Tari Baris Cina Di Pura Kesumajati Semawang

Gerakan tarinya menyerupai gerakan-gerakan pencak silat. Pakaian yang dikenakan para penari serupa dengan para saudagar yang berasal dari Cina di zaman itu. Gong Bheri mengiringi. Gong ini merupakan flat gong (gong datar) banyak ditemukan sebagai alat musik di Cina. Meski serupa gerakan bela diri, tarian ini masuk dalam tari sakral.

Cerita tarian ini berasal dari masyarakat setempat secara turun temurun. Tarian tersebut berasal dari Ida Ratu Tuan yang tedun (trance) yang berbicara menggunakan logat Cina. Karenanya, tarian itu bernama Baris Cina.

Pementasannya ada di Pura Kesumajati, Semawang. Pura Kesumajati terletak di Banjar Semawang, Desa Adat Intaran, Kelurahan Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, ini merupakan pura dengan sebutan Linggih Ida Ratu Tuan. Sakral karena tariannya hanya dipentaskan ketika upacara piodalan pura.

Pada 10 Oktober 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun mencatatkannya sebagai obyek warisan budaya tak benda (intangible heritage). Pencatatannya bersamaan dengan Tari Baris Cina Renon.

Para peneliti belum menemukan adanya prasati atau sejenisnya yang melatarbelakangi cerita masyarakat mengenai tari Baris Cina ini. Belum ditemukan data tertulis berupa prasasti yang menyebutkan tentang penciptaan maupun penyebutan nama Baris Cina sebagai tarian.

Mengenai Gong Beri penyebutannya muncul pada Tugu Prasasti (jaya stmbha) Blanjong berangka tahun Śaka 835 (913 Masehi) yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmmadewa dengan kata bheri. Penduduk yang semula hidup di pesisir pantai Blanjong dan Semawang Sanur tentunya sudah banyak berhubungan dengan para pedagang-pedagang yang datang berdagang terutama saudagar asal Cina. Tarian maupun gong ini memungkinkan sebagai cerminan akulturasi di kala itu.

Unsur-unsur budaya Cina yang ditampilkan itulah yang membedakannya dengan Tari Baris ritual lainnya. Kedekatan hubungan budaya Bali dan Cina sudah berlangsung dalam berbagai segi kehidupan. Proses akulturasi budaya Bali dan Cina seperti kehadiran Tari Baris Cina ini, juga terjadi di tempat lain, seperti penggunaan uang kepeng Cina dalam sarana banten, dan adanya istilah patra cina dalam motif-motif ukiran Bali.

Menurut keyakinan masyarakat penyungsung, Baris Cina ini merupakan perwujudan dari Ida Ratu Tuan yang diiringi dengan Gong Bheri. Secara fungsi, tarian ini tergolong dalam tari wali (sakral) yang ditarikan ketika sedang berlangsung upacara piodalan di pura-pura. Pura-pura itu adalah berada di Banjar Semawang maupun Desa Adat Intaran. Yakni, di antaranya Pura Cemara Geseng, Pura Ketapang Kembar, Pura Giri Kusuma, Pura Dalem Pengembak, Pura Bengkel, Pura Kedaton, dan Pura Desa Kelandis.

Penyungsung Ida Ratu Tuan Baris Cina ini adalah sebagaian besar masyarakat Banjar Semawang Desa Adat Intaran Sanur yang memiliki kepercayaan kuat terhadap keberadaan Ida Ratu Tuan yang di sungsung secara turun-temurun. Upacara piodalan di Pura Kesumajati sebagai Linggih Ida Ratu Tuan dan Gong Bheri dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu pada hari Saniscara Wuku Wayang (Tumpek Wayang).

Baris Cina juga ditarikan untuk upacara Bhuta Yadnya di pura-pura ataupun di catus patha desa,  juga dipentaskan untuk upacara Manusa Yadnya, seperti membayar kaul (naur sesangi). Mereka meyakini dan telah membuktikan bahwa Baris Cina memiliki kekuatan magis dan kekuatan untuk melindungi masyarakat penyungsungnya, serta mengabulkan permohonan yang betul-betul tulus ikhlas.

Pasukan Tari Baris Cina ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Baris Selem (Baris Hitam) dan Baris Putih. Kelompok Baris Selem memakai kostum hitam dengan slempot, yaitu kain putih yang diikatkan di pinggang, sedangkan Baris Putih memakai kostum putih dengan slempot hitam.

