuka pada saat pandemi Covid-19.

Awalnya oleh pemiliknya, tempat ini hanya garasi untuk mobil-mobil koleksi pribadinya. Adanya pandemi kemudian diputuskan untuk dibuka bagi masyarakat umum. Hingga saat ini cukup banyak pengunjung yang datang melihat-lihat koleksi mobil-mobil antik di Kebon Vintage Cars. Anda tidak perlu khawatir tiba disini, karena pengelola juga membuka layanan bagi pengunjung yang membutuhkan makanan dan minuman.

Menapak Jejak Sejarah di Puri Pemecutan: Warisan Perjuangan Bali Melawan Penjajah

Puri Agung Pemecutan merupakan salah satu puri atau keraton kerajaan Bali yang masih berdiri hingga sampai saat ini. Pemecutan berasal dari kata pecut/cambuk sehingga sering dikaitkan dengan pecut/cambuk. Dahulunya Puri Agung Pemecutan Kuno dilalap kobaran api pada tanggal 20 September 1906 atas perintah Raja Gusti Ngurah Pemecutan yang bergelar Ida Cokorda Pemecutan IX saat memimpin rakyat bali turun ke medan perang untuk memperjuangkan tanah airnya yang dikenal dengan Perang Puputan Badung. Walaupun dengan semangat yang membara, Raja bersama rakyatnya akhirnya gugur dalam perang dengan latar belakang puri terbakar di belakangnya. Untuk mengenang beliau telah dibuat monumen Ida Cokorda Pemecutan IX diperempatan jalan Puri Agung Pemecutan

Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X

Ida Meparab Anak Agung Sagung Adi

Anak Agung Ngurah Gede Lanang Pemecutan

Setelah Perang Puputan Badung, terjadi kekosongan pemerintahan terjadi di Puri Agung Pemecutan. Dikarenakan Ida Cokorda Pemecutan IX tidak memiliki keturunan laki-laki dan hanya memiliki seorang putri yaitu Ida Meparab Anak Agung Sagung Adi, kemudian atas prakarsa keluarga besar Puri Agung Pemecutan dan Warga Ageng Pemecutan dan untuk melestarikan budaya leluhur terdahulu, maka diangkatlah keponakannya I Gusti Ngurah Gde Pemecutan/ Kyahi Ngurah Gde Pemecutan untuk menjadi Raja Pemecutan yang kemudian bergelar Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X serta kakak beliau dari lain ibu yang Bernama Ida Anak Agung Gede Lanang Pemecutan sebagai wakilnya. Beliau sebagai kakak beradik menampakan kehidupan yang rukun dan selalu mengutamakan musyawarah mufakat dalam penyelesaian masalah sehingga masyarakat sangat segan kepada mereka.

Dikarenakan Puri Agung Pemecutan Kuno sudah hancur dan hanya menyisakan Bale Kulkul di sebelah selatan Puri Agung Pemecutan Kuno, maka Jero Kanginan yang berada tepat didepan Puri Agung Pemecutan Kuno direhab menjadi Puri Agung Pemecutan yang baru, beralamat di Jalan Thamrin Nomor 2 Denpasar. Sampai saat ini Puri Agung Pemecutan masih dijaga keaslian dan kesakralannya serta menjadi tempat tinggal bagi keturunan Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X dan Ida Anak Agung Gede Lanang Pemecutan. Sehingga menjadikan Puri Agung Pemecutan yang berada di Pusat Kota Denpasar sebagai salah satu cagar budaya yang patut untuk dilestarikan.

Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X

Di Puri Agung Pemecutan terdapat beberapa bangunan yang memiliki fungsi dan manfaat masing-masing. Puri Agung Pemecutan sendiri terdiri dari 3 bagian utama yaitu:

Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala.

Nista Mandala

Nista Mandala adalah bagian terluar dari Puri disebut juga sebagai “jaba puri” terdapat bangunan sebagai pemisah antara Madya Mandala dan Nista Mandala yaitu Kori Agung Puri Agung Pemecutan. 

Merupakan gerbang utama yang terdiri dari 1 pintu utama yang terletak di tengah-tengah dan 2 “betel”. Pintu utama hanya dipergunakan saat diadakan upacara adat dan keagamaan, dan disakralkan oleh keluarga Puri Agung Pemecutan, sedangkan 2 “betel” dipergunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Di pojokan barat daya jaba puri terdapat Bale Bengong, yang dipergunakan oleh keluarga Puri Agung Pemecutan untuk memantau kegiatan masyarakat disekitaran Puri Agung Pemecutan. Terdapat kulkul yang dahulunya dipergunakan sebagai sarana berkomunikasi dengan masyarakat.

