Prasasti Batujimbar

Prasasti Batu Jimbar, Banjar Betngandang, Desa Sanur Kauh, merupakan prasasti berupa lempengan-lempengan tembaga yang dibuat pada periode abad XII – XIV. Jumlah lempengannya tidak lengkap. Keberadaannya tersimpan di rumah Nyoman Sumariana. Meski tidak lengkap, jumlahnya yang tersimpan sebanyak enam lempeng, penelitian masih mampu menerjemahkan garis besar dari isi prasasti-prasasti menggunakan aksara Bali kuna dengan bahasa Jawa kawi. Penelitian membagi menjadi dua kelompok prasasti. 

Prasasti kelompok pertama, lempeng II, VI, VII, XIII, dan XIV , berisi kewajiban pajak bagi Karaman Indrapura. Pajak ini kaitannya mempunyai kewajiban melaksanakan pemujaan terhadap bhatara yang berstana di Bukit Tunggal. Hanya saja, prasasti ini belum bisa dipastikan pembuatannya  ketika pemerintahan atau kerajaan siapa karena tidak lengkapnya lempengan.Namun diperkirakan, prasasti ini diterbitkan oleh Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti yang memerintah di Bali sekitar tahun Caka 1055 – 1071 (1133 – 1149 Masehi). Mereka juga diperbolehkan menebang kayu larangan seperti kemiri yang menaungi sawah, rumah, balai tempat pertemuan dan pohon aren atau enau. Disebutkan juga sejumlah pejabat dan jabatannya seperti Samgat Caksu Karanakranta dijabat oleh Pangdudal, Mpungku Lokeswara dijabat oleh Dang Aacaryya Abhipura, Mpungkwing Canggini Dang Upadhayaya Widyottama, dan Samgat Mangirendiren Wadani dijabat oleh Sangkawiryya.

Selanjutnya, prasasti kelompok kedua hanya terdapat satu lempeng, lempeng III . Yaitu lempeng ini menyebutkan anugrah sebidang tanah cukup luas oleh pejabat yang bergelar Rsi Nara Rajapatih. Penganugerahan tanah tersebut disaksikan oleh para pejabat dan berisikan kutukan apabila ada orang yang berani melanggarnya. pejabat pejabat seperti Senapati Sarbwa, Senapati Wresanten, Senapati, Balmbunut, Senapari Manyiringan dan Manyuratang I Halu yang menyaksikan penganugerahan prasasti tersebut dimuat juga dalam Prasasti Cempaga C yang dikeluarkan oleh Raja Bhatara Sri Mahaguru pada tahun Caka 1246 (1334 Masehi), begitu juga dalam Prasasti Selumbung Karangasem yang dikeluarkan oleh Raja Bhatara Sriwijaya Kartaningrat dan ibundanya yang bergelar Paduka Tara Sri Mahaguru pada tahun Caka 1250 (1338 Masehi).

Ada tercantum batas-batasnya di timur panjangnya sama seperti yang dulu. Batas utara adalah sebelah barat desa Bangkyang Siddhi, sampai Kalkalan, Air Bakung dan Srimuka, ke utara lagi hingga Darawati batas dari Srimuka.

Sekaa Barong Eka Budhi

Sekaa Eka Budhi adalah sebuah kelompok budaya di Bali, Indonesia yang berdedikasi untuk melestarikan dan mempromosikan seni pertunjukan tradisional Bali. Kelompok ini berfokus pada berbagai bentuk seni, termasuk musik, tari, dan teater, dan memainkan peran penting dalam memperlihatkan warisan budaya Bali yang kaya.

Sekaa Eka Budhi terdiri dari para penampil yang sangat terampil yang telah menjalani pelatihan yang intensif dalam bidang seni masing-masing. Mereka telah menguasai teknik-teknik rumit, gerakan, dan ekspresi yang merupakan ciri khas seni pertunjukan Bali. Kelompok ini terdiri dari musisi, penari, aktor, dan seniman lain yang bekerja sama untuk menciptakan pertunjukan yang memukau dan menghadirkan pengalaman yang mendalam bagi penonton.