Rangkaian menarikan Baris Cina, pertama, upacara pemedek, yang diikuti oleh seluruh masyarakat penyungsung, penari, penabuh, pemangku, sadeg, pepatih duduk di jeroan pura. Tujuannya adalah untuk memohon ijin kepada Ida Ratu Tuan bahwa mereka akan mementaskan Tari Baris Cina. Selanjutnya, kedua,  mempersembahkan banten penyambleh terdiri dari daksina, anaman kelanan, soda kepelan, rayunan, canang gantal, canang sari, tepung tawar, kawas, segehan, arak-berem, toya anyar, pitik selem atau putih untuk pelengkap segehan.

Ketiga, berlanjut dengan penampilan tari Baris Selem sebagai pembuka, kemudian semua penari Baris Selem duduk di depan gamelan Gong Bheri, yang kemudian dilanjutkan dengan tarian Baris Putih.

Pada rangkaian keempat, upacara nuwur, terjadi dialog antara panyungsung dengan yang disungsung melalui sadeg yang trance, saat inilah keluar bahasa dan logat Cina dalam berkomunikasi. Penutupnya berupa upacara panyimpenan. Upacara ini  merupakan bagian penutup yang kembali melakukan persembahan sesajen dan tetabuhan arak berem, memohon agar Ida Ratu Tuan kembali berstana di palinggihnya.

Pura Susunan Wadon

Perjalanan wisata warisan budaya Pura Susunan Wadon ini sekitar setengah kilometer ke timur dari Pura Dalem Sakenan. Menurut pemangku pura, Jero Mangku Nengah Sudira, masih memiliki kaitan erat dengan Pura Dalem Sakenan. Perwujudan yang disucikan/dimuliakan di Pura Susunan Wadon adalah Ida Bhatari Istri sebagai pasangan dari Ida Bhatara Lanang yang bersthana di Pura Dalem Sakenan.

Kisah pura

Pura Susunan Wadon

Konon katanya karena dimadu atau beristri lagi, Ida Bhatari Istri Susunan Wadon marah kepada Ida Bhatara Lanang Dalem Sakenan. Beliau tak mau lagi bertemu muka dengan Ida Bhatara Lanang Dalem Sakenan sebagai suaminya.

Hal ini menjadi alasan mengapa candi prasada linggih Ida Bhatara Lanang Dalem Sakenan menghadap ke barat, sedangkan candi prasada linggih Ida Bhatari Istri Susunan Wadon menghadap ke timur.

Cerita lain, setelah Dang Hyang Nirartha selesai membangun Pura Dalem Sakenan di Pulau Serangan, perjalanannya dilanjutkan ke arah timur dengan menemukan tempat suci sebagai sthana Bhatari Durga. Beliau pun bersemedi.

Dalam samedinya bersabdalah Bhatari Durga, dengan menyarankan sebelum moksa agar Dang Hyang Nirartha terlebih dahulu menjadi penguasa (raja) Bali. Namun ditolaknya.

Akhirnya Bhatari Durga memberi petunjuk untuk mencapai moksa agar pergi ke arah barat daya, tempat bersthananya Dewa Rudra (Pura Uluwatu). Sebelum meninggalkan tempat suci itu kemudian Dang Hyang Nirartha bersama penduduk disana membangun pura yang kemudian diberi nama Pura Susunan Wadon. Kata wadon berarti perempuan yang dalam hal ini dikaitkan dengan tempat pemujaan Bhatari Durga sebagai sakti.

Pura Susunan Wadon termasuk sebagai pura Dang Kahyangan di Bali, dan upacara piodalannya dilaksanakan setiap 210 hari, yaitu pada hari Redite (minggu) Umanis, Wuku Kuningan (hari raya Umanis Kuningan). Dang Kahyangan yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk kebesaran jasa-jasa seorang pendeta guru suci (dang guru), yakni Mpu Kuturan dan Danghyang Nirartha (Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh). Pura Susunan Wadon juga sebagai pura Kahyangan Jagat Bali.

Pura Susunan Wadon

Bangunan paras dan pembagian halaman

Struktur Pura Susunan Wadon posisinya jika dilihat dari pintu masuknya menghadap ke utara dengan terbagi atas tiga halaman. Yaitu, halaman dalam (utama mandala/jeroan), halaman tengah (madya mandala), dan halaman luar (nista mandala/jabaan).