Selain itu pada Barat laut terdapat Bale Kulkul Puri Agung Pemecutan yang baru. Bale kulkul ini dipergunakan sebagai sarana komunikasi pada masyarakat di sekitar Puri. Bale kulkul ini khusus dipergunakan untuk memberi tahu kepada masyarakat bahwa adanya pelaksanaan kegiatan di Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan.

Tepat di depan Bale Kulkul, terdapat Kori Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan sebagai tempat masuk bagi masyarakat dari luar Keluarga Puri untuk melaksanakan persembahyangan di Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan yang terletak di areal Utama Mandala

Madya Mandala

Madya Mandala

Madya Mandala adalah bagian tengah dari Puri, areal ini merupakan areal dimana kegiatan sehari-hari biasa dilakukan oleh keluarga Puri Agung Pemecutan. Menjadi tempat tinggal keluarga Puri, madya mandala Puri Agung Pemecutan dibagi menjadi 2 bagian yaitu saren daje dan saren delod, yang dimana saren daje ditempati oleh keluarga Ida Anak Agung Ngurah Gede Lanang Pemecutan dan saren delod yang ditempati oleh keluarga Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan. Saren daje berarti kamar di sebelah utara dan saren delod berarti kamar di sebelah selatan.

Dibagian paling selatan areal madya mandala terdapat Bale Lantang yang berarti Bale yang Panjang, dipergunakan multifungsi seperti untuk menerima tamu, pelatihan tari dan gambelan, atau pelaksanaan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan adat ataupun keagamaan. 

Pada Tahun 1970an hingga 1990an, atas tingginya antusiasme wisatawan pada saat itu agar bisa menginap di Puri Agung Pemecutan, maka Bale Lantang ini dimultifungsikan sebagai hotel, sehingga sebagaian bale ini sudah menjadi kamar hotel dan sebagian dipergunakan sebagai lobi hotel, namun seiiring berkembangnya jaman, hotel di Puri Agung Pemecutan kalah saing dengan kompetitor sehingga hotel pada saat ini tidak berfungsi.

Dibagian paling selatan areal madya mandala terdapat Bale Lantang yang berarti Bale yang Panjang, dipergunakan multifungsi seperti untuk menerima tamu, pelatihan tari dan gambelan, atau pelaksanaan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan adat ataupun keagamaan. 

Pada Tahun 1970an hingga 1990an, atas tingginya antusiasme wisatawan pada saat itu agar bisa menginap di Puri Agung Pemecutan, maka Bale Lantang ini dimultifungsikan sebagai hotel, sehingga sebagaian bale ini sudah menjadi kamar hotel dan sebagian dipergunakan sebagai lobi hotel, namun seiiring berkembangnya jaman, hotel di Puri Agung Pemecutan kalah saing dengan kompetitor sehingga hotel pada saat ini tidak berfungsi.

Ditengah areal ini terdapat Gedong Agung, yaitu sebagai tempat tinggal Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X, setelah sepeninggalnya Ida Cokorda Ngurah Gde Pemecutan X, Bale ini dipergunakan oleh Keluarga Puri Agung Pemecutan untuk melaksanakan rapat dalam rangka persiapan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di Puri Agung Pemecutan.

Sebelah barat Gedong Agung terdapat bale yang dipergunakan oleh keluarga Ida Anak Agung Gede Lanang Pemecutan tinggal, bale tersebut disambung dengan bangunan besar yang sekarang menjadi tempat tinggal anak cucu beliau.

Bagian paling utara di areal Madya Mandala adalah Bale Daje/Bale Bandung, seperti namanya “daje” berarti utara. Bale ini diperuntukan untuk anak gadis ataupun kepala keluarga. Di Puri Agung Pemecutan, bale ini ditempati oleh Parab Ida Anak Agung Sagung Adi. Ibu semasa hidupnya sebagai bentuk penghormatan kepada beliau. Sekarang sering dipergunakan untuk upacara “ngekeb”, yaitu upacara mengisolir anak gadis yang hendak menikah, “ngerajaswala” atau “mepandes”

Sebelah timur bale daje/bale bandung terdapat bale “dangin” yang berarti timur, bale ini difungsinkan sebagai tempat melanaksanakan upacara adat dan keagamaan yang berhubungan dengan manusa yadnya seperti pernikahan, “mepandes”, “otonan”, “ngerajaswala” dan lain – lain.