Salah satu tujuan utama Sekaa Eka Budhi adalah menjaga seni tradisional Bali tetap hidup dan relevan di era modern. Mereka mencapainya dengan secara teratur tampil dalam acara budaya, festival, dan upacara baik di Bali maupun di tempat lain di dunia. Pertunjukan mereka seringkali menampilkan kostum tradisional, musik yang enerjik, dan koreografi yang rumit yang memukau penonton dan membawa mereka masuk ke dalam dunia budaya Bali.

Sekaa Eka Budhi memiliki akar yang kuat dalam komunitas lokal dan aktif terlibat dalam kegiatan masyarakat. Mereka mengadakan lokakarya, sesi pelatihan, dan program pendidikan untuk menurunkan pengetahuan dan keterampilan mereka kepada generasi muda. Dengan melakukannya, mereka memastikan kelangsungan seni dan budaya Bali serta mendorong partisipasi para pemuda dalam melestarikan tradisi berharga ini.

Selain itu, Sekaa Eka Budhi berkolaborasi dengan kelompok budaya, institusi, dan seniman lainnya untuk mempromosikan pertukaran dan kolaborasi budaya. Mereka berkontribusi dalam pengembangan ekspresi seni inovatif dan kontemporer sambil tetap menghormati fondasi seni tradisional Bali. Melalui kolaborasi ini, mereka memperluas wawasan artistik mereka dan memperkaya pertunjukan mereka dengan gagasan dan pengaruh baru.

Sekaa Eka Budhi berperan sebagai duta budaya untuk Bali, mewakili tradisi artistik pulau ini dan memberikan sumbangsih dalam memperkuat reputasinya sebagai pusat pariwisata budaya. Dedikasi, semangat, dan komitmen mereka dalam melestarikan seni pertunjukan Bali telah mendapatkan pengakuan dan apresiasi baik secara lokal maupun internasional.

Sebagai kesimpulan, Sekaa Eka Budhi adalah kelompok budaya yang berusaha untuk melestarikan, mempromosikan, dan berinovasi dalam seni pertunjukan tradisional Bali. Melalui pertunjukan mereka, kegiatan pendidikan, dan kolaborasi, mereka memastikan kelangsungan warisan budaya Bali dan menginspirasi penonton

Sekaa Barong dan Keris Uma Dewi Budaya

Sekaa Barong Uma Dewi, juga dikenal sebagai Kelompok Tari Uma Dewi Barong, adalah kelompok seni pertunjukan tradisional di Bali, Indonesia. Kelompok ini mengkhususkan diri dalam tari Barong, sebuah bentuk tari Bali yang populer yang mengisahkan pertempuran abadi antara kebaikan dan kejahatan.

Uma Dewi Barong Dance Group berdedikasi untuk melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Bali yang kaya melalui pertunjukan mereka. Tari Barong, yang dianggap sebagai tari suci di Bali, sering kali dipentaskan dalam upacara keagamaan dan acara budaya penting.

Para anggota Sekaa Barong Uma Dewi adalah para penari yang sangat terampil yang telah menjalani pelatihan intensif dalam tari dan musik tradisional Bali. Mereka telah menguasai gerakan-gerakan rumit, isyarat, dan ekspresi yang khas dalam tari Barong.

Tari Barong itu sendiri menampilkan makhluk mitologis besar yang dikenal sebagai Barong, yang mewakili kebaikan, dan makhluk mirip iblis yang disebut Rangda, yang mewakili kejahatan. Tarian ini menggambarkan perjuangan abadi antara kedua kekuatan tersebut dan kemenangan akhir kebaikan atas kejahatan.

Selain pertunjukan mereka, Sekaa Barong Uma Dewi juga memainkan peran penting dalam komunitas lokal. Mereka aktif berpartisipasi dalam acara-acara komunitas dan bekerja sama dengan organisasi budaya lainnya untuk mempromosikan dan melestarikan seni dan tradisi Bali.

Melalui dedikasi dan semangat mereka, Sekaa Barong Uma Dewi telah mendapatkan pengakuan baik secara lokal maupun internasional. Mereka telah tampil dalam berbagai festival, pameran, dan pertukaran budaya, mewakili warisan artistik Bali yang bersemangat.

Keterlibatan anggota muda juga merupakan aspek penting dari kegiatan kelompok ini. Mereka berkomitmen untuk meneruskan tradisi dan pengetahuan tari Barong kepada generasi berikutnya, memastikan bahwa warisan budaya Bali terus berkembang.