Masing-masing halaman dibatasi dengan tembok keliling yang terbuat dari susunan batu gamping (kapur) atau disebut juga dengan paras tombong. halaman luar dengan halaman tengah dihubungkan dengan paduraksa berupa candi bentar, sedangkan halaman tengah dengan halaman dalam dihubungkan dengan paduraksa berupa candi kurung dan candi bentar.

Halaman dalam (utama mandala/jeroan) di dalamnya berdiri bangunan maupun arca  seperti Candi Prasada sebagai sthana Ida Bhatari Lingsir Dalem Susunan Wadon. Selain itu, ada dua Bale Tajuk, Palinggih Ratu Gede Dalem Nusa, Palinggih Ratu Gede Blembong, Bale Pasucian, Palinggih Ratu Pancer Jagat, Palinggih Ratu Dukuh Sakti, Palinggih Pengayatan Naga Basuki, Palinggih Pasimpangan Kepaon, Palinggih Ratu Niang, Bale Pamiyosan, Bale Santian, Bale Pesanekan, Bale Gong, Pasimpangan Ulun Danu, Bale Pangolahan, Pawaregan.

Ada pula sumur, dua arca nandi, dua arca dwarapala, dua arca punakawan, dua arca tokoh panji, dan arca tokoh laki-laki.

Kemudian pada halaman tengah (madya mandala) terdapat juga bangunan maupun arca seperti wantilan, Bale Kulkul, Palinggih Ratu Mas Jegeg, candi bentar, dan dua arca dwarapala.

Halaman luar (nista mandala/jabaan) yang berada di sisi utara merupakan halaman kosong yang dikelilingi tembok.

Candi dan arca dibangun pada periode Abad XV – XVI

1. Candi (Prasada) Gedong Ida Bhatari Lingsir Dalem Susunan Wadon

Tinggi                 : – cm

Panjang             : 367 cm

Lebar                  : 329 cm

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

2. Paduraksa Candi Bentar

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Paduraksa Candi Bentar ini terletak di tengah-tengah sebagai penyambung tembok antara halaman dalam (utama mandala/jeroan) dengan halaman tengah (madya mandala) pura.

3. Arca Nandi I

Tinggi               : 50 cm

Lebar                : 36 cm

Panjang            : 59 cm                     

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Nandi I ini diletakkan di bawah sebelah selatan depan kaki prasada. Dalam ikonografi Hindu Bali adalah binatang lembu sebagai wahana Dewa Siwa, yang diberinama warga setempat, Kebo Dongol.

4. Arca Nandi II

Tinggi              : 50 cm

Lebar               : 36 cm

Panjang           : 70 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Sama halnya dengan Arca Nandi I, Arca Nandi II. Bedanya, arca ini terletak di bawah sebelah utara depan kaki prasada.

5. Arca Dwarapala I

Tinggi               : 102 cm

Lebar                 : 37 cm

Tebal                  : 38 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala I ini diletakkan sebelah selatan depan prasada.

6. Arca Dwarapala II

Tinggi               : 101 cm

Lebar                : 31 cm

Tebal                 : 35 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala II ini diletakkan sebelah utara depan prasada.

7. Arca Dwarapala Bhatari I

Tinggi                 : 122 cm

Lebar                   : 53 cm

Tebal                    : 49 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala Bhatari I ini diletakkan sebelah barat depan candi bentar. Disebut dengan Dwarapala Bhatari, sebagai arca penjaga pintu berwujud perempuan menyeramkan.

8. Arca Dwarapala Bhatari II

Tinggi                   : 122 cm

Lebar                    : 48 cm

Tebal                     : 49 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala Bhatari II ini diletakkan sebelah timur depan candi bentar. Disebut dengan Dwarapala Bhatari, sebagai arca penjaga pintu berwujud perempuan menyeramkan.

9. Arca Tokoh Panji I

Tinggi                        : 69 cm

Lebar                         : 33 cm

 Tebal                         : 29 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Tokoh Panji I ini dapat dikenali dengan mahkota yang digunakan, yaitu gelungan pepanjian atau disebut juga keklopingan. Dalam dramatari Gambuh di Bali, Panji biasanya sebagai tokoh raja.

10. Arca Tokoh Panji II

Tinggi                : 72 cm

Lebar                 : 34 cm

Tebal                  : 32 cm                            

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Tokoh Panji II sama dengan arca Tokoh Panji I menggunakan gelungan pepanjian.