Disebelah selatan terdapat Bale murda/Bale Delod, yaitu bale yang dipergunakan untuk peletakan jenazah sambil menunggu hari baik untuk melaksanakan upacara “Ngaben” apabila ada keluarga dari Puri Agung Pemecutan meninggal dunia.

Sebelah barat terdapat bale “dauh”, dauh sendiri berarti barat. Bale ini dahulu dipergunakan sebagai tempat tidur untuk anak laki – laki, namun sekarang dipergunakan untuk menerima tamu pada saat upacara adat dan agama dilaksanakan.

Utama Mandala

Utama Mandala

Utama Mandala adalah bagian terdalam dari Puri disebut Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan, tempat keluarga puri melaksanakan persembahyangan dan berdoa kepada tuhan dan leluhurnya. Tempat ini merupakan tempat yang disucikan oleh keluarga Puri, bagi wanita yang sedang menstruasi tidak diperkenankan untuk memasuki areal ini.

Pemerajan Puri Agung Pemecutan memiliki beberapa “pelinggih”, pelinggih sendiri sebagai simbol pemujaan terhadap Dewa-Dewa tertentu, selain itu terdapat “pewaregan suci” atau dapur suci yang dipergunakan khusus untuk persiapan sarana upacara di Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan. Diatas Pewaregan terdapat “Jineng” sebagai tempat penyimpanan padi (lumbung)

Pada tembok Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan, terdapat ornamen ukiran kisah-kisah pewayangan yang menambahkan keunikan dari Pemerajan Puri Agung Pemecutan itu sendiri

Sempat mengalami kebakaran 11 pelinggih pada tanggal 11 Agustus 1995, Pemerajan Puri Agung Pemecutan sempat dipugar dan selesai pada tanggal 11 Agustus 1996 dan dilaksanakan Karya Memungkah Ngeteg Linggih pada Purnama Sasih Kelima Tanggal 26 November 1996. Kejadian ini dibuatkan Pracasti dan diletakan tepat di depan Kori Pemerajan Agung Puri Agung Pemecutan.

Big Garden Corner: Surga Fotografi dan Spot Instagramable di Sanur, Bali

Penyuka obyek fotografi dan instagramable, lokasi ini bisa menjadi tujuan berikutnya saat wisata di ibu kota Bali. Dibuka sejak 2016 silam. Awalnya hanya merupakan gallery seni patung berbahan batu.

Sesuai namanya, Big Garden Corner berada di pojok persimpangan Jalan Waribang dan Jalan By Pass Ngurah Rai Padanggalak, Sanur. Merupakan taman besar di lahan seluas 2,5 hektare. Big Garden Corner memiliki banyak pilihan titik untuk berfoto. Disini, pengunjung bisa berfoto berlatar belakang batu-batu megalitik, meja batu, patung skala besar, hingga atap payung.


Terdapat replika candi Borobudur yang memiliki tinggi 5 meter. Rumah pohon ukuran kecil, jalan setapak dari kayu, dengan atap batang pohon dengan bentuk menyilang. Hingga taman kupu-kupu berisikan lebih dari 100 spesies kupu-kupu.

Tempat ini juga dilengkapi dengan area taman beralaskan rumput hijau. Baik keluarga maupun pasangan sangat tepat meluangkan waktu datang ke lokasi ini. Pengelola menyiapkan pula restoran dan taman bermain bagi anak-anak. Lokasinya yang berada di daerah Sanur menjadikan tempat ini sangat cocok ketika Anda melintas hendak berwisata ke arah Bali Timur.

Menelusuri Sejarah Bali di Museum Bali: Tempat Koleksi Budaya Tertua di Denpasar

Museum Bali ini merupakan museum legendaris. Lokasinya mungkin setiap hari dilintasi oleh masyarakat tetapi banyak yang tidak menyadarinya. Tepatnya berada di Jalan Mayor Wisnu, alias di sebelah timur lapangan Puputan Badung dan di sebelah selatan Pura Jagatnatha. Museum ini diresmikan pada tanggal 8 Desember 1932 dengan nama Bali Museum yang dikelola Yayasan Bali Museum

Museum di lahan seluas 2.600 meter persegi ini merupakan museum tertua di Bali dan merupakan pemicu kehadiran museum-museum lainnya. Berdasarkan atas koleksinya, Museum Bali merupakan museum etnografi yang memiliki dan memamerkan benda-benda budaya dari zaman prasejarah sampai kini yang mencerminkan seluruh unsur kebudayaan Bali terdiri dari koleksi arkeologi, koleksi historika, koleksi seni rupa dan koleksi etnografika.