Sekaa Barong Uma Dewi menjadi saksi hidup akan keindahan dan pentingnya budaya Bali. Pertunjukan mereka memukau penonton dengan gerakan-gerakan anggun, kostum yang berwarna-warni, dan musik yang memikat, memberikan sekilas tentang tradisi artistik yang kaya yang telah dihargai selama berabad-abad di Bali.

Sekaa Barong dan Keris Sari Wisata Budaya

Sekaa Barong and Keris Sari adalah kelompok pariwisata budaya di Bali, Indonesia yang berfokus pada pelestarian dan pameran seni dan budaya tradisional Bali. Kelompok ini berdedikasi untuk mempromosikan keindahan dan pentingnya warisan budaya Bali melalui pertunjukan dan kegiatan mereka.

Sekaa Barong and Keris Sari mengkhususkan diri dalam dua elemen budaya penting, yaitu tari Barong dan tari Keris. Tari Barong adalah tarian tradisional Bali yang menggambarkan pertempuran abadi antara kebaikan dan kejahatan. Tarian ini menampilkan makhluk mitologi besar yang disebut Barong, yang mewakili kebaikan, dan makhluk mirip iblis yang disebut Rangda, yang mewakili kejahatan. Tarian ini disertai dengan musik yang enerjik dan kostum yang berwarna-warni, memukau penonton dengan gerakan yang energik dan alur cerita yang dramatis.

Tari Keris, di sisi lain, memamerkan senjata tradisional Indonesia yang dikenal sebagai keris. Tarian ini melibatkan gerakan yang lancar dan anggun, yang melambangkan keindahan dan presisi keris. Biasanya, tarian ini ditampilkan sebagai tarian solo, disertai dengan musik gamelan tradisional.

Sekaa Barong and Keris Sari aktif berpartisipasi dalam kegiatan pariwisata budaya, termasuk pertunjukan di berbagai tempat dan acara. Mereka berkontribusi dalam mempromosikan seni dan budaya Bali dengan menampilkan keterampilan dan bakat mereka kepada penonton lokal dan internasional. Pertunjukan mereka sering menarik wisatawan yang tertarik untuk merasakan tradisi budaya kaya Bali.

Selain pertunjukan mereka, Sekaa Barong and Keris Sari juga terlibat dalam kegiatan pendidikan. Mereka menyelenggarakan lokakarya dan sesi pelatihan untuk mengajarkan generasi muda tentang tarian tradisional dan signifikansi budayanya. Dengan meneruskan pengetahuan dan keterampilan mereka, mereka memastikan kelangsungan warisan budaya Bali bagi generasi mendatang.

Selain itu, Sekaa Barong and Keris Sari secara aktif bekerja sama dengan kelompok budaya dan organisasi lain untuk mempromosikan pertukaran budaya dan kerja sama. Mereka berpartisipasi dalam festival, pameran, dan acara budaya baik secara lokal maupun internasional, mewakili tradisi artistik yang hidup di Bali.

Melalui dedikasi dan komitmen mereka, Sekaa Barong and Keris Sari berkontribusi dalam pelestarian dan promosi pariwisata budaya Bali. Mereka memainkan peran penting dalam memamerkan warisan artistik yang kaya di Bali, menarik wisatawan dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan dan keunikan seni dan budaya Bali.

Pasar Burung Satria

Pasar Burung Satria merupakan pasar burung terbesar di Bali. Obyek wisata para penghobi burung ini pada mulanya dikembangkan seorang tokoh Puri Satria, Cokorda Ngurah Mayun Samirana.

Letak pasar burung ini strategis, berdampingan dengan Puri Satria, pewaris langsung dari Puri Denpasar yang dihancurkan Belanda dalam perang Puputan Badung 1906. Kondisi puri yang hancur dan tak layak huni membuat para keturunan raja yang tersisa membangun puri baru bernama Puri Satria.

Kawasan sekitar puri ini berkembang salah satunya menjadi pasar burung ketika terjadi penggusuran Pasar Lila Buana sekitar 1980-an. Bagian lapangan di alun-alun depan puri difungsikan sebagai tempat penampungan pedagang, khususnya hewan peliharaan burung.