11. Arca Tokoh Kadean-kadean

Tinggi              : 81 cm

Lebar               : 30 cm

Tebal                : 32 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca ini merupakan tokoh Kadean-kaden, karena menggunakan mahkota gegelungan jejempongan. Kadean-kadean merupakan tokoh-tokoh patih dalam dramatari Gambuh di Bali.

12. Arca Twalen

Tinggi                  : 73 cm

Lebar                   : 40 cm

Tebal                    : 34 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Twalen ini merupakan tokoh punakawan sebagai penasehat dan sekaligus abdi raja.

13. Arca Mredah

 Tinggi              : 76 cm

Lebar                 : 29 cm

Tebal                  : 30 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Mredah ini juga merupakan tokoh punakawan. Mredah dalam pewayangan Bali merupakan pasangan ayahnya sendiri, yaitu Twalen sebagai penasehat dan sekaligus abdi raja.

Makam Kuno Bugis

Detail Bangunan Makam Kuno Bugis

Makam kuno Bugis ini terletak disebelah selatan Kampung Bugis. Nisan-nisan pada makam kuno Bugis ini beberapa tertera inskripsi kaligrafi yang menggunakan aksara arab maupun lontara yang menjelaskan nama, doa, dan tahun pemakaman. Mengenai tahun yang dipahatkan dalam nisan di situs makam kuno Bugis Serangan yang paling tua terpahat tahun 1269 Hijriah atau 1833 Masehi sampai dengan tahun 1335 Hijriah atau 1916 Masehi.

Alkulturasi makam Bugis dengan Bali, tercerimin pada pahatan pada nisan-nisannya. Motif-motif Bali, seperti pepatran maupun kekarangan yang meliputi simbar-simbar, padma, patra mesir, patra sari, dan patra cina ini dikombinasikan dengan pahatan gaya Bugis, seperti suluran tangkai daun kecil runcing secara vartikal, tulisan huruf lontara, dan juga kaligrafi Arab. Penelitian, Moh Ali Fadillah (1986) menghitung jumlah makam kuno di situs ini adalah 178 nisan. 

Detail Makam Puwak Metowa atau Puak Gede

Makam Puak Metowa atau Puak Gede

Makam ini berukuran besar dari makam lainnya. Masyarakat Bugis di Serangan, menceritakan ini merupakan makam tokoh Bugis, Puak Metowa atau Puak Gede. Gelar tersebut pemberian Raja Badung Cokorda Pemecutan III, sebagai penghormatan untuk kepala masyarakat Bugis di Serangan.

Bentuk makamnya menggunakan teknik susun, yaitu jirat berdiri dari balok-balok batu karang persegi yang disusun membentuk punden berundak semakin ke atas semakin mengecil. Tipe makam ini menyerupai seperti di kompleks makam raja-raja Watan Lamaru atau Tallo, di Sulawesi Selatan.

Pura Dalem Sakenan

Pura Dalem Sakenan

Cobalah Anda melancong ke Serangan, pulau kecil di pesisir perkotaan Denpasar, ketika umat Hindu Bali merayakan Kuningan. Pura Sakenan yang juga disebut sebagai Pura Kahyangan Jagat Bali ini ramai umat bersembahyang. Mereka menghaturkan puja dan puji pada Sang Hyang Widi Wasa serta Dewa-Dewa yang menyertai-Nya.

Pelaksanaan upacara piodalannya dilaksanakan setiap 210 hari, pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, Wuku Kuningan. Hari itu tepat perayaan Kuningan bagi umat Hindu Bali.

Prosesi perayaan Kuningan itu juga bersamaan dengan prosesi upacara piodalan Pura Dalem Sakenan.  Tak lupa, Anda tetap harus mengenakan baju adat madya Bali, meski hanya untuk berwisata menikmati pesona pesisir Serangan serta sejarah warisan budayanya saat prosesi upacara adat berlangsung.

Warisan dua pendeta

Warisan budaya kebendaan benda (tangible) di Pura Dalem Sakenan ini terkait dengan Lontar Usana Bali. Lontar tersebut berisi kisah Mpu Kuturan dan Mpu Rajakretaha, membangun Pura Sakenan. Ketika itu tengah memerintah Raja Sri Masula Masuli, sesuai temuan prasasti di Desa Sading, di tahun Śaka 1172 (1250 Masehi).