Jadi, jika ingin belajar mengenai sejarah peninggalan budaya Bali. Sangat cocok berkunjung ke sini karena Anda bisa melihat koleksi seperti peralatan kustom tari, semua jenis topeng, wayang hingga keris serta berbagai koleksi benda prasejarah yang dapat memahami kebudayaan Bali.

Museum Bali merupakan museum umum yang pada awalnya merupakan museum etnografi yang didirikan oleh W.F.J. Kroon, asisten residen untuk Bali Selatan untuk melindungi dan melestarikan benda-benda budaya pada tahun 1910. Pemikiran ini atas dasar usulan dari Th.A. Resink dan mendapat sambutan yang baik dari kalangan ilmuwan, seniman, budayawan, dan seluruh raja-raja di Bali. Kroon kemudian memerintahkan Kurt Gundler, arsitek berkebangsaan Jerman yang sedang berada di Bali untuk meneliti agar membuat perencanaan bersama dengan para ahli bangunan tradisional Bali atau disebut undagi antara lain I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel.

Salah satu keunikan dari museum ini adalah arsitektur pembangunanya mengadopsi budaya lokal yakni didasarkan dari lontar Asta Kosala-Kosali. Ada tiga halaman, yaitu, yaitu halaman luar (jaba), halaman tengah (jaba tengah), dan halaman dalam (jeroan), masing-masing halaman dibatasi dengan tembok dan gapura (candi bentar dan candi kurung) sebagai pintu masuk, sebuah Balai Kulkul (menara kentongan) di sebelah Selatan jaba tengah.

Di sudut Barat Laut berdiri sebuah Balai Bengong yang pada jaman kerajaan dipergunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja ketika ingin mengamati situasi di luar istana. Dan di depan gedung Tabanan terdapat sebuah Beji (permandian untuk keluarga raja). Atap bangunan dari ijuk, di Bali hanya dipakai untuk bangunan pura. Pada halaman dalam terdapat tiga bangunan utama untuk memamerkan koleksi museum :

  1. Gedung Karangasem , dengan arsitektur khas Bali Timur untuk memamerkan koleksi Panca Yadnya.
  2. Gedung Tabanan, untuk memamerkan koleksi prasejarah, sejarah dan seni rupa.
  3. Gedung Buleleng , dengan dengan arsitektur gaya Bali Utara untuk memamerkan koleksi kain tradisional
Mari belajar menemukan sejarah Bali dengan mengunjungi Museum Bali.

Pura Agung Jagatnatha: Titik Awal Wisata Kota Denpasar yang Sarat Nilai Spiritual dan Sejarah

Jika ingin mengetahui program city tour di Kota Denpasar. Pura Agung Jagatnatha bisa menjadi salah satu titik utama untuk dijadikan sebagai langkah awal memulai perjalanan menyusuri ibu kota Bali. Bukan hanya sebagai tempat peribadatan, pura agung yang satu ini juga dikunjungi wisatawan karena keindahan dan keunikan yang dimiliki.

Lokasinya yang berada pada jalur wisata sehingga sangat strategis dan tidak pernah sepi pengunjung, baik yang datang beribadah maupun hanya untuk menikmati keindahan pura. Tepatnya di Jalan Mayor Wisnu, yakni tepat di sebelah timur Lapangan Puputan Badung, dan bersebelahan dengan Museum Bali.

Pura agung ini juga terbuka 24 jam bagi siapa saja yang datang untuk melakukan ibadah. Termasuk juga kedatangan para wisatawan. Namun, ada hal yang harus diperhatikan. Anda tetap harus menghormati dan tidak mengganggu kelangsungan para umat Hindu yang tengah beribadah di dalam pura ini.

Pura ini merupakan pura paling besar di Kota Denpasar. Pura ini dibangun dengan posisi menghadap ke barat ke arah Gunung Agung. Dipercaya bahwa Gunung Agung adalah istananya para dewa. Pura Agung Jagatnatha dibangun sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Pada Maret 2023, Pura Agung Jagatnatha mengalami renovasi. Perbaikan itu meliputi sosok, warna, material bangunan yang terdiri dari penyengker, bale gedong simpen, bale pesantian, bale pepelik, bale pawedan, bale gong, bale pengunggangan, bale kulkul, kori agung, candi bentar. Warna dasar bangunan pura kini memakai batu merah kelas satu dari Tulikup, Kabupaten Gianyar, sehingga berwarna dominan merah. Merah merupakan warna pelambangan Bhatara Brahma.