Area pasar burung di Jalan Veteran Denpasar ini pada mulanya hanya berukuran 6×15 meter yang dikelola lima kelompok pedagang. Sekarang areanya semakin meluas hingga ke seluruh jaba pura di Puri Satria atau separuh dari keseluruhan Puri Satria, sekitar setengah hektar.

Jenis burung yang dijual pun awalnya sebatas pipit, cerukcuk, dan kucica. Seiring perkembangannya medio 1991-2000, jenis yang diperjualbelikan kian beragam, seperti cucak rawa, perkutut, robin, jalak, burung-burung dari luar Jawa dan luar negeri, bahkan ditambah hewan lain, seperti ayam, kelinci, anjing, dan ikan hias. Kisaran harganya mulai dari sekadar puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Ni Made Yenny Purnama Sari dalam Jurnal Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menyebutkan Pasar Burung Satria pertama kali masuk ke dalam agenda wisata kota saat diresmikan Wakil Wali Kota Denpasar, I Ketut Robin pada 2000. Pasar burung ini kian tertata di mana 47 kios yang ada dilengkapi tembok permanen. Pada medio 2000-2012, prasarananya kian lengkap, seperti tempat penukaran uang (money changer), toilet umum, tempat parkir, dan warung makan.

Pasar Burung Satria tak hanya sebagai tempat transaksi jual beli burung. Deretan kios di sana juga menyediakan kebutuhan dan informasi terkait hewan peliharaan, mulai dari kandang, sangkar, akuarium, buku, majalah, tabloid, dan pernak-pernik hewan. Rata-rata pedagang menyediakan garansi bagi burung yang dibeli. Jika ada burung yang tak sehat, maka bisa dikembalikan.

Pedagang-pedagang di sini wajib menjaga ketertiban, terutama saat digelar upacara dalam puri. Mereka biasanya akan berhenti sementara berdagang sampai upacara selesai.

Wisatawan domestik dan mancanegara ramai berkunjung karena lokasi Pasar Burung Satria hanya berjarak 500 meter dari utara Lapangan Puputan Badung. Sebagian yang datang memang berniat membeli unggas-unggas cantik yang didominasi burung pengicau ini, sementara sebagian lain sekadar melihat atau menuangkan hobi fotografi.

Kicau merdu hewan bersayap ini memanjakan telinga siapa pun yang menghampirinya. Para pedagang ramah menyapa, bahkan tak segan berbagi ilmu tentang dunia perburungan.

Pasar Kumbasari

Pasar Seni Kumbasari adalah tujuan populer bagi wisatawan yang ingin membeli cinderamata unik dan karya seni tradisional Bali. Terletak di pusat keramaian Kota Denpasar, pasar ini menawarkan berbagai pilihan cinderamata dengan harga terjangkau yang dapat ditawar. Dengan sekitar 800 pedagang, Pasar Kumbasari di Bali beroperasi 24 jam sehari dan menarik minat wisatawan lokal maupun internasional, menjadikannya selalu ramai. Pengunjung tertarik dengan Pasar Kumbasari karena memiliki beragam barang yang memenuhi kebutuhan wisatawan yang beragam. Perlu dicatat bahwa Pasar Kumbasari beroperasi dalam dua sesi: di pagi hari, fokus pada penjualan kebutuhan sehari-hari, sementara pada sore dan malam hari, kios-kiosnya bertransformasi menjadi tampilan barang seni seperti lukisan, patung, aksesori, dan ornamen tradisional, semuanya tertata rapi.

Pasar Kumbasari di Badung didirikan pada tahun 1977 dan mengalami insiden kebakaran pada tahun 2000. Setelah kejadian tersebut, pasar ini direnovasi dan dibuka kembali sekitar tahun 2001, tetap mempertahankan pesonanya. Pasar ini memiliki empat lantai, dengan lantai dasar yang berisi kios-kios sembako. Mulai sekitar pukul 08.00 pagi, kios-kios di lantai dua hingga empat secara bertahap dibuka, dengan mayoritas menawarkan kerajinan Bali. Jika Anda tertarik dengan item fashion, Anda dapat menuju lantai dua, di mana Anda akan menemukan udeng (penutup kepala tradisional Bali), kain, sarung, dan selimut. Di lantai tiga, Anda akan menemukan berbagai patung, lukisan, ornamen Bali, serta sapu tangan dan tas wanita. Terakhir, lantai empat diisi dengan berbagai cinderamata souvenir, termasuk kerajinan yang terbuat dari kerang, kertas, dan barang-barang dari luar Bali.