Pura Dalem Sakenan dalam lontar Dwijendra Tattwa yang menyebut Dang Hyang Nirartha  (setelah 1150 Masehi) sebagai pendeta Śiwa. Hal ini juga tercatat dalam Upadeśa menghubungkan singgahnya Dang Hyang Asthapaka (pendeta Budha) dengan. Keduanya berasal dari Majapahit yang berkunjung ke Bali, pada zaman Dalem Waturenggong berkuasa.

Babad Catur Brahmana menceritakan perjalanan Dang Hyang Nirartha meninggalkan Majapahit ke Bali dan memilih berkeliling pulau untuk ber-dharmaytra atau menyebarkan agama Hindu.

Kaitan dengan Pura Dalem Sakenan dalam Babad Catur Brahmana, bahwa Dang Hyang Nirartha meninggalkan Majapahit karena pesatnya perkembangan paham Islam dan adanya perselisihan dengan Raja Blambangan. Dang Hyang Nirartha merupakan putra dari Dang Hyang Samaranatha sebagai penganut agama Buddha.

Ia menikah dengan Dyah Kopala dan kemudian ikut menjadi penganut agama Śiwa. Dang Hyang Nirartha memiliki dua anak, yaitu Wiraga Sandhi dan Ida Ayu Swabhawa yang nantinya menurunkan Brahmana Kemenuh di Bali.

Meluasnya pengaruh Islam di Jawa hingga sampai di Daha membuat Dang Hyang Nirartha pergi ke Pasuruan dan di sana menikah dengan Diah Sanggawati, kemudian memiliki dua anak, yaitu Ida Wayahan Lor dan Ida Wiyatan yang nantinya menurunkan Brahmana Manuaba di Bali.

Selanjutnya, Dang Hyang Nirartha kemudian meninggalkan Pasuruan menuju Blambangan, menikah dengan adik Śri Juru memiliki tiga anak, yaitu Ida Rai Istri, Ida Putu Wetan, dan Ida Nyoman Kaniten yang nantinya menurunkan Brahmana Kaniten di Bali.

Ketika di Blambangan terjadi perselisihan dengan Raja Blambangan, sehingga membuat Dang Hyang Nirartha pergi menuju Bali. Sesampainya di pantai barat Bali menuju timur, berakhi di Desa Mas Gianyar, disana menikah lagi dengan anak Bendesa Mas yang kemudian menurunkan Brahmana Mas di Bali.

Perjalanan mulai dari Gelgel

Keberadaan Dang Hyang Nirartha di Bali sudah terdengar di Keraton Gelgel. Ketika itu pemerintahaan Dalem Waturenggong. Mengetahui kebesaran Dang Hyang Nirartha kemudian Dalem Waturenggong memerintahkan Ki Gusti Penyarikan Dauh Bale Agung untuk menjemputnya di Desa Mas. Kemudian, ia diangkat menjadi purohita (bhgawanta) kerajaan dan ditempatkan di Griya Mas dekat Keraton Gelgel.

Sekian lama akhirnya Dang Hyang Nirartha memohon diri untuk melaksanakan dharmayatra berkeliling Bali untuk mengajarkan ajaran agama Hindu.

Sampailah perjalanannya di Pulau Serangan. Ia pun takjub keindahan pulau yang dikelilingi lautan. Lalu, memutuskan membangun Pura Dalem Sakenan, bersanding dengan pura yang terlebih dulu dibangun oleh Mpu Kuturan.

Sakenan pun dikenal asal katanya adalah Śakya. Artinya, dapat langsung menyatukan pikiran.

Bersamaan dengan itu, Dang Hyang Asthapaka juga singgah saat melaksanakan dharmaytra agama Budha dari Doha. Ia pun mendirikan sebuah pura bernama Sakyana yang berarti Sakyamuni (Budha). Dan, bernama Sakenan sekarang ini.

Kedua pendeta tersebut mewarnai konsep penyatuan Siwa-Budha dalam perkembangan sejarah komplek peresembahyangan di Pura Dalem Sakenan.

Pura Dalem Sakenan termasuk sebagai pura Sad (Sat) Kahyangan dan pura Dang Kahyangan di Bali. Sad Kahyangan berkaitan dengan Sad Krttiloka, yaitu memuliakan hutan, kebun, lading, laut, danau, sawah, dan bumi. Pura juga menjadi Dang Kahyangan, berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk kebesaran jasa pendeta guru suci (Dang Guru).