Renovasi dilakukan untuk mengembalikan arsitektur pura ke gaya bebadungan yakni arsitektur khas Kota Denpasar. Hanya khusus bangunan Padmasana tetap dibiarkan utuh seperti semula karena memiliki nilai historis. Dengan direnovasi ini, pemerintah Kota Denpasar merancang kekuatan fisik Pura Agung Jagatnatha dapat bertahan hingga 100 tahun.

 

Keunikan Museum Sidik Jari Denpasar: Mengenal Seni Lukis dengan Jari

Ini dia salah satu museum unik di Kota Denpasar yang sangat sayang dilewatkan. Sesuai namanya, Namanya mungkin terdengar aneh di telinga. Tapi, ketika Anda berkunjung ke lokasi ini akan dibuat terkesima dengan koleksi yang ada di museum yang berlokasi di jalan Hayam Wuruk Nomor 175, Tanjung Bungkak.

Museum Sidik Jari menampilkan hasil karya seni lukis dengan teknik melukis yang cukup unik, menggunakan kelihaian imajinasi melalui jari telunjuk berupa totol-totolan warna dasar di atas permukaan kanvas, dan menghasilkan hasil karya seni yang unik, indah dan spektakuler. Pemiliknya adalah Gede Ngurah Rai Pemecutan yang sekaligus sebagai pelukisnya. Beliau meurpakan cucu dari Pahlawan Nasional asal Bali I Gusti Ngurah Rai.

Teknik melukis dengan sidik jari ini sebenarnya ditemukan secara sengaja, pada saat beliau melukis dengan tema tari Baris, pada tanggal 9 Juli 1967, namun lukisan tersebut tidak kunjung selesai seperti harapan, sehingga membuat Bapak Gede Ngurah Rai Pemecutan menjadi kesal, beliau berusaha merusak lukisan yang tidak kunjung selesai tersebut dengan menempelkan ujung jari-jemarinya yang berlumuran cat di permukaan kanvas, disinilah muncul ide dan inspirasi untuk membuat lukisan dengan ujung jari telunjuk tidak menggunakan kuas lagi.

Metode Lukis yang ditemukan oleh Gede Ngurah Rai Pemecutan ini pernah mengantarkannya meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI), sebagai pelopor tekhnik melukis dengan jari dan mengkoleksi lukisan sidik jari terbanyak. Museum ini sekarang menyimpan sebanyak 640 lukisan karya dari Gede Ngruah Rai Pemecutan. Tujuan dari bapak Gede Ngurah Rai Pemecutan untuk membangun museum Sidik Jari Denpasar, sebagai tempat untuk memajang aneka koleksi lukisan hasi karyanya, serta memajang puisi hasil karyanya yang ditulis diatas batu.

Di museum lukisan Sidik Jari Denpasar, pengunjung tidak hanya dapat melihat lukisan dan puisi saja, melainkan pengunjung yang ingin mendalami budaya Bali terutama seni tari Bali dapat belajar disini. Di museum ini diadakan kursus seni tari Bali, kursus melukis, kursus seni musik Bali dengan pengajar profesional. Keren kan mengetahui apa dan bagaimana berdirinya Museum Sidik Jari? Jadi tunggu apa lagi, segera kunjungi museum ini.

Pesona Mural Pasar Badung: Mengubah Wajah Pasar Tradisional dengan Sentuhan Seni Modern

Bagi penyuka seni dan pengguna media sosial, tempat ini pantang untuk dilewatkan. Mural Pasar Badung. Jangan mengira pasar hanya tempat pembeli dan penjual. Di Pasar Badung, Anda dapat menemukan berbagai mural bertebaran di tembok dinding pasar terbesar di Bali ini. Mural-mural tersebut dibuat pada tahun 2019 silam paska renovasi akibat kebakaran. Posisinya ada di gerbang, di lift, sekitar kios, ruang tunggu bahkan sampai di kamar mandi ada. 

Jika tidak puas dengan mural-mural tersebut, cobalah untuk melihat sisi timur pasar. Di sini terdapat mural raksasa yang digambar di kanvas tembok berukuran 308 meter persegi. Gambarnya pun atraktif dan menarik. Hampir seluruhnya gambar yang ditampilkan berupa pesan ajakan kepada masyarakat agar bangga berbelanja dan berjualan di pasar tradisional dengan kemasan modern seperti yang ada di Pasar Badung.