Pasar Kumbasari terletak di Jl. Gajah Mada, Denpasar, bersebelahan dengan Pasar Badung, hanya dipisahkan oleh Sungai Badung.

Keramat Agung Pemecutan

Di Kota Denpasar terdapat sebuah makam seorang puteri muslim yang bernama Raden Ayu Siti Khotijah. Namanya di kalangan muslim tentu sangat familiar, walau berbeda penulisan dan pengucapannya, bahwa nama tersebut sama dengan nama istri Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah. Dari buku yang dijual di sekitar makam, Raden Ayu Siti Khotijah, yang punya nama asli Gusti Ayu Made Rai atau disebut juga dengan Raden Ayu Pemecutan ini adalah seorang putri dari Raja Pemecutan. Namun tidak jelas dari Raja Pemecutan yang mana.

Cerita awal sang Raden Ayu Pemecutan, seperti cerita legenda putri-putri keraton di seluruh nusantara. Sang putri terkenal cantik dan disayang hingga menjadi kembang kerajaan. Tak sedikit para pembesar kerajaan di Bali yang ingin meminang sang putri. Namun musibah datang, sang putri mengidap penyakit kuning. Raja Pemecutan berusaha untuk menyembuhkan sang anak kesayangan, namun tak berhasil menyembuhkan sang putri. Hingga Raja Pemecutan membuat sebuah sayembara yang bisa menyembuhkan penyakit sang putri, jika perempuan akan diangkat jadi anak raja dan jika laki-laki akan dikawinkan dengan Raden Ayu Pemecutan.

Kabar tentang sayembara ini terdengar oleh seorang ulama di Yogyakarta dan mempunyai seorang anak didik yang jadi raja di Madura yaitu Pangeran Cakraningrat IV. Ulama yang dalam buku Sejarah keramat Raden Ayu Pemecutan disebut Syech ini memanggil Pangeran Cakraningrat IV ke Yogyakarta untuk mengikuti sayembara tersebut. Raja Madura ini berangkat ke Bali, hasilnya dapat ditebak Raden Ayu Pemecutan dapat disembuhkan oleh Pangeran Cakraningrat IV.

Setelah sang putri sembuh, lalu Raden Ayu Pemecutan dan Pangeran Cakraningrat IV dikawinkan. Tentunya dalam perkawinan muslim, keduanya harus beragama Islam, Raden Ayu Pemecutan pun jadi mualaf dan bergelar Raden Ayu Siti Khotijah. Sang putri lalu di boyong ke Madura oleh Pangeran Cakraningrat IV.

Suatu ketika Raden Ayu  pulang ke Bali beserta 40 orang pengiring dan pengawal. Pangeran Cakraningrat IV memberikan bekal berupa guci, keris dan sebuah pusaka berbentuk tusuk konde yang diselipkan di rambut sang putri. Sesampainya di kerajaan Pemecutan, Siti Khotijah disambut dengan riang gembira. Namun, kala itu tidak ada yang mengetahui bahwa sang putri telah memeluk agama Islam. Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelinggihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah menjalankan persembahyangan (ibadah sholat maghrib) di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Kerudung). Ketika itu salah seorang Patih di Puri melihat hal tersebut. Para patih dan pengawal kerajaan tidak menyadari bahwa Puri telah memeluk islam dan sedang melakukan ibadah sholat. Menurut kepercayaan di Bali, hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam.