 

Pura Dalem Sakenan

Secara struktur, Pura Dalem Sakenan posisinya menghadap ke barat dengan terbagi atas tiga halaman. Yaitu, halaman dalam (utama mandala/jeroan), halaman tengah (madya mandala), dan halaman luar (nista mandala/jabaan).

Masing-masing halaman dibatasi dengan tembok keliling yang terbuat dari susunan batu gamping (kapur) atau disebut juga dengan paras tombong. Halaman luar dengan halaman tengah dihubungkan dengan paduraksa berupa candi bentar, sedangkan halaman tengah dengan halaman dalam dihubungkan dengan paduraksa berupa candi kurung (kori agung).

Halaman dalam (utama mandala/jeroan) di dalamnya berdiri bangunan maupun arca  seperti Candi Prasada sebagai sthana Ida Hyang Dewa Bhaswarnna begitu juga Hyang Baruna, Hyang Sandijaya, Bhatara Rambut Sakenan, dan Bhatara Dang Hyang Nirartha.

Selain itu ada Bale Tajuk sebagai sthana Ida Bhatara Rambut Sedana Sakenan. Bale Tajuk ini tempat meletakkan sesajen. Bale ini juga ber sthana Ratu Tuan Kemedan Bhatara Surengrana, Ratu Tuan Kemedun Bhatara Jayengrana, Bale Penyimpenan, Bale Pesandekan Pemangku. Ada pula enam arca dwarapala, dan dua arca babi yang dipercaya sebagai peliharaan niskala Ida Bhatara Gunung Agung.

Kemudian pada halaman tengah (madya mandala) terdapat juga bangunan maupun arca seperti Bale Pawedan sebagai tempat sulinggih memimpin upacara. Lalu ada Bale Banten, Bale Panggungan untuk beristirahat, Bale Panggungan tempat menyimpan peralatan dapur, Bale Perantenan, Bale Tajuk sebagai sthana Bhatara Ratu di Sawang Dalem, dua arca dwarapala, dan dua arca Balagana.

Halaman luar (nista mandala/jabaan) yang berada di sisi barat merupakan halaman kosong.

Candi dan arca dibangun pada periode Abad XV – XVI

Candi (Prasada) Gedong Ida Bhatara Dalem Rambut Sakenan

batu gamping (karang laut) / paras tombong

Panjang                 : 535 cm

Lebar                      : 570 cm

Bangunan perlambang Gunung Mahameru sebagai pusat porosnya dunia.

Paduraksa Candi Kurung (Kori Agung)

Tinggi lubang pintu       : 237,5 cm

Lebar                                  :      83 cm

Tebal                                   :      90 cm   

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Paduraksa atau gapura ini difungsikan sebagai media transisi sebelum memasuki tempat yang paling suci, yaitu halaman utama mandala/jeroan. Hal ini disimbolkan dengan ornament kepala kala di atas ambang pintu masuk gapura yang memiliki arti bahwa umat ketika memasuki tempat suci diharapkan melepas ikatan waktu (kala) dan keduniawian.

Tembok

 Panjang keseluruhan       : 5200 cm

 Lebar                                     : 60 cm

 Tebal                                      : 150 cm    

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Tembok kuni menglilingi halaman utama dalam pura.

Arca Babi Jantan

Tinggi                     : 37 cm

Lebar                      : 26 cm

Panjang                 : 70 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca babi jantan dipercaya binatang peliharaan suci Ida Bhatara Gunung Agung.

Arca Babi Betina

Tinggi                     : 39 cm

Lebar                      : 20 cm

Panjang                 : 81 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca babi betina juga dipercaya binatang peliharaan suci Ida Bhatara Gunung Agung.

Arca Dwarapala I

Tinggi                       : 110 cm

Lebar                        : 50 cm

Tebal                         : 50 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala I ini diletakkan sebelah selatan pelataran menuju tangga prasada berdampingan dengan arca babi jantan.

Arca Dwarapala II

Tinggi                       : 117 cm

Lebar                        : 57 cm

Tebal                         : 59 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala II ini diletakkan sebelah utara pelataran menuju tangga prasada berdampingan dengan arca babi betina.