Ornamen kreatif ini bertujuan menjadikan Pasar Badung sebagai inspirasi bagi pasar tradisional lain di seluruh Bali bahkan Indonesia. Pembuatan mural ini melibatkan sebanyak 30 kreator muda dari Sekolah Tinggi Desain (STD) Bali. Sekaligus upaya mengubah persepsi apabila pasar tradisional hanya lokasi bertemunya penjual dan pembeli. Karena di Pasar Badung, wisatawan pun juga bisa berkunjung.

Oh iya, jangan lupa jam berapapun Anda bisa berkunjung melihat dan mengabadikan mural-mural di Pasar Badung. Karena pasar ini buka 24 jam. Dikarenakan merupakan pasar terbesar di Bali dan berbagai pasokan barang yang diperjualbelikan di Bali akan dimulai dari pasar ini.  Hanya tutup ketika Hari Raya Nyepi.

Pasar Seni Kumbasari: Pusat Kerajinan Seni dan Souvenir Bali yang Terjangkau

Penyuka produk kesenian wajib tahu Pasar Seni Kumbasari. Jauh sebelum adanya pusat oleh-oleh yang terkenal, pasar ini adalah tujuan wajib wisatawan saat ingin mencari oleh-oleh barang kesenian bagi sanak famili. Sampai sekarang pasar Seni Kumbasari masih tetap eksis dan layak untuk dikunjungi.

Lokasinya ada di sisi barat Pasar Tradisional Badung, tepat di Kawasan Heritage Gajah Mada. Dengan Pasar Badung hanya dipisahkan oleh Sungai “Korea” Tukad Badung. Pasar yang sudah mengalami tiga kali tahapan revitalisasi ini disebut sebagai pasar seni satu-satunya di Kota Denpasar. Pasar Kumbasari dibangun pada tahun 1977, pernah mengalami kebakaran pada tahun 2000, kemudian dilakukan renovasi dan pada tahun 2001 dibuka kembali.

Bangunanya cukup luas karena berdiri di atas lahan seluas 6.230 meter persegi. Adapun bangunannay terdiri dari lima lantai. Namun, hanya 4 lantai diperuntukkan bagi pedagang produk kesenian. Sedangkan satu lantai diperuntukkan bagi pedagang kebutuhan pokok dan piranti upacara keagamaan.

Pada lantai 2 pasar seni Kumbasari khusus menjual beraneka macam jenis pakaian, seperti pakaian adat Bali seperti udeng, kain dan destar, ditawarkan juga bed cover, sarung pantai, serta beraneka jenis tenun hasil kerajian Bali. Di lantai 3 gedung pasar seni Kumbasari, menjual beraneka macam jenis lukisan, patung, ornamen Bali seperti ukiran, sepatu, sandal, sampai tas wanita. Pada lantai 4, berbagai jenis kerajinan, pernak-pernik untuk souvenier seperti kerajinan dari bahan kerang, kertas dan beberapa juga hasil kerajinan luar Bali.

Belum banyak yang mengetahui jika keberadaan pasar ini sangat vital. Karena merupakan pusat grosir yang memasok produk-produk untuk pedagang seni seperti di Sanur, Kuta, Canggu sampai Ubud. Tidak banyak masyarakat mengetahui tentang ini. Karena rerata pedagang disini langsung mengambil dari produsen seni kerajinan di pelosok daerah.

Adapun produk kerajinan yang dijual di Pasar Seni Kumbasari sangat bervariasi. Mulai dari kerajinan kuningan, keramik, kaca, rotan sampai kerajinan kayu tersedia semua. Informasi terpenting lainnya yang sangat jarang disadari oleh wisatawan tentang pasar seni ini adalah soal harga. Jangan kaget ketika berbelanja disini, harganya jauh lebih murah dibandingkan di pusat oleh-oleh. Karena, produk yang dijual disini dijual secara grosiran jadi tentu saja jauh lebih murah.