Akibat ketidaktahuan pengawal istana, ‘keanehan’ yang disaksikan di halaman istana membuat pengawal dan patih kerajaan menjadi geram dan melaporkan hal tersebut kepada Raja. Mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan areal pemakaman yang luasnya 9 Ha. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Siti Khotijah.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam, karena senjata tajam tak akan membunuhku. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih serta dililitkan dengan benang tiga warna, merah, putih dan hitam (Tri Datu), tusukan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka berikanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

 Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Peristiwa itu sangat mengejutkan para patih dan pengawal. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan belia . Jenazah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan. Pangeran 

Pasar Badung

Denpasar konsisten untuk merevitalisasi pasar-pasar tradisionalnya. Pasar Badung adalah salah satunya. Sejak terbakar pada tanggal 27 Februari 2016, tepat pada malam perayaan HUT Kota Denpasar, aktivitas Pasar Badung sempat direlokasi di eks Tiara Grosir, Jalan Cokroaminoto Denpasar. Kini Pasar Badung dibuka kembali dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 22 Maret 2019 dan menampung sekitar 1600 pedagang.

 

Pasar Badung merupakan pasar rakyat di Kota Denpasar yang beroperasi (market hours) selama 24 jam, dan telah menjadi pusat perekonomian masyarakat Kota Denpasar dan sekitarnya dari sejak jaman kerajaan dulu. Pasar Badung memiliki posisi bersebelahan dengan Pasar Kumbasari (sisi barat) dan dibelah oleh aliran Tukad Badung (Badung River) dengan jembatan penghubung di antara keduanya. Konon katanya, Tukad Badung menjadi lintasan ekspedisi Belanda yang bergerak menuju Puri Pemecutan dari Denpasar pada saat peristiwa Perang Puputan Badung, 20 September 1906.

 

Pasar Badung sendiri menyimpan perjalanan sejarah yang panjang, sebagai pusat perekonomian kerajaan Badung pada saat itu. Nama Denpasar sebagai pusat pemerintahan diambil dari kata den (yang berarti di sebelah utara) dan pasar (yang merujuk pada keberadaan pasar).

 

Pada tahun 1907, lokasi pasar Kerajaan Badung yang pada mulanya bertempat di Kantor Walikota (sekarang di Jalan Gajah Mada) dipindahkan agak ke barat (di lokasi Pasar Badung saat ini). Pada mulanya lokasi Pasar Badung adalah tempat kediaman orang-orang Jawa dan Madura. Karena tempat tersebut digunakan sebagai lokasi pasar, maka orang-orang Jawa dan Madura dialihkan lokasinya ke arah utara yaitu di Kampung Wonosari (Kampung Jawa sekarang). Oleh Pemerintah Kolonial Belanda di dalam lokasi Pasar Badung dibangun los-los pasar untuk para pedagang, sedangkan tempat-tempat di sekitar Pasar Badung, yaitu di Jalan Gajah Mada dan Jalan Sulawesi sekarang bermukim pedagang Cina, India dan Arab yang mata pencaharian utamanya adalah berdagang dan dengan cara membuka toko sebagai sebagai tempat untuk berjualan. Barang-barang yang diperdagangkannya adalah candu, tembakau, barang-barang perhiasan, dan barang-barang kelontong lainnya.

 

Selain sebagai tempat yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok, pasar juga merupakan tempat pertukaran kebudayaan. Pasar Badung telah menjelma menjadi ruang interaksi sosial antara masyarakat lokal dan pendatang. Ada transaksi tukar menukar dan jual beli hasil pertanian, barang kerajinan, perlengkapan upacara adat atau agama, dan industri rumah tangga.

 

Secara alami, Pasar Badung seperti memiliki dua waktu operasional, yaitu pagi dan malam. Pasar Badung pagi menjual berbagai kebutuhan rumah tangga sehari-hari, baik berupa kebutuhan pokok maupun kebutuhan upacara agama. Selain itu, pasar Badung juga menjadi daya tarik wisata yang menarik bagi wisatawan mancanegara, dan menjadi salah satu objek wisata City Tour di Kawasan Heritage Gajah Mada. Aktivitas pasar pagi berlangsung dari jam 05.00 – 17.00 Wita.

 

Sedangkan pada malam harinya, aktivitas pasar memanfaatkan pelataran parkir. Komoditas yang ditawarkan juga sama dengan pasar pagi, yaitu sayur-mayur, daging, sarana upacara agama (janur, bunga, buah), dan kuliner. Aktivitas pasar malam berlangsung mulai pukul 15.30 – 06.00 Wita.