Arca Dwarapala III

Tinggi                      : 93 cm

Lebar                       : 51 cm

Tebal                        : 50 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala III ini diletakkan sebelah selatan depan Palinggih Bale Tajuk tempat sesaji banten.

Arca Dwarapala IV

Tinggi                     : 99 cm

Lebar                      : 50 cm

Tebal                       : 54 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala IV ini diletakkan sebelah utara depan Palinggih Bale Tajuk tempat sesajen.

Arca Dwarapala V

Tinggi                     : 77 cm

Lebar                      : 31 cm

Tebal                       : 33 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala V ini diletakkan sebelah selatan depan Palinggih Bale Tajuk Ida Bhatara Rambut Sedana Sakenan

Arca Dwarapala VI

Tinggi                       : 76 cm

Lebar                        : 29 cm

Tebal                         : 31 cm        

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala VI ini diletakkan sebelah utara depan Palinggih Bale Tajuk Ida Bhatara Rambut Sedana Sakenan

Arca Dwarapala Mahakala

Tinggi                            : 127 cm

Lebar                             : 49 cm

Tebal                              : 50 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala Mahakala ini diletakkan sebelah selatan depan paduraksa, berpasangan dengan Arca Dwarapala Nandiswara. Ikonografi Hindu Bali, kedua arca dwarapala ini bertugas untuk menjaga kuil Dewa Siwa.

Arca Dwarapala Nandiswara

Tinggi                         : 129 cm

Lebar                          : 48 cm

Tebal                           : 51 cm

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Dwarapala Nandiswara ini diletakkan sebelah utara depan paduraksa, berpasangan dengan Arca Dwarapala Mahakala. Keduanya, dalam ikonografi Hindu Bali, bertugas untuk menjaga kuil Dewa Siwa.

Arca Balagana I

Tinggi                       : 112 cm

Lebar                        : 44 cm

Tebal                         : 52 cm

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca ini dalam ikonografi Hindu Bali, sebagai pasukan perang Dewa Siwa yang dipimpin langsung oleh Dewa Ganesha, bala berarti pasukan, sedangkan gana merupakan nama lain Dewa Ganesha.

Arca Balagana II

Tinggi                        : 115 cm

Lebar                         : 48 cm

Tebal                          : 49 cm      

Batu gamping (karang laut) / paras tombong

Arca Balagana II bagian dari pasukan perang Dewa Siwa yang dipimpin langsung oleh Dewa Ganesha

Rumah Panggung Tradisional Bugis

Serangan memiliki warisan bangunan yang serupa dengan gaya tradisional muslim Bugis, Sulawesi Selatan. Satu bangunan rumah panggung tradisional Bugis di Serangan, menjadi harta warisan budaya yang masih mewakili sejarah di abad XVIII-XIX Masehi. Rumah panggung ini persis berhadapan dengan Masjid Assyuhada.

Kepala Lingkungan Kampung Bugis, Mohadi, menceritakan rumah panggung Bugis ini milik keturunan Makasar, Sulawesi Selatan, Haji Muhamad Taib. Bersama keluarganya membangun dan menetap di Pulau Serangan. Ia membantu Raja Badung, pada abad itu, mengalahkan Kerajaan Mengwi.

Saat ini, rumah ini milik atas nama Haji Muhamad Toha. Hanya saja, kondisinya memang sudah tidak seperti awalnya karena usia bangunan, meski sudah beberapa kali restorasi. Dan tak lagi ditempati.

Rumah ini mampu menampung hingga 10 kepala keluarga. Berdasarkan ukurannya, rumah panggung ini dapat dikelompokan ke dalam tipe soa piti, di Bugis atau taratak, di Makasar. Hanya saja rumah panggung di Serangan ini tidak memiliki atap bersusun dua.

Detail Rumah Panggung Tradisional Bugis 

Serangan memiliki warisan bangunan yang serupa dengan gaya tradisional muslim Bugis, Sulawesi Selatan. Satu bangunan rumah panggung tradisional Bugis di Serangan, menjadi harta warisan budaya yang masih mewakili sejarah di abad XVIII-XIX Masehi. Rumah panggung ini persis berhadapan dengan Masjid Assyuhada.

Kepala Lingkungan Kampung Bugis, Mohadi, menceritakan rumah panggung Bugis ini milik keturunan Makasar, Sulawesi Selatan, Haji Muhamad Taib. Bersama keluarganya membangun dan menetap di Pulau Serangan. Ia membantu Raja Badung, pada abad itu, mengalahkan Kerajaan Mengwi.