Bagi Anda yang tahu informasi soal murah ini, tidak ada salahnya mencoba kesini. Satu lagi, harganya bisa negoisable seperti umumya di pasar-pasar tradisional. Sudah begitu, lokasinya sangat mudah dijangkau.

narasi-pembangunan-kampung-kuliner-serangan-docx-google-docs

Pembangunan Kampung Kuliner Serangan

Desa Serangan di Denpasar, Bali, yang dikenal dengan keindahan alam dan warisan budayanya, kini sedang membangun proyek unggulan yaitu Pembangunan Kampung Kuliner Seafood Serangan, pemerintah berupaya menciptakan destinasi wisata kuliner baru yang terletak di Jl. Tukad Pekaseh No.2, Serangan, Denpasar Selatan. Proyek ini berfokus pada penyediaan fasilitas kuliner berbasis makanan laut yang khas dengan nuansa lokal.
Proyek ini berlokasi di lapangan I Wayan Bulit, Serangan, yang dibangun di lahan dengan mempunyai luas lapangan = 21,190 m2 dan luas lahan BTID = 2,420 m2. Didukung penuh oleh Dinas Pariwisata Kota Denpasar sebagai pemberi tugas. Dengan dibantu Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik 2024 yang disalurkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, pembangunan ini akan mengoptimalkan fasilitas fisik untuk mendukung keberlangsungan wisata kuliner di Serangan.
Proyek ini melibatkan beberapa pihak ahli, termasuk PT. TATA RENCANA HIJAU sebagai konsultan perencana dan CV. BINA BWANA WISESA sebagai konsultan pengawas, dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana PT. MEGAH TAMA PERKASA dengan nilai kontrak sebesar Rp 5.204.246.761,00. Pembangunan ini direncanakan berlangsung selama 180 hari kalender dari 14 Juni hingga 10 Desember 2024, di mana setiap tahapannya diawasi dengan ketat untuk memastikan hasil yang optimal.

Pengembangan Kampung Kuliner Serangan merupakan bagian dari tiga program unggulan yang dirancang untuk meningkatkan potensi Desa Serangan secara menyeluruh. Program pertama adalah penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kelembagaan desa, di mana pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal agar mampu mengelola potensi wisata secara efektif, sekaligus memperkuat kelembagaan desa agar masyarakat terlibat aktif dalam pengelolaan kampung kuliner. Program kedua adalah memformulasikan branding, paket kegiatan, dan promosi desa wisata, yang berfokus pada pengembangan branding Desa Serangan sebagai destinasi kuliner yang khas, didukung oleh promosi intensif melalui media sosial dan kampanye pemasaran, serta kolaborasi dengan travel influencer. Selain itu, paket wisata kuliner yang dirancang akan memberikan pengalaman lengkap yang mencakup wisata kuliner, budaya, dan alam. Program ketiga adalah 55 rencana aksi yang mencakup berbagai aspek pengembangan desa, seperti peningkatan infrastruktur, pelatihan SDM, dan pengembangan produk wisata, yang semuanya bertujuan untuk memaksimalkan potensi wisata dan ekonomi Desa Serangan. Pembangunan Kampung Kuliner Seafood Serangan mencakup berbagai fasilitas penting, seperti pembangunan 14 bangunan dan 28 kios kuliner yang akan menjadi tempat bagi pedagang lokal untuk menawarkan hidangan seafood serta makanan khas Bali. Plaza Kuliner dirancang sebagai pusat kegiatan sosial dan rekreasi, di mana pengunjung dapat menikmati suasana santai sambil mencicipi berbagai hidangan. Selain itu, fasilitas toilet umum juga dibangun untuk memastikan kenyamanan pengunjung, dengan kebersihan dan standar fasilitas yang baik. Sebanyak 16 unit gazebo disediakan di sekitar area kuliner untuk tempat bersantai yang nyaman, didukung oleh area parkir yang memudahkan akses pengunjung. Infrastruktur pendukung seperti rumah STP dan resapan, serta tandon air bawah tanah (Ground Water Tank), berperan penting dalam menjaga pengelolaan air dan kebersihan lingkungan. Sebagai tambahan, 64 unit bangku taman tersebar di area plaza dan taman untuk menambah kenyamanan pengunjung selama menikmati suasana kuliner di Serangan.

Proyek Kampung Kuliner Seafood Serangan memanfaatkan dana DAK Fisik 2024 dengan total anggaran sebesar Rp 5.204.246.761,00 yang mencakup berbagai aspek penting dalam pembangunan infrastruktur kampung kuliner. Dana ini digunakan untuk penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMKK) sebesar Rp 18.640.000,00, pekerjaan persiapan senilai Rp 436.623,97, serta pembangunan inti berupa 14 bangunan dan 28 kios kuliner dengan anggaran Rp 1.637.899.041,95, di mana kios-kios tersebut akan diisi oleh pedagang yang menawarkan kuliner khas Bali dan Serangan. Selain itu, pembangunan plaza kuliner sebesar Rp 1.767.823.405,96, toilet senilai Rp 443.690.627,97, serta 16 unit gazebo dengan anggaran Rp 399.699.204,80 disiapkan untuk kenyamanan pengunjung. Fasilitas pendukung lainnya termasuk area parkir A sebesar Rp 106.424.186,73, rumah STP dan resapan sebesar Rp 72.450.829,52, Ground Water Tank (tandon air bawah tanah) senilai Rp 63.236.431,05, serta 64 unit bangku taman dengan total Rp 178.210.244,42. 