 

Hal unik yang dapat dijumpai di Pasar Badung adalah keberadaan “tukang suun”, tukang angkut belanja bagi pembeli yang memborong barang dalam jumlah banyak. Tukang suun ini hampir seluruhnya perempuan, biasanya membawa keranjang bambu yang dijunjung di atas kepalanya. Anda dapat membayar 5-10 ribu rupiah untuk sekali angkut belanjaan.

 

Di samping itu, Anda juga dapat menikmati side riverwalk “Taman Kumbasari” yang cantik dengan hiasan lampu warna-warni dan berbagai mural paintings yang menarik. Di samping menikmati keindahan pemandangan tepi sungai, Anda juga dapat berswa foto”selfie” yang instagramable.

 

Jika Anda ingin berjalan lebih jauh lagi, anda dapat menyusuri Kawasan Heritage Gajah Mada, yang menyimpan berbagai nostalgia yang menginspirasi.

Pasar Sindhu

Sindhu Night Market, juga dikenal sebagai “Pasar Malam Sindu Sanur” di kalangan penduduk setempat atau kadang disebut “Sanur Night Market” oleh wisatawan asing, buka mulai pukul 18.00 WITA (Waktu Indonesia Tengah). Pasar ini mengkhususkan diri dalam menyajikan aneka hidangan kuliner tradisional yang disiapkan oleh pedagang kaki lima dengan harga yang terjangkau. Kamu bisa menemukan berbagai jajanan tradisional mulai dari Rp 3.000. Pasar ini menawarkan berbagai hidangan unggulan, termasuk mie ayam, bakso, nasi goreng, sate, gulai kambing, dan es buah segar yang menyegarkan.

Setiap malam, pasar ini ramai dengan kegiatan dan dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun internasional. Meskipun suasana ramai, pasar ini tidak terlalu penuh sehingga keluarga bisa menikmati berbagai hidangan kuliner yang ditawarkan. Pasar ini menjaga kebersihan, keteraturan, dan lingkungan yang aman bebas dari kejahatan. Bagi wisatawan Muslim, tidak perlu khawatir mencari makanan halal karena sebagian besar pilihan makanan yang tersedia terbuat dari bahan halal.

Sindhu Night Market terletak di Jl. Pungutan No. 2, Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali, Indonesia. Pasar ini berjarak sekitar 550 meter dari Pasar Sanur, 1,8 km dari Pantai Sanur, 7,9 km dari Kota Denpasar, dan 14,2 km dari Pantai Kuta. Dari Bandara Internasional Ngurah Rai, membutuhkan sekitar 30 menit perjalanan untuk mencapai Sindhu Night Market dengan jarak tempuh 15,7 km

Living World

Living World Denpasar tidak hanya pusat perbelanjaan tetapi juga merupakan tujuan populer bagi penduduk lokal Bali dan wisatawan yang mencari hiburan, pengalaman budaya, dan berbagai layanan. Mal ini dirancang dengan tema budaya Bali, termasuk gapura, air mancur, dan ornamen dekoratif. Arsitekturnya menggabungkan konsep ramah lingkungan seperti sistem hemat energi, panel surya, pencahayaan LED, dan pengelolaan air limbah yang diminimalkan untuk irigasi tanaman dan pengisian kolam.

Living World Denpasar menghadirkan merek-merek bisnis Kawan Lama Group seperti ACE, INFORMA, INFORMA Custom Furniture, INFORMA ELECTRONICS, Toys Kingdom, Pet Kingdom, ATARU, Pendopo, EYE SOUL, dan THYS, melayani kebutuhan furniture dan perbaikan rumah, gaya hidup, dan hiburan. Merek kuliner seperti Chatime Atelier, Cupbop, Gindaco, dan Go! Pergi! CURRY – Genki no Minamoto, serta brand ternama seperti Uniqlo, H&M, Cinema XXI, Funworld, Kidzlandia, iBox, Puma, Giordano, The Body Shop, dan Guardian juga hadir di mall ini.

Pengunjung juga dapat menikmati area outdoor seperti area trotoar untuk berolahraga atau jalan-jalan santai di sepanjang sungai, acara budaya dan seni di amfiteater dan taman komunitas rooftop, serta area ramah hewan peliharaan. Living World Denpasar berusaha memberikan dampak positif yang signifikan bagi penduduk Bali melalui berbagai inisiatif keberlanjutan.