Saat ini, rumah ini milik atas nama Haji Muhamad Toha. Hanya saja, kondisinya memang sudah tidak seperti awalnya karena usia bangunan, meski sudah beberapa kali restorasi. Dan tak lagi ditempati.

Rumah ini mampu menampung hingga 10 kepala keluarga. Berdasarkan ukurannya, rumah panggung ini dapat dikelompokan ke dalam tipe soa piti, di Bugis atau taratak, di Makasar. Hanya saja rumah panggung di Serangan ini tidak memiliki atap bersusun dua.

Rumah Panggung Tradisional Bugis 

Serangan memiliki warisan bangunan yang serupa dengan gaya tradisional muslim Bugis, Sulawesi Selatan. Satu bangunan rumah panggung tradisional Bugis di Serangan, menjadi harta warisan budaya yang masih mewakili sejarah di abad XVIII-XIX Masehi. Rumah panggung ini persis berhadapan dengan Masjid Assyuhada.

Kepala Lingkungan Kampung Bugis, Mohadi, menceritakan rumah panggung Bugis ini milik keturunan Makasar, Sulawesi Selatan, Haji Muhamad Taib. Bersama keluarganya membangun dan menetap di Pulau Serangan. Ia membantu Raja Badung, pada abad itu, mengalahkan Kerajaan Mengwi.

Saat ini, rumah ini milik atas nama Haji Muhamad Toha. Hanya saja, kondisinya memang sudah tidak seperti awalnya karena usia bangunan, meski sudah beberapa kali restorasi. Dan tak lagi ditempati.

Rumah ini mampu menampung hingga 10 kepala keluarga. Berdasarkan ukurannya, rumah panggung ini dapat dikelompokan ke dalam tipe soa piti, di Bugis atau taratak, di Makasar. Hanya saja rumah panggung di Serangan ini tidak memiliki atap bersusun dua.

Tampak dari Atas Rumah Panggung Tradisional Bugis

Keterangan untuk foto rumah panggung atau peta dari atas.

Luas lahan                         : 21 x 15 m²

Panjang bangunan            : 1023 cm

Lebar bangunan                :   750 cm

Bahan                             : Kayu

Bagian rumah

Rumah panggung tradisional Bugis ini bentuknya mengikuti prinsip rancang bangun rumah-rumah Bugis – Makasar. Yaitu, fungsi dan bagiannya terbagi menjadi tiga.

Bagian atas dibawah atap disebut dengan rakkeang (bugis) atau pamarakkang (makasar). Fungsinya untuk menyimpan bahan makanan dan benda-benda pusaka.

Bagian tengah merupakan tempat tinggal penghuni disebut dengan alebele (bugis) atau kallo bela (makasar). Peruntukkannya yang dibagi beberapa bagian lagi, di antaranya kamar tidur, kamar tamu, dan dapur.

Bagian paling bawah disebut juga awase (bugis) atau passiringan (makasar). Tempat ini berupa kolong tanpa dinding. Mereka memfungsikan untuk menyimpan alat-alat pertanian dan kandang binatang. Ruang ini di Kampung Bugis digunakan untuk menyimpan perahu dan alat-alat menangkap ikan lainnya, sesuai mata pencaharian masyarakatnya sebagai nelayan.

Rancang bangunan rumah panggung tradisional ini ditopang dengan 18 buah tiang. Denahnya persegi panjang dengan orientasi arah timur-barat, tiang-tiang disusun menggunakan paku-paku kayu ataupun bambu, tangga kayu penghubung lantai satu dengan lantai dua berada di samping kanan depan menghadap ke barat dan kiri belakang menghadap ke timur.

Rumah panggung ini memiliki serambi depan dengan satu set meja dan tempat duduk dari kayu, lantai dua dibatasi dengan pagar yang terbuat dari kayu, memiliki empat pintu masuk, yaitu satu pintu utama di depan rumah menghadap ke barat, satu di ruang tengah penghubung ruang tidur, satu di kamar tidur bagain selatan, dan satu pintu di sebelah utara kamar tidur.

Atap rumah telah diganti dengan asbes, pinggir atap terdapat pola-pola hias dari kayu khas Bugis, dinding-dinding rumah sebagian besar terbuat dari anyaman bambu dan rakitan kayu untuk menyangga atapnya.