Namun, proyek ini menghadapi keterbatasan anggaran sehingga pemerintah memanfaatkan dana CSR sebesar Rp 2.599.991.078,00 dari perusahaan swasta untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan penting. Dana CSR tersebut digunakan untuk penerapan SMKK Rp 25.643.650,00, pekerjaan persiapan Rp 552.056,28, pembangunan pergola kayu Rp 468.000.000,00, softscape (penataan area hijau) Rp 11.900.000,00, meja taman Rp 54.000.000,00, meja gazebo Rp 6.400.000,00, service area Rp 238.000.000,00, peningkatan daya listrik Rp 139.521.228,00, pengadaan alat kios kuliner Rp 1.124.676.000,00, pembangunan bak sampah Rp 145.345.492,55, serta signage sebesar Rp 128.295.877,68 untuk membantu pengunjung menemukan area penting di kampung kuliner.

 

Menampilkan Warisan Bali: Keajaiban Tari Barong dan Keris oleh Sekaa Barong and Keris Sari

Nah, ini salah satu kesenian yang sangat lazim ditemui di Kota Denpasar, yakni tari Barong dan Keris. Salah satu pegiatnya adalah Sekaa Barong and Keris Sari, yakni kelompok pariwisata budaya di Bali, Indonesia yang berfokus pada pelestarian dan pameran seni dan budaya tradisional Bali. Kelompok ini berdedikasi untuk mempromosikan keindahan dan pentingnya warisan budaya Bali melalui pertunjukan dan kegiatan mereka.

Sekaa Barong and Keris Sari mengkhususkan diri dalam dua elemen budaya penting, yaitu tari Barong dan tari Keris. Tari Barong adalah tarian tradisional Bali yang menggambarkan pertempuran abadi antara kebaikan dan kejahatan. Tarian ini menampilkan makhluk mitologi besar yang disebut Barong, yang mewakili kebaikan, dan makhluk mirip iblis yang disebut Rangda, yang mewakili kejahatan. Tarian ini disertai dengan musik yang enerjik dan kostum yang berwarna-warni, memukau penonton dengan gerakan yang energik dan alur cerita yang dramatis.

Tari Keris, di sisi lain, memamerkan senjata tradisional Indonesia yang dikenal sebagai keris. Tarian ini melibatkan gerakan yang lancar dan anggun, yang melambangkan keindahan dan presisi keris. Biasanya, tarian ini ditampilkan sebagai tarian solo, disertai dengan musik gamelan tradisional.

Sekaa Barong and Keris Sari aktif berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata budaya, termasuk pertunjukan di berbagai tempat dan acara. Mereka berkontribusi dalam mempromosikan seni dan budaya Bali dengan menampilkan keterampilan dan bakat mereka kepada penonton lokal dan internasional. Pertunjukan mereka sering menarik wisatawan yang tertarik untuk merasakan tradisi budaya kaya Bali.

Selain pertunjukan mereka, Sekaa Barong and Keris Sari juga terlibat dalam kegiatan pendidikan. Mereka menyelenggarakan lokakarya dan sesi pelatihan untuk mengajarkan generasi muda tentang tarian tradisional dan signifikansi budayanya. Dengan meneruskan pengetahuan dan keterampilan mereka, mereka memastikan kelangsungan warisan budaya Bali bagi generasi mendatang.

Selain itu, Sekaa Barong and Keris Sari secara aktif bekerja sama dengan kelompok budaya dan organisasi lain untuk mempromosikan pertukaran budaya dan kerja sama. Mereka berpartisipasi dalam festival, pameran, dan acara budaya baik secara lokal maupun internasional, mewakili tradisi artistik yang hidup di Bali.

Melalui dedikasi dan komitmen mereka, Sekaa Barong and Keris Sari berkontribusi dalam pelestarian dan promosi pariwisata budaya Bali. Mereka memainkan peran penting dalam memamerkan warisan artistik yang kaya di Bali, menarik wisatawan dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan dan keunikan seni dan budaya Bali.